Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 49


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku masih memikirkan kata-kata Dicky. Benarkah Senja dulu memiliki perasaan pada Kapten Divta? Tapi kan itu dulu sudah masa lalu. Tapi bagaimana kalau sekarang Senja juga memiliki perasaan yang sama pada Kapten Divta?


"Mas kenapa melamun?" Dicky menoleh padaku "Mikirin Senja ya?" Tebaknya tak lupa tersenyum jahil.


Kenapa Dicky ini sama seperti Papa yang suka sekali menggodaku. Dicky ngakak lagi melihat wajahku yang salah tingkah.


"Hem, enggak usah dipikirin mulu Mas. Dekatin, itu baru cowok gentle." Goda Dicky.


Aku memutar bola mata malas. Tidak dirumah. Tidak disini selalu saja ada yang menggodaku. Apalagi dirumah ada Papa yang selalu membuatku kesal dan malas.


"Ky, singgah bentar." Ucapku ketika melewati penjual buah-buahan.


"Mau apa Mas?" Dicky menepikan mobil.


"Mau beli buah. Senja biasanya suka buah apa?" Aku melepaskan sealbeat ditubuhku.


"Hem alpukat. Dia suka sekali buah itu." Jawab Dicky.


"Saya keluar bentar."


Aku keluar dari mobil. Membelikan Senja dan Bintang buah. Kebetulan atau memang bagaimana? Bintang juga sangat menyukai alpukat. Bahkan dirumah stok alpukat tak pernah habis karena dia benar-benar menyukai buah itu.


Aku membeli beberapa buah untuk Senja. Dia harus banyak makan buah agar cepat pulih.


"Makasih Bu." Aku mengeluarkan tiga lembar uang berwarna mereka "Kembalian nya buah Ibu aja." Aku mengambil kantong berukuran cukup besar itu.


"Makasih Pak."


Aku masuk kedalam kedalam mobil dan meletakkan kantong itu ke bangku penumpang.


"Banyak amat Mas?" Seru Dicky.


"Biar enggak beli lagi." Jawabku asal. Padahal aku juga suka buah alpukat. Jodoh mungkin, kenapa buah kesukaanku dan Senja serta Bintang bisa sama.


Sampai dirumah sakit, aku dan Dicky langsung turun. Dan aku merenggut kesal ketika Kapten Divta juga baru sampai dirumah sakit. Apakah dia mau pamer atau bagaimana pada Senja, kenapa masih memakai pakaian dinas nya? Ini kan rumah sakit!


"Ciee yang cemburu." Bisik Dicky ketika melihat wajahku masam.


Aku menatap Dicky malas dan berjalan duluan.


"Dokter Langit."


Namun aku tak merespon sama sekali. Aku berjalan cepat sambil menenteng kantong ditanganku. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku cemburuan sekali? Dulu ketika dengan almarhum istriku, aku terkesan cuek kenapa sekarang saat aku jatuh cinta pada Senja rasa cemburu itu besar sekali? Dan aku tak bisa mengontrol perasaanku sendiri.


Aku masuk kedalam ruangan rawat Senja. Hatiku langsung hangat ketika melihat Senja sedang menemani Bintang belajar dan kedua orang itu tampak serius tanpa menyadari kehadiran ku.


Ada Donny yang duduk disoffa sambil memangku laptop. Aku salut pada Donny padahal dia memiliki proyek diluar kota tapi dia batalkan demi Senja. Semoga kasih sayang Donny pada Senja hingga nanti. Sehingga Senja tidak memiliki munsuh lagi.


"Lang." Sapa Donny.

__ADS_1


Senja dan Bintang baru menyadari kehadiran ku. Mereka kompak menoleh kearahku.


"Ayah." Senyum Bintang menggembang.


"Mas Langit." Dia juga tersenyum.


Aku masuk sambil tersenyum hangat lalu meletakkan kantong itu diatas meja.


"Lang nanti aku mau bicara sama kamu."


"Iya Don." Sahutku duduk dikursi samping ranjang Senja.


"Ayah bawa apa?" Bintang melirik kantong diatas meja.


"Alpukat." Aku mengeluarkan dua buah alpukat dari dalam kantong.


"Waahh buah kesukaan Bintang." Seru Bintang mengambil alpukat itu dari tanganku.


"Bintang suka?" Senja mengusap kepala putraku.


"Suka sekali Bunda." Seru Bintang.


"Kamu mau Ja?" Tawarku.


"Iya Mas. Aku juga suka buah alpukat." Sahutnya tersenyum manis


Aku tersenyum lalu mengupas dua buah alpukat khusus untuk orang yang paling aku sayangi itu. Aku membelah alpukat itu menjadi beberapa bagian.


"Suapin Bunda juga Ayah." Seru Bintang.


Aku dan Senja saling melihat. Bintang memang peka dengan perasaan Ayah nya, dia tahu saja kalau aku ingin menyuapi Senja.


"Ehem." Donny yang tampak asyik dengan laptop nya pura-pura berdehem.


"Mas." Senja mendesah kearah Donny.


"Iya Bintang benar, Bunda juga disuapin Ayah." Celetuk Donny menirukan suara Bintang dan menahan senyum.


Aku terkekeh. Ada-ada saja si Donny ini. Sedangkan Bintang mengangguk setuju. Dia mana paham dan mengerti masalah orang dewasa.


"Mau?" Aku menyedorkan sepotong alpukat pada Senja.


"Maaf ya Mas ngerepotin." Ucapnya tak enak hati.


"Sama sekali enggak." Hem apapun akan aku lakukan untuk Senja. Lihat saja nanti Senja akan jadi milikku seutuhnya.


Aku menyuapi Senja dan Bintang secara bergantian. Sesekali juga aku memasukkan kedalam mulutku. Aku memang menyukai buah alpukat sejak kecil. Selain mengandung vitamin yang baik untuk kesehatan rasa asam dan manis dari daging nya juga menyegarkan tenggorokan.


"Senja."


Kapten Divta dan Dicky masuk kedalam ruangan Senja. Wajah Kapten Divta seketika berubah saat aku menyuapi Senja buah alpukat.

__ADS_1


"Kak Divta. Mas Dicky." Sapa Senja.


Dicky duduk di sofa bersama Donny. Sementara Kapten Divta menghampiri kami.


"Gimana kabar kamu Senja?" Dia tersenyum ramah tanpa peduli padaku.


"Aku udah sehat Kak. Cuma pemulihan aja."


Aku dan Bintang diam dan kompak menunjukkan wajah tak suka.


"Ja, maaf ya Kakak enggak bisa lama. Soalnya ada beberapa acara yang harus Kakak hadiri. Kamu cepat sembuh." Dia tersenyum manis


"Iya Kak hati-hati di jalan."


Baguslah dia cepat pergi biar waktu ku bersama Senja dan Bintang tidak terganggu oleh Kapten gadungan itu.


"Hem Lang, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Donny menutup laptopnya.


"Iya Don." Aku meletakkan piring bekas alpukat yang kami makan bertiga.


"Kenyang?" Aku mengangkat gelas dan memberikan nya pada Senja.


"Makasih Mas." Balasnya.


"Kalian istirahat dulu sebelum jam makan siang. Ayah mau ngobrol dulu sama Om Donny." Ucapku.


"Iya Ayah." Sahut Bintang.


"Enggak pamitan sama Bunda nya?" Goda Dicky tersenyum kearah aku dan Senja.


Sial Dicky, Senja kan belum tahu perasaan ku. Bagaimana kalau tanggapannya lain? Dan dia malah menjauhi ku. Sungguh aku takkan sanggup kehilangan dan Senja dan tidak terima kalau dia menjauhi aku.


"Hemm, Ja, saya keluar sebentar. Titip Bintang ya. Kalian berdua istirahat saja." Ucapku sedikit kaku. Memang sial si Dicky ini.


"Iya Mas." Sahutnya.


Aku dan Donny keluar dari ruangan Senja. Entah apa yang akan dibicarakan Donny. Usiaku dan Donny hampir sama mungkin aku hanya tua beberapa tahun saja. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum menikah padahal usianya sudah matang dan siap membangun kehidupan berumah tangga yang lebih serius.


Bersambung....


Hai para kesayangan..


Apa kabar kalian....?


Semoga kalian selalu sehat ya guys ...


Makasih buat yang udsh ikutin kisah Langit dan Senja......


Kalau ada typo kalian boleh coret-coret dibawah ya ..


God bless you.

__ADS_1


__ADS_2