Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 47


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Ja, saya buatin kamu bubur ayam. Kamu mau makan?" Tawarku tersenyum sambil menawarkan


"Boleh Mas. Aku suka banget bubur buatan Mas." Sahutnya.


Hatiku langsung berbunga-bunga. Pipiku panas. Dipuji begitu saja membuat perasaan ku berbunga-bunga dan senang bukan main.


"Ayo Bunda, makan disuapin Ayah. Bial cepat sembuh." Ucap Bintang menatap kedua orang itu dengan senyum.


"Enggak apa-apa Nak. Bunda makan sendiri aja." Senja menolak mungkin dia merasa tak nyamsn.


"Bunda kan sakit mana bisa makan sendili?" Bintang tetap pada keinginan nya agar aku menyuapo Senja.


"Tapi_"


"Enggak apa-apa Ja. Biar saya suapin." Aku membuka rantang nasi berisi bubur itu.


"Maaf ya Mas ngerepotin." Ucapnya tak enak hati.


"Hem, sama sekali enggak. Ayo makan." Sial, kenapa aku tak bisa mengontrol detak jantungku.


Jangankan menyuapi Senja membawa nya keliling dunia saja aku sanggup. Aku tidak tahu kenapa aku sungguh tak bisa mengontrol perasaan ku pada wanita ini? Rasanya begitu hangat dan nyaman saat berada didekatnya.


"Pelan-pelan makannya." Aku memasukkan sendok berisi bubur itu kedalam mulutnya.


"Enak?" Aku meminta pendapat tentang bubur buatanku ini.


"Enak banget Mas, aku suka." Sahutnya "Sebenarnya aku enggak suka bubur tapi pas Mas yang buat rasanya beda dan aku suka banget Mas." Dia mengacungkan jempol nya.


"Tunggu." Aku membersihkan sudut bibirnya yang ditempeli sedikit bubur.


Sejenak tatapan kami berdua bertemu. Seandainya sekarang Senja sudah sah bercerai sudah pasti aku akan lebih dekat dengan nya. Hanya saja sayang waktunya belum tepat. Aku hanya takut nanti ada orang yang memanfaatkan keadaan ini untuk mempersulit kehidupan Senja.


"Maaf." Aku segera menjauhkan tanganku.


"Ayah dan Bunda kenapa enggak nikah aja, bial Bintang bisa bobo baleng Ayah sama Bunda?" Bintang menatap aku dan Senja secara bergantian.


"Bintang." Tegurku. Padahal aku sudah kesem-kesem malu mendengar pertanyaan Bintang.


"Bunda punya suami Nak. Mana bisa Bunda nikah sama Ayah?" Tangannya mengusap kepala Bintang yang duduk diranjang.


"Suami?" Tanya Bintang bingung "Suami itu siapa, Bunda?" Tanyanya tak mengerti.


"Ja, ayo lanjut makan. Ntar aja ngobrol nya." Aku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya Mas."


Aku menyuapi Senja dan Bintang secara bergantian. Bintang juga suka bubur ini dan sengaja tidak aku campur sambal karena Senja tidak boleh makan, makanan yang pedas.


"Minum."


"Makasih Mas."


Lagi-lagi aku menatap wanita itu. Rasa takutku seolah menghilang saat melihat senyumnya yang menggembang.


"Kamu istirahat aja."


"Mas." Dia menatap ku.


"Iya Senja kenapa?" Aku tersenyum ramah dan lembut. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat melihat wajahnya.


"Makasih ya Mas udah bantuin aku. Maaf udah seret Mas ke dalam masalah aku Mas." Ucapnya sambil tersenyum lembut.


"Saya yang harus bilang makasih, kamu udah nyelamatin saya. Jangan sungkan." Sahut ku "Reza besok di sidang karena kasus ini, saya harus hadir disana dan Senja...." Aku menarik nafas dalam.


"Iya Mas?"


"Kamu tenang aja. Selama ada saya dihidup kamu semua akan baik-baik aja. Mungkin setelah ini akan banyak masalah yang kita hadapi. Kamu cuma cukup berdiri disamping saya dan pegang tangan saya."


Dia terdiam seperti mencerna ucapanku. Entah kenapa aku begitu berani berbicara begini? Dan tanganku terasa dingin karena gugup. Aku merutuki kebodohanku yang berbicara blak-blakan.


