Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 33


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


"Ehem."


Mas Reza sudah melipat kedua tangannya didada. Dia tampak mengintrogasi ku.


"Kenapa Mas?" Tanyaku dingin.


"Pulang sama selingkuhan nya ya?"


Deg


Tanganku terkepal kuat. Aku menatap Mas Reza dengan penuh amarah dan kebencian. Dia meneriaki aku selingkuh, lalu apa kabar dia yang menikah secara diam-diam dan enggan berpisah dariku?


"Awalnya aku enggak percaya sama Ibu dan Siska. Tapi saat liat kamu tadi turun dari mobil Dokter Langit, aku semakin yakin kalau kalian berdua punya hubungan spesial."


Tanganku terkepal semakin kuat hingga menimbulkan buku-buku tangan yang tampak memutih.


"Sampai ketemu dipengadilan Mas." Ucapku yakin. Tapi apakah ada yang tahu bahwa melepaskan seseorang yang dicintai itu sungguh begitu sakit?


"Ohh kamu mau pisah sama Mas. Kamu lupa Mas juga bisa tuntut kamu balik. Atas perselingkuhan kamu dan Dokter Langit." Dia menatapku sinis dan tersenyum smirk.


Aku berdecih "Silahkan Mas. Aku enggak takut. Silahkan Mas, mau nuduh aku selingkuh sama Mas Langit. Mas mau laporin juga silahkan." Ucapku.


Prok prok prok prok prok


Dia bertepuk tangan sambil tertawa seperti orang gila. Tak pernah kuliah wajah jahat suamiku setelah kami menikah. Dia benar-benar terlihat jahat. Sangat jahat. Aku benci wajahnya. Aku benci sikapnya. Aku benci semua hal tentangnya.


"Panggilan aja udah pake Mas. Aku semakin yakin kalau kalian berdua itu udah...." Lalu dia membisikkan sesuatu yang membuat mataku membulat sempurna.


Plakkkkkkkkkkkk


Refleks tanganku menampar pipinya yang begitu dekat denganku.


"Jaga ucapan kamu Mas. Aku enggak seburuk itu. Aku bukan perempuan murahan." Bentakku. Aku tak peduli menamparnya. Aku marah. Aku kecewa. Aku dituduh sebagai perempuan murahan.


Dia langsung mencengkram daguku dengan kasar.


"Arghhh, Mas lepasin. Sakit Mas." Aku memberontak berusaha melepaskan tangannya yang mencengkram daguku.


"Kamu udah berani sama aku. Kamu udah berani bentak aku. Kamu udah kurang ajar sama aku. Dasar perempuan murahan."


Plakkkkkkkkkkkk


Satu tamparan mendarat dipipiku sampai aku terjerembab ke lantai. Mungkin semua kekuatan nya dia kerahkan hingga tamparan nya begitu sakit.

__ADS_1


Dia berjongkok dan menatap ku dengan tajam.


"Sampai kapanpun kamu enggak akan bisa lepasin Mas. Apalagi kamu cinta sama Mas. Jadi jangan berharap bisa cerai sama Mas."


Egois sungguh-sungguh egois. Dia pikir dia bisa menahanku. Tidak. Tidak ada orang yang bisa menahan jika aku sudah ingin sungguh-sungguh pergi.


"Jangan bermimpi bisa lepas ya Sayang. Kamu itu nafasnya Mas. Kalau Mas pisah sama kamu, Mas akan kehilangan semuanya. Jadi kamu jangan coba-coba pergi karena Mas enggak bakal ngelepasin kamu." Dia mengusap kepala ku "Menurut ya istriku yang cantik." Dia mengusap air mataku.


Dia berdiri lalu melenggang pergi masuk kedalam kamarnya. Sedangkan aku menahan perih diwajahku. Pasti bekas jari nya melekat disana.


"Kamu enggak bakal bisa nahan aku Mas. Enggak bakal bisa. Aku akan pergi. Aku akan hilang dari hidup kamu."


Aku berdiri dengan mengumpulkan sekuat tenaga. Lututku luka akibat tersungkur diatas keramik dan pipiku serasa perih. Ini kali keduanya Mas Reza menyakiti ku. Jika terulang lagi, aku bisa melaporkan pada polisi atas kekerasan dalam rumah tangga.


Aku masuk kedalam kamarku dengan langkah tertatih. Tenagaku hari ini seperti terkuras habis. Banyak sekali emosi yang aku keluarkan.


