Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 64


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Senja,"


"Bu,"


Aku tersenyum menatap Ibu yang sudah lama ku rindukan itu, akhirnya hari ini dia datang menjengukku ke rumah sakit setelah sekian lama aku merindukan tatapan ayu nya.


"Bu,"


Dia memberikan pelukan hangatnya padaku. Sudah lama sangat lama pelukan seorang Ibu tak aku rasakan. Ibu fokus sama keluarga barunya tanpa memikirkan aku yang terlantarkan.


"Maafkan Ibu, Nak," dia mengecup keningku


"Senja kangen sama Ibu," aku memeluk lengan Ibu dengan manja. Kapan lagi bisa bermanja-manja pada Ibu sendiri?


Ibu tersenyum sambil mengusap kepala plontos ku. Kasih sayang seorang Ibu takkan ada duanya sekalipun ada yang lebih baik darinya tetap dialah yang lebih baik dari segala yang baik.


"Kamu apa kabar?" Ibu melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku.


"Senja baik Bu. Ibu apa kabar juga?" Balas ku.


"Ibu sehat Nak," ibu lagi-lagi mencium keningku


"Bapak mana Bu?" Aku celingak-celinguk mencari Ayah tiriku itu.


"Bapak enggak ikut, dia masih banyak pekerjaan," jawab Ibu "Ibu enggak bisa lama. Ibu harus pulang ke kampung kasihan adik-adik kamu Ibu tinggal," sambungnya kemudian.


"Enggak nginap Bu, nemanin Senja?" Tanyaku penuh harap. Aku ingin tidur dipeluk Ibu semalaman.


"Bukan Ibu enggak mau, tapi kasihan adik-adik kamu," sahut Ibu.


Aku menghela nafas panjang, tidak bisakah Ibu bertahan disini sekedar menemaniku beberapa malam atau hari? Aku rindu Ibu, aku rindu belaiannya yang hilang sejak aku kecil.


"Ya udah deh Bu enggak apa-apa," sahutku kecewa.


Percayalah kasih sayang seorang Ibu mampu menghilangkan segala takut dan resah yang menghantam dada. Tapi apakah daya aku yang tak bisa merasakan kasih sayang itu hingga kini. Mau kecewa dan marah tapi aku tak memiliki hak apapun hidupku memang selalu begini.


"Senja,"


Mas Chandra masuk kedalam ruangan ku bersama Pak Jaka yang membawa beberapa buah tangan ditangan nya.


"Senja," sapanya tersenyum hangat.


"Pak," aku menyalami tangannya. Entah kenapa melihat wajah teduh pria paruh baya ini seolah mampu menghipnotis aku.

__ADS_1


"Apa kabar kamu Senja?".


"Saya baik Pak," jawabku tersenyum.


"Hei Senja, gimana udah mendingan? Ini aku bawain buah-buahan buat kamu. Jangan lupa dimakan ya? Nutrisi buah bagus buat kesehatan kamu," ucapnya.


"Makasih Mas maaf udah ngerepotin," ucapku tak enak hati.


"Sama sekali enggak. Maaf baru jengguk kamu, kemarin banyak kerjaan," ujar Mas Candra


"Enggak apa-apa Mas. Saya senang kok Mas udah nyempetin jengguk saya," balas ku dengan senyuman hangat.


"Jaka," ujar Ibu.


Pak Jaka menoleh kearah Ibu yang menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Mentari,"


Apa Ibu dan Pak Jaka kenal satu sama lain? Kenapa keduanya terlihat syok dengan ekspresi wajah yang sama?


"Ibu dan Bapak saling kenal?" Aku menatap kedua orang itu secara bergantian.


"Senja apakah dia Ibumu?" Pak Jaka menunjukkan Ibu yang masih menutup mulutnya.


"Ohh iya Pak, ini Ibu kandung saya Pak," jawabku "Selama ini Ibu tinggal dikampung Pak, sama Bapak tiri saya. Memang jarang datang ke kota paling sesekali untuk berkunjung," jelas ku panjang lebar pada Pak Jaka


.


.


.


.


Aku menatap Ibu dan Pak Jaka datu persatu. Aku masih belum paham kenapa mereka ingin membicarakan sesuatu padaku.


