
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Langit POV
Dadaku panas saat Mbak Lia dan Lena menceritakan tentang Kapten Divta. Apa kelebihan nya pria itu dariku? Dia hanya masih muda dan aku bukan tua hanya saja sudah berusia.
Jika dibandingkan, Senja lebih cocok dengan ku bukan dengan Kapten Divta. Ya meski pun mereka sama-sama muda. Tetap saja Senja lebih cocok menjadi pasangan ku.
"Enggak boleh. Bunda cuma boleh sama Ayah." Seru Bintang.
"Tante jangan jodoh-jodohin Bunda sama yang lainnya. Bunda itu milik Ayah." Tegas Bintang.
Bintang ini memang partner in crime yang tahu kalau Ayah nya cemburu, jadi dia lebih duluan membela Ayahnya. Seperti nya setelah ini aku perlu memberikan hadiah untuk Bintang, mobil mainan atau apa saja yang Bintang sukai.
"Hemmm, begitu ya." Lena tampak menggaruk-garuk tengguknya
"Hehehe maaf ya Bintang, Tante enggak tahu kalau Bunda-mu cuma cocok sama Ayahmu," ucap Bu Lia, istri Kapten Zaenal.
"Hem, Len. Mbak Lia. Maaf ya." Senja tampak kikuk. Jika saja Senja tak melarang, pasti aku sudah mempublikasikan hubungan kami.
"Enggak apa-apa Ja. Lagian kayak nya Bintang emang pengen Ayah sama Bunda nya nyatu." Lena mengedipkan mata jahil kearah Senja.
"Len." Senja tersipu dan mencubit lengan Lena.
"Hem, ada yang salah tingkah ni." Goda Lena lagi.
Sedangkan aku menyembunyikan senyum. Entahlah setelah ku ungkapkan perasaan ku pada Senja, rasanya semua nya terasa lega dan membaik.
Kami lanjut mengobrol. Sebenarnya Senja butuh istirahat tapi aku tidak mungkin mengusir teman-teman nya yang sedang melepaskan rindu padanya.
"Kapten Divta."
Senyumku langsung memudar saat melihat Kapten Divta masuk dengan membawa kantong ditangannya yang diyakini isinya pasti makanan. Awas saja kalau ada fizza disana, aku pasti akan memarahi Kapten Divta.
"Dokter Langit. Kapten Zaenal. Pak Raswan." Sapanya pada kami yang duduk disoffa ruangan rawat inap Senja.
__ADS_1
"Silahkan duduk Kapten Divta," ucap Kapten Zaenal ramah.
"Terima kasih Kapten Zaenal." Senyum nya.
"Senja." Bukannya duduk laki-laki ini malah menghampiri wanitaku.
"Iya Kak?" Sial kenapa Senja harus tersenyum. Ingin rasanya ku sembunyikan Senja didalam toilet agar Kapten Divta tidak melihatnya.
"Ini Kakak bawain buah alpukat buat kamu. Kamu suka kan?" Kapten Divta meletakkan kantong berisi buah itu diatas meja.
"Makasih Kak." Balas Senja langsung kikuk melihat wajahku yang masam.
Darimana Kapten Divta tahu kalau Senja suka buah? Apa sebelum nya Senja pernah sangat dekat dengan Kapten Bintang? Hingga buah kesukaan nya saja bisa tahu.
Cukup lama mereka berkunjung dan aku mulai risih ingin mengusir mereka dari sini. Bukan jahat tapi Senja harus istirahat, kondisinya belum membaik. Ingin mengusir tidak enak takut Senja yang nanti malah mendapat akibat nya.
Untung saja Kapten Divta bisa melihat kegelisahan diwajahku hingga aku tak perlu berepot-repot untuk mengusir mereka dari ruangan Senja.
Aku bernafas lega saat mereka berpamitan pulang, aku bersyukur ternyata masih banyak orang-orang yang memberikan support pada Senja.
Rugi sekali jika aku harus lepaskan wanita baik-baik seperti nya. Maka dari itu aku akan berjuang menyembuhkan Senja dan membuktikan padanya bahwa aku adalah lelaki yang tepat bersanding dengannya.
