Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 77


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku duduk tak tenang seolah tak sabar ingin segera sampai.


"Don, aku benar-benar takut Senja kenapa-kenapa?" Ucapku gelisah


"Kamu tenang aja Lang, Senja enggak akan kenapa-kenapa. Dia wanita kuat," ucap Donny menenangkan.


"Mas, denah lokasinya disini," Dicky menunjukkan layar iPad nya pada Donny.


Aku dan Donny melihat kearah layar iPad Dicky. Sebuah peta yang menunjukkan tempat dimana keberadaan Mas Fajar.


Ya saat ini kami sedang menuju tempat dimana Mas Fajar membawa Senja pergi. Aku tak sabar, duduk pun tak tenang. Jantungku berdegup kencang. Ku harap Mas Fajar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan Senja atau menguncang jiwanya.


"Pastikan Ky." Sahut Donny.


"Iya Mas."


Dicky tampak sibuk dengan iPad ditangannya. Aku bersyukur banyak yang mendukung dan membantuku mencari keberadaan Senja. Setidaknya aku tidak menghadapi ini sendirian.


"Masih jauh enggak Ky?" Tanyaku.


"Iya Mas. Ini seperti nya masuk ke daerah pantai Samudra ll," jawab Dicky.


Papa dan anggota batalyon yang lainnya di mobil yang terpisah dengan ku. Serta beberapa anggota kepolisian juga ikut membantu.


Bisa kulihat kemarahan diwajah Papa pada Mas Fajar. Papa tampak emosi melihat apa yang sudah Mas Fajar lakukan. Menurut Papa yang dilakukan Mas Fajar diluar batas. Kenapa melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa orang lain, apalagi orang itu adalah Senja, orang yang begitu kami sayangi.


"Apa akses masuk kesana mudah Ky?" Tanya Donny lagi.


"Sepertinya dijaga Mas. Tapi anggota kepolisian seperti nya sudah mencari jaringan akses masuk kesana." Jelas Dicky, "Mas Fajar menjaga villa itu dengan ketat. Bahkan belum masuk kedalam daftar GPS, untung aku memiliki teman yang ahli IT hingga bisa bantu melacak keberadaan Mas Fajar." Jelas Dicky lagi.


Aku mengusap wajahku kasar. Ingin rasanya aku mempercepat kelakuan mobil ini agar segera sampai. Mobil ini berjalan seperti siput, beberapa kali aku meneriaki supir didepan supaya menjalankan mobilnya lebih kencang.


"Sabar Lang," ucap Donny sambil menggeleng kepala.


"Aku enggak sabar ketemu Senja Don. Aku enggak sabar." Jawabku. Aku memang tidak sabar, sangat tidak sabar. Aku ingin bertemu kekasihku itu.


"Aku tahu, tapi kamu enggak bisa gegabah. Kita datang kesana pasti harus melewati beberapa akses lagi. Mas Fajar enggak akan dengan mudah membiarkan kita masuk." Jelas Donny.

__ADS_1


Aku terdiam memikirkan ucapan Donny. Mas Fajar memang sangat licik jika masalah bersembunyi. Dia pembunuh berdarah dingin yang keberadaannya sulit untuk di akses.


Aku menyenderkan punggungku lemah. Seluruh tubuh seolah tak bertenaga. Kukira hubungan ku dan Senja akan berjalan mulus seperti pasangan pada umumnya. Tapi nyatanya, hubungan ini malah membuat Kakak ku sendiri gelap mata tanpa memikirkan resiko dari yang dia lakukan.


"Mas, aku curiga deh," ucap Dicky.


"Curiga apa?" Kening Donny berkerut heran


"Mas, ingat enggak dulu Senja pernah cerita kalau dia ditolong sama Dokter pas dia lagi dikejar preman? Waktu itu kita masih SMA Mas, yang kita jemput Senja dirumah orang itu. Mas ingat?"


Donny tampak berpikir berusaha mengingat sesuatu yang mungkin sudah terjadi selama belasan tahun lalu. Sedangkan aku menyimak saja.


"Iya Mas ingat kenapa?" Tanya Donny.


"Mas, coba liat ini." Dicky kembali menunjukkan layar iPad nya, "Aku enggak sengaja liat ada foto Senja waktu kecil di meja nya Mas Fajar saat Mas Fajar minta aku ke ruangan nya waktu itu."


