Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 86


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku mengeliat dibalik selimut tebal ini. Tunggu, kenapa perutku terasa berat? Aku membuka mataku. Hampir saja aku berteriak ketika melihat wajah Mas Langit tepat berada didepan wajahku. Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah. Terlalu lama sendiri aku sampai lupa bahwa kemarin aku sudah dipersunting oleh seorang dokter tampan.


Aku menggeleng tak percaya mengimbangi kekuatan Mas Langit semalam. Dia benar-benar bringas luar biasa. Untung saja aku bukan perawan coba kalau perawan sudah pasti tidak bisa berjalan pagi ini.


Tapi aku menikmati nya dan aku senang melayani suamiku. Sekarang dia adalah suamiku. Sekarang dia akan menemani hari-hari sulitku.


"Selamat pagi Sayang," sapanya dengan mata yang masih terpejam.


"Bangun Mas. Lepasin dulu tangannya aku mau bangun," ucapku kesal.


"Masih pagi Sayang. Kenapa harus bangun pagi-pagi sih. Mas masih capek," sahutnya malah mengeratkan pelukan tangannya diatas perutku.


Aku terkekeh pelan. Usia Mas Langit denganku memang terpaut sangat jauh yakni empat belas tahun. Wajar saja jika dia sakit pinggang karena sudahlah...


"Makanya Mas, aku bilang apa satu ronde aja udah cukup. Kamu sih mau nya lagi dan lagi. Sakit pinggang 'kan tuh," omel ku. Meski mengomel aku mengurut pinggang nya kasihan juga suamiku ini. Bagaimana pun dia adalah suamiku.


"Habisnya kamu enak sih Sayang," goda nya mengedipkan matanya jahil.


"Morning kiss dulu." Dia langsung melahap bibirku dan ******* serta menyesapnya.


Aku merenggut kesal. Lelaki ini suka salaij main sosor-sosor padalah aku belum siap.


Dia melepaskan panggutannya. Lalu mengusap bibirku yang basah akibat ulahnya. Kenapa lelaki ini tidak pernah puas juga?


"Udah ahh Mas, aku mau bangun. Mau siapin seragam sekolah Bintang," sial aku kan tidak memakai apapun. Meski pun pada suamiku sendiri aku tetap saja malu tanpa busana seperti ini.


Aku menarik selimut menutupi tubuh polosku. Wajahku merah merona. Apalagi mengingat adengan panas kami semalam membuatku malu saja.


"Kenapa Sayang?" Kening Mas Langit berkerut heran.


"Ehem, Mas itu anu-anu," sial kenapa aku gugup begini?


Mas Langit terkekeh seperti nya dia tahu kalau aku sedang berusaha menutupi tubuh polosku. Dia turun dari ranjang. Aku segera menutup wajah ku, apalagi asset berharga nya terlihat berdiri. Kenapa lelaki ini tidak malu.


"Mas." Aku terkejut saat Mas Lang membungkus tubuhku dengan selimut lalu mengangkat ku.


"Mas,"


"Kenapa Sayang?" Dia terkekeh.


"Mas aku malu,"


"Kenapa harus malu? Mas kan udah suami kamu. Biar Mas mandiin yaa?" Ujarnya terkekeh sambil menuju kamar mandi


"Mas enggak kebalik. Harusnya istri yang melayani suami?" Ucapku heran. Selama ini memang selalu aku yang melayani Mas Reza jadi jika aku menikah yang kedua kali ini dan Mas Langit yang melayani aku, bukankah ini sesuatu yang luar biasa?

__ADS_1


"Enggak ada hukumnya gitu Sayang. Suami juga bisa melayani istri. Kita saling melengkapi yaaa?" Sahut nya.


Hatiku menghangat mendengar ucapan Mas Langit. Rasanya aku ingin lompat-lompat saking bahagianya mendapat ucapan tersebut dari lelaki ku. Kenapa aku seperti anak remaja yang baru jatuh cinta saja?


Mas Langit mendudukkanku diatas wastafel. Untung saja badanku ini kecil jadi duduk dimana saja tidak akan merusak.


