
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Aku turun dari motor. Tak lupa melepaskan helm dan mengembalikan nya pada tukang ojek online itu.
Pipiku masih panas akibat tamparan Mas Reza. Sejak menikah dengan Mbak Siska, dia sudah dua kali menamparku. Tidak cukupkah dia menyiks batinku? Kini dia juga menyiksa tubuhku. Aku takut lama-lama kebencian itu malah tumbuh didadaku.
Aku wanita pendendam. Aku bisa mendendam sampai tanah diatas tubuhku. Yang artinya aku bisa dendam sampai mati. Aku hanya takut itu. Saat ini memang belum ada kebencian tapi nanti itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Aku menyeka air mataku dan mengumpulkan tenaga supaya kuat. Aku tak boleh lemah. Aku tak boleh kelihatan menangis. Hidupku terlalu berharga untuk dihabiskan dengan pria tak tahu diri seperti Mas Reza.
Aku masuk kedalam caffe sambil celingak-celinguk mencari orang yang tadi menghubungi ku. Mana orangnya?
"Bu Senja?" Tanya seorang pria berpakaian rapi dan tersenyum kearah ku.
"Iya Mas, saya Senja."
"Mari Bu, ikut saya."
Aku mengikuti Mas-mas tampan ini. Seperti nya usianya tidak jauh dariku. Hanya saja dia terlihat lebih bersih dan terawat bahkan bau parfum nya sangat menyeruak.
"Silahkan duduk Bu." Ucapnya.
"Makasih Mas." Aku duduk sambil tersenyum lebar.
"Mau pesan minum dulu Bu?" Tawarnya
"Boleh Mas."
Sambil menunggu pesanan kami datang. Pria ini mengajakku berbincang-bincang masalah dunia kepenulisan. Aku tidak hebat dalam menulis. Hanya aku suka. Apalagi aku sama sekali tidak pernah belajar sastra. Pelajaran bahasa Indonesia waktu seolah pun nilainya tidak tinggi-tinggi hanya pas-pasan dengan kkm.
"Bu Senja, memang penulis?" Tanyanya
"Gak kok Mas. Cuma iseng-iseng aja gak ada kerjaan dirumah selain ngurus suami jadi ya diluangin buat nulis." Jawabku
"Ohh udah punya suami?" Dia tampak terkejut "Masih muda kelihatan nya?" Tanyanya heran. Muda dari orang aku hampir kepala tiga.
"Usia saya 26 tahun menikah umur 18. Gak muda Mas, udah mau kepala tiga malah." Ucap ku sambil terkekeh.
__ADS_1
"Tapi itu sangat muda. Saya hampir kepala tiga belum punya calon." Dia tertawa miris
"Masih nyangkut kali di Bambu Runcing kali Mas." Aku juga tertawa. Menghibur diri agar tak terlalu memikirkan kejadian tadi
Kami masih mengobrol sambil menikmati secangkir kopi siang ini. Obrolan singkat. Orang ini asyik juga.
"Oke kita bahas masalah kontrak ya Bu."
Dia membuka laptop yang dia bawa tadi sambil menjelaskan detail kontrak yang akan aku tandatangani. Berapa keuntungan yang aku dapat. Serta ada reward dan bonus jika buku yang aku tulis itu terjual banyak.
"Gimana Bu?" Tanya Mas Chandra setelah menjelaskan dengan detail masalah kontrak ini.
"Iya Mas. Saya tertarik." Jawabku. Semoga ini adalah jalan terang untukku.
"Baik Bu. Ibu langsung taken kontrak aja ya." Dia menyerahkan satu dokumen yang berisi tentang kontrak kerja ini.
"Iya Mas." Aku membubuhkan tanda tangan disurat kontrak itu.
"Ohh ya Bu, nanti setelah penandatangan kontrak, Ibu harus menemui Boss saya dulu untuk taken kontrak yang lain." Jelasnya "Nanti akan saya hubungi." Dia menutup surat kontrak yang sudah aku tanda tangani tadi.
Dia tertawa lebar "Baiklah. Senja." Sahutnya "Ohh ya kamu tinggal dimana Senja? Suami kamu kerja apa?"
Kalau bahas tentang suami rasanya lidahku ini kelu. Apalagi mengingat bentakkan Mas Reza tadi sungguh membuat ku semakin malas jika bahas tentang suami ini.