"Hem, enggak apa-apa." Aku menggaruk tenggukku yang tidak gatal dan menyembunyikan kegugupan ku.


Dia tersenyum. Kenapa wanita ini malah tersenyum? Tidak tahu kah dia bahwa senyumnya itu membuatku salah tingkah? Jantungku lagi-lagi berdebar.


"Ya udah kamu istirahat ya. Saya mau kembali ke ruangan dulu." Seperti nya aku perlu menepikan diri dulu untuk menormalkan kembali detak jantung ku.


"Iya Mas." Sahut nya.


"Ayah, Bintang temanin Bunda aja ya?" Pinta Bintang.


"Iya Son. Kalau ada apa-apa, panggil Ayah ya." Pesanku


"Siap Ayah."


"Senja."


Donny dan Dicky masuk kedalam ruangan rawat Senja dengan membawa beberapa kantong ditangan mereka.


"Mas." Wajahnya langsung sumringah.

__ADS_1


Donny memeluk adiknya. Tampak sekali pria itu begitu menyanyangi Senja padahal mereka tidak sedarah sama sekali.


"Gimana kabar kamu, mana yang sakit?" Cecar Donny.


"Enggak ada kok Mas." Sahut nya.


"Lang, makasih ya udah rawat Senja."


"Sama-sama Don." Aku menepuk bahu Donny "Aku balik keruangan dulu."


"Iya Lang."


Aku keluar dari ruangan rawat inap Senja. Jantungku lagi-lagi berdebar mengingat senyum Senja dan tadi, kenapa aku begitu berani mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan pada nya? Aku hanya takut ini semakin mempersulit Senja.


"Mas Langit." Elly masuk kedalam ruangan ku.


"Ada apa?" Sejak kejadian di restourant kemarin aku jadi ifeel pada mantan adik ipar ku itu.


"Mas udah makan siang?" Memang aku sering makan siang dengan Elly


"Belum." Jawabku singkat.


"Gimana kalau kita makan siang sekalian ajak Bintang? Oh ya Bintang kemana? Tadi aku liat Mas sama Bintang."


Aku tak menjawab. Dari dulu aku memang tidak suka pada Elly. Sifat nya terlalu aroggant dan merasa dirinya paling cantik dari yang lain, mungkin karena dia terlahir dari keluarga berada.


"Mas."


"Saya makan siang sama Senja. Kamu enggak ada urusan lagi kan. Silahkan keluar dari sini karena saya mau kerja." Usirku. Bukan aku tak tahu dan tak peka jika Elly ini memiliki rasa padaku.


"Tapi Mas_"


"Perlu saya ulangi?" Aku menatap Elly tajam


"Iya Mas. Maaf." Dia langsung kikuk dan keluar dari ruangan ku.


Elly memang wanita arrogant. Apalagi pakaian yang dia pakai seperti kurang ukuran membuat ku semakin jenggah sangat jauh berbeda dari almarhum istriku Amara.


"Huffhhhh."


Aku menatap foto pernikahan ku yang memang sengaja aku pajang diatas meja ku, jadi aku bisa leluasa melihat foto itu saat aku merindukan istriku Amara.


"Ra." Tanganku mengusap bagian wajah Amara disana "Maaf, aku enggak tepatin janji buat jaga hatimu untuk kamu. Karena nyatanya aku udah jatuh cinta pada wanita yang dipanggil Bunda oleh putramu. Maaf Ra, Bintang butuh Ibu sambung dan aku butuh seseorang untuk menemani aku hingga nanti. Aku mencintai Senja, Ra. Sama kayak aku cinta sama kamu. Tapi kenapa aku ngerasa perasaan aku ke dia lebih besar dari perasaan aku ke kamu? Maaf Ra."


Aku merasa bersalah pada almarhum istriku, bukan maksud mengkhianati cinta yang kami bangun berdua tapi aku sungguh tak bisa menyembunyikan rasaku bahwa aku mencintai Senja.

__ADS_1


Amara adalah istri terbaik ku dan selalu begitu hingga nanti. Sedangkan Senja adalah wanita masa depan yang aku inginkan menemaniku hingga kutemukan akhir dari usia. Semoga Senja juga merasakan hal yang sama padaku.


Bersambung........


__ADS_2