Aku mengunci pintu kamar ku. Lalu menyenderkan punggungku disana dan terduduk dilantai.


"Hiks hiks hiks hiks."


Tangisku kini pecah lagi. Tak bisa kubayangkan jika mataku membengkak karena hari ini terlalu banyak menangis.


"Apa salahku Tuhan? Kenapa hidupku seperti ini?"


Bolehkah aku menyalahkan Tuhan atas hidup yang tak adil ini? Atas hidup yang membuat jiwaku remuk redam dan patah tak berbentuk ini.


Suamiku menikahi lagi dan aku dituduh selingkuh dengan laki-laki yang bahkan tak kusukai sama sekali. Sekarang, suamiku malah mendekapku didalam penjaranya. Membiarkan batinku disiksa oleh segala keinginan nya yang ingin menghancurkan hidupku.


Aku meringkuk dilantai tubuh dan hatiku sangat lelah. Tubuhku dipaksa kuat bersama hati yang terluka. Aku tak baik-baik saja dalam keadaan ini. Aku benar-benar butuh sekedar pelukkan untuk menguatkan aku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


.


.


.


.


Aku mengeliat. Kurasakan lantai yang dingin dan membuat tubuh ku mengigil. Aku terbangun dan aku masih terbaring dilantai.


"Udah jam tujuh." Gumamku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku.


Aku segera bangun setelah mengumpulkan kekuatan ku. Menangis semalaman hingga membuatku tertidur dilantai.


Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sebab pagi ini aku akan menemui kedua Kakak tiriku membicarakan perceraian ku dengan suamiku.

__ADS_1


Aku keluar dari kamar. Tampaknya sudah sepi. Syukurlah Mas Reza sudah berangkat dinas, sedangkan Mbak Siska juga dinas pagi maklum mereka berdua sama-sama memiliki pangkat. Sedangkan Queen, bayi munggil itu pasti di titipkan ke Ibu.


Aku keluar pagar sambil memeluk laptop ku. Pipiku masih terasa merah akibat tamparan Mas Reza tadi malam.


Tin tin tin tin tin


Aku terkejut saat klakson mobil berbunyi didekatku.


"Ja." Tampak Mas Langit keluar dari mobil.


"Mas Langit?" Kenapa akhir-akhir ini pria yang dituduh selingkuh denganku sering muncul didepanku?


"Kamu mau kemana Ja?" Dia tampak rapih dengan jas dokter dan kaca mata tebal yang bertengger dihidung mancungnya.


"Aku mau ke Paris ll Mas." Jawabku.


"Ya udah ayo saya antar aja." Tawarnya


"Tapi Mas_."


"Ayo Ja." Dia membuka pintu mobil.


Aku tak dapat lagi menolak. Untung ini sudah jauh dari asrama. Aku takut ada yang melihat kami dan nanti malah terjadi fitnah lagi. Entah kenapa aku selalu tak bisa menolak permintaan Mas Langit, tidak enak dan tidak tega juga.


"Pipi kamu kenapa?" Dia melirikku sambil menyetir "Kok kayak bekas ditampar gitu?" Tanya nya tampak panik.


"Enggak apa-apa kok Mas." Aku mengusap pipiku yang memang masih terasa perih.


Dia menepikan mobilnya dipinggir jalan. Ini orang kenapa tidak ke rumah sakit saja?


"Kenapa Mas?" Tanyaku heran.


"Tunggu bentar." Dia mengambil sesuatu didalam dasboard mobil "Sini saya obati pipi kamu." Dia mengeluarkan obat-obatan didalam kotak P3K.


"Enggak usah Mas." Tolakku.


"Enggak usah nolak. Cepat sini. Itu pasti sakit banget." Paksanya.


Aku tak bisa lagi menolak dan membiarkan dia mengobati pipiku. Aku mengigit bibir bawahku menahan perih saat kapas itu menyentuh pipiku. Seperti nya memang luka, semalam saja sempat keluar darah segar disana.


"Tahan ya?" Dia masih mengobati luka dipipi ku.


"Aku mengangguk."


Mungkin luka di pipiku bisa diobati oleh Mas Langit. Tapi luka dihatiku takkan bisa diobati oleh siapapun. Dipastikan setelah ini aku akan mati rasa, karena terlalu sakit semua yang aku rasakan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2