Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 58


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Gimana keadaan Senja Lang?" Tanya Papa saat aku duduk dikursi meja makan.


"Masih Pa. Minggu depan dia mau kemo. Untung nya dia mau setelah aku kasih pengertian." Jawabku.


"Syukurlah. Semoga dia cepat sembuh ya kasihan Bintang," ucap Papa.


"Makasih Pa." Balasku.


"Siapa Senja?" Tanya Mas Fajar, Kakak ku paling tua yang sekarang masih betah dengan kesendirian. Dia baru pulang dari Jakarta melajutkan S2, kedokteran.


"Itu lho teman dekat nya Langit, yang sering dipanggil Bunda sama Bintang." Jelas Mama.


"Dekat sama Langit dipanggil Bunda sama Bintang?" Kening Mas Fajar tampak berkerut, penasaran dan heran "Sejak kapan Lang?" Mas Fajar melihat kearahku.


"Cerita nya panjang Mas." Jawabku. Aku sedikit terganggu dengan tatapan Mas Fajar. Mas Fajar tipikal orang perfeksionis kalau bersangkutan denganku dan Bintang.


"Sakit apa dia?" Sambil melanjutkan makannya "Seperti nya serius sampai harus kemo segala?" Dia memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.


"Kanker Rahim, Mas." Jawabku.


Dia tampak manggut-manggut mendengar jawaban ku. Sedangkan aku makan dalam diam saja. Untung Bintang sudah tidur karena kelelahan seharian setelah pulang sekolah dia menemani Senja dirumah sakit.


Setelah makan, aku bersiap-siap kerumah sakit. Aku meminta sendiri untuk menjaga Senja, agar waktuku dengannya lebih banyak dan aku bisa memberikan semangat padanya.


"Pa. Ma. Aku mau kerumah sakit. Malam ini nemanin Senja lagi," ucapku memasang jaketku.


"Iya Lang kamu hati-hati nya. Oh ya ini buat Senja, dia kan suka sekali bubur ayam." Mama memberikan rantang nasi berisi bubur padaku.


"Iya Ma. Makasih." Aku senang keluarga ku menerima kehadiran Senja dikeluarga kami.


"Lang, Mas boleh ikut." Pinta Mas Fajar yang membuat kami semua menoleh kearahnya.


"Mau apa Mas?" Keningku berkerut heran.

__ADS_1


"Enggak, cuma mau lihat-lihat suasana rumah sakit aja. Bulan depan kan Mas udah mulai masuk." Jawab Mas Fajar. Ya bulan depan Mas Fajar akan membantuku menggelola rumah sakit milik keluarga kami.


"Ayo Mas." Ajakku.


Kami berpamitan pada Papa dan Mama. Semenit saja aku tak melihat Senja rasanya sudah rindu berat sekali. Begini ternyata jatuh cinta setelah sekian lama sendiri.


"Mas penasaran sama Senja itu gimana orangnya? Kok kamu sama Bintang bisa sampai lengket sama dia?" Ujar Mas Fajar.


Aku tersenyum, banyak yang penasaran dengan sosok Senja dan kenapa aku dan Bintang bisa sampai terpesona dengan wanita yang baru berpisah dengan suaminya itu. Senja tak hanya baik tapi dia juga unik dan meneduhkan hati setiap kali menatap wajah nya yang polos apalagi saat dia tersenyum.


"Nanti juga Mas tahu gimana orangnya." Jawabku terkekeh "Yang pasti dia beda Mas. Itu yang buat aku dan Bintang nyaman sama dia." Sambung ku lagi.


"Mas senang kalau kamu udah move on tapi Mas enggak mau kamu jatuh ke pelukan wanita yang salah. Semoga Senja benar-benar wanita yang tepat buat kamu," ucap Mas Fajar.


Sebagai seorang Kakak tentu aku tahu dia ingin yang terbaik untuk adiknya. Sebab itulah tak heran jika Mas Fajar sedikit perfeksionis jika bersangkutan dengan aku dan Bintang.


Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Mas Fajar begitu betah dengan kesendirian nya. Usianya hanya beda dua tahun dariku, bahkan dia sudah memasuki usia kepala empat. Tapi sampai sekarang dia belum sama sekali memikirkan masalah berumah tangga. Mungkin karena terlalu sibuk meniti karier hingga dia lupa bahwa dia tidak bisa sendiri selama nya.


Sebenarnya Mas Fajar trauma dengan percintaan dimasa lalunya. Dia pernah menjalin hubungan cukup lama dengan seorang wanita yang sama-sama berprofesi sebagai dokter namun karena bukan jodoh pernikahan yang sudah direncanakan dengan matang kandas sebelum hari H ketika calon istrinya hamil bersama pria lain.


"Amin, makasih Mas." Jawabku tersenyum.


Aku juga berharap Senja adalah pelabuhan terakhir dari segala penantian ku selama ini. Aku ingin Senja segera menjadi milik ku dan kami berdua bisa hidup bahagia selamanya tanpa ada orang ketiga diantara kami berdua. Aku yakin Senja adalah wanita yang tepat untuk mengisi ruang kosong diantara rongga dadaku yang belum terisi.


Aku membuka pintu ruang rawat Senja. Aku tersenyum saat dia sibuk dengan laptop nya. Aku baru tahu jika kekasih ku yang baik hati ini adalah calon penulis. Bahkan dia sudah mendatangi kontrak dengan perusahaan penerbit buku ternama di Kalimantan.


"Sayang."


Dia mengangkat pandangan nya dan tersenyum kearah ku.


"Mas." Balasnya dengan senyuman manis. Bagaimana ku tak salah tingkah melihat dia tersenyum saja jantungku sudah berdebar sehebat ini.


Mas Fajar mengekor dari belakang. Sekarang dia bisa lihat seperti apa wanita yang sudah berhasil membuatku jatuh hati ini.


"Gimana kabar kamu Sayang?" Aku memberikan pelukkan hangat padanya.

__ADS_1


"Aku baik Mas." Dia membalas pelukan ku.


Kenapa aku bisa sebucin ini pada Senja? Rasanya saat tak melihat nya hatiku terasa hampa dan kosong. Saat memeluk nya aku merasakan kehangatan dan merasa begitu senang.


"Sayang, kenalin ini Mas Fajar. Kakak aku," ucapku memperkenalkan Mas Fajar.


"Hai Mas, Senja." Dia mengulurkan tangan kearah Mas Fajar.


Untuk sesaat Mas Fajar terdiam sambil menatap Senja tak berkedip. Ada apa dengan Mas Fajar?


"Mas." Panggil ku.


Dia terkejut saat aku memanggil namanya dan dia tampak gugup.


"Ohh iya. Fajar." Mas Fajar menyambut uluran tangan Senja.


"Sayang ini Mas bawain bubur ayam kesukaan kamu. Ini buatan Mama. Simpan dulu laptop nya." Suruhku.


"Wajah pasti enak Mas." Serunya dengan mata berbinar-binar.


Aku menyimpan laptop nya diatas meja. Dalam keadaan sakit saja dia masih sanggup bekerja. Mungkin Senja ini tipikal orang yang tidak bisa berdiam diri.


"Mas Fajar duduk aja di sofa Mas," ucapku.


Mas Fajar menurut tanpa menjawab ucapanku. Tak heran dia memang seperti itu.


"Mas suapin ya?" Aku membuka rantang nasi itu dan duduk dikursi samping ranjang Senja.


"Iya Mas. Senja ngerepotin ya?" Dia selalu saja mengatakan merepotkan. Dia sama sekali tidak pernah merepotkan ku.


"Enggak Sayang. Jangan ngomong gitu ahhh." Aku mencubit hidung nya dengan gemes.


"Mas sakit tahu." Renggeknya cemberut.


Aku terkekeh pelan. Aku tidak bisa ukur seberapa cintanya aku pada wanita ini. Yang jelas dia adalah orang yang sangat berarti bagiku setelah Bintang.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2