Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 62


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku masuk kedalam ruangan Senja dengan wajah kusut seperti baju kusut yang harus disetrika agar rapi kembali. Aku masih memikirkan ucapan Mas Fajar. Apa maksudnya? Apa maksud Mas Fajar? Apa dia memiliki perasaan khusus pada Senja? Tapi bagaimana bisa? Mas Fajar trauma akan masa lalunya, sampai saat ini tidak ada wanita yang bisa mengobati luka yang mengangga itu dihatinya.


Kulihat Senja dan Bintang tengah asyik belajar bersama diatas brangkar. Aku takkan sanggup Senja menjadi milik orang lain, dia hanya milikku dan hanya aku yang boleh memilikinya? Mas Fajar atau Kapten Divta mereka takkan bisa merebut Senja dari pelukkanku.


“Ayah.” Bintang menyapaku dengan senyum.


“Hai Son.” Aku tersenyum kearah putraku “Sayang.” Aku duduk dibibir ranjang dan melihat kedua orang itu.


“Mas, buku aku udah terbit. Ini aku dapat pesan dari Mas Chandra,” seru Senja sambil menunjukkan chat Chandra melalui sebuah aplikasi.


“Selamat yaa Sayang.” Aku mengusap kepalanya.


“Mas mau baca?”


“Boleh.” Sahutku


Bagaimana bisa aku kehilangan wanita ini? Tak melihatnya sebentar saja aku sudah merasakan rindu yang teramat sangat. Apalagi jika Senja harus jatuh kedalam pelukkan pria lain selain aku, aku tak bisa bayangkan akan seperti apa hidupku tanpa Senja.


.


.


.


.


“Kamu kenapa Lang?” Tanya Donny “Muka kamu kusut gitu, nihh minum dulu.” Donny meletakkan segelas teh manis diatas meja.

__ADS_1


Saat ini aku sedang berada dirumah Donny, sedangkan dirumah sakit Senja dijaga oleh kedua calon Kakak iparnya, Hana dan Aisyah serta Mama juga disana. Sementara Bintang masih sekolah dan belum pulang.


“Pusing aja Don.” Aku mengusar kepalaku


“Kalau ada masalah cerita Lang. Apa masalah Kapten Divta yang masih dekatin Senja. Aku udah ingatin dia buat jaga jarak sama Senja karena Senja udah punya calon yaitu kamu.” Aku senang jika Donny benar-benar mengatakan itu, artinya hubunganku dan Senja direstui oleh Kakak-kakaknya.


Aku menggeleng, “Bukan itu Don. Ini tentang Mas Fajar.” Aku menghela nafas panjang.


“Mas Fajar?” Ulang Donny “Kakak kamu itu, dokter yang sekarang menangani masalah Senja?” Sambung Donny lagi


“Iya Don.” Aku menyesap teh hangat yang diberikan Donny.


“Ada masalah yang berat dengan Mas Fajar?” Donny menatapku dengan selidik.


“Aku curiga dia memiliki perasaan pada Senja.” Jawabku


“Aku enggak tahu Don. Tatapan Mas Fajar pada Senja itu keliatan banget kalau dia punya perasaan sama Senja. Dan sepertinya Mas Fajar juga tahu sesuatu tentang Senja.” Jelasku


“Sesuatu?” Donny masih terlihat bingung “Sesuatu apa Lang? Bukannya Mas Fajar baru pulang dari Jakarta, lantas apa yang dia tahu tentang Senja, bahkan sebelumnya Senja enggak pernah cerita kalau dia kenal sama Mas Fajar?” Donny saja bingung apalagi aku.


“Itu yang sedang aku pikirin Don. Aku takut Mas Fajar rebut Senja dari aku. Mungkin aku bisa menyaingi Kapten Divta, tapi kalau Mas Fajar, aku enggak bisa. Dia memiliki banyak hal yang akan menarik perhatian Senja.” Tak bisa dipungkiri jika aku takut kalau Senja akan pergi meninggalkanku jika menemukan seseorang yang lebih baik dari aku.


