
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Reza bersandar di dinding toilet. Dia memegang dadanya yang terasa sakit dan seperti di iris-iris. Begini kah rasanya patah hati saat melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain.
"Senja," Reza memegang dadanya yang terasa sakit. "Andai Mas enggak nyia-nyiain kamu pasti sekarang kita udah hidup bahagia. Maafin Mas, Senja," Reza menangis didalam kamar mandi. Sungguh dia tak sanggup melihat senyum Senja yang terlihat begitu bahagia saat bersama Langit dan anak-anak nya.
"Mas cinta sama kamu,"
Namun perasaan Reza sudah terlambat dan terhambat oleh waktu. Sekuat apapun dia mengatakan bahwa dia mencintai Senja yang pergi takkan mungkin kembali lagi. Ketika Senja menjadi miliknya dia tak pernah benar-benar mencintai wanita itu dan ketika Senja sudah pergi dan bahagia bersama kekasih hati pilihannya dia malah menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada istrinya itu.
Reza memukul dadanya berulang kali berusaha mengusir segala sesak yang menghantam didalam sana.
Andai waktu bisa diulang kembali, Reza takkan pernah menyia-nyiakan Senja. Dia akan mencintai wanita itu setulus hatinya.
"Semoga kamu bahagia Senja. Kamu akan tetap menjadi wanita yang paling Mas cintai," Reza menyeka air matanya.
Ayah anak satu itu mencuci wajahnya agar dia tidak terlihat menangis.
"Aku harus bisa melanjutkan hidupku, Deni Queen, Ibu dan Santi. Aku harus terima takdir Tuhan," ucapnya meneguhkan hatinya. "Senja, makasih udah pernah hadir dalam hidup Mas. Maaf, selama kita bersama Mas banyak nyakitin hati kamu."
Reza menatap pantulan dirinya didepan cermin kamar mandi. Mata sembab dan penampilan yang berantakan.
Reza keluar dari toilet karena dia masih harus melanjutkan pekerjaan nya. Dia harus kuat demi orang-orang yang dia cintai.
"Reza,"
Lelaki itu langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.
"Pak Jaya," gumam Reza.
Jaya menatap Reza dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tajam. Ingin rasanya dia membuat kepala Reza botak tanpa rambut.
"Ada apa Pak?" Reza tampak gugup.
"Saya mau bicara sama kamu,"
__ADS_1
Jaya langsung melenggang meninggalkan Reza. Cafe ini adalah miliknya dan tadi dia tidak sengaja melihat Reza melalui rekaman CCTV di ruangannya.
Reza mengikuti Jaya, perasaan nya sudah ketar-ketir. Entah apa yang akan dibicarakan Jaya padanya.
"Bapak mau bicara apa?" Tanya Reza menunduk ketika sudah sampai di ruangan Jaya.
"Duduklah," suruh Jaya.
Reza mengangguk dan duduk di kursi depan Jaya.
"Kamu tahu kan Za, kesalahan kamu apa?" Jaya menatap Reza kecewa.
"Maaf Pak," Reza hanya bisa mengucapkan kata maaf
"Saya suruh kamu nikahin Senja buat ngelindungin dia bukan nyakitin dia," ucap Jaga kecewa. "Kamu harusnya bersyukur karena Senja enggak nuntut apa-apa sama kamu," sambungnya.
"Saya minta maaf Pak. Emang awalnya saya enggak cinta sama Senja. Saat Bapak paksa saya nikah sama dia dengan menjanjikan jabatan, saya sama sekali enggak punya perasaan apa-apa sama Senja Pak. Apalagi Senja enggak bisa kasih saya keturunan. Hal itu yang buat saya selingkuh. Tapi setelah saya berpisah sama Senja. Saya baru sadar kalau saya jatuh cinta sama istri saya Pak," akunya. Reza baru berani mengakui perasaan nya yang tak seharusnya dia ucapkan lagi.
"Sudah terlambat Reza. Kamu udah kehilangan segalany," ditengah kekecewaan hatinya, Jaya juga tak tega melihat kehidupan Reza yang sekarang.