"Tunggu bentar ya Sayang. Mas isi buth up nya dulu,"


Aku menggangguk sambil tersenyum. Mas Langit tidak malu sama sekali tanpa busana seperti itu. Malah aku malu.


"Sini Mas buka selimut nya,"


"Mas aku malu," rasanya aku ingin menyembunyikan wajah ku


"Kenapa harus malu Sayang? Mas udah liat semuanya kok. Udah rasain juga." Dia tersenyum jahil.


"Mas," bolehkah aku kabur saja?


"Enggak usah malu,"


Dia melepaskan selimut itu dari tubuhku. Ahh rasanya aku malu sekali. Tunggu kenapa banyak tanda-tanda merah begini? Ini pasti ulah Mas Langit. Ahhh aku malu pada Bintang, pasti dia heran melihat leherku yang merah-merah.


.


.


.


.


Sudah ku duga. Ini semua gara-gara Mas Langit. Bintang mana paham hal-hal seperti ini.


"Ehem lanjut makan Son. Leher Bunda enggak kenapa-kenapa," sahut Mas Langit.


Aku merenggut kesal. Malam pertama saja seganas ini bagaimana malam nanti? Mas Langit pasti lebih buas dan sialnya kenapa aku menikmati permainan nya itu.


Aku menyiapkan bekal untuk kedua orang ini. Bekal yang aku buat dengan cinta.


"Mas, sini aku perbaiki dulu dasinya."


Tubuh Mas Langit ini sangat tinggi dan besar jika dibandingkan dengan tubuh kecil dan ramping ku seperti Marsha and The Bear saja.


Mas Langit malah memeluk pinggang ku hingga menempel didada nya. Lelaki ini selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Mas malu ada Bintang," renggek ku


Bintang melihat kami berdua secara bergantian pasti dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan kami?

__ADS_1


"Mas kerja ya Sayang. Kamu hati-hati di rumah. Jangan kemana-mana. Nanti Mama datang buat nemanin kamu dan siang Mas pulang, Mas pengen makan siang dirumah. Kamu jangan capek-capek," pesan nya tak lupa kecupan hangat dan singkat itu mendarat di keningku.


"Iya Mas juga hati-hati." Aku mengecup punggung tangan nya.


"Bintang, sini Nak. Bunda perbaiki dulu bajunya,"


Bintang mendekat dan membiarkan aku memperbaiki dasi dan bajunya yang sedikit bergeser.


"Bintang hati-hati ya Nak. Semangat sekolah nya. Jangan lupa bekal nya," pesanku.


"Iya Bunda," Bintang memberikan ciuman di pipi ku.


Aku mengantar kedua orang itu sampai didepan pintu.


"Sayang Mas berangkat."


"Iya Mas,"


Aku melambaikan tangan saat mobil Mas Langit melaju meninggalkan rumah mewah kami.


Aku tersenyum bahagia. Ini adalah impian ku dari dulu. Menjadi Ibu rumah tangga. Mengantar anak dan suami bekerja serta menunggu mereka didepan pintu. Menyiapkan makan malam dan begitu seterusnya.


Aku bernafas lega. Tak bisa ku pungkiri kasih Tuhan sungguh tak ada batas nya. Saat aku merasa tak tahu arah dan jalan pulang tapi Tuhan memberiku rumah hingga aku berada dititik ini.


Aku masuk kedalam rumah kami. Mas Langit memperkerjakan tiga asisten rumah tangga yang berasal dari kampung. Mereka juga tinggal disini bersama kami. Tapi kalau masalah urusan perut tetap aku yang turun tangan. Aku tak akan membiarkan suami dan anak ku kelaparan.


"Bik, tolong nanti beliin ini ya Bik," suruhku.


"Ohh iya Nyonya,"


**Bersambung....


Selamat siang menjelang sore guys...


Sekali lagi author ucapkan banyak terima kasih buat kalian semua...


Makasih buat komen nya..


Makasih buat like nya....


Makasih buat gifts nya....


Jangan lupa follow aku medsos author ya...


FB : Fitriani Yuri


IG : fitrianiyurikwon_

__ADS_1


TikTok: @fitrianiyuri**


__ADS_2