Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 55


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"B-bintang." Seruku.


"Bunda." Bintang berhambur memelukku.


Bagaimana bisa aku menjauhi pria ini? Hatiku sudah terlanjur menyanyangi nya sebagai anakku sendiri. Tapi ancaman Mbak Elly membuatku takut. Aku tidak mau dikatakan pelakor dihubungan orang lain.r


"Bunda, Bintang kangen banget sama Bunda. Bunda kenapa jauhin Bintang?" Dia menangis didalam pelukkan ku.


Beberapa hari ini aku memang menjauhi Mas Langit dan Bintang. Aku tidak mau menganggu hidup mereka. Aku tidak mau merusak hidup mereka. Setelah ini, aku pergi sejauh mungkin dari kehidupan Mas Langit dan Bintang. Aku hanya orang asing yang kebetulan masuk kedalam kehidupan mereka dan tinggal sementara.


"Bunda juga kangen sama Bintang," ucapku memeluk pria kecil ini.


Mas Langit berdiri tidak jauh dari kami bersama Mas Donny dan Mas Dicky serta ada Mbak Aisyah dan Kak Hana disana yang ikut dalam persidangan perceraian ku.


Ada Ayah dan Mertua serta Shanti dan Mbak Siska juga ikut turun hadir di persidangan perpisahan ku dan Mas Reza.


Aku melepaskan pelukan Bintang. Aku tidak boleh terus menempel pada Bintang. Bintang dan aku tidak bisa bersama, kami berbeda. Dan aku tidak pantas menjadi seorang Ibu.


"Jangan nangis lagi dong. Ntar gantengnya hilang." Celetukku sambil menyeka air mata Bintang.


"Hiks Bunda. Bintang enggak mau jauh dari Bintang."


Aku tersenyum mendengar ucapan pria kecil ini. Bagaimana pun aku takkan bisa bertahan dengan Bintang dan Mas Langit.


"Maafin Bunda ya Nak. Bunda harus pergi. Bunda enggak bisa terus-terusan sama Bintang," ucapku.


"Tapi kenapa Bunda?" Isaknya


"Karena Bunda enggak bisa bersama Bintang terus." Sahutku, air mataku juga menetes disana.


"Kenapa?" Renggek Bintang.


"Enggak apa-apa Nak." Aku tersenyum. Tak ingin menjelaskan kenapa aku pergi, anak sekecil Bintang takkan paham perasaan orang dewasa.


"Senja." Mas Langit mendekat.


"Bintang, Bunda pamit ya Nak." Aku mencium kening Bintang.


"Bunda." Bintang menatapku penuh harap.


"Senja."


Aku membuang muka. Cukup sudah. Aku tak mau bermasalah lagi. Masalah ku sudah terlalu banyak.


"Senja, tunggu." Mas Langit mencengkram tanganku.

__ADS_1


"Iya Mas?"


"Kamu kenapa? Kenapa jauhin saya? Apa salah saya Senja?" Dia menatap ku dengan penuh tanda tanya


.


.


.


.


.


"Arggggg." Sial kenapa perutku semakin sakit.


Aku berperang dinding kamar agar aku tak jatuh dilantai. Bagian perut ke pinggang sangat nyeri seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam didalamnya.


"Kenapa sakit sekali?" Rintihku memegang perutku.


"Kuat Senja kuat. Kamu harus mandiri," ucapku menguatkan diri sendiri.


Aku berjalan pelan sambil meringgis kesakitan menuju nakas mengambil obatku yang sudah disiapkan disana.


Aku terduduk dibibir ranjang. Bibirku tak berasa apapun mungkin saking sakitnya.


Aku menarik nafas sejenak. Mengumpulkan kekuatan ku. Dadaku naik turun. Ini tak bisa dibohongi, sakit sekali.


"Arggggg."


Brakkkkkkkkkkkkkk


"Senja."


Mas Donny dan Mas Dicky mendobrak pintu saat mendengar teriakkan kesakitan ku yang menggema.


"Senja." Mereka berdua menghampiri ku.


"Mas." Renggekku "Sakit Mas." Aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitku didepan mereka.


"Mas bawa kerumah sakit ya?"


Aku hanya mengangguk, tubuhku sangat lemah dan aku lelah. Mas Donny mengangkat tubuh lemahku. Aku melingkarkan lenganku dileher Mas Donny dan menyembunyikan wajahku disana. Menahan rasa sakit yang menghantam anggota tubuhku yang seolah hendak membuat tubuhku berhenti bekerja.


