
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Aku memarkir mobilku didepan rumah Donny. Demi permintaan Bintang yang aneh ini aku harus mengikuti nya.
"Bintang." Saat Bintang turun duluan tanpa menunggu aku membuka pintu.
"Bintang enggak sabal ketemu Bunda." Ucapnya tersenyum sumringah
Aku menghela nafas panjang. Bintang kalau sudah seperti ini harus diikuti.
"Ayo Ayah." Dia menarik tanganku agar segera masuk.
"Sabar Son." Aku geleng-geleng kepala.
Kami berdua masuk kedalam kediaman Donny. Disaat Donny sudah berdiri menyambut kami didepan pintu tapi kemana Senja? Apa dia masih istirahat?
"Silahkan masuk Lang." Ucap Donny ramah.
"Makasih Don." Sahutku " Son, ayo salaman dulu sama Uncle Donny." Suruhku.
"Salam Uncle. Bintang." Dia menyalimi tangan Donny
Donny tersenyum sambil mengusap kepala Bintang. Kedua Kakak Senja ini memiliki sifat yang ramah hingga aku dengan mudah akrab walau baru bertemu sekali.
"Bunda mana?" Bintang celingak-celinguk mencari keberadaan wanita yang dia panggil Bunda itu.
"Bunda?" Ulang Donny. Pasti Donny heran dan juga bingung siapa yang dipanggil Bunda oleh Bintang.
"Senja, Don." Sahutku "Bintang manggil Senja dengan panggilan Bunda. Jangan salah paham." Aku takut Donny salah paham nantinya.
"Oh enggak apa-apa Lang. Ayo bawa Bintang masuk."
Sesungguhnya aku benar-benar tak enak hati. Aku taku akan semakin salah paham. Apalagi Senja sedang bermasalah dalam timah tangga nya. Bisa-bisa nanti aku dituduh memanfaatkan situasi dan keadaan. Tapi sungguh aku gak tega menolak permintaan Bintang dia pasti akan sangat kecewa kalau dijauhkan dengan Senja.
"Bunda."
"Bintang.".
__ADS_1
Kedua orang ini saling berpelukan. Terlihat sekali jika Senja sungguh menyanyangi Bintang seperti anaknya sendiri. Mungkin karena Senja tidak memiliki anak hingga dia begitu menyanyangi Bintang?
"Hiks hiks Bunda kemana aja? Bintang kangen!" Renggek Bintang memeluk wanita itu "Bunda bilang mau datang nemanin Bintang tidul, tapi kenapa Bunda enggak datang-datang?" Dia terisak sambil melepaskan pelukan Senja.
"Stttt, jangan nangis dong, ntar gantengnya hilang." Celetuk nya mengusap pipi Bintang "Maafin Bunda ya Nak." Dia mengusap kepala Bintang "Lapar enggak?" Tanyanya sambil tersenyum manis menatap putraku. Padahal Senja tersenyum pada Bintang kenapa aku yang salah tingkah?
"Bintang mau dimasakkin apa?" Dia memperbaiki baju Bintang yang sedikit bergeser
"Nasi goleng." Sahut Bintang dengan senyum sumringah.
"Ya udah yuk nemanin Bunda masak." Dia berdiri dan menggandeng tangan Bintang "Tapi tas nya dilepas dulu ya Nak."
"Iya Bunda."
Kami bertiga tersenyum melihat dua orang itu. Keduanya tampak saling sayang padahal tak memiliki hubungan apapun tapi justru saling menyanyangi satu sama lain.
"Duduk Lang." Suruh Donny. Aku mengangguk dan Donny.
"Apa rencana kita selanjutnya Mas? Kita enggak bisa biarin Senja kayak gini terus setiap hari. Kita harus cepat pisahin Senja dari Reza. Aku enggak mau Senja semakin tersiksa batin nya." Ucap Dicky. Aku setuju, tapi aku tidak bisa bertindak banyak. Aku takut malah dikira memanfaatkan keadaan.
Donny. Tunggu, Kapten? Apa Kapten baru yang dibicarakan Senja?
"Kasihan Senja Mas. Karena sibuk sama urusan masing-masing kita sampai lupa sama dia." Dicki merasa bersalah. Aku tahu dia begitu menyanyangi Senja terlihat dari caranya memperlakukan Senja.
"Ini jadi pelajaran untuk kita berdua buat ngelindungin Senja. Mas takut Reza malah mempersulit perpisahan mereka. Kalau mendengar cerita Senja, Mas yakin jika Reza enggak mau pisah sama Senja." Tutur Donny.
