
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Siang ini aku diizinkan oleh Mas Donny keluar bersama Mas Dicky untuk menemui Mas Chandra dan Boss nya membahas kerjasama kami.
Aku bersyukur memiliki Mas yang sangat peduli dan menyayangi ku.
"Di caffe mana Ja?" Tanya Mas Dicky.
Kami menggendarai motor ninja kesayangan Mas Dicky. Dia memiliki satu buah mobil hasil kerja keras nya meski masih kredit tapi setidaknya ada bukti dari hasil kerja kerasnya tersebut. Tapi Mas Dicky lebih suka menggendarai motor dari mobilnya. Alhasil kami memilih naik motor saja.
"Kopi Aming Mas." Jawabku setengah berteriak.
Kopi Aming adalah salah satu caffe yang memiliki jumlah pengunjung paling banyak dikota Pontianak ini. Kopi Aming memiliki beberapa cabang di kota lainnya juga seperti Bengkayang, Sanggau dan Singkawang.
Kopi dicaffe itu memang kopi paling enak. Cara pembuatan nya juga langsung. Dimana sang barista yang membuat bubuk kopi itu secara langsung. Jadi kita bisa pesan sesuai selera.
Meski siang-siang begini Kopi Aming tetap ramai pengunjung. Tak hanya ada kopi disana, tapi juga ada cemilan lainnya dan makanan-makanan ringan. Selain itu harga disini juga terjangkau untuk kalangan siswa dan mahasiswa yang sering nongkrong disini dengan alasan mengerjakan tugas agar di izinkan oleh para orangtua atau Ibu kost.
"Pelan-pelan turunnya Ja." Ucap Mas Dicky.
Motor ninja ini tinggi sekali dibagian belakang nya. Benar-benar ribet. Sebenarnya apa sih kelebihan motor. Naik susah turun juga susah.
"Enggak usah cemberut gitu." Dia terkekeh sambil turun dari motor.
"Jual aja Mas motor kayak gini. Naik susah turun susah." Gerutu ku sambil melepaskan helm yang kupakai.
Mas Dicky tertawa lebar "Enggak ah ini jantung hatinya Mas. Makanya enggak usah pendek." Mas Dicky memang paling sayang pada motor nya ini. Lebih sayang mungkin dia pada motornya dari pada kekasihnya.
"Aku enggak pendek cuma kurang tinggi aja." Ketusku. Lagi-lagi Mas Dicky tertawa. Kami berdua memang suka berdebat seperti ini.
Kami masuk kedalam caffe. Tampak pengunjung sudah banyak. Apalagi jam
istirahat.
"Senja." Disana Mas Chandra melambaikan tangannya.
"Mas Chandra."
__ADS_1
Kami menghampiri meja Mas Chandra. Dia tampak bersama seorang pria paruh baya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Pria paruh baya yang seusia dengan Ayah mertuaku.
"Duduk Ja." Sambut nya ramah.
"Iya Mas." Aku dan Mas Dicky duduk.
Seketika tatapanku dan pria paruh baya ini bertemu satu sama lain. Aneh kenapa aku merasa hangat saat menatap bola mata pria ini? Wajahnya teduh meski terlihat dingin.
"Pak, kenalin ini yang nama nya Senja." Ucap Mas Chandra memperkenalkan nya padaku.
"Ja, ini Pak Jaya dia pemilik Jayantara Loka. Jadi dia ingin ketemu kamu. Mungkin Boss punya beberapa tawaran lain."
"Jaya." Dia mengulurkan tangan kearahku.
"Senja Mentari."
Seketika dia terdiam sambil menjawab tanganku. Mentari adalah nama belakang Ibu, Melani Mentari. Jadi nama belakang itu disematkan juga dibelakang namaku.
"Mentari?" Gumamnya yang masih bisa didengar olehku.
"Kenapa Pak?" Alisku terangkat. Apalagi pria paruh baya itu menjabat tanganku cukup erat.
"Oh ya Mas Chandra, kenalin ini Mas Dicky. Kakak saya."
"Chandra."
"Dicky."
