Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Ekstra part 06


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Reza sampai disebuah caffe. Kebutuhan dia melihat iklan di Instagram bahwa caffe tersebut sedang membutuhkan karyawan bagian barista.


Dengan semangat Reza masuk. Semoga saja dia mendapatkan pekerjaan di caffe ini. Kasihan anaknya kalau sampai dia tidak dapat kerja lagi.


"Permisi Kak, apakah disini masih membutuhkan lowongan pekerjaan?" Tanya Reza sopan.


"Sebentar Pak," wanita yang bertugas di meja kasir itu tampak sibuk dengan komputer didepannya.


"Ohh iya benar Pak. Kami sedang membutuhkan karyawan. Apakah Bapak mau melamar?"


"Iya Kak. Ini surat lamaran saya," Reza menyerahkan amplop berwarna coklat ditangannya.


"Baik Pak. Sesuai dengan perintah Boss, kami Bapak udah boleh masuk hari ini. Ini seragam untuk Bapak," wanita itu memberikan seragam pada Reza.


"Makasih Kak,"


Reza tersenyum bahagia. Tidak apa bekerja sebagai pelayan di caffe. Yang penting halal dan bisa membelikan anaknya susu dan pempers.


Tak pernah Reza bayangkan berada di posisi seperti ini. Posisi yang benar-benar menghempaskan hati dan perasaan nya. Namun dia tidak ada pilihan lain selain memilih pekerjaan ini.


"Pak Reza, tolong antarkan ini ke meja VVIP l ya,"


"Siap Bu,"


Reza membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dan makanan didalam nya. Seperti nya yang pesan bukan orang sembarangan karena dari menu saja sudah bisa ditebak jila yang memesan adalah orang berduit.


"Biar Mas yang suapin Bee,"


"Bee enggak mau Mas. Bee mau nya disuapin Bunda," renggek gadis kecil berusia empat tahun lebih itu.


"Emang apa beda nya Mas sama Bunda," sang Kakak merenggut kesal. "Bunda bukan milik Bee doang, Bunda juga milik Mas." Bocah berusia lima tahun itu melipat kedua tangannya didada merajuk.


Langkah Reza terhenti saat melihat Bintang dan Senja di meja yang akan dia antarkan makanan itu. Reza melihat Senja yang jauh sekali berubah tidak seperti saat bersama nya.


"Nak, enggak boleh berantem gitu. Biar Bunda siapin kalian berdua. Kita tunggu makanan dulu," ucap sang Bunda menangahi perdebatan kedua anaknya.


"Aku harus kuat," ucap Reza menyemangati dirinya. Bagaimana pun hingga kini, Senja masih wanita yang dia cintai.

__ADS_1


Reza berjalan kearah meja Langit dan Senja yang tampak sibuk dengan anak-anak mereka. Kaki Reza terasa berat namun dia tak memiliki pilihan lain.


"Silahkan Pak. Bu," Reza meletakkan pesanan mereka itu keatas meja.


Senja langsung terdiam menatap Reza. Inikah suami nya dulu? Suami yang telah tega mengkhianati pernikahan mereka. Suami yang sudah menyia-nyiakan dirinya.


"Mas Reza," panggil Senja.


"Apa kabar kamu Senja?" Tanya Reza tersenyum manis. Dia merasa minder melihat penampilan mantan istrinya itu yang semakin cantik.


"Aku baik Mas. Mas kapan keluar dari penjara?" Tanya Senja.


Sementara Langit wajahnya ditekuk kesal. Pria itu memang semakin hari semakin pencemburu dan positif luar biasa. Apalagi istrinya yang semakin bertambah cantik setiap harinya.


"Satu bulan yang lalu, Ja," Reza tersenyum kecut. Seandainya dia tidak menyia-nyiakan Senja pasti dia dan Senja akan bahagia.


"Ohh Mas, kenalin ini Bintang dan Bee anak ku Mas," ucap Senja memperkenalkan kedua anaknya. "Nak ayo salim dulu sama Om Reza,"


Kedua bocah berbeda usia itu menurut dan menyalami tangan Reza.


"Dokter Langit," sapa Reza.


