
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
“Lang kamu bisa jelasin sama Papa?” Papa dan Mama menatapku dengan penuh selidik.
Aku menghela nafas panjang. Aku tidak tahu darimana mulai menjelaskan permasalahan ini. Aku juga bingung sejak kapan Mas Fajar jatuh cinta pada Senja. Tapi sejak awal aku memang merasa aneh dengan tatapan Mas Fajar pada Senja. Aku pikir itu tatapan biasa, ternyata itulah tatapan yang menghancurkan hubunganku dan Mas Fajar.
“Aku enggak tahu Pa, aku juga terkejut saat tahu kalau Mas Fajar mencintai Senja.” Jawabku
Terdengar helaan nafas panjang “Lang, kalau urusan yang seperti itu Papa enggak bisa ikut campur. Papa yakin kalian berdua bisa selesaikan dengan baik,” ucap Papa. “Pertahankan Senja. Anggap aja ini ujian cinta kalian berdua, jangan lenggah. Jangan lepaskan apa yang udah jadi milik kamu. Kasihan Bintang, karena dia yang pasti akan terluka jika sampai kamu kehilangan Senja. Bicarakan baik-baik dengan Mas mu. Papa yakin kamu bisa selesaikan sendiri masalah seperti ini.” Papa menepuk pundakku.
Aku mengangguk. Kalau masalah hati memang tidak baik orang tua ikut campur. Aku tahu maksud Papa agar aku lebih dewasa lagi dalam menghadapi masalah.
Aku masuk kedalam kamar Bintang, kulihat dia sedang belajar bersama pembimbingnya. Bintang memang memiliki kecerdasan yang tinggi, meski keras kepala dan nakal tapi dia hobby belajar dan tak pernah bolos jika masalah pelajaran.
“Ayah.” Dia tersenyum kearahku dengan sumringgah.
Aku membalas dengan senyuman dan berjalan menghampiri Bintang. Guru pemimbing Bintang yang sudah tahu jika aku masuk langsung berpamitan keluar dan memberiku ruang untuk bersama Bintang.
“Belajar apa Son?” Bintang tampak membereskan buku-buku pelajarannya.
“Belajal menggambal dan mewarnai Ayah,” sahutnya dengan senyuman sambil menjelaskan pelajaran yang dia pelajari.
“Waah anak Ayah hebat.” Senyumku sambil memujinya dengan mengusap kepala Bintang lembut.
“Iya dongg Ayah. Anak siapa dulu,” serunya membanggakan diri
“Anak Ayah donggg.” Sahutku
“Anak Bunda lah.” Seru Bintang.
__ADS_1
Aku terkekeh saat kami berdua saja yang ada dipikiran Bintang hanya ada Senja. Sedangkan aku yang Ayah nya tak dia pikirkan sama sekali. Luar biasa anak ini.
“Ayah kenapa Bunda sama Ayah enggak tinggal selumah aja, bial Bintang bisa tidul baleng Ayah dan Bunda setiap malam?” Tanya Bintang dengan wajag polosnya tak lupa ekspresi penasarannya pun ikut dia tampilkan.
“Ayah sama Bunda kan belum nikah Son jadi enggak bisa tinggal bareng,” jelasku sabar sambil tersenyum.
Kening Bintang tampak berkerut heran. Pasti dia bingung menikah itu apa dan sebentar lagi dia akan bertanya.
“Menikah itu apa Ayah?” Tanyanya penasaran, benar dugaanku karena Bintang ini memiliki jiwa penasaran yang tinggi, jadi dia tidak akan berhenti bertanya jika belum dijawab.
“Menikah itu keputusan hidup bersama pasangan. Kalau udah menikah berarti boleh tinggal serumah karena udah menyatu sama pasangan. Nah sekarang karena Ayah sama Bunda belum nikah jadi belum bisa tinggal bareng.” Jelas panjang lebar.
“Ohh begitu ya Ayah. Pantesan Bunda enggak tinggal sama kita. Padahal kan Bintang pengen banget tinggal sama Bunda Senja, bial ada yang peluk Bintang saat tidul, ada yang suapin Bintang saat makan,” ujarnya lagi memasang wajah sendu dan juga sedih.