“Lang… Lang…” Donny terkekeh sambil menepuk bahuku “Senja enggak gitu orangnya. Dia wanita yang setia. Lihat saja dulu dengan Reza meski sudah disakiti berulang kali dia masih tetap bertahan meski akhirnya mereka berpisah. Kamu cuma cukup buat dia jatuh cinta sama kamu. Senja itu kalau udah cinta sama orang dia akan cinta sehidup semati dan enggak akan berpaling ke lain hati. Tapi begitu juga ketika dia disakiti dan dikecewakan maka takkan ada yang bisa mengembalikan cintanya kembali. Cinta itu akan dia buang sejauh mungkin sampai cinta itu hilang dan pergi.” Jelas Donny


“Jadi kamu enggak usah takut. Kamu bisa minta bantuan Bintang untuk memikat hati Senja. Aku yakin kalian berdua sama-sama berarti dihati Senja. Senja butuh waktu buat jatuh cinta sama kamu Lang. Trauma dihatinya takkan bisa hilang gitu aja, butuh waktu dan proses bagi Senja menerima orang baru.” Tutur Donny lagi.


Aku terdiam sejenak. Sekarang Senja belum mencintaiku, apa artinya Senja akan meninggalkan aku dan Bintang jika ada lelaki yang lebih dulu membuatnya jatuh cinta.


Aku menunduk, sudah pesimis duluan sampai sekarang Senja belum mengatakan jika dia mencintaiku. Dia belum membalas perasaan yang kuserahkan sepenuhnya pada Senja.

__ADS_1


“Kamu masih takut Lang?” Tanya Donny yang bisa melihat keresahan diwajahku.


“Senja belum cinta sama aku Don. Aku takut kalau misalnya Mas Fajar atau Kapten Divta dekat sama Senja dan Senja jatuh cinta sama mereka.” Salahkah aku takut? Aku tak jago jika bersaing dalam hal percintaan, karena aku tak memiliki kelebihan apapun selain kelebihan menjaga dan merawat Bintang selama lima tahun itu.


Donny malah terkekeh melihat wajah senduku. Dia geleng-geleng kepala sambil tertawa tanpa beban.


“Lang… Lang…” Donny masih tertawa


“Ketakutan kamu itu bisa ngerusak hubungan kamu sama Senja. Percaya dehh kalau jodoh enggak bakal lari. Seperti yang aku bilang tadi, perjuangkan Senja. Enggak hanya Mas Fajar dan Kapten Divta aja yang bisa ngerusak hubungan kalian berdua tapi Siska dan Elly juga bisa jadi ancaman. Intinya kamu hati-hati, jaga Senja dengan baik dan buat dia jatuh cinta sama kamu.”


“Itu berat Don, kamu sendiri tahu kalau Senja itu mati rasa, gimana kalau aku gagal. Aku enggak tahu seperti apa hidup aku sama Bintang tanpa Senja Don. Aku sayang banget sama dia. Sayang banget.” Aku menunduk lagi menahan lelehan bening dipelupuk mataku.


“Aku paham. Kamu enggak usah khawatir, Senja itu milik kamu dan enggak akan ada yang bisa pisahin kalian berdua,” ucap Donny “Ya udah ayo jemput Bintang sekalian kerumah sakit. Aku mau bawa baju-baju ganti Senja.” Ajak Donny.


“Mas.” Dicky baru datang mengajar “Mau kerumah sakit?” Tanyannya


“Iya, kamu mau ikut?”


“Iya Mas. Sekalian tadi aku beliin Senja martabak manis, dia suka banget ini. Boleh ya Mas Langit?” Dicky melihat kearahku sambil menunjukkan kantong ditangannya


“Boleh asal jangan banyak.” Jawabku


“Emang ada orang jual martabak siang-siang begini?” Tanya Donny heran. Di Kalimantan penjual martabak biasa buka jam enam sore sampai tengah malam ada beberapa yang sampai subuh.


“Aku pesan sama teman Mas. Kebetulan Ibunya penjual martabak, aku ingat dulu Senja setiap sore minta beliin ini yang udah aku beliin aja.” Jelas Dicky.


“Ya udah yuk. Sekalian aja sama-sama.” Ajakku


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2