
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Kami sampai direstourant yang baru pertama kali aku kunjungi.
"Pernah makan sini enggak?" Tanya Mas Dicky sambil melepaskan helm dikepalanya.
"Pernah." Sahut ku juga melepaskan helm dari kepalaku.
"Serius?" Wajah Mas Dicky terlihat serius.
"Dalam mimpi." Sahutku sambil ngakak. Jangankan datang kesini, aku saja baru tahu restourant semewah ini.
Mas Dicky mencebik kesal. Sudah tahu aku ini kuper masih saja bertanya. Mana pernah aku ke tempat seperti ini. Tiap hari saja pekerjaan ku di rumah sambil berkutat dengan laptop.
"Ayo masuk."
Kami masuk tak lupa ku perbaiki penampilan ku. Entah kenapa aku gugup sekali? Apa karena kejadian kemarin ya? Dan saat mengingat aku menangis didalam pelukkan Mas Langit rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku ke lautan.
"Bunda."
Aku tersenyum ketika melihat Bintang yang berlari kearahku. Pria kecil itu selalu mampu membuat hatiku bergetar ketika menatap wajah polosnya.
"Bintang."
Aku berjongkok menyambut pelukkan hangatnya. Setiap kali bertemu dia selalu minta dipeluk. Bintang sama seperti aku yang merindukan pelukkan seorang Ibu.
Aku langsung menggendong tubuh kecilnya yang dibalut seragam Pendidikan Anak Usia Dini.
"Bintang udah lama nungguin Bunda." Tangannya melingkar dileher ku.
"Ohh ya. Bintang laper?"
Dia mengangguk cepat "Pengen disuapin Bunda lagi." Pintanya.
"Bisa dong." Aku mencium pipi chubby nya dengan gemes
Kami menghampiri Mas Langit dan tunggu dulu, siapa wanita itu? Apa itu kekasih Mas Langit wajah nya tampak asing sekali.
"Senja." Dia tersenyum
"Dicky." Sapanya juga ramah.
"Udah lama nungguin Mas?" Tanya Mas Dicky duduk disamping Mas Langit. Kedua orang ini tampak akrab sekali.
"Enggak kok." Dia tersenyum.
__ADS_1
"Bintang mau es dawet?" Aku mengangkat dua cup es dawet ditangan ku.
"Mau. Mau." Serunya
"Mas, Bintang boleh minum es?" Aku takut-takut memberikan Bintang makanan, karena Mas Langit Dokter pasti nya dia lebih teliti jika masalah makanan putranya.
"Boleh Ja." Senyumnya
Dan wanita itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dilihat dari sisi mana pun jelas aku jauh berbeda dari nya.
Wanita itu sangat cantik, seorang dokter juga karena dia memakai jas dokter seperti yang Mas Langit pakai. Wajahnya cantik dan terawat. Tubuhnya tinggi diatas rata-rata wanita Indonesia. Dia juga masih muda meski usianya diatas ku tapi dia terlihat lebih muda dari usianya.
"Ohhh ya Ja kenalin ini Elly dia adik ipar saya." Mas Langit memperkenalkan wanita itu padaku.
"Senja."
"Elly."
Dan tangan nya lembut sekali. Senyumnya juga manis. Para kaum Adam bisa tersihir sekali melihat senyumannya.
Adik ipar Mas Langit? Berarti dia adik dari almarhum istrinya. Pasti istri Mas Langit dulu sangat cantik, adiknya saja bisa secantik ini. Apalagi Kakak nya. Lihatlah Bintang yang begitu tampan pasti perpaduan antara Ayah dan Ibunya.
Kami memesan makanan seperti biasa aku akan makan sepiring dengan Bintang sambil menyuapi dia yang duduk dipangkuan ku.
"Ja, suruh aja Bintang duduk di kursi ntar kaki kamu keram lho." Ujar Mas Langit.
Wanita itu tampak menatapku dalam. Mungkin dia bertanya aku siapa? Kenapa Bintang memanggilku Bunda?
"Mas, dia siapa nya Bintang kok panggilnya Bunda?" Tanya nya penasaran. Seperti nya wanita ini tak menyukaiku.
"Ini Bunda Bintang, Tante." Jawab Bintang mewakili. Dia tampak menggerecutkan bibirnya.
"Ohhhh." Dia hanya beroh-ria tapi tetap tatapannya terlihat tidak suka padaku.
Sedangkan aku dan Mas Langit sama-sama diam. Sebenarnya aku tidak nyaman dengan posisi ini. Aku takut akan semakin banyak yang salah paham. Tapi bagaimana dengan Bintang? Sebenarnya aku ingin sekali menjauhi nya, hanya aku takut itu membuat mental Bintang terganggu. Dia masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan.
"Bintang mau lagi?"
"Mau Bunda."
Sedangkan Mas Dicky tersenyum hangat. Kadang kami rusuh kalau Mas Dicky selalu mengatakan jika aku cocok dengan Mas Langit. Aku menepis ucapan Mas Dicky bagaimana pun aku belum sah bercerai dengan Mas Reza.
