Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 27


__ADS_3

**Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


Langit POV**


"Papa apaan sih?" Aku kesal kalau Papa sudah menggoda begini.


Papa ngakak. Meski sudah tua dan berumur tapi Papa tipikal orang yang humoris dan santai. Mungkin ini yang menjadikan dia awet muda karena jiwa humornya masih kuat. Kata orang-orang, orang yang memiliki tingkat humor tinggi itu bisa awet muda.


"Enggak usah malu begitu Lang." Papa lagi-lagi ngakak melihat wajahku yang kesal.


"Tapi tadi Papa dapat laporan dari Zaenal, katanya Reza dan Senja mau cerai. Tapi Senja enggak mau Reza dikeluarin dari kesatuan." Ucap Papa.


Aku terdiam sejenak dan tampak berpikir. Kenapa Senja tidak mau suaminya dikeluarkan? Bukankah Reza sudah jahat padanya dan sudah menyakiti nya?


"Kenapa bisa begitu Pa?" Tanyaku penasaran.


"Ya mana Papa tahu. Kamu kan tahu Senja itu kayak apa orangnya." Papa geleng-geleng kepala "Tapi Papa rasa Reza akan tetap dikeluarkan. Mana bisa melanggar peraturan begitu. Apalagi nikah siri, bahkan harusnya dia dipidana selama enam bulan." Kalau masalah dunia kemiliteran aku tidak paham karena bukan bagian ku. Itu bagian Papa jadi dia tahu ranah nya dimana.


"Mungkin saking Senja cinta kali sama suaminya." Jawabku asal.


"Kamu cemburu?" Papa memincingkan matanya kearahku.


Aku melihat Papa, apa maksud orangtua ini.


"Papa jangan aneh-aneh dehhh. Untuk apa aku cemburu. Senja itu istri orang Pa, masa iya aku cemburu. Jangan ngadi-ngadi deh." Entah dari mana Papa dapat bahasa itu.


"Yakin kamu enggak cemburu?" Papa melipat bibirnya menahan tawa orang tua ini memang suka sekali membuatku kesal "Bentar lagi Senja janda lho, kamu enggak pengen pepet dia?" Lagi-lagi Papa tersenyum menggoda "Dia cantik, pasti banyak banget cowok yang dekatin dia, kalau dia janda." Imbuh Papa.


Aku memutar bola mata malas. Papa kalau masalah goda menggoda dia ahli dan jago nya. Tak kala dia dan Mama berdebat hanya karena godaan Papa ini. Tapi justru sikap humor Papa lah yang membuat hubungan mereka langgeng hingga kini.


"Papa." Aku kesal sendiri.


Papa lagi-lagi ngakak. Orangtua ini sudah tua juga suka sekali membuat anaknya kesal. Dan lagi kenapa aku salah tingkah begini? Jangan bilang jika aku bapet dengan godaan Papa? Aku sama sekali tak memiliki rasa dengan Senja, selain jantungku berdebar dan rasa nyaman saat berada didekat wanita itu. Tapi apa iya hal itu bisa disebut cinta?


"Hem seperti nya ada yang salah tingkah ini?" Goda Papa lagi "Lang, Papa tahu kamu tuh ada rasa kan sama Senja? Sekian lama menduda baru kali ini Papa liat kamu dekat perempuan. Ini bukan hanya semata karena Bintang kan? Hem, seperti nya bukan Bintang aja yang butuh Ibu sambung, Ayahnya juga kayaknya butuh istri sambung." Papa menepuk bahuku lalu tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahku yang merah.

__ADS_1


Aku tak menanggapi, aku berdiri meneteng tas dan jas ku dengan wajah ditekuk kesal. Untung dia Papa ku kalau bukan, sudah ku ajak baku hantam dia.


Aku masuk ke kamar Bintang. Malam ini aku harus ekstra membujuk dan marayu Bintang agar mau tidur. Biasanya kalau dia merajuk dia hanya diam sambil menangis. Apa-apa tidak mau. Makan dan tidur. Kalau dia tidak tidur nanti dia bisa sakit.


"Son." Aku meletakkan tas ku disoffa.


