Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 68


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku masih memeluk Senja dengan erat. Berterima kasih dan bersyukur karena wanita ini akhirnya jatuh cinta padaku. Aku tak menyangka cinta yang aku perjuangkan selama ini berakhir bahagia. Aku berharap ini adalah awal dari hubungan kami. Aku berharap Mas Fajar takkan meminta Senja meninggalkanku lagi. Aku harap dia paham bahwa Senja mencintaiku dan aku mencintai Senja. Takkan ada yang berubah dari perasaan ini.


“Mas,” dia melepaskan pelukkanku, “Maaf.” Ucapnya menatapku dengan berkaca-kaca


“MInta maaf kenapa Sayang?” Tanyaku lembut


“Maaf karena mncintaimu tanpa izin. Aku enggak tahu kapan perasaan aku tumbuh Mas. Aku takut kehilanganmu. Aku takut kamu salah paham maafkan aku Mas,” tatapnya


Aku terkekeh pelan, ucapannya menurutku sangat lucu. Tidak perlu izin untuk mencintai seseorang.


“Kamu enggak salah Sayang. Enggak usah minta maaf. Aku senang dan bahagia karena kamu udah cinta dan sayang sama aku. Aku senang dan bahagia karena akhirnya kamu buka hati buat aku. Makasih Sayang aku mencintaimu,” ku kecup keningnya dengan mesra. Aku tak bisa ukur seberapa dalam aku mencintai wanita ini.


“Tapi Mas….” Dia tampak menghela nafas panjang


“Tapi kenapa Sayang? Kamu ragu sama aku?” aku menatap bola matanya


Dia menggeleng, “Aku takut sama Mas Fajar, Mas,” jawabnya, “Aku enggak mau kalian selisih paham gara-gara aku Mas,” sambungnya lagi


Aku tersenyum. Aku bisa lihat jika wanita ini sudah mencintaiku, terlihat dari tatapan matanya yang ketakutan pada Mas Fajar. Bukan hanya Senja yang takut tapi aku juga. Namun aku yakin jika kami saling mencintai takkan ada yang bisa memisahkan bahkan apapun yang terjadi pada kami berdua.


“Enggak usah takut Sayang. Selama kita berdua saling mencintai dan saling menjaga, aku yakin enggak akan ada yang bisa memisahkan kita termasuk Mas Fajar. Intinya kita berdua saling percaya dan saling memegang janji. Siapapun yang berani merusak hubungan kita selama kita sama-sama kuat enggak akan ada yang bisa menerobos masuk kedalam hubungan kita,” aku mengenggam tangannya berusaha menyalurkan kekuatannnya padanya.

__ADS_1


Dia mengangguk paham, “Makasih Mas udah ngertiin aku. Maaf ya selama ini aku banyak ngerepotin kamu sama Bintang,” ucapnya tak enak hati, “Oh ya Bintang mana Mas? Dia belum pulang?” sambungnya


“Kamu sama sekali enggak ngerepotin aku Sayang. Jangan ngomong gitu lagi, apapun akan aku lakukan untuk kamu. Kamu dan Bintang sumber kebahagiaan aku. Jangan pergi ya. janji?” aku menunjukkan jari kelingkingku padanya.


“Janji Mas,” dia membalas dengan senyuman manis


“Makasih Sayang,” aku menariknya kedalam pelukkanku.


Aku berjanji akan menjaga Senja dan menjauhkan dia dari Mas Fajar. Mas Fajar itu orang yang nekad dia bisa lakukan apa saja demi mewujudkan ambisinya. Sekarang lawanku bukan lagi Kapten Divta dan mantan suami Senja tapi Kakakku sendiri. Kali ini aku takkan mengalah, Senja milikku sedangkan Mas Fajar hanya seseorang yang baru datang dikehidupan Senja dan jatuh cinta pada Senja


.


.


.


.


“Maksud apa?” Dia menyesap secangkir kopi tanpa gula yang menjadi salah satu minuman favorite Mas Fajar.


