Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 22


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


"Mas aku pamit ya." Aku menyalimi tangan Mas Langit.


"Aku antar." Tawarnya


"Gak usah Mas. Aku naik ojek aja." Bukan apa aku tidak mau dianggap penggoda lagi.


"Tapi_."


"Aku duluan ya Mas. Titip salam sama Bintang." Ucapku memotong ucapannya.


Dia tampak menghela nafas panjang. Aku tidak mau terlalu dekat dengan Mas Langit, aku takut masalah ini semakin besar nantinya.


Aku naik keatas ojek online ini. Kembali lagi aku teringat masalah rumah tangga ku. Tanpa sadar air mata ini malah meleleh lagi. Aku sangat lelah. Aku benar-benar ingin dipeluk. Tapi siapa yang bisa memeluk ku? Tak ada yang benar-benar peduli padaku. Aku sendirian disini.


Sampai di mess tempat aku tinggal, aku segera turun dan tak lupa membayar ongkos ojek ku.


Kulihat mobil Mas Reza sudah terparkir dengan rapih. Artinya dia ada dirumah. Entah kenapa sejak menikah dengan Mbak Siska dia lebih sering ke rumah. Dulu saja hanya seminggu sekali itu pun jarang-jarang.


Aku masuk dan kulihat Mas Reza dan Mbak Siska sedang duduk disoffa ruang tamu sambil menimbang bayi mereka. Wajah Mas Reza tampak bahagia sekali, tak pernah kulihat dia sebahagia itu sejak menikah dengannya. Hatiku terasa sakit dan perih.


"Senja, kamu baru pulang?" Tanyanya sambil tersenyum padaku.


"Iya Mas."


Sementara Mbak Siska menatapku sinis. Pelakor memang begitu dia yang merebut milik orang lain tapi dia juga yang seolah tersakiti. Tapi aku tak mau memikirkan itu. Biarlah waktu menjawab segala lelah ini.


"Ja, Mas lapar kamu bisa masak buat Mas?" Dia menatapku sambil tersenyum.


Aku menatap Mas Reza sinis. Kenapa minta aku yang masak? Bukankah dia memiliki istri yang cantik dan sempurna. Kenapa tidak istri nya saja yang dia suruh untuk memasak?


Aku tak menjawab dan malah melengang masuk kedalam kamarku. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan Mas Reza. Lagian dia sudah memiliki pengganti ku yang lebih baik. Untuk apa aku harus bersusah payah membuat lelaki yang sudah menyakiti ku bahagia. Dia telah memilih jalannya dan aku juga akan memilih jalanku.

__ADS_1


Aku masuk kedalam kamar. Lagi-lagi hatiku teriris sakit. Kamar ini adalah kamar tamu tapi sekarang menjadi kamarku. Sakit sekali ketika aku diusir dari kamarku sendiri.


Aku meletakkan tas ku dan merebahkan tubuhku diatas kasur tipis itu. Aku menatap langit-langit kamar.


"Tuhan kenapa hidupku begini? Kenapa aku selalu terbuang? Aku bahkan tidak tahu dimana Ayah kandungku berada? Dan sekarang suamiku juga membuangku. Kemana aku akan pergi? Pada siapa aku harus mengadu?" Air mataku luruh kembali.


Aku tak ingin menangis. Tapi aku tak bisa menghentikan air mataku. Setiap kali melihat Mas Reza dan Mbak Siska bahagia. Hatiku bagai ditusuk ribuan pisau. Sakit dan berdarah hingga menyerap ke tulang-tulang.


Drt drt drt drt


Kalau ponselku sudah berbunyi paling yang menelpon ku Lena. Siapa lagi kalau bukan Lena? Hanya dia yang selalu menanyakan bagaimana kabarku?


Aku mengambil benda pipih itu kedalam tas munggil lalu menatap layar ponselku.


"Nomor siapa ya? Ini bukan Lena."


Aku menggeser tombol hijau disana. Penasaran sekali nomor siapa yang ada dilayar ponsel ku.


"Hallo, maaf apakah benar ini dengan Ibu Senja Mentari?"


