
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Reza memejamkan matanya sejenak. Sekarang dia paham bagaimana sakitnya di khianati dan ditinggalkan dalam keadaan terluka. Sekarang Reza paham apa yang dirasakan Senja dulu saat dirinya berkhianat dan menikah secara diam-diam dibelakang istrinya.
"Maafin Santi Mas," Santi hanya bisa menunduk.
Setelah melahirkan dan tidak memiliki apa-apa untuk bertahan hidup Santi terpaksa harus menjadi wanita malam demi menyambung kehidupan nya.
"Santi, tinggalkan pekerjaan itu. Mas yang akan bertanggungjawab untuk keluarga ini," Reza memeluk adiknya.
Reza tak bisa marah. Santi terpaksa. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menyambung kehidupan nya. Reza juga terpukul karena adik satu-satunya kini tak bisa melanjutkan pendidikan nya. Padahal Reza ingin adiknya mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Hiks hiks hiks. Maafin Santi Mas," wanita itu terisak memeluk sang kakak.
Reza hanya bisa memeluk adiknya. Dia juga terluka melihat kondisi keluarga nya yang tidak seperti dulu. Dulu kehidupan mereka sangat rukun, apalagi sang Ayah orang yang berintegritas terhadap pendidikan.
"Udah enggak usah nangis lagi. Mas mau ketemu Ibu," Reza menyeka air mata adiknya.
Reza masuk kedalam kamar sang Ibu dengan wajah lesu. Dia melihat Ibu nya yang terbaring diranjang dengan mata yang menatap kosong langit-langit kamar.
"Bu," Reza mendekat.
Namun wanita paruh baya itu sama sekali tak merespon. Dalam bayangannya yang ada hanya sang suami.
"Bu," Reza duduk dibibir ranjang. "Ini Reza Bu," lirihnya. Air mata Reza berjatuhan dipipinya.
"Bu," Reza memeluk wanita paruh baya itu.
Reza merasa bersalah melihat kondisi Ibu nya yang seperti ini. Dia sebagai seorang anak harusnya bisa melindungi keluarga nya. Tapi malah dia yang menyebabkan keluarga nya berantakkan.
"Maafin Reza Bu, maafin Reza." Dia terisak memeluk wanita yang terbaring lemah itu.
"R-re-za," lirih Yunita, Ibu nya Reza. Suaranya memang tak tembus seluruh anggota tubuhnya melumpuh.
"Bu,"
__ADS_1
Reza menangis sepuasnya sambil mengucapkan kata maaf. Seandainya dia tidak menikah secara diam-diam, dan tidak dipenjara semua nya pasti tidak akan seperti ini. Keluarga pasti masih utuh.
Reza melepaskan pelukan Ibunya. Dia menatap wanita yang hanya bisa mengerakkan matanya itu sedangkan anggota tubuh yang lainnya sama sekali tak bisa digerakkan oleh Yunita.
"Bu," hati Reza hancur lebur ketika melihat kondisi Ibunya. "Ini Reza Bu, Reza udah keluar dari penjara," ucapnya sambil mengusap rambut wanita paruh baya itu. Sedangkan tangannya yang satu menggenggam tangan Yunita.
Reza tak mampu menahan air matanya apalagi kondisi Yunita menyedihkan. Dia tidak bisa apa-apa selain berbaring dengan mata yang bergerak-gerak sedangkan tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak. Jika Santi kerja siapa yang menjaga Ibu dan anak nya.
"Bu, Ibu tenang ya. Disini ada Reza Bu, Reza janji akan jaga Ibu. Reza akan bawa Ibu ke dokter ahli agar Ibu bisa jalan lagi seperti dulu," ucapnya mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
Yunita hanya menjawab dengan gerak matanya yang berkaca-kaca. Berbicara pun dia sudah tak bisa, kadang suaranya sama sekali tak terdengar.
"Ibu makan ya, biar Reza suapin. Ibu pasti lapar," Reza harus kuat. Sebab dialah satu-satunya harapan untuk keluarga nya terutama Ibu, adik dan anaknya.
Reza menyuapi Yunita makan meski hanya makan beberapa sendok saja setidaknya ada makanan yang masuk kedalam tubuhnya.
"Santi mana obat Ibu?" Reza meletakkan mangkuk bubur nya
Santi menggeleng. "Obat Ibu udah habis Mas. Santi belum ada uang buat beliin Ibu obat," jawab Santi.
