
Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Sampai dirumah Mas Donny, aku dan Mas Langit segera turun dari sana. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Mas Donny bahwa aku akan datang berkunjung.
Mas Donny dan Mas Dicky tinggal bersama. Mas Donny jarang dirumah, dia selalu berpindah-pindah tugas sesuai dengan rute kontrak yang dia tangani. Sedangkan Mas Dicky mengajar di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Jadi dia menatap disini.
"Ja, sebenarnya kamu mau apa sih disini?" Dari tadi Mas Langit terus saja bertanya.
"Ketemu Kakak ku Mas." Jawabku tersenyum.
"Senja."
"Mas Donny."
Aku berhambur kearah Mas Donny dan memeluk Kakak laki-laki ku ini. Meski kami tak sedarah tapi kami saling sayang. Sejak SMA aku tinggal bersama Mas Donny dan Mas Dicky namun setelah menikah aku ikut Mas Reza dan tinggal di asrama tentara bersama dengannya.
"Kamu apa kabar Senja?" Mas Donny melepaskan pelukannya.
"Senja baik Mas. Senja kangen banget sama Mas." Mataku berkaca-kaca.
"Mas juga kangen sama kamu. Maafin Mas ya, Mas enggak sempat jenggukin kamu di asrama. Gimana kabarnya Reza?" Mas Donny merangkul ku.
"Mas Reza baik Mas." Jawabku "Ohh ya Mas, kenalin ini Mas Langit. Dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Antonius." Aku memperkenalkan Mas Langit.
"Donny."
"Langit."
Kedua orang itu saling bersalaman. Mas Donny memang ramah dan mudah bergaul berbeda dengan Mas Dicky yang sedikit dingin dan cuek. Jika orang yang baru pertama kali mengenalnya pasti beranggapan jika Mas Dicky itu sombong, padahal kalau sudah kenal dia malah asyik dan kocak.
"Astaga Ja, pipi kamu kenapa?" Mas Donny memegang pipiku "Kenapa bisa merah gini? Siapa yang nampar kamu Ja?" Cecarnya tampak panik. Mas ku yang satu ini memang paling peduli pada siapapun.
"Ceritanya panjang Mas. Ntar Senja ceritain." Sahutku. Dari tadi Mas Langit juga bertanya pipiku kenapa? Tapi aku belum bisa jawab.
"Ya udah ayo masuk. Ayo Dokter Langit masuk."
Kami bertiga masuk kedalam rumah Mas Donny, rumah ini tidak besar tapi cukup mewah. Mas Donny yang berprofesi sebagai consultants proyek memiliki penghasilan yang cukup untuk membangun rumah seperti ini. Tentunya dibantu juga oleh Mas Dicky.
"Mas Dicky mana Mas?" Aku memang tidak melihat Mas ku yang satu itu.
__ADS_1
"Dicky masih ngajar dikampus. Tadi dia pesan suruh kamu tunggu bentar. Dia cuma ada kelas pagi dan satu mata kuliah." Jelas Mas Donny "Ohh ya kalian tunggu bentar ya Mas bikin minum dulu."
"Biar Senja aja Mas." Ucapku.
"Enggak usah Ja, biar Mas aja. Kamu temanin Dokter Langit ngobrol." Cegah Mas Donny.
Aku mengangguk dan tak lagi memaksa. Kasihan juga kalau Mas Langit duduk sendirian diruanh tamu.
"Kakak kamu?" Tanya Mas Langit penasaran.
"Iya Mas Kakak tiri." Jawabku.
"Ohhh." Dia hanya beroh-ria saja.
"Mas, enggak apa-apa nemanin aku? Atau Mas mau balik duluan, juga enggak apa-apa." Aku benar-benar tak enak hati. Bagaimana kalau Mas Langit sibuk? Dan dia malah mengantarku.
"Enggak apa-apa kok Ja. Saya free tugas hari ini." Jawabnya tersenyum.
Aku memincingkan mata. Masa iya dia free tugas? Lantas kenapa tadi dia ingin kerumah sakit dan memakai pakaian dinas nya serapi ini?
"Maaf ya Mas, aku ngerepotin Mas terus." Aku menggaruk tengkuk ku. Takut merepotkan Mas Langit.
Tidak lama kemudian Mas Donny keluar dengan membawa nampan diatas tangannya yang berisi dua cangkir teh manis. Mas Donny memang rajin, serumah sebesar dan sebagus ini saja dia rawat sendiri bersama Mas Dicky. Meski mereka harus membuat jadwal piket berdua.