"Tahan ya?" Ucap Mas Donny.


"Aku mengangguk lemah."

__ADS_1


Saat aku mencoba melawan rasa sakit ini. Tapi kenapa rasa sakit ini terus menyiksa tubuhku. Seolah ingin menghentikan peredaran darah yang mengalir didalam sana.


Aku sudah berencana pindah dan tinggal dikampung bersama Ibu dan Bapak, agar aku bisa menjauhi Mas Langit dan Bintang. Tapi kenapa penyakit ini seolah ingin menahan ku dan mendekatkan ku dengan Mas Langit.


"Mas sakit." Aku memegang perutku lagi sambil menangis.


Kenapa penyakit ini menyerangku diwaktu yang tidak tepat? Tidakkah dia kasihan bahwa aku sedang patah hati kini ditambah lagi dengan penyakit yang membuat ku terlihat seperti orang menyedihkan.


"Senja." Mas Langit menghampiri aku yang digendong oleh Mas Donny.


"Lang tolong Senja Lang," ucap Mas Donny dengan wajah panik sekali.


"Biar aku yang gendong." Mas Langit mengambil aku digendongan Mas Donny tanpa sempat aku menolak.


Aku pasrah saat Mas Langit menggendong ku. Semoga tidak ada kesalahpahaman lagi. Semoga aku tak dituduh perusak hubungan orang lagi.


Mas Langit meletakkan ku dengan pelan diatas brangkar.


Aku masih meringgis kesakitan tak peduli aku menangis didepan Mas Langit dan beberapa perawat yang ikut memeriksa ku.


"Senja, tahan ya saya akan periksa kamu," ucap nya tampak khawatir.


Benarkah yang dikatakan Mas Donny bahwa Mas Langit memiliki perasaan tak biasa padaku? Tapi kenapa aku? Aku tidak berjanji untuk bisa membalas perasaan nya. Hatiku saat ini mati untuk hubungan asmara. Apalagi Mas Langit, setinggi langit yang takkan bisa ku gapai. Dia terlalu tinggi dan aku takkan bisa menggapai nya.


Benar-benar sakit, aku tak bisa jelaskan dengan kata-kata. Apakah kanker ini marah karena selama ini aku selalu mengabaikan nya dan tidak menganggapnya ada? Kini dia seperti ingin menunjukkan jati dirinya padaku.


Mas Langit memeriksa ku dengan teliti. Tangannya terlihat bergetar. Keringat dingin mengucur dibagian keningnya. Benarkah dia menyukaiku?


Seorang perawat memasang infuse ditanganku. Yang lain sibuk memeriksa tensi darah, jantung, paru-paru dan organ tubuh yang lainnya.


"Senja." Mas Langit duduk dan menggenggam tanganku "Apa masih sakit?" Tanya nya lembut sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


Aku mengangguk. Sakit nya sedikit hilang setelah obat anti nyeri itu di masukkan melalui saluran air infuse.


"Bintang mana Mas?"


"Bintang dirumah. Dia nyariin kamu terus. Kamu kenapa Senja, kenapa jauhin saya?" Matanya berkaca-kaca menatapku dengan tangannya yang menggenggam tanganku.


"Maafin aku Mas." Aku terpaksa menjauhi Mas Langit dan Bintang ini demi kebaikan mereka berdua.


"Saya mohon Senja jangan jauhin saya. Saya enggak bisa tanpa kamu Senja. Saya dan Bintang butuh kamu." Air matanya menetes.


Beberapa waktu terakhir sebelum persidangan hubungan kami memang merenggang. Sejak Mbak Elly menyerangku saat dicaffe kemarin, aku sengaja menjauhi Mas Langit dan Bintang. Aku hanya merasa tidak pantas terus-terusan berada didekat mereka.


"Mas." Aku menatap wajahnya "Maafin aku ya Mas. Maaf aku enggak mau Bintang makin sayang sama aku dan dia enggak mau lepasin aku. Aku enggak bisa selamanya berada didekat Bintang dan kamu Mas. Maafin aku," ucapku.


"Kenapa Senja? Ada apa yang salah sama kita?" Tanyanya.

__ADS_1


Aku menggeleng "Aku enggak pantas berada didekat kamu dan Bintang Mas. Aku wanita penyakitan." Air mataku lolos begitu saja.


Bersambung....


__ADS_2