"Hem jadi Bunda sungguhan Bintang aja, Ja." Bisik Mas Dicky sambil menggoda ku lalu terkekeh.
"Mas." Aku memutar bola mataku malas. Untung Mas Langit dan Mbak Elly tidak dengar.
__ADS_1
Kami lanjut makan. Sesekali diselingi dengan obrolan. Yang paling banyak mengobrol aku dan Bintang.
"Ja, untuk surat gugatan cerai kamu udah sampai ke pengadilan. Kamu tunggu panggilan aja ya. Kemarin Reza juga udah dipanggil oleh kesatuan. Jadi kamu enggak usah khawatir ya?" Jelas Mas Langit.
"Makasih Mas udah bantuin." Balas ku sambil tersenyum kaku karena melihat tatapan tak suka Mbak Elly. Apa Mbak Elly berpikiran jika aku memiliki hubungan dengan Mas Langit?
"Bunda, kapan Bunda pulang sama Bintang dan Ayah. Bintang pengen bobo kayak kemalin sama Ayah dan Bunda." Ucapnya sendu.
Aku menelan salivanya ku susah payah. Begitu juga dengan Mas Langit yang tampak langsung kikuk. Apalagi tatapan Mas Dicky dan Mbak Elly yang tampak mengintrogasi kami berdua. Anak kecil tidak bisa bohong.
"Bobo sama-sama?" Tanya Mbak Elly tampak menyelidik "Maksudnya apa Mas Langit?" Dia menatap kearah Mas Langit.
"Enggak usah dengarin Bintang dia emang ngomong selalu benar." Jawab Mas Langit "Kemarin kita tidur bertiga. Karena Bintang pengen aku dan Senja tidur sama dia. Tapi kami enggak ngelakuin apapun selain untuk menyenangkan hati Bintang." Jelas Mas Langit.
"Mas, itu tetap salah lho. Apalagi Senja istri orang. Itu namanya selingkuh Mas." Mbak Elly keukeh membahas ini.
"Yang kenyataan nya kami enggak selingkuh Elly. Niat kami hanya untuk membuat Bintang bahagia. Itu aja. Jadi kamu jangan memperpanjang masalah." Tegas Mas Langit
"Aku bukan memperpanjang masalah Mas. Tapi ini udah diluar batas. Masa kalian tidur bertiga dengan alasan buat nyenangin hati Bintang." Mbak Elly masih belum puas.
"Mbak, Mbak jangan salah paham. Kita enggak ada apa-apa kok Mbak. Kemarin Bintang demam, dia cuma pengen Ayah sama Bunda-nya tidur nemanin dia. Itu aja." Jelas ku.
"Ohh ya. Harusnya kamu sadar Senja. Kamu itu bersuami. Gimana bisa coba wanita bersuami kayak kamu nginap dirumah Mas Langit? Apa suami kamu enggak nyariin kamu? Enggak cemburu sama kamu?" Ucap Mas Elly menatap ku sinis.
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya yang dia bilang benar. Tidak baik. Tapi bagaimana lagi sudah terlanjur dan ini demi Bintang bukan karena aku ingin.
"Hiks hiks Tante kenapa malahin Bunda?" Bintang tiba-tiba menangis.
"Hei, Nak." Aku meletakkan sendok ku dan langsung merengkuh tubuh Bintang "Cup cup jangan nangis dong sayang nya Bunda." Rayuku.
"Bunda, enggak apa-apa kan? Kenapa Tante malahin Bunda-nya Bintang?" Bintang masih terisak.
"Elly kamu apa-apaan sih? Bahas kayak gini didepan Bintang. Emang kamu siapa? Apa hak kamu marah? Kamu enggak tahu apa-apa." Geram Mas Langit.
"Mas aku_."
"Kamu sebaiknya pulang duluan aja." Usir Mas Langit
"Mas tapi_."
"Bintang jangan nangis ya Son." Dia mengusap kepala anaknya yang berada dipelukkan ku.
Mbak Elly terdiam menatap kami dengan sinis terutama menatapku. Kenapa aku jadi semakin takut? Bagaimana kalau Mbak Elly berpikiran yang macam-macam tentang aku? Masalahku belum selesai. Aku belum siap jika ada masalah baru yang datang lagi.
"Kamu kalau bicara enggak usah sembarangan. Seolah-olah disini Senja sengaja dekatin Mas Langit. Harusnya kamu tuh ngaca diri kamu sendiri. Mungkin kamu yang suka sama Mas Langit dan kamu cemburu? Atau kamu pengen ngejatuhin Senja dengan omongan kamu tadi?" Mas Dicky angkat bicara
__ADS_1
Mbak Elly langsung bungkam. Namun wajahnya tampak kesal bukan main. Tak mau masalah panjang perempuan itu melenggang pergi meninggalkan kami.
Bersambung.....