.
.
.
.
.
"Ja."
Aku menaikkan selimut nya. Malam aku meminta pada Donny dan Dicky agar aku saja yang menjaga Senja malam ini.
__ADS_1
"Iya Mas kenapa?" Dia mengerjab-ngerjabkan matanya, kenapa terlihat lucu sekali wanita ini.
Aku menyatukan tanganku dan tangannya. Mataku menatap bola matanya. Bola mata indah dan mampu membuatku tersihir. Meski pun didalam bola mata itu. Meski aku bisa mendapatkan tatapan rapuh didalam bola mata itu.
"Mau ya kemoterapi?" Bujuk ku "Seengaknya dengan kemoterapi bisa membantu mencegah penyebaran sel kanker didalam tubuh kamu. Kamu enggak usah takut, Mas akan temani kamu," ucap ku.
"Mas aku takut." Renggek nya
"Kan Mas temanin Sayang." Aku memperbaiki rambut nya "Jadi kamu enggak sendirian," ucapku lagi.
"Mas." Dia memeluk ku manja.
Tentu saja aku senang, aku suka wanita yang bermanja-manja padaku karena artinya dia sungguh mencintaiku dan aku merasa di butuhkan.
"Kenapa Sayang?" Aku mengusap kepalanya yang bersandar di bahu ku.
"Kadang aku takut ninggalin kamu sama Bintang Mas. Rasanya aku ingin nyerah saat rasa sakit ingin menyerang tubuhku. Aku enggak pengen ngadu sama kamu. Tapi aku butuh sandaran aku butuh teman cerita Mas. Kamu tempat ku bercerita paling nyaman."
Aku memejamkan mataku mendengar pengakuannya selama ini. Kanker adalah penyakit paling kejam didalam dunia medis, proses penyembuhan nya juga tidak mudah. Ada banyak prosedur dan terapi yang harus dilewati. Dari jutaan penderita kanker diseluruh dunia hanya satu persen diantaranya yang bertahan hidup. Itupun bertahan karena obat dan kemoterapi.
Tapi aku berharap Senja tak mengalami hal yang sama. Aku ingin Senja sembuh. Aku ingin Senja pulih seperti biasa. Agar bisa terus bersama aku dan Bintang tanpa takut rasa kehilangan.
Wanita yang kucintai ini menangis lagi didalam pelukkan ku. Beberapa hari ini memang kondisinya sedikit memburuk. Saya tahan tubuhnya juga lemah. Dia tak boleh benar-benar lelah.
Tak kudengar lagi tangis dari mulutnya hanya dengkuran halus yang keluar dari sana. Saking lelahnya menangis dan meratapi nasibnya, dia tertidur nyaman didalam pelukkan ku.
Aku membaringkan tubuhnya dengan pelan diatas brangkar. Kuselimuti kembali tubuh lemahnya. Kutatap wajah lelah itu. Tidak tahu kah Senja bahwa disini aku yang paling rapuh. Rapuh karena ketakutan, rapuh karena melihat nya yang kesakitan.
'Tuhan, izinkan dia selalu berada di sisiku. Jangan hilangkan dia dari hidupku selamanya. Aku mencintainya. Jangan biarkan aku patah hati untuk kedua kali. Aku takkan sanggup lagi. Jika dia pergi maka aku juga ingin pergi bersama nya. Sembuhkan dia dan izinkan kami bersama selamanya.'
Aku mencium keningnya sangat lama. Lama sekali dengan lelehan air mata yang membuatku seperti pria yang patah hati hebat.
Kuusap kepalanya. Dia tampak tenang tanpa terganggu dengan usapanku. Bagaimana Bintang tak menyanyangi Senja, wanita ini selalu bisa meneduhkan hati dengan senyuman manisnya. Saat melihatnya tertidur seperti ini saja mampu menggetarkan jiwa yang sudah lama mati karena patah hati.
Semoga Senja menjadi pelabuhan terakhir ku dan kami bisa bahagia bersama selamanya hingga ditemukan akhir dari usia.
__ADS_1
Bersambung.....