"Ibu mau ngomong apa?"


"Senja maafin Ibu Nak. Maafin Ibu," ucap Ibu dengan isak tangisnya.


"Ibu kenapa nangis? Kenapa minta maaf sama Senja? Ibu kenapa?" Tanyaku bertubi-tubi.


"Senja dia adalah....."


"Adalah siapa Bu?" Desak ku "Dia siapa yang Ibu maksud?" Tanyaku masih tak mengerti

__ADS_1


"Jaka adalah Ayah kandung kamu,"


Deg


Aku menatap Pak Jaka yang terdiam sambil menatap ku dalam.


"Ibu terjebak hubungan terlarang sama pria beristri yaitu Ayahmu hingga kamu hadir,"


"Saat Ibu hamil kamu, Ibu baru tahu kalau Pak Jaka ini udah memiliki istri dan anak,"


"Maafkan Ibu Senja. Ibu enggak tahu kalau kamu bakal ketemu Ayah kandung kamu," ucap Ibu lagi.


"Senja maafin Ayah. Ayah maafin Ayah. Enggak bermaksud buang kamu. Ayah baru tahu kalau kamu adalah putri yang Ayah cari selama ini," ucapnya hendak menggenggam tanganku. Aku secepatnya menarik tanganku.


"Bu maksudnya apa? Kenapa Pak Jaka bisa jadi Ayah Senja?" Tanyaku masih tak mengerti.


"Maafkan Ibu Senja. Maafkan Ibu yang juga sudah menelantarkan kamu demi keluarga baru kamu," jelas Ibu dengan derai air matanya.


"Bu, Senja masih enggak ngerti. Kenapa ini bisa terjadi Bu?" Air mataku ikut meleleh "Apa Senja ini anak yang enggak Ibu inginkan. Sejak Ibu nikah lagi, Ibu enggak pernah kasih perhatian ke Senja. Ibu biarin Senja tumbuh tanpa kasih sayang Ibu. Ibu sibuk sama keluarga baru Ibu dan sekarang Senja harus tahu Ayah kandung Senja, saat Senja enggak butuh Ayah lagi," aku mengeluarkan unek-unek dan kemarahan.


"Senja," Pak Jaka menatap ku sendu.


"Pak Jaka, anda juga kenapa melakukan ini? Anda sudah memiliki istri lantas kenapa Bapak malah menjalin hubungan terlarang sama Ibu saya, apa Bapak pengen hancurin hidup saya. Saya udah hancur Pak. Harga diri saya terinjak," murka ku.


"Senja Ayah bisa jelasin..."


"Saya anak yang enggak kalian inginkan. Saya anak yang sengaja kalian buang hanya demi kesenangan kalian saja. Apa kalian tahu bahwa saya yang menjadi korban keegoisan kalian? Bayangkan dua puluh enam tahun saya hidup sendirian, sejak usia belia saya dipaksa berjuang sendiri melakukan segalanya sendiri. Kalian kemana? Apa saja yang kalian lakukan? Apa kalian tahu bahwa dunia sangat kejam? Dunia membuat saya bagai hidup tak berharga," ucapku dengan air mata berderai dipipiku.


"Senja maafin Ayah. Maafin Ayah. Ayah egois," ucap Pak Jaka terduduk sambil menunduk.


"Bapak emang egois, Bapak tahu betapa sakitnya hati saya hidup tanpa kasih sayang orang tua. Saya sendirian. Saya kesepian. Hidup saya hanya terus disakiti tanpa merasakan kebahagiaan apapun," tuturku lagi


"Sekarang kalian boleh keluar dari ruangan saya," usirku.


"Senja,"


"Bu tolong mengertilah aku ingin sendiri untuk saat ini," aku membuang muka ku sambil menyeka air mata yang membasahi pipiku.


"Maafin Ayah Senja,"


Aku bosan dengan kata maaf, bukankah seseorang selalu begitu selesai menyakiti dan meninggalkan akan kembali melakukan hal yang sama?


**Bersambung......


Jangan lupa like komen dan vote ya guys..

__ADS_1


Yuk mampir ke karya baru author..


Istri Tuan Muda Delvano**..


__ADS_2