"Ja, Mas permisi ya. Dokter Langit," pamit Reza merasa kikuk saat Langit tak membalas sapaannya.


"Mas kamu kenapa kok cemberut gitu muka nya?" Senja terkekeh melihat wajah suaminya yang tampak ditekuk kesal.


"Pasti senang kan ketemu mantan suaminya?" Tuding Langit.


"Iya, Ayah kenapa cemberut begitu?" Tanya Bintang juga heran melihat wajah Langit yang kesal.


"Lagi cemburu," sahut Langit asal.


Entahlah dia merasa dirinya sudah sangat tua. Langit terlalu takut jika ada lelaki muda yang mendekati istrinya dan istri nya malah jatuh cinta pada lelaki itu. Padahal itu hanya pemikiran tak berunfaedah Langit saja.


"Nak, kalian bisa makan sendiri kan?" Senyum Senja pada kedua anaknya.


"Bisa Bunda," kedua anak kecil itu menjawab serentak.


"Mas," Senja menggenggam tangan suaminya. "Masih marah?" Dia menatap suaminya dengan menggoda.

__ADS_1


"Kesal aja," Langit masih merajuk.


"Mas, dia cuma masa lalu aku. Orang yang sama sekali udah enggak aku pikirin. Gimana bisa aku mikirin orang lain kalau yang ada dihati aku itu cuma Mas Langit doang," Senja mengedipkan matanya jahil.


Langit tak mampu menahan senyumnya. Ucapan sederhana itu membuatnya terbang melayang ke udara.


"Tapi tadi liatin kamu terus?" Lanjit masih saja pura-pura merajuk. Dia ingin melihat usaha Senja merayu nya.


Senja terkekeh. "Tapi kan aku enggak liatin dia Mas. Gimana bisa aku liatin yang lain kalau suamiku sendiri aja lebih tampan seribu kali lipat," Senja mencolek dagu suaminya gemes. Suaminya itu kalau merajuk malah terlihat lebih tampan dan Senja suka.


"Sayang jangan menggoda ku. Kita sedang keluar. Kalau didalam kamar pasti udah aku makan kamu," ucap Langit kesal.


"Kenapa Ayah ingin makan Bunda?" Tanya Bintang heran.


Tawa Langit dan Senja terhenti ketika mendengar pertanyaan polos Bintang.


"Bukan apa-apa Sayang," Senja mengelus kepala Bintang yang sedang makan. "Kamu sih Mas, didepan anak-anak ngomongnya enggak pakai filter," omel Senja.


Langit menggaruk kepalanya sambil cengengesan. Entahlah, kalau masalah ranjang dia memang tidak bisa diam dan selalu aktif ingin berbicara


"Maaf Sayang, habisnya kamu sihh bikin aku enggak tahan," goda Langit.


"Udah enggak merajuk kan?" Senja tersenyum menampilkan rentetan gigi putihnya.


"Masih," sahut Langit. "Kamu harus siap-siap malam ini sebagai bayaran karena udah buat Mas kesal," ancam Langit.


Senja menelan salivanya susah payah. Malam ini pasti dirinya akan berakhir diranjang lagi dan melayani sang suami. Tapi tidak apa. Senja senang karena itu memang sudah kewajiban nya sebagai seorang istri.


Mereka lanjut makan sambil mengobrol hangat. Apalagi celotehan Bee yang berdebat dengan sang kakak membuat mereka seperti keluarga bahagia pada umumnya.


"Makan pelan-pelan, Nak," Senja membersihkan sudut bibir Bintang.


"Iya Bunda,"


Senja tak pernah membedakan antara Bintang dan Bee. Dia menyanyangi kedua anaknya itu secara adil tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan anak sambung.


Langit tersenyum hangat melihat ketiga orang itu. Selama lima tahun membangun bahtera rumah tangga tak pernah dia melihat Senja marah atau kasar dengan anak-anak nya. Wanita itu selalu menasihati dan menegur anak-anak nya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.


"Mas kamu enggak makan?" Senja melihat kearah suaminya yang malah senyam-senyum tidak jelas.

__ADS_1


"Mas masih kenyang. Kalian makan lah," senyum Langit.


__ADS_2