Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 54


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku duduk dikursi pengadilan. Disampingku Mas Reza juga duduk tatapannya terarah padaku.


Setelah segala urusan dan berbagai macam proses persidangan hari ini adalah hari yang akan menjadi hari terakhir aku berpisah dengan Mas Reza.


"Ja." Bisiknya menatap berkaca-kaca "Maafin Mas. Tolong kasih Mas satu kesempatan lagi Ja. Mas sayang sama kamu."


Seandainya rasa sayang nya itu tulus karena ingin mempertahankan ku mungkin aku akan memberi dia kesempatan. Tapi sayang, rasa sayang Mas Reza itu palsu. Dia ingin bertahan hanya karena takut kehilangan jabatan nya.


Aku tak menjawab atau merespon bahkan melirik nya pun tidak. Hatiku sudah terlanjur mati. Hatiku sudah dilukai secara tak berarti. Lantas apa yang perlu aku pertahankan dengan hubungan ini?


Persidangan dimulai. Para hakim sudah duduk ditempatnya masing-masing. Ada kuasa hukum Mas Reza. Ada kuasa hukum ku juga. Sebenarnya aku tak ingin memakai kuasa hukum. Tapi Mas Donny Keukeh dan memaksa.


Kuasa hukum membacakan kasus yang dilakukan Mas Reza selama ini. Mulai dari perselingkuhan hingga kekerasan dalam rumah tangga dan atas tuduhan nya padaku yang mengatakan jika aku selingkuh disini. Namun Mas Reza tak menemukan bukti bahwa aku dan Mas Langit selingkuh. Foto berpelukan dibambu runcing itu pun sudah diklarifikasi bahwa foto itu tidak benar dan kami sudah jelaskan kronologi kejadian.


Tok tok tok


Aku memejamkan mataku saat palu itu diketuk tiga kali. Cintaku telah berakhir sampai disini. Tanpa permisi satu lelehan bening itu lolos begitu saja di pipiku.


"Pak Hakim, saya enggak mau pisah sama istri saya Pak. Saya cinta sama istri saya Pak. Saya mohon Pak." Mataku langsung terbuka saat mendengar ucapan Mas Reza.


Dia menghampiri meja hakim dan memohon agar perpisahan tak diinginkan ini jangan sampai terjadi.


"Pak saya mohon. Saya enggak mau pisah sama Senja. Saya enggak mau Pak," ucapnya memohon.


Namun para hakim hanya menggeleng. Ini sudah keputusan. Apalagi setelah ini Mas Reza akan mendekam di penjara.


"Senja, Mas mohon jangan tinggalin Mas , Senja. Maafin Mas. Maafin Mas, Senja." Dia berlutut dikakiku sambil memegang tanganku.


"Maafi Mas. Mas menyesal udah khianatin kamu. Mas pikir Mas bisa tanpa kamu tapi Mas baru sadar kalau Mas enggak bisa tanpa kamu," ucapnya berderai air mata.


Aku malah tersenyum kecut. Hatiku sama sekali tak terenyuh melihat air mata buaya nya. Bagiku itu semua hanya sebuah kebohongan saja. Yang sama sekali tak berarti apapun bagiku.


"Senja, tolong kasih Mas kesempatan sekali lagi. Tolong Senja." Dia menatapku dengan tatapan permohonan.

__ADS_1


"Senja." Segera Mas Langit menahan Mas Donny ketika melihat Mas Reza memohon padaku.


Aku menarik tangan Mas Reza agar berdiri. Bukan hanya dia yang tak ingin berpisah. Tapi aku juga. Hanya saja, inilah akhir dari semua cerita yang tak mungkin bisa dilanjutkan kembali.


"Mas."


Aku memperbaiki baju nya yang sedikit berantakan. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam. Tubuhnya tampak kurus. Karena sudah beberapa Minggu dia tinggal dibalik jeruji besi akibat kejahatan yang sudah dia lakukan.


Aku merapikan kerah bajunya yang bergeser. Merapikan rambut nya yang sudah tak terurus.