"Silahkan diminum Ja. Dokter Langit."
"Makasih Mas." Aku tersenyum.
Mas Donny ikut duduk bersama kami sambil berbincang-bincang. Dengan mudah Mas Donny akrab dengan Mas Langit. Tapi jika dengan Mas Reza dia tampak dingin dan tak suka.
Sebenarnya dari dulu Mas Donny menentang hubungan ku dan Mas Reza, karena menikah dengan Abdi Negara itu memiliki resiko tinggi. Tapi waktu itu aku terlalu cinta dengan Mas Reza, hingga aku membangkang perintah kedua Kakak ku.
"Senja."
"Mas Dicky."
Tampak Mas Dicky dipintu masuk dengan senyaman mengembang. Ini baru jam sepuluh pagi, apa Mas Dicky izin dari kampus?
"Mas." Aku berdiri dan berhambur memeluk Mas ku yang satu ini.
__ADS_1
"Senja."
Kami saling berpelukan satu sama lain. Aku memang sudah lama tak berkunjung dirumah kedua Mas ku ini.
"Mas kangen banget sama Senja." Mas Dicky melepaskan pelukannya "Ini kenapa? Kenapa bisa gini? Siapa yang lakuinnya Senja? Apa Reza?" Cecar Mas Dicky panik. Sama seperti Mas Donny tadi.
"Mas." Mataku berkaca-kaca.
Aku menyesal tidak mendengarkan kata mereka. Aku menyesal karena menikah dengan Mas Reza. Aku terlalu mementingkan perasaan dan cinta tanpa aku sadari bahwa semua itu memiliki resiko untuk menghancurkanku.
"Ajak Senja duduk dulu Ky." Suruh Mas Donny
"Iya Mas." Mas Dicky memapahku duduk disoffa.
Sedangkan Mas Langit ikut menatapku penuh tanda tanya. Mungkin dia heran melihat keakraban kami bertiga. Meski kami tak sedarah dan bukan kandung tapi sungguh kami saling menjaga dja mengasihi satu sama lain. Apalagi aku perempuan satu-satunya diantara mereka. Ada pun saudara satu Ibu dan beda Ayah, kini tinggal dikampung bersama Ibu dan Ayah.
"Kamu kurusan banget? Kamu kenapa sih Ja? Kamu kayak enggak terurus!" Mas Dicky menatapku penuh tanda tanya.
Bagaimana tak kurus, setiap hari makan hati? Melihat kemesraan suamiku dan istri barunya membuat hatiku benar-benar remuk dan hancur.
"Mas, Senja...." Aku takut jika nanti kedua Mas ku malah emosi.
"Tarik nafas dalam-dalam. Senja pelan-pelan ceritanya." Ucap Mas Dicky lembut. Sedangkan Mas Langit dan Mas Donny tampak siap mendengarkan apa yang akan aku katakan.
"Mas."
Aku menceritakan hiruk biduk rumah tangga ku. Menceritakan dari awal pernikahan siri Mas Reza. Menceritakan dia yang membohongi ku. Menceritakan dia yang menamparku dan menganggapku sebagai sampah.
"Brengsekkkk." Mas Donny memukul meja dengan kuat.
Sedangkan aku menangis didalam pelukkan Mas Dicky. Menangis dengan kuat. Ini yang aku tahan dari semalam. Menahan tangis itu lebih sakit dari pada mengeluarkan nya.
"Senja ingin pisah dari Mas Reza, Mas." Renggekku.
Ketiga pria itu tampak menampilkan wajah mereka yang penuh amarah. Meski Mas Dicky berusaha menenangkan ku tapi bisa kulihat jika dia menahan amarah disana.
"Senja, kamu jangan pulang ke asrama. Untuk sementara kamu tinggal sama Mas disini. Mas Donny dan Mas Dicky akan urus dengan cepat perceraian kamu sama si brengsekkkk itu." Mas Donny mengusap bahuku "Kamu aman disini. Enggak ada yang berani nyakitin kamu lagi."
Aku lupa, aku masih memiliki dua Mas yang peduli padaku. Aku terlalu takut untuk menceritakan keluh kesah ku pada mereka. Sebab aku tidak mau membuat mereka repot karena mengurusku.
__ADS_1
Bersambung.....