"Saya tinggal di Kodim Tentara Mas. Kebetulan suami saya Tentara Angkatan Laut." Jawabku. Semua orang bangga mungkin menjadi Ibu Persib, tapi tidak dengan ku. Karena gelar itu tak benar-benar jadi milikku.
"Wahhh hebat. Ibu Persib dong." Godanya. Dia tidak tahu saja jika aku ini Ibu Persib yang gagal.
"Kalau Mas tinggal dimana?"
"Saya tinggal di Tanjung Pura Ja. Masih sama orangtua." Jawabnya "Selesai kuliah langsung kerja disini." Tuturnya kemudian.
"Iya Mas. Kren bisa bekerja dibagian penerbitan buku." Pujiku.
"Gak juga. Namanya kerja ya pasti gak ada yang enak lah." Aku setuju. Kerja apapun pasti ada lelahnya.
"Mas kayaknya saya mau pamit, soalnya ini udah mau sore." Aku berdiri sambil memasukkan ponsel kedalam tas ku.
__ADS_1
"Iya Ja. Ntar saya hubungi lagi masalah kontrak tadi." Ucapnya juga berdiri memasukkan laptop itu kedalam tas nya.
Aku berjalan keluar dari caffe. Rasanya malas sekali mau kembali kerumah. Apalagi harus menyaksikan kemesraan Mas Reza dan Mbak Siska.
Aku berjalan menelusuri trotoar jalan. Jalanan sore ini cukup padat. Pontianak ini kalau sore menjelang malam memang akan macet berkepanjangan karena orang-orang yang pulang kerja akan memenuhi jalanan. Pontianak tidak jauh beda dengan Jakarta yang suka macet. Aku paling tidak suka kemacetan ini.
"Apa aku kasih tahu Mas Donny dan Mas Dicky aja tentang masalah rumah tanggaku? Barang kali mereka punya solusi." Gumamku.
Mas Donny dan Mas Dicky adalah Kakak tiriku yang juga tinggal di kota Pontianak ini. Meski kami tak sedarah tapi mereka cukup peduli padaku meski jarang bertemu. Karena mereka sama-sama sibuk dalam pekerjaan.
Mas Donny bekerja sebagai consultants pembangunan jembatan, gedung-gedung dan proyek jalan. Dia tidak menetap dan kadang-kadang pindah tempat, hingga kini dia belum menikah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan nya.
Sedangkan Mas Dicky seorang dosen. Mas Dicky ini selain pintar dia juga tegas tak heran jika dia mendapatkan beasiswa saat duduk dibangku kuliah sampai bisa menyelesaikan pendidikan S2 nya. Dan dia juga belum menikah tapi sudah memiliki calon seorang dokter.
Aku naik ojek online. Bagaimana pun aku menghindar rumah tetaplah tempat ku berpulang paling nyaman. Mau aku lelah dengan sikap suamiku dan istri baru nya tetap tak bisa mengubah suasana rumah yang sudah aku tinggali selama kurang lebih tujuh tahun ini.
"Baru pulang?" Mas Reza sudah berdiri didepan pintu. Aku heran dia ini pengekang sekali, dia tidak sadar atas kelakuan nya sendiri.
"Iya Mas." Jawabku. Aku tak ingin bertengkar.
"Dari mana aja?" Dia menatapku dengan penuh selidik.
"Ketemu teman." Jawabku
Mas Reza tampak terdiam dan berpikir sejenak. Aku heran kenapa dia berada dirumah terus? Biasanya juga sibuk dinas.
"Ja." Panggil nya.
"Kenapa Mas?" Keningku berkerut heran.
"Besok Mas ada dinas satu bulan ke Papua dan Siska juga dinas malam selama sebulan. Mas mau titip Queen sama kamu." Ucapnya tenang dan santai tanpa dosa.
Aku tersenyum sinis "Kenapa gak suruh Ibu sama Santi aja Mas. Aku sibuk." Walaupun aku wanita baik hati tapi aku juga punya harga diri.
"Ibu sibuk ngurusin Ayah. Santi sibuk kuliah. Kamu kan gak ada kerjaan dirumah. Jadi kamu aja ya yang jagain Queen."
Bersambung.......
__ADS_1