"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa ya?" Aku smaapi duduk karena penasaran orang ditelpon ini bisa kenal padaku.


"Mohon minta waktunya sebentar Bu. Perkenalan saya Chandrawinata dari Penerbit Jayantara Loka, tertarik untuk menerbitkan karya yang Ibu buat disalah satu aplikasi. Apakah Ibu bisa menemui saya siang ini di caffe Kings Jaya?"


Aku langsung terduduk, penerbit menghubungi ku dan tertarik menerbitkan tulisanku? Ini kesempatan yang tidak boleh aku sia-siakan.


"Bisa Mas. Saya bisa kesana." Aku langsung sumringah.


"Baik Bu. Sampai bertemu nanti."


Aku masih tak percaya jika ada penerbit yang menghubungi ku. Ini adalah kesempatan untukku bisa menggali pundi-pundi lewat menulis. Sejak menikah Mas Reza tidak pernah lagi memberi nafkah padaku. Tapi tidak masalah, aku percaya Tuhan akan memberikan jalan padaku ya lewat cara ini.


Aku berhambur ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku tak mau lagi meremang dalam kesedihan. Aku percaya tak ada sesuatu pun yang terjadi diluar kendali Tuhan.

__ADS_1


"Hem, kalau pisah sama Mas Reza. Aku mau tinggal dimana? Rumah aja gak punya! Gak mungkin aku ikut Ibu dikampung, Bapak kan dari dulu gak suka sama aku." Aku menghela nafas panjang.


"Tapi apakah aku sanggup pisah sama Mas Reza? Aku sayang dan cinta banget sama dia!" Lagi-lagi aku bernafas berat "Cepat atau lambat pernikahan Mas Reza dan Mbak Siska bakal ketahuan oleh kesatuan. Sudahlah, kalau ketahuan juga bukan urusanku. Biarin aja Mas Reza kehilangan jabatannya. Kan itu yang dia mau."


Aku bersiap-siap untuk menemui penerbit yang tadi menghubungi ku. Semoga ini jalanku menuju kesuksesan. Semoga ini jalan yang Tuhan sediakan untukku. Semoga aku bisa berjalan diatas kakiku sendiri dan membuktikan kepada orang-orang bahwa pendidikan bukan pemicu utama seseorang untuk mencapai kesuksesan.


"Mau kemana?" Tanya Mas Reza menatapku menyelidik.


"Mau ketemu teman Mas." Jawabku.


"Mau ketemu teman atau mau ketemu Dokter Langit?" Tudingnya "Semalam kamu nginap kan dirumah dia? Senja kamu harus sadar kalau kamu itu masih istri Mas!" Tegas nya.


Aku tertawa sinis menatap Mas Reza yang tampak marah.


"Emangnya kenapa Mas? Apa salahnya? Toh Mas juga nikah lagi gak jadi masalah kan? Kenapa aku mau dekat laki-laki lain gak boleh dan tadi apa Mas bilang, istri? Sejak kapan Mas anggap aku istri Mas? Bukannya aku ini cuma wanita mandul yang gak bisa kasih kamu keturunan?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. Meluruskan saja ucapannya itu.


"Ja, Mas gak bahas itu ya? Jangan ungkit-ungkit itu lagi!" Tegasnya menatapku tajam.


Aku tersenyum sinis sambil menggeleng "Kenapa aku gak boleh bahas ini, Mas? Kenapa? Bukannya itu kenyataan nya ya? Mas bilang pergi dinas keluar kota ehh tahu-tahu nya nikah dibelakang aku dan_."


Plakkkkkkkkkkkk


Aku terkejut saat sebuah tamparan mendarat dipipiku. Rasanya pedas sekali. Perih juga.


"Jaga omongan kamu Senja."


"Kamu tahu alasan aku nikah lagi? Aku bosan sama kamu! Aku malu punya istri yang gak bisa apa-apa yang kerjaannya cuma dirumah doang. Aku malu punya istri yang gak sekolah. Aku malu punya istri yang gak bisa kasih aku keturunan."


Deg


Rasanya sakit. Sakit sekali. Apakah selama ini cinta Mas Reza palsu yang mengatakan menerima aku apa adanya?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2