Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 45


__ADS_3

JANGAN LUPA


LIKE


KOMEN


VOTE


RATE 5


TERIMA KASIH............


Selamat Membaca🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Lho Son, udah bangun?" Aku terkejut melihat Bintang yang sudah memakai seragam sekolahnya. Memang tidak rapi dan ini pertama kalinya dia memakai seragam sekolah nya sendiri.


"Iya Ayah. Bintang mau ketemu Bunda. Pastj Bunda udah bangun." Seru nya sambil memperbaiki dasinya.


Aku tersenyum dan berjongkok. Tak pernah kulihat Bintang sesemangat ini. Biasanya aku harus menemukan cara baru untuk membujuknya mandi dipagi hari. Aku memperbaiki dasinya yang bergeser tidak rapi sambil menggeleng dan tersenyum gemes.


"Pakai tas nya dulu." Aku menggantung tas ransel dipunggung nya yang berisi satu buah buku gambar dan satu kotak pensil warna.


"Ayo Son."


"Ayo Ayah."


Kami berdua keluar dari kamar, tangan kami saling bergandeng. Senyuman kami kompak hari ini. Karena kami berdua sudah tak sabar bertemu dengan wanita yang sejak kehadiran nya selalu membuat kami merasa nyaman disisi nya.


"Wahh tumben cucu Oma pagi-pagi udah ganteng." Mama mencubit pipi Bintang dengan gemes.


"Iya dong Oma. Bintang kan mau ketemu Bunda. Bunda pasti udah bangun." Serunya duduk dikursi meja makan.


"Hem, Ayah nya juga pasti udah enggak sabar ketemu Bunda nya Bintang yaaa?." Goda Papa mengedipkan matanya jahil kearah ku.


"Pa." Aku mendesah pelan


"Hem, cieee Langit salah tingkah." Mama juga ikut menggoda. Pasangan suami istri ini memang suka menggoda anaknya.


Aku memutar bola mata malas dan tak mau menanggapi godaan kedua orangtuaku.


"Lang, Papa udah urus masalah Reza. Nanti kamu juga ikut ke persidangan sebagai saksi dan...." Papa tampak menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Dan apa Pa?" Aku menatap Papa sambil menanti jawaban nya.


"Reza juga menuntut balik dan menuduh kamu dan Senja selingkuh." Jelas Papa.


Mataku membulat sempurna. Reza benar-benar mengadukan aku sebagai selingkuhan istrinya. Tapi tidak apa-apa, aku tidak takut menghadapi nya.


"Jadi kamu harus ikut. Papa udah sewa pengacara buat urus kasus ini. Dan Reza kasih ini....."


Papa meletakkan dua lembar foto berukuran 5R diatas meja depanku.


Mataku kembali membulat saat melihat siapa yang ada difoto itu. Aku yang sedang memeluk Senja di dekat bambu runcing beberapa waktu yang lalu saat dia menangis. Tapi siapa yang mengambil foto ini, bukankah saat itu tidak ada siapa-siapa selain aku dan Senja. Lagian sudah tengah malam, apa ada orang yang iseng sengaja menjebakku atau memang ada seseorang yang diutus untuk mengawasi ku dan Senja?


"Pa ini_"


"Papa enggak marah tapi nanti kamu selesaikan permasalahan ini. Kemungkinan ada orang dalam dibalik Reza. Papa yakin ada orang yang sengaja pengen jatuhin kamu dan keluarga kita. Papa cuma minta satu, jika memang kamu sungguh-sungguh sayang sama Senja, tolong perjuangkan dia. Kalau enggak ada kamu yang bantu mungkin Senja akan terpojokkan." Ujar Papa.


"Iya Lang Papa benar. Kamu bantuin Senja urus semua ini." Sambung Mama.


Aku terdiam dan berpikir keras. Siapa orang dalam yang dimaksud Papa? Dan siapa yang ingin menjebak aku? Apa tujuannya dan kenapa lagi-lagi Senja yang menjadi korban? Apa selama ini ada orang yang memang sengaja ingin menghancurkan aku dengan memanfaatkan kehadiran Senja, tapi siapa?


"Siapa yang Papa maksud?" Aku menatap Papa "Aku enggak punya munsuh Pa! Dan lagian kenapa harus Senja lagi yang jadi korban? Siapa orang dalam yang Papa maksud?" Cecar ku ingin tahu. Siapa orang itu dan berani-beraninya dia bermain-main denganku.