"Maksud kamu?" Donny masih tidak mengerti.


"Aku curiga Mas Fajar ini orang yang nolongin Senja dulu Mas," ucap Dicky, Donny tampak terkejut, "Coba Mas pikir dari mana coba Mas Fajar dapat foto Senja waktu kecil kalau enggak ada hubungan apa-apa dimasa lalu?" Ujar Dicky.


Aku mencerna ucapan Dicky. Saat itu Mas Fajar pernah mengatakan jika Senja mirip dengan seseorang dimasa lalunya. Apakah mungkin memang sebelumnya Senja dan Mas Fajar saling mengenal.


"Bisa aja kan Mas dia nyamar," jelas Dicky, "Senja juga pernah bilang kalau orang itu minta Senja tinggal sama dia sampai besar," ucap Dicky lagi.


Tidak salah lagi, Senja adalah wanita yang dicari Mas Fajar. Mas Fajar juga pernah menceritakan masalah ini padaku. Tapi aku tidak tahu jika wanita yang dia cari selama ini adalah Senja.


"Jadi maksud kamu, Mas Fajar memang mengincar Senja sejak kecil?" Tanya Donny.


Dicky mengangguk, "Iya Mas. Seperti yang aku bilang tadi, Mas Fajar sudah lama merencanakan untuk menculik Senja." Jelas Dicky.


"Kalau gitu kita harus cepat Don. Senja dalam bahaya," ucapku.


"Iya Lang."


Tuhan, kumohon lindungi Senja. Kumohon jaga dia. Aku tidak akan memaafkan Mas Fajar jika dia menyakiti Senja. Sungguh aku tak bisa melihat Senja terluka.


"Tapi apakah benar nama Mas Fajar itu Leonard, atau cuma nama samaran?" Tanya Dicky penasaran.


"Namanya Fajar Leonard." Jawabku.

__ADS_1


Mobil yang kami kendarai memasuki wisatawa Pantai Samudera ll, Singkawang. Aku tidak tahu jika dipantai ini ada villa yang memang sengaja dibangun untuk para tamu VVIP. Tapi sepertinya Mas Fajar memang membeli villa di pantai ini. Jauh-jauh hari dia sudah merencanakan menculik Senja.


"Apakah bisa masuk Don?" Tanyaku saat memasuki portal jalan masuk kedalam pantai.


"Kita tunggu sebentar," ucap Donny


"Sial, kita di tahan disini," umpat Donny, "Gimana pun caranya kita harus masuk." Donny tampak emosi.


"Anggota kepolisian masih dibelakang Mas kita tunggu aja," ucap Dicky.


"Apa Mas Fajar udah tahu kalau kita mau datang?" Tanyaku penasaran.


"Ya seperti nya Lang. Kalau dia belum tahu enggak mungkin kita ditahan seperti ini," jawab Donny tampak kesal dan juga emosi.


Aku turun dari mobil menghampiri satpam yang berjaga di portal itu, Donny dan Dicky juga keluar menyusul ku.


"Pak, kenapa portal nya tidak dibuka?" Tanyaku emosi dengan tangan yang terkepal kuat.


"Maaf Pak, kami tidak menerima tamu. Pantai ini sudah dibooking." Jawab salah satunya.


"Tidak pernah sejarahnya pantai di booking, ini bukan pantai pribadi. Cepat buka portalnya." Teriak ku.


"Sekali lagi kami minta maaf Pak. Kami tidak bisa membuka pintunya."


"Brengsek."


Bugh bugh bugh bugh bugh bugh bugh


Aku memukul satpam itu dengan membabi buta. Aku sudah cukup sabar. Aku tak ingin banyak drama. Aku ingin segera bertemu kekasihku Senja. Aku tidak suka bertele-tele seperti ini.


"Lang, hentikan."


Donny dan Dicky memasungku agar tak menghabisi kedua satpam itu.


"Lepaskan aku Don."


"Lang sabar, kamu enggak bisa emosi kayak gini," ucap Donny menenangkan. Bagaimana aku bisa sabar sementara Senja bahaya didalam sana.


**Bersambung......

__ADS_1


Love kalian banyak-banyak**.....


__ADS_2