
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
"Duduk Don."
Aku membawa Donny keruangan ku. Seperti nya pembicaraan ini cukup serius.
"Makasih Lang." Donny duduk dan terdengar menghela nafas panjang.
"Kamu mau bicara apa?" Aku melirik Donny.
"Gimana hasil pemeriksaan Senja, apa ada sesuatu didalam tubuhnya?" Aku menatap Donny heran dan demi Tuhan aku lupa meminta hasil laboratorium pemeriksaan Senja.
"Aku belum cek. Sebentar." Aku langsung mengambil ponsel dan menghubungi asisten ku.
"Aku lupa Don." Aku mengusap wajah ku kasar "Tapi waktu itu enggak ada apa-apa dikepala Senja." Aku mulai gusar. Kenapa aku bida selupa ini?
"Ini bukan masalah dibagian kepala Lang. Tapi bagian lainnya." Jelas Donny.
"Maksud kamu?" Aku menatap Donny tak mengerti dengan ucapan lelaki ini.
Donny mengambil ponselnya lalu menunjukkan sesuatu dari ponsel itu padaku.
"Don ini maksud nya apa? Kamu dapat surat pemeriksaan ini dari mana Don? Ini enggak mungkin kan Don?" Mataku berkaca-kaca sambil memberikan kembali ponsel Donny.
"Ini yang terjadi Lang. Inilah penyebab kenapa Senja enggak bisa hamil, ada sesuatu yang tumbuh di rahimnya. Penyakit ini dia derita sejak SMA. Aku dan Dicky berulang kali ngajak Senja kerumah sakit dan saran Dokter dia harus kemo, tapi Senja enggak mau." Jelas Donny.
"Ini beneran atau cuma kamu ngeprank aku Don?" Tanyaku sekali lagi.
Donny menghela nafas panjang "Inilah kenyataan nya Lang. Senja menderita kanker rahim stadiun satu, ini masih bisa dicegah dengan pengobatan rutin. Tapi ini udah lama Lang. Aku sering bahas ini sama Senja tapi dia enggak mau diajak kemo."
Tubuhku luruh mendengar kenyataan pahit ini. Senja tak pernah membahas tentang dirinya selama ini. Tak pernah mengeluh sakit. Aku selalu melihat nya baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku mau minta bantu sama kamu Lang. Tolong bujuk Senja agar mau kemo." Ucap Donny serius "Aku khawatir ini akan membahayakan keselamatan nya." Sambung nya.
Aku terdiam dengan sejuta bahasa. Luruh. Hancur. Lebur. Semua harapan dan impian. Bagaimana jika Senja pergi sebelum menjadi milikku aku takkan rela
"Aku akan bantu." Jawabku "Senja segalanya buat aku." Sambung ku tanpa rasa malu didepan Donny "Don, aku mau sidang perceraian Senja dan Reza dipercepat. Biar kita bisa obati Senja. Kalau rumah sakit ini kurang fasilitas, aku akan bawa ke luar negeri. Aku memiliki beberapa relasi dokter spesialis kanker." Ujarku.
Donny mengangguk "Iya Lang. Kita sama-sama berjuang buat Senja." Donny menepuk bahuku "Aku dukung kamu sama Senja. Tapi selesaikan masalah ini dulu. Aku enggak mau nanti malah membuat kamu dan Senja dalam hubungan yang rumit." Jelas Donny.
"Iya Don."
Nafasku terasa tercekat ketika tahu ada yang tidak beres ditubuh Senja. Kenapa semua terjadi disaat aku sudah menemukan seseorang yang begitu berarti bagiku?
"Ya udah aku balik ke ruangan Senja." Donny berdiri "Ohh ya Lang, saingan kamu itu Divta. Dia cinta banget sama Senja. Perjuangkan Senja ya, kamu adalah lelaki yang tepat buat Senja."
Aku mengangguk. Aku senang karena kedua Kakak Senja mendukung hubungan ku dengan nya. Setidaknya aku tidak perlu mencari cara agar direstui. Aku hanya perlu meyakinkan Senja bahwa aku adalah pria yang begitu menginginkan nya ada dalam hidupku.
