Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 79


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Senja jangan takut, ada Mas disini. Senja udah aman sama Mas," ucap Donny mengusap kepala Senja dengan sayang.


Dicky ikut memeluk kedua orang itu. Ketiganya saling berpelukan sambil bertangis-tangisan. Saling melepaskan kerinduan.


Donny melepaskan pelukannya. Lalu menyeka air mata Senja. Air mata mahal yang begitu berharga bagi kami. Namun dengan mudah nya orang tak bertanggungjawab membuat air mata itu menetes sesuka nya.


"Ada yang sakit enggak?" Donny mengangkup wajah Senja.


Senja hanya menggeleng sambil menangis. Terlihat jika dia benar-benar ketakutan. Jika sampai terjadi sesuatu pada Senja aku takkan memaafkan kesalahan Mas Fajar. Aku akan membuat Mas Fajar merasakan apa yang Senja rasakan.


"Mas Dicky,"


Senja berhambur kearah Dicky dan memeluk Kakak lelakinya itu. Dia menangis lagi didalam pelukan Dicky meluapkan semua perasaan takutnya.


"Senja-nya Mas baik-baik aja 'kan?" Dicky mengusap pipi lembut Senja.


Wanita itu mengangguk sambil terisak. Aku tahu Senja ini wanita kuat jika dia sudah menangis seperti ini pasti ada sesuatu yang benar-benar membuat jiwanya terguncang ketakutan.


"Sayang,"


"Mas,"


Aku merengkuh tubuh wanita ini. Tubuhku bergetar menangis memeluk Senja. Wanita yang sudah sangat aku dan Bintang rindukan kini bisa aku temukan.


"Mas kangen sama kamu. Mas takut kehilangan kamu. Jangan pergi lagi. Dunia Mas bisa hancur kalau kamu hilang," ucapku. Aku tak mampu menahan gejolak ketakutan didalam dadaku. Aku sungguh takut jika Senja ku pergi meninggalkan ku.


"Aku juga kangen sama Mas. Kangen banget Mas. Maafin aku Mas. Maafin aku. Aku hampir aja ninggalin kamu dan Bintang. Maafin aku Mas," ucapnya.


Kami berdua saling berpelukan meluapkan emosi dan rindu yang menggebu didalam sana. Rasa takut itu seketika menghilang saat aku bisa memeluk tubuh wanita ini lagi.


Aku melepaskan pelukan Senja lalu mengusap pipi lembutnya. Aku bersyukur tidak ada yang lecet dari tubuhnya atau luka-luka. Jika sampai aku mendapati secuil luka di bagian tubuh Senja kupastikan Mas Fajar akan menerima ganjaran yang sama.


"Sayang,"


"Senja,"

__ADS_1


Kami panik saat hidung Senja mengeluarkan darah.


"Mas," wanita itu terdengar lirih.


"Don, ambilkan P3K,"


"Senja," ucap Kapten Divta juga


Brakkkkkkkkkkkkkk


Senja jatuh kedalam pelukanku, seperti nya dia sudah tak mampu menahan sakit ditubuh dan hatinya.


"Lang cepat bawa Senja kerumah sakit," perintah Papa.


"Iya Pa,"


Aku menggendong Senja keluar dari villa. Aku takut sekali melihat wajah pucatnya. Apalagi kondisinya memang belum benar-benar pulih setelah kemoterapi.


"Senja, bertahan Sayang." Air mataku menetes karena ketakutan.


Aku masuk kedalam mobil disusul oleh Donny dan Dicky yang juga masuk. Dicky duduk disamping supir sedangkan Donny duduk disampingku.


"Sayang." Aku mengusap kepala Senja, kepala plontos nya. Rambut palsu itu terlepas dari kepalanya.


"Kamu harus kuat Sayang. Jangan tinggalkan aku," ucapku. Sialnya air mataku tak berhenti menetes. Melihatnya terpejam seperti ini mengingatkan aku pada kematian Amara lima tahun yang lalu.


"Senja," Donny ikut memanggil adiknya itu, "Bangun Senja, ini Mas. Kamu jangan takut lagi ya. Enggak akan ada lagi yang berani nyakitin kamu," Donny ikut menimpali.


"Iya Senja. Bangun Dek," Dicky ikut menggenggam tangan Senja.


"Mas, kenapa tangan Senja dingin Mas," Dicky panik.


"Sayang." Aku menggenggam tangannya dan benar saja dingin sekali.