"Mas." Aku menggenggam tangannya "Aku memang mencintai mu tapi maaf Mas aku lebih memilih membunuh cinta ini dari pada bertahan sama kamu. Luka yang kamu turihkan dihati aku terlalu dalam Mas, sekali pun kita kembali seperti dulu itu enggak akan mungkin mengobati luka yang udah kamu tancapkan disini." Aku meletakkan tangannya di dadaku "Aku emang bukan wanita sempurna Mas. Aku enggak bisa kasih kamu keturunan seperti Mbak Siska. Tapi, aku sangat mencintai kamu dan kamu satu-satunya laki-laki yang aku cintai didunia ini, tapi lihatlah apa yang udah kamu lakukan sama aku Mas. Kamu enggak hanya masukkin benang kusut dipernikahan kita tapi kamu juga memasukkan benih-benih kebencian yang menyebar hingga menyerang bagian-bagian syaraf kita Mas." Dia terdiam air matanya berderai


"Aku pikir hubungan kita bisa diperbaiki. Kita bisa saling mengoreksi. Namun kenyataannya perpisahan adalah jawaban dari masalah yang kita hadapi saat ini."


"Mas, kamu itu cinta pertama ku. Laki-laki yang membuat aku merasa begitu disayangi. Tapi kamu juga lelaki pertama yang membuat aku terluka Mas. Membuatku kecewa. Membuatku enggak percaya sama kata cinta."


"Senja." Lirihnya.


"Selamat berpisah Mas. Terima kasih untuk delapan tahunnya. Terima kasih udah menjadi sandaran ternyaman saat aku lelah. Saat aku enggak tahu jalan. Maaf jika selama delapan tahun ini, aku belum bisa menjadi istri terbaik untuk Mas. Aku melepaskan Mas bersama dia yang bisa buat Mas bahagia, bukan karena aku enggak cinta Mas. Hanya aku sadar cinta yang tak seharusnya ini memang enggak boleh dipertahankan. Semoga kamu bisa jadi suami yang baik untuk Mbak Siska. Cukup sampai disini kisah kita Mas. Aku juga perlahan akan menghapus semua perasaan ini untukmu. Semoga kelak, aku juga menemukan kebahagiaan lain Mas. Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir Mas, kamu akan tetap menjadi pria yang aku cintai."


"Senja." Dia membalas pelukan ku dan memeluk ku dengan menangis "Maafin Mas."


Lama kami berdua saling berpelukan. Melepaskan cinta yang pernah singgah ini.


"Maafin Mas."


Aku melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya. Aku tak bisa membiarkan hatiku membencinya, bagaimana pun dia adalah lelaki yang pernah ada dihidupku.


"Selamat tinggal Mas." Aku menjauh darinya.


"Senja." Dia tersungkur dilantai.


"Senja." Panggil nya.


Aku melangkah keluar sambil menyeka air mataku tanpa peduli dengan teriakkan Mas Reza.

__ADS_1


Aku harus bisa melepaskan cinta dan perasaan yang harus aku lepaskan. Aku harus pergi, pergi sejauh mungkin dari cinta yang menyiksaku ini.


"Senja."


"Kak Divta."


Kak Divta memelukku erat. Dan aku tak peduli menangis didalam pelukkan Kak Divta. Aku hanya ingin menangis, itu saja.


"Kakak."


"Kamu nangis aja enggak apa-apa. Kakak siap meluk kamu kapan aja," ucap nya.


Aku memang menangis. Menangis bukan karena aku lemah. Tapi karena aku manusia biasa. Bagaimana pun takkan ada orang yang baik-baik saja ketika harus berpisah dengan cintanya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks." Tangisku semakin pecah.


Aku tahu menangis takkan menyelesaikan masalah tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.


"Kamu enggak akan sendirian. Kakak akan akan disini buat kamu. Kapan aja kamu butuh, Senja," ucap Kak Divta lagi.


Suaraku sampai tak tembus karena kebanyakan menangis. Pasti mataku bengkak dan wajahku menyeramkan.


"Bunda."


Hingga aku tersadar saat suara itu memanggil namaku. Aku melepaskan pelukan Kak Divta dan menyeka air mataku. Kenapa Bintang ada disini?


"Bintang." Aku menatap kearahnya yang berlari kearah ku.


"Bunda."


Bersambung.....


Part ini aku tulis sambil nangis...


Percayalah hanya orang-orang yg pernah patah hati yang akan paham...

__ADS_1


__ADS_2