Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 73


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 l


“Mas ini gimana?”


Aku terkejut melihat Mas Fajar tiba-tiba berada disini. Kemana Mas Langit? Kami sedang memilih-milih gaun penggantin dan mempersiapkan acara resepsi pernikahan kami bulan depan.


“Mas Fajar.” Aku berjalan mundur karena takut apalagi tatapan Mas Fajar yang seperti siap menelanku hidup-hidup.


“Senja.” Senyumannya membuatku bergidik ngeri, “Apakah ada waktu saya ingin bicara empat mata sama kamu?” ucapnya


“Maaf Mas, saya sedang sibuk.” Tolakku


“Senja.” Tampak Mas Langit berjaln tergesa-gesa kearahku dengan wajah paniknya.


“Mas.” Aku memeluk lengan Mas Langit. Jantungku berdegup kencang karena ketakutan.


“Mas mau apa?” Mas Langit menyembunyikanku dibelakang tubuhnya.


“Mas hanya ingin berbicara dengan wanita yang begitu Mas cintai,” ucap Mas Fajar santai tanpa dosa.


“Hentikan Mas.” Hardik Mas Langit.


“Berhenti Mas. Tolong jangan buat aku membenci Mas. Stop mencintai Senja Mas, dia milikku. Apa mau Mas?” Tatap Mas Langit kecewa dan juga marah karena bisa kulihat dari kepalan tangannya.


“Izinkan Mas berbicara dengan dia sebentar.” Pinta Mas Fajar


“Maaf Mas, aku menolak.” Tolak Mas Langit.


“Hemm, bailklah jika kamu menolak.”


“Mas.” Aku terkejut saat Mas Fajar menarik tanganku dengan kasar dan menahan pinggangku sehingga menempel padanya.


“Lepaskan Senja Mas.” Bentak Mas Langit.


Aku memberontak berusaha melepaskan tangan Mas Fajar yang memeluk pinggangku dengan agresif


“Mas lepaskan Senja. Jangan buat aku berbuat kasar sama Mas.” Bentak Mas lagi yang sudah emosi.


Aku menangis ketakutan. Aku sangat takut melihat tatapan marah dari Mas Fajar dan Mas Langit, mereka berdua seperti siap perang untuk membela kebenaran dan keadilan.


“Izinkan Mas berbicara dengan Senja sebentar saja Langit.” Pintanya masih memeluk pinggangku tanpa peduli dengan aku yang memberontak


“Mas. Apa sih mau Mas? Aku mohon kali ini Mas jangan ambil Senja, aku enggak bisa hidup tanpa dia. Aku akan lakukan apapun asal Mas lepasin Senja dan tolong jangan ganggu Senja lagi Mas, tolong.” Mas Langit sampai berlutut dikaki Mas Fajar agar melepaskan aku.


Aku benar-benar tak bisa memberontak tenaga Mas Fajar sangat kuat tidak bisa dibandingkan dengan tubuhku yang lemah ini. Aku menangis ketakutan, aku takut Mas Fajar malah memisahkan aku dari Mas Langit. Aku tidak bisa, aku tidak sanggup hidup tanpa Mas Langit, aku mencintainya dengan sepenuh hatiku.


“Baik. Jauhi Senja. Jika Mas enggak bisa memiliki Senja, maka kamu juga enggak akan bisa. Kita adil dan kita setimpal.” Mas Fajar tersenyum licik.


Aku menggeleng tidak mau. Aku tidak mau. Aku mau bersama Mas Langit, kenapa Mas Fajar egois ingin memisahkan kami berdua. Aku tak bisa berpisah dari Mas Langit, kuharap Mas Fajar mengerti dan tidak memaksa aku dan Mas Langit untuk berpisah.

__ADS_1


“Apa maksud kamu Mas?” Mas Langit hendak menyerang Mas Fajar dan memberikan pukulan pada Mas Fajar.


“Kalau kamu mendekat Mas akan sakiti Senja.” Ancam Mas Fajar.


Mas Fajar mengeluarkan pisau dari saku jas dokternya, membuatku semakin ketakutan. Aku tidak mau Mas Fajar menyakiti Mas Langit.


“Jangan mendekat.” Dia meminting leherku dari arah belakang dan menjadikan pisau itu sebagai ancaman.


“Mas, aku mohon jangan sakiti Senja.” Mas Langit menangis sambil menangkup kedua tangannya didada.