"Sayang kamu harus bertahan. Kumohon jangan tinggalkan aku. Jangan pergi Sayang."


Aku memeluk tubuhnya yang terasa begitu dingin. Wajahnya pucat tanpa darah. Tuhan, untuk kali ini saja izinkan aku bahagia bersama Senja. Sudah terlalu banyak penderitaan yang Senja alami, kali ini saja biarkan kami merajut kasih bersama dan bahagia selamanya.

__ADS_1


"Cepat Pak. Cepat Pak,"


Donny terus berteriak meneriaki supir agar mempercepat kelajuan mobil.


Aku memeluknya erat. Kumohon jangan ambil dia dari pelukanku. Jangan biarkan aku patah hati lagi. Kali ini saja. Kumohon.


Aku mengusap kepala plontos kekasihku. Kepalanya saja terasa dingin dan wajah nya seperti mayat pucat tak berdarah. Dia sama sekali tak terganggu dengan suara panggilanku.


"Kumohon bertahan Sayang. Bertahan Sayang. Jangan tinggalkan aku dan Bintang. Kami tidak bisa hidup tanpa kamu,"


Aku tak meminta banyak didunia ini. Aku hanya ingin Senja dan Bintang bahagia. Mereka adalah jantung hatiku.


"Senja," tangisku kian pecah saat dia tak merespon apapun.


Sejak pertama kali bertemu dengan wanita ini aku sudah jatuh cinta. Aku sudah memiliki perasaan. Banyak lika-liku perjalanan yang tak mudah aku lewati untuk mendapatkan hatinya. Sekarang, dia sudah ada dipelukkan ku tapi kenapa matanya terpejam seolah ingin terlelap selamanya.


Senja-ku, apapun yang terjadi kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Kamu adalah jantung hatiku. Kamu adalah jiwaku. Entah akan seperti apa hidupku jika kamu benar-benar pergi meninggalkan aku sendirian disini.


"Senja, bangun Sayang." Air mataku sampai menjatuhi wajahnya, kenapa dia pucat? Kenapa tubuhnya dingin?


"Kamu bilang kangen sama Bintang. Bintang udah nungguin kamu dirumah. Dia pengen makan disuapin kamu Sayang. Ayo bangun Sayang," lirihku mengelus wajah pucatnya, "Kamu cantik banget hari ini. Tapi kenapa kamu tertidur. Buka mata kamu Sayang, kamu dengar aku 'kan? Kamu dengar Mas 'kan. Ku mohon Sayang, jangan begini," desak ku terdengar menggema.


Kenapa rasanya kelajuan mobil ini sangat lambat seolah tak berjalan? Waktu seolah berhenti dimana ada hanya aku dan Senja. Dimana hanya tangisku saja yang terdengar menggema.


Aku merindukan bayangan Senja. Merindukan senyumnya yang membuat duniaku serasa teralihkan merindukan semua hal tentangnya. Rindu senyum manisnya. Rindu dia yang suka menggoda ku. Rindu tawa nya. Rindu sikap lemah lembutnya.


Bolehkah kutolak takdir? Bolehkah kulawan kuasa Tuhan? Aku baru saja bertemu dengannya! Tidak mungkin dia pergi secepat ini. Tidak mungkin dia meninggalkan aku.


Seketika seluruh tubuhku melemah namun pelukkan ku tetap erat. Berharap pelukkan ini menggembalikannya padaku.


Tidak mungkin Senja pergi tanpa berpamitan. Tidak mungkin dia tega meninggalkan aku dan Bintang begitu saja. Dia pasti hanya tidur atau bisa jadi pingsan. Tidak mungkin Senja mengikari janjinya. Dia sudah katakan akan bersamaku selamanya membangun istana cinta dihati kami berdua. Jika dia pergi bukankah dia berbohong?


"Senja," Donny ikut menggenggam tangan nya, "Senja kamu jangan bercanda sama Mas. Kamu cuma ngerjai Mas 'kan Senja?"


**Bersambung.......


Selamat menyambut puasa bagi yang merayakan terkhusus umat muslim diseluruh Indonesia dan teman-teman pembaca setia Langit dan Senja......

__ADS_1


Semoga Author bisa menyajikan kisah-kisah inspiratif yang menemani masa puasa kalian...


Jangan lupa dukungan dari kalian juga.. Biar kisahnya Senja, bisa author tulus sampai akhir**....


__ADS_2