“BIntang tenang ya. Ayah sama Bunda pasti nikah kok dan Bintang akan tinggal sama Bunda terus setiap hari,” seruku
“Wah, Bintang enggak sabal Ayah.” Serunya dengan mata berbinar-binar
“Ayah, kata Bunda sebelum tidul halus beldoa bial Tuhan jaga sepanjang malam kita sampai bangun besok.” Jelas Senja.
Aku manggut-manggut. Pengaruh Senja luar biasa sekali pada Bintang. Bintang ini memiliki daya ingatan yang kuat sehingga apa saja yang dikatakan padanya akan dia ingat dengan baik.
“Ya udah ayo kita doa.” Ajakku
“Sini Ayah, Bintang pegang tangan Ayah.”
Aku menurut. Kami berdua saling berhadapan dengan kaki yang terlipat diatas ranjang milik Bintang.
“Ya Allah, sembuhkanlah Bunda-nya Bintang. Bial Bintang dan Ayah bisa hidup sama Bunda selamanya. Bintang juga ingin Ayah dan Bunda segela menikah ya Allah. Malam ini Bintang dan Ayah mau tidul jaga Bintang dan Ayah ya Allah. Jaga juga Bunda Senja disana.” Doa Bintang.
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku menetes. Anak sekecil ini saja sudah tahu mendoakan seseorang yang dia sayang. Aku bangga pada Bintang, diusianya yang masih terbilang belia dia sudah tahu cara berdoa dan tadi dia mendoakan Senja.
“Amin.”
“Ayah malam ini temanin Bintang tidul ya?” Pintanya
Aku mengangguk. Sebelum Bintang terlelap aku membacakan dongeng untuknya sebagai penghantar tidur untuk Bintang.
Ku dengar dengkuran halus terdengar dari mulut munggil pria kecilku ini. Kutatap wajah damai Bintang yang terlelap. Aku tersenyum sambil mengusap kepala putra semata wayangku ini.
“Ayah janji Son akan perjuangkan Bunda demi kamu.” Ku kecup kening Bintang dengan lembut.
Kuselimuti tubuh munggil Bintang dan mematikan lampu kamarnya. Aku ikutan berbaring disamping Bintang dan menatap wajah yang selalu membuatku merasa tenang dan damai.
Aku tak bisa tidur, pikiranku terus berkelana memikirkan masalah ku dengan Mas Fajar. Sebagai manusia biasa aku takut. Takut jika hal yang aku takutkan justru terjadi dan aku akan kehilangan seseorang yang begitu aku sayangi.
“Senja.” Lirihku
Aku menangis dalam keheningan malam sambil memeluk anak semata wayangku ini. Tak pernah aku merasa takut dan sepatah ini dalam hidupku. Ini lebih sakit dari sekedar dikhianati. Hati terasa dicabik-cabik oleh benda tajam.
Aku memeluk Bintang sambil menangis dalam diam. Belum cukup aku dihadapkan dengan penyakit Senja dan sekarang aku malah dihadapkan dengan permasalahan Kakakku sendiri. Seolah masalah ini tak berhenti menyiksaku dan Senja. Begitu banyak badai yang menerpa hubungan kami berdua.
Aku tetap ingin bertahan, aku tak ingin aku dan Senja menyerah. Aku ingin kami berdua sama-sama saling memperjuangkan dan takut kehilangan. Kuharap Senja tak menyerah meski nanti akan lebih banyak lagi yang menerpa dan mencobai hubungan kami berdua. Aku berharap tetap bersamaku hingga kutemukan akhir dari usia. Semoga aku dan Senja segera menjadi kita.
Aku sudah mengatur masa depan yang cerah dengan Senja. Aku akan mengambil dia sebagai istri dan Bunda-nya Bintang. Hidup bahagia dimana hanya ada kami bertiga tanpa ada orang keempat atau kelima dikehidupan rumah tangga kami nantinya. Impianku tentang Senja memang terlalu tinggi ini karena dia sungguh berarti bagiku dan aku mencintainya tanpa batas waktu.
Aku akan mewujudkan permintaan Bintang untuk mempersunting Senja menjadi istriku. Menjadikan Senja sebagai wanita pilihan terakhir yang akan menua bersamaku hingga nanti.
Bersambung
__ADS_1