
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Aku meringguk menatap bintang yang berkelipan dibalik jendela kamar mewah ini. Aku dikurung. Aku tidak bisa kemana-mana dan pintu dikunci oleh Mas Fajar. Aku hanya bisa menatap dunia luar lewat jendela kaca yang terpasang khusus disini,
Aku menangis dibawah rembulan malam, berbicara pada bintang diatas berharap dia menyampaikan rasa rindu ku pada Mas Langit dan Bintang yang jauh disana.
Aku memeluk lututku sambil menangis dengan hanya memakai kemeja panjang berwarna putih karena hanya pakaian ini yang ada didalam lemari. Sepertinya ini memang kamar Mas Fajar.
“Mas, aku kangen sama kamu Mas. Tolong aku Mas. Aku takut disini. Aku dikurung enggak bisa kemana-mana. Mas aku takut.” Tangisku keras sambil sesekali menyeka air mataku.
“Bintang, Bunda kangen sama Bintang. Gimana kabar Bintang disana? Kalau Bunda enggak baik-baik aja Sayang, Bunda takut. Disini sepi dan sunyi hanya ada Bunda sendiri. Bunda kangen saat Bintang peluk Bunda. Tolongin Bunda Nak.” Aku menangis segugukan bahkan air inguse pun ikut keluar bersama air mata.
“Bulan tolong sampaikan pada Mas Langit dan Bintang kalau aku kangen mereka. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin pergi. Aku enggak mau disini. Aku takut.” Sial air mata yang kuseka tak juga kunjung mengering dia membanjir dengan hebat seperti hujan yang jatuh ke bumi.
Kenapa Mas Fajar tega? Kenapa Mas Fajar tidak memiliki perasaan sama sekali. Dia memaksaku menikah dengannya. Aku tidak mau, aku sama sekali tidak mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?
Aku menyeka air mataku secepatnya saat kulihat handle pintu bergerak, artinya ada orang yang akan masuk. Dan Mas Fajar masuk seperti biasa sambil membawa nampan berisi makanan seperti tadi pagi.
“Selamat malam Sayang.” Dia tersenyum tanpa dosa.
Aku mundur sambil membungkus tubuhku dengan selimut dan meringguk diatas ranjang dan menahan takutan yang begitu hebat. Badanku sampa bergetar dan air mata masih saja mengalir sejak tadi. Padahal aku tak ingin terlihat lemah didepan pria bajiangannya.
__ADS_1
Dia meletakkan nampan diatas nakas. Lalu duduk dibibir ranjang sambil menatapku dengan senyuman liciknya. Tak pernah kusangka jika lelaki ini sangatlah jahat. Wajahnya memang dingin dan sanggar seperti Mafia. Dia seperti pria yang tidak bisa disentuh wanita lain.
“Kenapa kamu nangis Sayang?” Tanganya menyeka air mataku
“Jangan sentuh aku.” Sentakku menepis tangannya yang berada diwajahku.
Dia tertawa sinis. Entah terbuat dari apa hati lelaki ini. Apa salahku padanya? Jika dia mencintaiku harusnya dia melepaskan aku dan membiarkan aku bahagia bersama Mas Langit tapi kenapa dia malah memisahkan kami.
“Ehem.” Dia melipat kedua tangannya didada. “Nanti juga setelah kita menikah kamu akan jadi milik saya dan saya akan sentuh bagian tubuh kamu.” Bisiknya sambil meniup telingaku.
Aku mengeratkan selimut ini ditubuhku keringat dingin mengucur di keningku karena ketakutan yang tak bisa aku jelaskan dengan kata.
“Kamu tahu enggak Senja, sebelumnya saya enggak pernah tergila-gila seperti ini sama wanita. Tapi saya enggak tahu kenapa saya bisa sampai gila seperti ini karena kamu. Kamu itu seperti magnet yang menarik saya mendekat,” jelasnya dengan senyuman licik semakin membuatku ketakutan
Apapun yang dia katakan tentang Mas Langit aku tidak percaya. Aku percaya Mas Langit mencintaiku bukan karena Bintang, aku tahu dia tulus. Aku tahu dia adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuk menemani hidupku.