Aku hanya menyimak. Sebagai orang asing yang tidak tahu menahu aku tak berhak ikut campur. Meski hatiku sangat ingin membantu Senja menyelesaikan masalah perceraian nya. Tapi seperti yang sudah aku katakan aku takut malah membuat Senja dalam masalah. Kasihan wanita sebaik itu harus menghadapi masalah-masalah yang besar lagi.
"Itu yang aku takutkan Mas. Apalagi Reza ini orangnya nekad." Dicky menghela nafas panjang "Mas Langit apakah ada solusi Mas? Kalau aku liat Mas bilan orang sembarangan?" Tanya Dicky padaku. Aku memiliki banyak solusi hanya saja aku yakin ini malah mempersulit Senja.
"Ntar saya coba minta bantuan Papa saya. Siapa tahu dia bisa bantu." Jawabku seadanya. Mungkin aku bisa meminta bantuan Papa untuk memberitahu cara menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Yang pasti nya kalau perceraian seorang abdi negara tentu ada sumpah- sumpah yang harus dibayar lunas.
"Makasih Mas." Ucap Dicky
Kami bertiga sejenak terdiam. Kenapa aku begitu mudah akrab dengan kedua Kakak Senja? Padahal baru bertemu hari ini.
"Mas, ayo makan." Ajak Senja sambil meletakkan mangkuk besar diatas meja makan.
__ADS_1
"Wahhh masak apa Ja?" Dicky langsung menghampiri meja makan.
"Nasi goreng Mas. Soalnya Bintang mintanya nasi goreng. Bahan masakkan dikulkas juga habis. Mas enggak belanja?" Dia membagi nasi goreng itu kedalam beberapa piring diatas meja.
"Aduh." Dicky tampak menepuk jidatnya "Mas lupa belanja. Biasalah sibuk." Dicky cenggesan sambil menggaruk tengkuknya.
"Pasti sibuk sama Kak Hana kan Mas?" Godanya
"Idihhh kayak tahu aja." Ujar Dicky
"Mas Langit dimakan Mas." Ucapnya meletakkan piring yang sudah dia isi dengan nasi goreng diatas meja.
"Makasih Senja." Senyumku.
Aku kagum dengan wanita ini tadi dia menangis histeris karena ketakutan akan suaminya. Sekarang dia malah terlihat baik-baik saja dan tersenyum ramah. Apa Senja ini memang sifatnya begini? Bisa menyesuaikan perasaan nya dengan keadaan. Apalagi saat bertemu Bintang, deoalsh semua kesedihan nya hilang begitu saja.
"Bintang mau makan sendiri apa disuapin Bunda?" Dia menggeser kursi nya agar menghadap keatas Bintang.
"Suapin Bunda aja." Seru Bintang semangat.
Lagi-lagi hatiku mencelos sakit, entah kenapa aku merasa gagal menjadi seorang Ayah untuk Bintang. Seolah kaosh sayangku kurang sehingga Bintang merasa nyaman dengan orang lain. Namun aku paham karena anakku ini benar-benar merindukan Bunda nya. Sejak mengenal Senja, lebih ramah pada orang lain berbeda sebelumnya yang terlihat dingin dan tak tersentuh.
"Masakkan Bunda enak, Bintang suka." Serunya sambil mengunyah makanan yang disuapi Senja ke mulutnya.
Aku setuju, masakkan sederhana ini sangat enak. Pas dilidah. Bumbunya pas. Seperti nya aku harus belajar cara membuat nasi goreng pada Senja.
"Lang, tambah lagi." Ucap Donny. Donny mungkin seusia ku. Tapi kenapa belum menikah? Hampir kepala empat.
"Iya Don." Aku mengangguk. Entah karena aku yang lapar atau memang masakkan ini terlalu enak untuk aku lewatkan.
"Senja emang jago masak Mas Langit. Jadi kalau dia yang masak kami berdua selalu habiskan tanpa sisa. Kadang juga sampai rebutan." Dicky terkekeh.
"Iya dong Mas. Namanya juga Senja bisa apa aja kan?" Seru Senja membalas ucapan Dicky.
Aku ikutan terkekeh. Semakin jauh mengenal Senja, aku semakin kagum. Entah wanita seperti apa yang dia cari Rexa sehingga wanita sebaik Senja di sia-siakan?
Bersambung.....
__ADS_1