Reza mengambil dompetnya. Selama di penjara dia membantu beberapa pekerjaan yang cukup menghasilkan uang meski hanya digaji sepekian persen saja tapi itu cukup sebagai tabungan Reza selama disana.
"Tolong beliin Ibu obat." Dia menyodorkan selembar uang berwarna merah pada Santi.
"Iya Mas,"
Santi langsung melaksanakan perintah Reza. Selama ini kehidupan Santi memang hanya untuk merawat Ibu dan keponakan nya. Tidak ada orang atau keluarga yang membantu nya selain dia yang harus berusaha sendiri agar dapat bertahan hidup.
Reza membersihkan tubuh Yunita dengan tissue basah. Yunita memakai pempers dewasa sehingga ketika dia buang air besar atau air kecil bisa langsung disana tanpa harus repot-repot membantunya ke kamar mandi.
Reza sama sekali tak jijik. Ini adalah Ibunya, Ibu yang telah melahirkan serta merawat nya dengan penuh kasih sayang dan Reza tak melupakan itu.
.
.
__ADS_1
.
.
Donny menepuk jidatnya pekerjaan nya menumpuk dan besok dia harus keluar kota lain untuk meninjau beberapa proyek. Resiko pekerjaan nya membuatnya harus menunda pernikahan terlebih beda keyakinan ini membuat Donny sedikit sulit melangkah.
"Mas, minum dulu," Aisyah membawa secangkir kopi kental untuk kekasihnya itu.
"Makasih Sayang," Donny tersenyum hangat.
"Proyek baru Mas?" Tanya Aisyah. Wanita berhijab itu berprofesi sebagai guru TK. Dia wanita yang menyukai anak kecil sehingga cocok dengan pekerjaannya saat ini.
"Iya Sayang besok Mas harus berangkat ke Bengkayang, disana Mas harus tinjau beberapa proyek," sahut Donny.
Aisyah mengangguk. Sebenarnya Aisyah ingin membicarakan kejelasan hubungan mereka. Mereka pacaran sudah sangat lama lebih dari sepuluh tahun. Jika menikah mungkin sudah memiliki dua atau tiga anak. Namun hingga sekarang Donny tak pernah membahas tentang pernikahan dengannya.
"Mas," panggil Aisyah.
"Iya Sayang, kenapa?" Donny melirik kekasihnya itu. Memang benar mereka pacaran sudah lama bahkan sejak duduk dibangku kuliah hingga sekarang. Usia keduanya juga sudah melewati kepala tiga memang seharusnya sudah memasuki jenjang serius. Namun hingga kini tak ada tanda-tanda jika keduanya akan berakhir dipelaminan.
"Menurut Mas hubungan kita gimana?" Tanya Aisyah memberanikan diri. Sebagai perempuan dia juga tidak mau digantung, dia ingin yang pasti-pasti.
"Ya hubungan kita baik-baik aja. Emang kenapa Sayang?" Donny menutup laptopnya. Wanita berhijab ini memang cantik.
Hubungan Donny dan Aisyah termasuk hubungan yang sehat. Bahkan selama pacaran lebih dari sepuluh tahun Donny tak pernah melakukan hal yang tak wajar pada kekasihnya. Apalagi Aisyah wanita baik-baik dan Donny tak ingin menghancurkan wanita yang dia cintai.
Begitu juga dengan Aisyah yang sangat menjaga kehormatan nya sebagai seorang wanita. Apalagi dia seorang muslimah yang memegang teguh derajat perempuan dan terlebih keluarga besar Aisyah sangat menjunjung tinggi nilai keagamaan karena Ayah Aisyah seorang Ustad.
"Mas, bukan itu maksudnya," Aisyah mendesah.
"Lalu apa Sayang?" Tanya Donny lembut.
"Sampai kapan kita bertahan distatus yang sama Mas. Kita pacaran udah lebih dari sepuluh tahun tapi hubungan kita masih jalan ditempat," ucap Aisyah menatap keaksihnya.
Sebenarnya mereka mengawali hubungan dengan cara yang salah. Padahal keduanya sudah tahu jika mereka berdua beda keyakinan harusnya dibicarakan sejak awal-awal hubungan namun keduanya malah sudah terlanjur jatuh cinta jika membahas siapa yang akan mengalah dan siapa yang ikut siapa mungkin akan sedikit sulit, apalagi keduanya sama-sama kuat terhadap agama masing-masing.
__ADS_1