Sambil ditemani kopi manis buatan Kang Aming kami mengobrol dan membahas pekerjaan. Setidaknya melihat dunia luar begini, bisa sedikit membuat ku melupakan masalah perceraian ku. Percayalah tidak ada orang yang baik-baik saja ketika dihadapkan dengan perpisahan. Meski pun orang tersebut sudah melukai hatinya. Menghancurkan hidupnya. Menghempaskan semua kenyataan yang melempar tubuhnya sangat jauh.
Kami membicarakan masalah kontrak kerja sama dengan Jayantara Loka.
"Gimana Senja ada apa yang ingin kamu tanyakan?" Ucap Mas Chandra "Atau kamu pengen nambah royalti dan benefit dari penerbit kami? Atau kamu mau terbitkan sekali dua atau tiga buku?" Tanya Mas Chandra tersenyum ramah padaku.
Aku terkekeh pelan "Enggak kayaknya Mas. Cukup satu aja dulu. Saya selesaiin kontrak buku pertama. Kalau laku dipasaran ntar saya ambil lagi kontrak baru." Menyelesaikan satu buku saja butuh waktu bertahun-tahun apalagi dua sampai tiga buku bisa stress aku ditambah lagi dengan masalah rumah tanggaku.
Pria paruh baya itu masih menatap ku intens dan aku mulai merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Makasih Senja atas kerjasama nya." Diakhir obrolan kami saling berjabat tangan.
Hingga aku kembali menyalami pria paruh baya ini. Dan lagi tatapan kami bertemu. Kenapa saat melihat bola mata tua itu hatiku hangat dan damai? Siapa sebenarnya pria ini? Kenapa hatiku bergetar saat dia menyentuh kulit tanganku. Seolah aku sedang bersalaman dengan Ayahku sendiri? Apalagi saat aku mencium punggung tangan nya.
.
.
.
.
"Langsung pulang atau mau jalan dulu? Mumpung Mas lagi free siang ini!" Tawar Mas Dicky.
Aku tampak berpikir. Sejujurnya aku ingin bertemu dengan Bintang, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merindukan nya? Tapi aku tidak mau nanti ada yang melihat malah salah paham lagi. Apalagi tuduhan aku selingkuh dengan Mas Langit itu masih dibicarakan Mas Reza dan keluarga nya saat ini.
"Jajan aja yuk Mas. Aku kangen es dawet nya Kang Dadang." Sahut ku. Es dawet Kang Dadang terkenal disini, selain segar harga nya juga nya lima ribuan.
"Kamu ini kalau masalah makan cepat aja." Cibir Mas Dicky "Iya sekalian kita makan siang sama Mas Langit tadi dia chat Mas suruh ajakkin kamu makan siang. Sekalian bahas persidangan perceraian kalian." Ucap Mas Dicky memasangkan helm dikepalaku.
Aku terdiam, seakrab itu Mas Langit dan Mas Dicky? Bukannya mereka baru bertemu kemarin?
"Kenapa Senja?" Mas Dicky gemes sendiri melihatku yang hanya diam.
"Mas kok bisa Mas Langit chat sama Mas. Emangnya kalian tukeran nomor hp?" Tanyaku kepo.
"Iya dong. Udah ayo jangan ngelamun. Ntar kesambek." Celetuk Mas Reza "Hati-hati naiknya. Ntar jatuh lho."
"Senja bisa Mas. Emangnya Senja anak kecil apa yang harus diingatin terus?" Cemberut ku. Kalau bersama Mas Dicky, aku bisa tiba-tiba berubah jadi anak-anak yang manja seperti ini.
"Hem iya emang masih kecil. Makanya cenggeng. Putus cinta aja nangis." Sindir Mas Dicky sambil tertawa dan menyalakan mesin motor nya.
"Mas. Jangan bahas itu." Aku malu kalau ingat kemarin karena karena aku menangis seperti anak kecil.
Tapi aku masih penasaran kenapa Mas Langit dan Mas Dicky bisa saling bertukar nomor ponsel? Apa hubungan mereka seakrab itu.
Niatku ingin menghindari Mas Langit, kenapa malah bertemu dengan nya? Aku bukan tak suka hanya saja dalam masalah seperti ini nanti semua semakin bermasalah. Aku tak enak dengan Mas Langit, aku takut namanya buruk dimata orang-orang. Dia adalah orang terpandang dari keluarga kaya pasti dirinya akan menjadi sorotan jika sampai berita tidak benar itu tersebar.
__ADS_1
Bersambung.....