
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
“Kamu cinta sama Langit?” Aku terkejut ketika mendengar pertanyaan Mas Fajar.
Kenapa dia menanyakan hal yang tak bisa kujawab? Memangnya apa urusannya dengan Mas Fajar?
“Senja,” panggil Mas Fajar yang melihatku terdiam saja.
“Iya Mas?” Aku menoleh sambil tersenyum.
“Kamu cinta sama Langit?” Dia mengulang pertanyaan yang sama. Bisa tidak dia tidak menanyakan pertanyaan yang paling aku hindari, “Kenapa diam?” Dia menatapku dengan selidik.
“Saya enggak tahu Mas, jika ditanya apakah saya mencintai Mas Langit? Saya enggak tahu jawabannnya Mas. Yang pasti saya merasa nyaman, saya merasa terlindungi, saya bahagia didekat Mas Langit dan Bintang. Saya merasa menjadi diri saya sendiri. Saya terlalu takut untuk membuka hati kembali, saya takut akan kecewa kedua kalinya. Saya pernah jatuh sejatuh-jatuhnya dan dijatuhkan oleh lelaki yang membuat saya jatuh hati. Dipatahkan dan dikecewakan saat saya merasa bahwa dia adalah pelabuhan terakhir saya tapi kenyataannya saya malah dihempaskan oleh perbuatannya yang membuat saya trauma pada hubungan asmara,” jawabku panjang lebar karena memang itu yang aku rasakan.
“Mas Langit baik sangat baik, dia terlalu baik untuk perempuan seperti saya. Tapi saya enggak bisa bohongin perasaan saya sendiri bahwa saya merasa nyaman dengan Mas Langit, tapi saya takut akan kehilangan untuk kedua kalinya. Saya hanya perempuan penyakitan. Diluar sana banyak wanita yang pantas menjadi pasangan Mas Langit dan mungkin itu bukan saya,” ucaku lagi, “Bintang, dia segalanya buat saya. Saya sangat menyanyanginya seperti anak saya sendiri. Bintang membuat saya merasa menjadi seorang Ibu setelah sekian lama saya ingin mendapatkan gelar itu,” aku tersenyum kecut memikirkan nasibku yang seperti wanita mandul ini. Kenapa Tuhan tidak memberiku kesempatan menjadi Ibu diakhir usia ku.
“Senja,” Mas Fajar menatapku lekat.
“Iya Mas,” aku menoleh dengan senyum “Kenapa Mas?” Tanyaku.
Banyak yang menatapku aneh dengan kepala plontos seperti ini tapi bagaimana lagi aku tak bisa menolak takdir selain menerima apa yang sudah Tuhan gariskan untuk hidupku.
“Kamu mengingatkan saya pada seseorang,” ucap Mas Fajar menatapku lekat
“Seseorang?” Aku menatap Mas Fajar balik, “Siapa Mas?” Tanyaku penasaran
“Orang yang saya cintai,” jawab Mas Fajar lalu membuang muka kearah kedepan.
“Sabar ya Mas,” aku mengusap bahu Mas Fajar pelan menyalurkan kekuatan padanya. Yang aku tahu dari Mas Lagit kekasih Mas Fajar menikah dengan orang lain.
__ADS_1
“Wajah kamu, semua yang ada di kamu mengingatkan saya pada dia, Senja,” ucap Mas Fajar lagi, “Saya enggak tahu kenapa bisa kamu yang begitu mirip dan mengingatkan saya pada dia,” sambungnya kemudian.
“Mas,” kenapa aku terganggu dengan tatapan Mas Fajar?
Dia memalingkan wajahnya kedepan. Dia seperti tahu satu hal tentangku, tapi apa? Sebelumnya aku tak mengenal Mas Fajar. Aku bahkan tak tahu jika Mas Langit memiliki Kakak bernama Fajar.
“Senja,” Mas Fajar menatapku dalam.
“Saya enggak tahu harus bilang apa sama kamu, tapi setiap kali didekat kamu saya merasakan menjadi diri saya sendiri. Saya merasa kamu mampu membuat saya bangkit dari patah hati yang selama ini membuat saya enggak percaya pada kata cinta. Saya sayang sama kamu Senja,”
Aku terkejut bukan main mendengar pengakuan Mas Fajar. Aku tak menyangka jika lelaki dingin ini bisa mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan.