"Ini masih dalam penyelidikan Papa. Kamu tenang aja. Untuk saat ini kamu fokus sama Senja. Jangan biarin orang luar masuk terutama keluarga Reza untuk jengguk Senja dirumah sakit. Kamu harus hati-hati, kalau kamu enggak mau patah hati kedua kali. Papa sangat merestui hubungan kamu sama Senja dan Papa bakal bantu kamu sebisa Papa." Ucapnya tulus. Baru kali ini Papa turun tangan dalam masalahku. Biasanya dia membiarkan aku menyelesaikan nya sendiri.


"Hem, ntar kalau Senja udah sah pisah sama suaminya. Ajakkin lagi dong Senja tidur sama Bintang dan Auahnya." Mama tersenyum jahil.


Sementara Bintang hanya mendengarkan saja. Dia belum paham pembicaraan orang dewasa.


"Mama." Desahku pelan.


.


.


.


.


Aku menggandeng tangan Bintang memasuki koridor rumah sakit. Bintang berjalan cepat sekali seolah tak sabar bertemu dengan Senja.


"Son, pelan-pelan." Tegurku.

__ADS_1


"Cepat Ayah. Bintang pengen ketemu Bunda. Bintang mau suapin Bunda makan. Bunda pasti lapel." Ujarnya sambil menggandeng tanganku.


"Iya. Iya."


Aku bangun pagi untuk membuatkan bubur ayam kesukaan Senja. Kenapa aku tahu dia suka bubur ayam, karena saat dia demam dan menginap di rumahku aku membuatkannya bubur ayam dan dia memakannya dengan lahap hingga habis.


Entah keinginan dari mana aku tiba-tiba saja membuat bubur ini untuknya. Sejak aku menyadari perasaan ku yang menyukai istri orang, aku jadi lebih ingin dekat Senja. Menjaga dan merawat wanita itu.


"Bunda....."


Senyum Bintang memudar saat melihat Kapten Divta ada disana. Bukan hanya senyum Bintang tapi juga senyum ku berubah. Apalagi Senja ternyata belum sadar dari tidurnya? Aku belum memastikan jika Senja koma karena dia memang kehilangan banyak darah.


"Om jangan dekatin Bundaku." Pekik Bintang menatap Kapten Divta tajam


"Son." Tegurku.


Kapten Divta tampak terkejut namun akhirnya dia tersenyum ketika menyadari kehadiranku yang berjalan dibelakang Bintang sambil menenteng rantang nasi ditanganku.


"Dokter Langit." Sapa Kapten Divta. Dan aku membalas dengan anggukkan.


"Hei Bintang." Kapten Divta juga menyapa Bintang.


"Jangan dekatin Bundaku Om. Om gesel. Bunda cuma boleh dekat sama Bintang dan Ayah." Ujarnya, dia menarik dengan susah payah tangan Kapten Divta agar berdiri dari duduknya.


"Son."


Aku benar-benar tak enak hati namun juga senang ada yang membantuku membasmi para lelaki yang mencoba mendekati Senja.


"Iya iya, ini Om udah berdiri." Ucap Kapten Divta mengalah dan berdiri dari duduknya.


"Kapten maafkan anak saya." Aku menghela nafas panjang "Dia terlalu sayang sama Senja." Sama seperti Ayahnya, aku melanjutkan kata-kata itu dalam hati.


"Enggak apa-apa Dokter namanya juga anak-anak." Sahut Kapten Divta sambil membalas dengan senyuman hangat.


"Kapten udah lama disini?" Tanyaku sekedar basa-basi. Padahal rasanya aku ingin mengusir lelaki ini keluar dari ruangan Senja.


"Dari semalam Dok, saya jagaian Senja karena Mas Donny ada panggilan mendadak." Jawabnya tak lupa dengan anggukkan.


Tanpa sadar tanganku terkepal kuat dan sangat kuat. Apa tadi katanya? Dia menjaga Senja dari tadi malam. Apa saja yang dia lakukan pada Senja? Aku curiga dia memberikan pelet pada Senja, supaya Senja jatuh cinta padanya.


Bersambung.....

__ADS_1


Kalau ada typo tag ya guys....


__ADS_2