“Kenapa Mas bisa sampai jatuh cinta sama Senja? Mas tahu kan kalau aku cinta sama Senja, Mas. Tapi kenapa Mas berniat merebut Senja dari aku dan menyuruh meninggalkan aku Mas. Apa maksud Mas?” Aku mengeluarkan segala unek-unek dan perasaan yang aku rasakan selama ini setelah tahu perasaan Mas Fajar pada Senja.


“Mas rasa, Mas enggak perlu menjelaskan apa yang Mas rasain, bukankah kamu udah dewasa kamu pasti paham,” sahut Mas Fajar santai, “Kita sama-sama lelaki normal, menyukai wanita yang sama bukankah sudah biasa? Mari kita bersaing sehat,” ujarnya lagi.

__ADS_1


“Tapi kenapa harus Senja Mas? Mas punya kesempatan buat kenal wanita yang lebih baik dari Senja, kenapa harus Senja?” ucapku menatap Mas Fajar kecewa. Aku tak suka berdebat hanya masalah perempuan. Tapi bagiku tak ada hal yang sepele jika berbicara tentang Senja. Senja segalanya dan aku tak rela jika ada orang lain yang berani mendekatinya termasuk Mas Fajar.


“Sama seperti yang kamu rasakan pada Senja. Kenapa kamu harus mencintai Senja? Kenapa harus Senja bukankah banyak wanita diluar sana yang lebih baik dari Senja? Tapi kenapa kau malah memilih Senja? Jika kamu bisa jawab maka Mas juga bisa jawab,” dia tersenyum mengejek “Langit, Senja belum menjadi milik siapa-siapa, jadi enggak ada larangan bagi siapa aja yang ingin dekat sama dia termasuk kamu, kamu enggak bisa larang Mas buat dekat sama Senja apalagi menyuruh Mas menjauhi Senja,” tanganku kembali terkepal sangat kuat. Aku tak habis pikir apa yang ada dipikiran Mas Langit.


“Apa yang Mas mau?” aku menatap Mas Fajar tajam.


“Mas mau Senja,” ucapnya tenang tanpa memikirkan perasaanku yang sakit mendengar nya, “Tinggalkan Senja, dia milik Mas,” dia kembali menatapku seolah dia adalah orang yang pertama masuk kedalam kehidupan Senja.


Aku menatap Mas Fajar tajam, “Jangan pernah mimpi Mas, Senja itu milikku dan aku takkan pernah melepaskkannya untuk Mas. Jadi jangan pernah memintaku meninggalkan Senja karena aku takkan melakukan hal yang takkan bisa aku lakukan,”


Aku melenggang pergi meninggalkan Mas Fajar dengan amarah yang melonjak. Sampai kapanpun aku takkan pernah melepaskan Senja untuk orang lain. Kenapa Mas Fajar melakukan ini, bukankah dia masih bisa mencari wanita yang lebih baik tanpa harus mengambil milikku?


“Kamu kenapa Lang?” tanya Papa saat melihat wajahku kusut.


Aku tak mungkin menceritakan masalahku dan Mas Fajar pada Papa. Ini masalah pribadi, aku tak mau Papa emosi ketika tahu masalahku dan Mas Fajar. Biarlah aku menghadapi dan menyelesaikan masalah ini,


“Enggak apa-apa kok Pa,” aku berusaha menahan emosi. Aku harus belajar mengontrol diri agar tak gegabah. Emosi bisa menghancurkan segalanya.


“Kamu yakin?” Papa selalu bisa menebak jika aku sedang dalam masalah. Tak heran jika dia menjadi salah satu tempat curhat terbaik, “Jangan sungkan sama Papa, siapa tahu Papa bisa bantu kamu,” Papa menepuk bahuku, “Senggaknya Papa bisa kasih saran sama kamu,” sambungnya lagi.


“Enggak apa-apa kok Pa. Aku masuk kamar dulu,”


Aku melenggang masuk kedalam kamarku. Hari ini emosiku ditantang dengan hebat hingga aku tak mampu menahan segala gejolak yang menggelora didalam dada. Jika saja aku tak memikirkan jika Mas Fajar adalah Kakak ku mungkin aku akan mengajaknya untuk bangku hantam saja. Namun aku masih dibatas normal, karena ini bisa berakibat fatal pada orang-orang yang aku cintai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2