“Menikahlah sama saya. Saya janji akan memberikan kebahagiaan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya.” Dia kembali mengusap pipiku. Secepatnya aku menepis tangan Mas Fajar, terlepas dari genggaman Mas Reza dan sekarang aku malah di genggam oleh lelaki iblis ini.
Aku menggeleng “Sampai kapanpun saya enggak akan pernah mau nikah sama Mas. Tolong jangan paksa saya Mas. Tolong.” Aku benar-benar memohon berharap lelaki itu melepaskan aku “Lepaskan saya Mas. Lepaskan saya. Tolong keluarkan saya dari sini Mas. Apa salah saya sama Mas. Apa salah saya Mas?”
Dia tertawa menggelagar yang justru terdengar begitu menyeramkan. Dia seperti iblis yang siap menerkam mangsanya. Aku baru mengenal sisi jahat Mas Fajar yang membuatku tak habis pikir apa ada iblis yang masuk ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
“Kamu mau tahu salah kamu apa Senja?” Dia tersenyum mengejek.
Dia membuka laci nakas, lalu mengambil dua lembar foto. Aku tidak tahu itu foto apa, aku tidak mau tahu karena itu bukan urusanku yang aku inginkan adalah lepas dari sini.
“Ini.” Dia melempar foto itu kearahku.
Secepatnya aku melihat foto itu. Mataku membulat sempurna saat melihat foto siapa yang ada didalam kertas berukuran 5 R itu.
“Leonard?”
“Iya. Apa kamu masih ingat saya Senja? Saya adalah orang yang pernah nyelamatin kamu 15 tahun yang lalu. Mengobati luka kamu. Merawat kamu. Dan kamu berjanji akan bersama saya selamanya. Tapi kamu pergi dan hilang ninggalin saya sendirian. Kamu tahu, apa yang saya lakukan buat cari kamu? Banyak, enggak bisa dihitung dengan jari! Setelah kita bertemu kamu malah lupa sama saya. Luar biasa.” Dia bertepuk tangan sambil menatapku dengan tatapan iblisnya.
Dia adalah orang yang pernah menyelamatkanku saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Saat itu aku dikejar oleh para preman yang hendak mengambil uang hasil jualanku, karena setiap hari aku membawa jualan kue ke sekolah untuk menyambung hidupku. Dia menyelamatkan dan menolongku serta mengobati luka ku, saat itu dia memang sudah menjadi seorang dokter. Tapi wajahnya tidak seperti ini jauh sekali berbeda dari sekarang.
Dia mengatakan jika namanya Leonard dan bekerja sebagai dokter spesialis bedah. Dia memintaku menjadi anaknya dan aku menyiakan karena sebagai balas budi. Setelah itu Mas Donny dan Mas Dicky menjemputku pulang tapi aku tidak berpamitan karena saat itu dia sedang bekerja. Aku ingin menemuinya dan mengatakan bahwa aku akan pulang namun Mas Donny dan Mas Dicky tak mengizinkan karena mereka takut jika dia adalah orang jahat yang berpura-pura menolong.
Hingga lebih dari 15 tahun, aku benar-benar tak ingat wajahnya. Sekarang jauh berbeda, apa karena termakan usia. Dulu dia memakai kaca mata tebal dengan rambut yang tersisir rapi. Sekarang penampilannya berbalik.
“Sekarang kamu tahu kan apa salah kamu? Kamu harus menempati janji kamu buat menikah sama saya karena saya jatuh cinta sama kamu sejak 15 tahun yang lalu.”
Aku menggeleng “Saya enggak pernah berjanji untuk menikah dengan anda, saya hanya mengatakan saya akan anggap anda sebagai Ayah saya sendiri.”
__ADS_1
“Dan saya enggak terima. Saya mau kamu menjadi istri saya dan menjadi milik saya seutuhnya.” Tegasnya
Bersambung......