Aku duduk dengan tatapan kosong. Tanpa sadar air mata ku menetes. Penderitaan Senja tiada akhir. Dia bahkan lahir tanpa seorang Ayah. Ada benang kusut di pernikahan nya yang membuat rumah tangganya retak karena suaminya menikah secara diam-diam. Tidak hanya itu, kekerasan dalam rumah tangga pun dia rasakan hingga dia dilukai dan dibuat secara tak berharga. Sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa ada yang tidak beres dari tubuh nya.
Sudah lama aku tak menangis seperti ini setelah kehilangan istriku. Aku juga rindu air mata yang menemani malam-malam ku. Sekarang air mata ini kembali menetes dan membasahi pipiku sehingga membuat dadaku sesak.
"Senja, aku enggak akan ngebiarin kamu ninggalin aku. Apapun yang terjadi kamu harus bertahan demi aku dan Bintang. Kita bertiga akan bersama sampai nanti. Aku cinta sama kamu Senja. Aku enggak akan sanggup kehilangan kamu." Aku mengusap air mataku.
Titik tersakit dari patah hati adalah ketika seseorang yang begitu dicintai merasakan sakit yang tak bisa dirasakan oleh raga ini. Seandainya aku Tuhan aku pasti mengadakan mujizat untuk menyembuhkan Senja.
Dan wanita luar biasa itu tak pernah menunjukkan rasa sakitnya sama sekali pada aku dan Bintang. Semua seolah baik-baik saja dan seperti tak terjadi apapun padanya. Senyum nya mampu menutupi segala luka yang bersemayam didadanya.
Aku menyeka air mataku dengan kasar. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat demi dua orang yang begitu aku sayangi. Demi dua orang yang menjadi alasanku untuk tetap berjuang hidup.
"Amara. Aku akan memperjuangkan nya. Aku akan menjaganya dan membuatnya sembuh." Aku menyimpan foto almarhum istriku didalam laci.
Kutanggalkan jas berwarna putih ini dari tubuh ku. Aku keluar dari ruangan. Waktunya jam makan siang. Aku akan makan siang bersama dua orang itu.
__ADS_1
"Ayah." Seru Bintang.
"Son." Aku tersenyum menghampiri kedua nya diatas ranjang.
"Donny sama Dicky mana?" Aku tak mendapati kedua saudara Senja itu.
"Mereka lagi pulang Mas, sekalian jemput Kak Hana dan Mbak Aisyah." Jawab Senja bergeser.
"Jemput kemana?" Aku duduk dikursi samping nya.
"Mas habis nangis kok matanya sembab?" Tangannya langsung terulur mengusap pipiku.
"Ayah kenapa? Kok matanya melah gitu?" Bintang ikut bertanya.
Aku terdiam menatap Senja yang tampak bingung menanti jawaban ku. Demi apapun aku takkan rela kehilangan wanita ini. Aku takkan rela. Takkan sanggup sampai kapanpun.
"Mas." Dia memegang tanganku "Mas kenapa sih kok diam?"
"Iya, Ayah kenapa?" Bintang ikut menggenggam tanganku.
Tak menjawab apapun, aku malah memeluk Senja. Tak peduli jika ada yang melihat ku memeluk wanita ini. Aku hanya ingin menenangkan diri. Karena pelukan ini sangat nyaman dan membuatku merasa aman.
"Mas."
Aku memejamkan mataku meresapi pelukkan hangat yang seketika membuat dada ku terasa lega. Segala ketakutan itu seketika menghilang dan pergi entah kemana? Bolehkah aku memeluk wanita ini dalam waktu lama? Bolehkah aku memiliki hati dan raganya agar aku bisa menjaganya tanpa takut kehilangan?
"Ayah. Bunda."
Bintang ikut memeluk kami berdua. Meski dia tak paham perasaan takut yang menjelajar dihatiku tapi dia merasakan bahwa saat ini aku sedang tak baik-baik saja.
Bintang akan mengalami patah hati hebat jika Senja sampai pergi meninggalkan kami berdua. Dan aku juga akan menjadi pria paling menyedihkan didunia.
__ADS_1
Bersambung.......