"Saya cuma mau ingatin kamu jangan pernah ganggu Senja lagi. Biarin dia bahagia sama Langit. Karena Langit adalah lelaki yang enggak akan pernah menyakiti Senja seperti yang kamu lakukan dulu," tegas Jaya memperingati Reza. Jaya tak ingin kasus seperti Fajar terulang kembali karena obsesi sampai mencelakai putrinya itu.
"Baik Pak. Saya paham. Saya tidak akan mengangguk Senja lagi," sahut Reza sambil membungkuk hormat.
"Kamu kayak bahagia amat Mas?" Singgung Elly.
"Iya emang lagi bahagia. Kenapa?" Fajar menahan tawanya.
Hari ini mereka memutuskan pulang ke Pontianak untuk menghadiri pesta pernikahan Dicky dan Hana. Dan juga Fajar ingin mempersiapkan pernikahan nya dan Elly.
"Pasti enggak sabar ketemu Senja kan?" Tuding Elly kesal dengan melipat kedua tangannya didada.
Entahlah, Elly masih saja cemburu pada Senja. Elly takut jika hati Fajar kembali berpaut pada wanita itu. Apalagi dulu Fajar sangat mencintai Senja. Bisa saja sekarang perasaan Fajar masih ada.
Sementara Fajar tertawa lebar. Sesungguhnya apa yang dikatakan Elly benar, jika dirinya tak sabar bertemu Senja tapi itu hanya sebatas adik iparnya. Memang perasaan nya masih ada tapi Fajar berusaha membunuh segala rasanya. Dia ingin hidup baru dan melangkah bersama orang yang baru, yaitu Elly.
__ADS_1
"Sayang, kamu ini. Cemburuan terus," Fajar mengusap kepala kekasihnya. Sedangkan tangannya yang satu malah sibuk menyetir.
"Habisnya Mas suka bikin kesal sihh," ketus Elly.
Fajar tersenyum. Dia menghargai perasaan Elly yang begitu mencintai dirinya dan dia juga sedang berusaha mencintai wanita itu meski sekarang belum tumbuh rasa cinta tapi dia sudah merasa nyaman dengan calon istrinya itu.
"Percaya sama Mas, Sayang. Mas udah janji sama kamu bakal belajar cinta sama kamu. Jadi kamu enggak usah khawatir kalau Mas bakal berpaling. Percaya yaaa," Fajar memang bukan pria romantis dalam perkataan tapi apa yang dia katakan itu tulus dari hati.
"Beneran?" Mata Elly mengerjab-ngerjabkan beberapa kali.
"Iya Sayang," Fajar tersenyum.
"Makasih Mas. Aku cinta sama kamu," Elly merebahkan kepalanya di lengan Fajar.
Perjalanan dari Singkawang ke Pontianak hampir memakan waktu dua jam lebih. Kalau jalan tidak macet bisa dua jam tapi kalau jalanan padat dan macet bisa berjam-jam. Apalagi bulan ramadhan biasanya lebih sering macet.
Mobil Fajar berhenti dipekarangan rumah kedua orang tua nya. Kedua orang itu langsung turun dari mobil. Sementara rumah Langit jaraknya cukup jauh dari sini.
"Ehhh Fajar. Elly," sambut Amira Ibu nya Fajar.
"Ma," Elly memberikan pelukan hangat pada calon Ibu mertua nya itu.
"Ayo masuk,"
Awalnya, hubungan Fajar dan Elly tak direstui oleh kedua orang tua Elly. Mengingat Fajar yang seorang bekas narapidana membuat orang tua Elly was-was untuk membiarkan anak mereka menjalin hubungan dengan Fajar. Apalagi mendengar kejahatan yang sudah Fajar lakukan termasuk menculik Senja dan hampir menghilangkan nyawa wanita itu.
Namun Fajar dan Elly berhasil menyakinkan kedua orangtuanya. Fajar juga jauh berubah dari yang dingin kini mulai hangat. Dulu tak tersentuh dan irit bicara sekarang dia pria yang suka bercanda.
Selama tinggal didalam jeruji besi, Fajar belajar banyak hal. Fajar menjadi lelaki yang tangguh dan bertanggung jawab terhadap keputusan nya sendiri.
Jangan lupa follow akun ku ya
FB : Fitriani Yuri
IG ; fitrianiyurikwon_
__ADS_1