“Jika kamu enggak ingin Mas nyakitin Senja, lepaskan dia. Kalau kamu enggak mau, Mas akan celakai Senja dan kita sama-sama enggak bisa memilki Senja.” Ancamnya. Aku setengah mati ketakutam melihat benda tajam itu yang ditunjukkan pada leherku.


“Mas tolong, jangan.”


Sedangkan pegawai butik dan dua orang satpam tampak ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa. Saat mereka hendak menyerang Mas Fajar, Mas Fajar malah mengancam akan menyayatkan pisau ini ke leherku.


“Jangan ada yang mendekat.”


Mas Fajar menarikku keluar sambil terus mengancam dengan benda tajam ditangannya.


“Senja.” Teriak Mas Langit. “Mas tolong. Tolong.” Mas Langit masih memohon dengan air mata yang bersimbah ruah. Wajahnya tampak pucat karena ketakutan


“SENJA.”


Mas Fajar membawaku masuk kedalam mobil dan terus mengancam Mas Langit jika berani mendekat maka dia akan menusukkan pisau itu ketubuhku.


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


“MAS LANGIT.”


.


.


.

__ADS_1


.


Aku mengerjab-ngerjabkan mataku saat pantulan cahaya matahari ini menyinari wajahku. Aku mengeliat dibalik selimut tebal ini. Aku membuka mataku sempurna lalu duduk untuk mengumpulkan nyawaku sambil menguap.


“Astaga aku dimana?” Aku turun dari ranjang


“Tuhan aku dimana?”


Aku panic melihat kamar asing ini. Aku ada dimana?


“Apa ini rumah Mas Fajar?”


Aku ingat kemarin Mas Fajar menculikku dan membawaku pergi. Ini tempat apa? Aku ada dimana?


“Mas Langit. Bintang.” Aku menelusuri kamar mewah ini “Mas Langit, tolongin aku Mas.” Aku menangis lagi karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ada dimana?


Aku membuka orden jendela kamar dan langsung disuguhkan dengan fatamorgana keindahan laut, jelas ini bukan di Pontianak. Lalu aku dimana? Aku tidak tahu tempat ini.


“Pagi Senja.”


Aku segera berbalik dan melihat Mas Fajar masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan dan segelas air putih ditangannya.


“Kamu sudah bangun?” Tanyanya tanpa rasa bersalah.


Aku berjalan mundur sambil memeluk lenganku. Jantungku berdegup kencang dan tubuhku panas dingin karena ketakutan, bahkan wig yang melindungi kepalaku entah kemana? Kepalaku terlihat plontos tanpa rambut.


“Kamu kenapa takut Sayang?” Dia tersenyum devil sambil berjalan kearahku.


“JANGAN MENDEKAT MAS.” Teriakku menahannya dengan tangangku. Kenapa perutku tiba-tiba sakit sekali.


“JANGAN MENDEKAT.” Bentakku


Dia berhenti didepannya saat melihat air mataku yang luruh dan membasahi pipiku. Mataku sudah bengkak karena kebanyakkan menangis. Tubuhku juga serasa remuk redam karena melawan saat Mas Fajar memaksaku masuk kedalam mobil.


“Kamu enggak bisa lepas dari saya karena kamu milik saya,” ucapnya dengan percaya diri.


“Saya enggak mau Mas. Saya mohon lepasin aku Mas. Saya mohon lepasin saya Mas.” Aku memohon dengan ar mata berderai. “Jangan pisahin saya sama Mas Langit.”


Wajahnya langsung memerah saat aku menyebut Mas Langit, aku masih tak paham apa motif Mas Fajar menculikku. Apa yang dia inginkan? Aku rasa cinta tidak akan seperti ini.


“Jangan sebut namanya didepan saya. Sampai kapanpun saya enggak akan pernah biarin dia rebut kamu kembali dari saya.” Sentakknya terdengar menggema. Aku sampai menutup telingaku karena ketakutan melihat wajah Mas Fajar yang begitu menyeramkan.


“Kamu milik saya Senja dan akan menjadi milik saya. Enggak ada yang boleh milikin kamu selain saya. Jadi jangan pernah bermimpi jika saya akan melepaskan kamu.” Tegasnya menatapku tajam.


“Makanlah dan minum obatnya."


BRAKKKKKKKKKKKKKK


Dia keluar dari kamar dan membanting pintu sangat keras. Untung saja pintu itu terbuat dari kayu jati permanen hingga tidak mudah hancur ketika dia membantingnya dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2