"Ayah ngapain disini? Bintang masih kesal. Bintang enggak mau ngomong sama Ayah. Pokoknya Bintang ngambek." Ujarnya dengan wajah ditekuk kesal dan tangan yang terlipat didada.


Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum dan duduk dibibir ranjang menatap putra tampan ku ini. Duplikat wajah kecilku hampir seratus persen.


"Masih marah sama Ayah?" Aku menatapnya


"Tahu ahhh. Ayah jahat. Bintang kan pengen tidul sama Bunda, tapi Ayah enggak mau bujuk Bunda bial tidul sama Bintang." Dia memunggui ku sambil memeluk bantal guling yang sesuai dengan ukuran badannya.


"Emang Bintang enggak mau tidur sama Ayah?"


"Mau. Tapi halus sama Bunda juga." Jawabnya masih tidak mau melihat kearah ku .


"Son." Aku membalikkan tubuh Bintang agar melihat kearahku.


Dia menurut. Meski Bintang ini keras kepala tapi dia adalah anak yang menurut hanya saja dia tidak boleh dikasari apalagi di bentak. Dia sangat-sangat sensitif. Harus bisa mengenali sifat dan karakter nya.


"Ada apa Ayah?" Dia bersila sambil menghadap kearahku.


"Ayah mau tanya sesuatu sama Bintang!" Tanganku terulur mengusap kepalanya.


"Mau tanya apa Ayah?"


"Bintang beneran sayang sama Bunda Senja?" Tanyaku menatapnya dengan lembut.


"Sayang Ayah. Bunda olang baik. Enggak pelnah malah-malah sama Bintang. Bunda juga sayang Bintang. Makanya Bingung sayang Bunda." Jawabnya antusias. Setiap kali membicarakan Senja. Bintang selalu saja antusias


"Emang Bintang tahu darimana kalau Bunda sayang Bintang?" Tanyaku lagi.


"Disini Ayah." Dia memegang dadanya "Bintang melasa Bunda udah masuk ke hati Bintang." Jawabnya polos.

__ADS_1


Aku tersenyum gemas. Anakku ini masih polos. Biar seribu kali aku meminta nya menjauhi Senja dia takkan menurut. Mungkin jika aku suruh dia memilih antara aku dan Senja, dia pasti akan memilih Senja.


"Ya udah Bintang tidur ya." Aku membaringkan tubuh kecilnya.


"Tapi Ayah, Bintang mau tunggu Bunda." Matanya berkaca-kaca.


"Nanti Bunda datang. Bintang bobo duluan aja ya." Bujukku.


"Tapi_."


"Kalau Bintang nangis lagi ntar Bunda enggak mau main kesini lagi." Celetukku


Dia mengusap air matanya. Uhh gemes sekali anakku ini.


"Iya Ayah."


Aku menidurkan anakku sambil membaca dongeng seperti biasa sebelum tidur. Aku menatap wajah polos itu. Hatiku teriris sakit saat Bintang selalu membicarakan Senja. Andai saja istriku masih ada pasti Bintang takkan mengira orang lain sebagai Ibu nya.


Aku menyelimuti tubuh kecil Bintang. Akhirnya dia tertidur. Syukurlah dia tidak merajuk malam ini.


Aku keluar dari kamar Bintang menuju kamarku. Kamar kami bersebelahan. Aku sengaja membuat kamar yang bersebelahan dengan Bintang, agar aku bisa mengontrol dirinya.


Aku segera membersihkan diri dikamar mandi. Hari ini cukup melelahkan. Melayani banyak pasien dan harus mengoreksi laporan-laporan yang masuk.


"Senja."


Entah kenapa bayangan perempuan itu masih saja melekat dibayangan ku.


"Aku enggak nyangka ternyata dia penulis buku. Senja enggak pernah cerita." Aku bergumam sendiri


"Kenapa aku senang ya saat dengar Senja bakal cerai sama Reza?" Aku mengusap wajahku kasar "Sadar Langit. Senja istri orang." Aku berusaha menepis perasaan ku.


Perasaan aneh, kenapa senang melihat orang bercerai.


"Atau jangan-jangan benar kata Papa kalau aku ada rasa sama Senja?" Aku mendesah pelan "Enggak ini enggak boleh dibiarin. Aku enggak mau nanti disangka pembinor dirumah tangga orang."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2