Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 87


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku terbangun saat pantulan cahaya matahari mengenai wajah ku. Entahlah, sejak menikah aku semakin pemalas seperti ini.


"Huweekkk,"


Kenapa perutkh serasa di kocok-kocok. Aku berhambur kearah kamar mandi.


"Huweekkk,"


"Huwekkkk,"


Astaga kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan perutku serasa di kocok-kocok seperti ini? Badanku juga lemas. Biasanya aku bangun pagi sekali menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku.


Badanku lemas sekali. Ada apa ini, apa penyakit ku kambuh lagi? Tapi kata dokter aku sudah sembuh hanya tinggal menjalani beberapa treatment untuk mencegah obat kemoterapi masuk kedalam tulang-tulang ku.


"Apa mungkin aku hamil?"


"Tapi tidak mungkin, Dokter sudah memponis kalau aku tidak akan bisa punya anak." Aku keluar dari kamar mandi.


"Mas Langit kemana sih?" Ya suamiku itu entah kemana? Tidak mungkin dia pergi pagi-pagi sekali seperti ini. Biasanya dia selalu membangunkan ku jika aku kesiangan.


Aku duduk diranjang. Wajahku benar-benar lemas sekali. Sejujurnya aku panik jika penyakit ini kembali lagi. Aku tidak mau membuat Mas Langit dan Bintang repot gara-gara mengurus aku yang penyakitan ini.


"Kepalaku juga sakit banget." Aku memijit-mijit pelipisku sambil bersandar di senderan ranjang.


Aku memejamkan mataku sejenak dan sial kenapa mual lagi?


"Huweekkk,"


"Huweekkk,"


"Huwekkkk,"


Cukup lama aku bolak-balik kamar mandi karena perut ku benar-benar terasa di kocok dan yang keluar hanya cairan berwarna kekuningan karena aku memang belum sarapan pagi.


Aku keluar dari kamar dan mencari air minum. Suasana rumah juga tampak sepi. Tidak terdengar suara Bintang yang bisanya sudah heboh dipagi hari meminta agar di pakaikan seragam sekolahnya.


"Pada kemana sih?" Keringat sudah membasahi dahiku.


Aku berjalan kearah dapur untuk mencari air minum yang akan melegakan tenggorokan ku.


"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to you,"


Aku langsung berbalik dan terkejut saat melihat Mas Langit dan Bintang. Ada Papa dan Mama. Mas Donny dan Mas Dicky. Kak Hana dan Mbak Aisyah serta para asisten rumah tangga yang bekerja disini.


Aku menutup mulut tak percaya dan saling terkejutnya juga. Apa mereka tahu hari ulang tahunku? Aku saja tidak ingat jika hari ini aku ulang tahun.


"Selamat ulang tahun Sayang," Mas Langit mendekat.


Kenapa bau parfum Mas Langit membuat perut ku serasa di kocok-kocok.


"Stopppppp Mas jangan mendekat." Aku menahan Mas Langit dengan tangangku.

__ADS_1


"Kenapa Sayang?"


Tak hanya Mas Langit yang heran tapi mereka semua. Aku juga heran kenapa aku tidak suka mencium wangi parfum Mas Langit dan rasanya aku ingin muntah.


"Mas jangan mendekat," ucapku menahan.


"Tapi Sayang _" Mas Langit tampak mendesah.


"Bunda kenapa kok enggak mau dekat-dekat Ayah?" Tanya Bintang heran sambil melihat ku.


Aku menggeleng tidak tahu. Entahlah aku tidak tahu kenapa bisa aku tidak mampu mencium bau parfum dari tubuh Mas Langit.


"Kamu kenapa Ja? Kamu sakit lagi?" Tanya Mas Donny tampak panik.


Aku menggeleng karena aku memang tidak merasa sakit. Hanya saja aku mual dan tidak bisa mencium sesuatu yang bau nya menyengat.


"Sayang," Mas Langit tampak kesal. "Kenapa bisa begitu?" Renggek nya.


"Aku enggak tahu Mas," jawabku.


"Ya sudah tiup dulu lilin nya," suruh Mbak Aisyah.


Aku meniup lilin ulang tahun itu. Tapi tetap enggan dekat-dekat Mas Langit, aku tidak tahu bau parfum itu benar membuat perut ku bergejolak seolah ingin keluar seluruh isi yang ada didalamnya.


"Sayang potong kue nya dulu,"


Aku menggeleng cepat. "Aku enggak mau Mas," tolakku.


"Senja kamu kenapa kok gitu?" Tanya Dicky heran.


"Hamil?" Mereka semua melihatku secara bersamaan.


Aku berjingkrak terkejut. Apakah mungkin aku hamil. Bukankah aku sudah di nyatakan mandul oleh dokter.


.


.


.


.


9 bulan kemudian....


Aku tengah berjuang diruang persalinan. Hari ini adalah hari yang telah aku nantikan sejak lama. Tak mengira Tuhan begitu baik dan mengizinkan aku menjadi seorang Ibu.


Kemurahan Tuhan dalam hidupku seolah tak ada duanya. Meski begitu banyak masalah yang aku lewati tapi aku bersyukur karena Tuhan memberiku jalan menuju kebahagiaan.


"Ayo Sayang, kamu pasti bisa," Mas Langit mengecup keningku.


Aku tersenyum mengangguk. Baru pembukaan tiga, para dokter juga tengah menyiapkan alat-alat medisnya.


"Mas aku takut," lirihku sambil menggenggam tangan Mas Langit dan ini adalah pengalaman pertamaku melahirkan. Bagaimana aku tidak takut.

__ADS_1


"Tenang Sayang, ada Mas disini," lelaki ini berusaha menguatkan ku.


Aku mengangguk. Sakitnya luar biasa sekali. Dari rumah tadi air ketubanku sudah pecah. Aku panik, karena belum paham masalah melahirkan. Untung suamiku ini pria paket komplit yang selalu bisa segalanya.


"Siap-siap untuk mengejan ya Bu, ini sudah hampir pembukaan sempurna,"


Aku mengangguk. Ahh kenapa ini sakit sekali. Sangat sakit. Rasanya seluruh isi perutku ingin keluar.


"Sayang yang kuat,"


"Arghhhhhhhhhhhhh,"


"Arghhhhhhhhhhhhh,"


"Ayo Bu sedikit lagi Bu," seru dokter Susi.


"Ayo Sayang," Mas Langit juga ikut menyemangati.


"Arghhhhhhhhhhhhh,"


"Owe owe owe owe,"


Aku bernafas lega serasa ada sesuatu yang benar-benar keluar dibawah sana.


"Tolong mandikan bayi nya," dokter Susi menyerahkan bayi itu kepada perawat.


"Saya akan bersihkan ya Bu, agar tidak ada darah kotor yang tertinggal disana,"


Setelah membersihkan area sensitif itu. Dokter Susi menjahit nya juga. Astaga kenapa ini sakit sekali? Bahkan berbunyi meledup. Aku meringgis kesakitan dan sial tidak diberi obat bius sama sekali. Apa dokter ini sengaja ingin membunuhku?


"Selamat Dok. Selamat Bu. Bayi anda berjenis kelamin perempuan,"


Dokter Susi menyerahkan putri kecilku pada Mas Langit. Mas Langit berkaca-kaca sambil menyambut putri kecil kami.


"Sayang, putri kita,"


Tak hanya Mas Langit yang berkaca-kaca dan terharu tapi aku juga. Ini adalah mimpi yang tak pernah aku bayangkan. Setelah sekian lama menanti kehadiran buah hati dan akhirnya Tuhan memberiku satu kesempatan paling berharga yang kelak akan menjadikan aku seorang Ibu sesungguhnya.


"Mas,"


Mas Langit memberikan bayi itu padaku.


"Hai putri Bunda, selamat datang ya Sayang dikehidupan Ayah dan Bunda serta Mas Bintang." Aku mengecup kening putri kecilku begitu juga dengan Mas Langit.


"Sayang terima kasih," Mas Langit kembali mendaratkan kecupan dikeningku.


"Sama-sama Mas. Aku bahagia Mas," ucapku.


"Mas juga bahagia Sayang. Semoga dengan kehadiran putri kecil kita. Kebahagiaan dihati kita akan semakin bertambah,"


"Amin," ucapku.


"Apa kamu udah siapin nama buat kecil kita Sayang?" Tanya Mas Langit.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Udah Mas," Lalu aku menatap putri kecilku.


"Bianca Senja Angkasa,"


__ADS_2