“Mas,” lidahku kelu untuk mengatakan sesuatu, aku tak merasakan apa-apa saat didekat Mas Fajar.
“Saya tahu kamu enggak akan cinta sama saya Senja, tapi bisakah kamu buka sedikit hati kamu buat saya?” Dia menatapku dengan permohonan, “Cuma kamu yang bisa buat saya bangkit dari patah hati ini. Bantuin saya Senja, bantuin saya lepas dari masa lalu ini,” Mas Fajar mengenggam tanganku tatapanya seperti permintaan yang harus aku kabulkan.
“Jangan gini Mas,” aku melepaskan genggaman tangannya, “Maaf Mas, saya enggak bermaksud menolak permintaan Mas, tapi saya enggak memiliki perasaan apapun sama Mas, saya mencintai Mas Langit,” entah dari mana keberanian itu, kenapa tiba-tiba aku mengatakan mencintai Mas Langit. Aku saja belum paham dan belum tahu bagaimana perasaanku terhadap Mas Langit.
“Kenapa Mas?” Aku mulai was-was, bagaimana kalau Mas Langit tahu, dia bisa salah paham
“Tinggalkan Langit dan menikahlah dengan saya, saya berjanji akan menjaga dan merawat kamu. Cinta itu bisa tumbuh seiring waktu berjalan, mungkin sekarang kamu belum mencintai saya tapi saya yakin jika kamu menikah dengan saya kamu cinat itu akan perlahan hadir dihati kamu,” ucap Mas Fajar lagi
Aku menggeleng, “Maaf Mas saya enggak bisa. Saya enggak bisa Mas,” tolakku.
“Senja,”
Aku dan Mas Fajar menoleh, terlihat Mas Langit dengan wajah merah padamnya. Apa dia mendengar ucapan kami tadi. Aku tidak mau Mas Langit salah paham.
“Mas Langit,” gumamku
__ADS_1
“Maaf Mas, aku mau bawa Senja masuk,” ucapnya dengan wajah datar dan juga dinginnya.
“Mas,”
Mas Langit mengangkat ku dari kursi roda lalu menggendongku tanpa kursi roda itu. Dia tak mengucapkan apapun pada Mas Fajar. Dia menggendongku dan membawaku menjauh dari Mas Fajar.
Aku bersyukur Mas Langit datang tepat waktu, aku takut sekali jika Mas Fajar malah memaksaku melakuan sesuatu yang takkan bisa aku lakukan.
“Mas,” wajah Mas Langit tampak dingin tak pernah kulihat dia sedingin ini padaku.
“Mas,” dia masih diam sambil menggendongku masuk kedalam ruangan rawat inap
“Mas jangan salah paham, ini semua enggak seperti yang kamu lihat Mas,” ucapku menatapnya.
Namun dia malah meletakkan aku diranjang tanpa mengucapkan kata apapun. Kenapa aku sedih melihat wajah dingin Mas Langit padaku? Aku sungguh tidak tahu jika niat Mas Fajar mengajakku jalan-jalan adalah untuk mengungkapkan perasaannya padaku.
“Mas,” mataku sudah berkaca-kaca
Mas Langit diam dengan seribu bahasa dia sama sekali tak peduli dengan ucapanku. Harusnya aku senang jika Mas Langit salah paham, ini artinya aku bisa lebih mudah melepaskan Mas Langit dan Bintang tanpa terlibat apaun dihidup mereka berdua. Tapi kenapa aku merasa sedih, sakit hati dan ada sesuatu yang hilang dirongga dadaku.
“Mas, jangan salah paham. Ini enggak seperti yang kamu lihat. Tadi Mas Fajar ngajak aku jalan-jalan keliling rumah sakit sambil duduk ditaman. Aku enggak bisa nolak Mas, tolong jangan salah paham,” ucapku menjelaskan.
Mas Langit menghela nafas panjang lalu menatapku yang sudah memohon padanya agar dia tidak salah paham padaku dan Mas Fajar.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan vote nya ya guys.
Ikutin terus kisah langit dan Senja..
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak...