
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Senja POV
Aku merasakan bagian perutku nyeri sekali. Aku bahkan meringgis menahan sakit. Sudah lama, sangat lama sakit ini kutahan. Seperti nya dia menyerah agar meminta kasihan padaku.
Aku menyeka air mataku. Aku tak mau membuat Mas Donny dan Mas Dicky khawatir karena aku. Selama ini mereka sudah terlalu banyak berkorban untukku.
"Ja, kamu enggak apa-apa kan? Muka kamu pucat banget Ja!" Tanya Mbak Aisyah tampak panik. Mbak Aisyah calon istri Mas Donny, dia berprofesi sebagai guru matematika disalah satu sekolah negeri dan sekarajg sudah menjadi Pengawas Negeri Sipil.
"Enggak apa-apa kok Mbak." Aku tetap tersenyum tak mau membuat mereka khawatir karena aku.
"Enggak apa-apa gimana Ja? Kamu pucat banget lho. Biar Kakak pijitin," ucap Kak Hana.
Aku tersenyum hangat melihat betapa pedulinya kedua calon Kakak iparku ini. Mereka tak hanya mencintai laki-laki yang menjadi Kakakku tapi mereka juga menyanyangi aku sebagai calon adik ipar mereka.
"Ja, udah jam makan siang. Kamu makan dulu ya. Baru minum obat," ucap Mbak Aisyah.
"Senja ngerepotin ya Mbak?" Aku tersenyum getir.
"Sama sekali enggak Ja. Mbak senang bisa rawat kamu. Udah deh kamu enggak usah mikir aneh-aneh." Sahut Mbak Aisyah. Wanita berhijab ini sangat cantik. Saat Mas Donny dan Mbak Aisyah menikah nanti entah siapa yang akan mengalah tentang kepercayaan.
Sedangkan Kak Hana masih memijit tangan dan kakiku. Kak Hana sebenarnya tipikal wanita bar-bar dan bicara apa adanya. Dia tidak suka berpura-pura menjadi orang baik kalau dia tidak suka orang tersebut. Sifat nya sangat mirip dengan Lena.
"Makan dulu Ja." Mbak Aisyah membuka plastik yang digunakan untuk menutupi rantang nasi aluminium itu.
"Iya Mbak."
Bubur dengan sayuran tanpa garam, seekor ikan goreng dan digoreng tanpa garam. Rasanya hambar dan hampir saja aku muntah saat bubur itu masuk kedalam mulutku, benar-benar terasa hampa sama seperti hati.
"Makan yang banyak Ja," ucap Kak Hana.
__ADS_1
"Enggak enak Kak. Senja enggak mau." Tolakku mendorong sendok yang hendak Mbak Aisyah masukkan kedalam mulutku.
"Dikit lagi Ja. Kalau kamu enggak makan, kamu enggak ada tenaga lho. Ntar kapan sembuh nya," ucap Mbak Aisyah setengah memaksa
"Tapi enggak enak Mbak." Rasanya aku ingin menangis.
Mbak Aisyah tersenyum dan meletakkan rantang itu diatas meja. Wanita berhijab ini memang lemah lembut dan murah senyum. Selama aku mengenal Mbak Aisyah aku tak pernah melihat nya marah, entah bagaimana ekspresi nya saat marah, aku penasaran?
"Minum obat dulu Ja." Kak Hana memberikan segelas air putih dan lima bulir obat yang wajib aku minum setiap hari.
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Karena Mas Donny dan Mas Dicky sibuk bekerja, mereka meminta Mbak Aisyah dan Kak Hana untuk menjagaku dirumah, kebetulan mereka tidak banyak jadwal pekerjaan.
Kak Hana juga dosen dikampus yang berbeda dengan Mas Dicky, dia tinggal bersama kedua orangtuanya yang sudah berusia. Karena Kak Hana yang bungsu jadi dia yang dipercayakan oleh para Kakak nya merawat kedua orangtuanya terlebih Kak Hana belum menikah jadi belum ada tanggungan seperti yang lainnya.
"Kamu istirahat ya. Kalau butuh apa-apa, panggil kita aja." Mbak Aisyah menaikkan selimut ku.
"Iya Mbak." Jawabku sambil tersenyum.
Aku memejamkan mataku meresapi segala sesak yang menghantam disana. Hari ini persidangan kedua Mas Reza dipengadilan. Aku ingin ikut tapi Mas Langit dan Mas Donny sama sekali tak mengizinkan ku mungkin karena kondisi ku yang belum pulih.
Setelah sidang kasus kekerasan yang dilakukan Mas Reza padaku, akan dilanjutkan dengan sidang perceraian kami. Setelah ini statusku akan berubah dan aku hanyalah seorang janda yang tak memiliki suami.
"Mas Reza." Lirihku "Aku enggak nyangka Mas, cinta kita berakhir cukup sampai disini. Andai kamu tahu Mas, aku sangat mencintaimu. Sangat Mas. Sampai sekarang perasaan itu enggak berubah. Tapi aku sadar cinta yang aku perjuangkan enggak akan menuai bahagia. Mungkin berpisah adalah cara terbaik untuk kita berdua."
Kurang lebih delapan tahun membina kehidupan rumah tangga, aku merasa Mas Reza adalah separuh dari jiwaku. Banyak lika-liku kehidupan yang kami lewati berdua. Masalah demi masalah. Caci maki dan hinaan dari orang tuanya. Dan kami bisa lewati, dia orang pertama yang menyeka air mataku ketika dunia menyudutkanku.
Namun kebahagiaan yang kuanggap milik ku ternyata hanya singgah sebentar lalu pergi begitu saja. Menghilang dan meninggalkan luka paling dalam. Membuatku patah hati hebat dan menangis tanpa jeda. Hingga dadaku terasa terhimpit oleh bebatuan yang menyebabkan luka itu semakin perih bak di tumpahi cuka asam.
Kadang aku berpikir apakah aku tak pantas bahagia? Apa aku tak pantas dicintai? Saat aku menemukan belahan jiwa ku, aku justru dikejutkan dengan kenyataan bahwa cinta yang kumiliki tak ingin memiliki ku. Saat aku merasa wanita paling bahagia didunia tapi seketika aku dihempaskan menjadi wanita yang paling menyedihkan yang pernah ada.
Lagi-lagi air mata murahan ini menetes. Aku lelah. Bolehkah aku menyerah? Bolehkah aku pergi, aku tak ingin disini lagi? Disini sangat kejam
__ADS_1
Bahkan selama aku sakit Ibu sama sekali tak menjenguk ku atau datang sekedar bertanya kabar. Saat Mas Dicky menjemput Ibu dan Bapak dikampung tapi mereka beralasan sibuk.
Aku bukan hanya istri tak inginkan. Tapi anak yang tak ingin mereka lihat. Bayangkan disaat rapuh dan butuh dukungan seperti ini senyuman mereka saja tak bisa kulihat. Sedangkan Ayah kandung ku tidak tahu dimana keberadaan nya sekarang. Apa dia tak ingin tahu bahwa aku ada? Atau sekedar bertanya bahwa aku adalah anaknya!
Dan sekarang penyakit yang tak seharusnya hadir dihidupku kini mulaj memberontak saat aku mengabaikan nya. Tubuhku akan disiksa habis-habisan. Jika begitu, bolehkah aku pergi saja? Bolehkan aku hilang saja, aku tak ingin di antara kematian.
Drt drt drt drt drt drt
Lamunanku terbuyarkan saat ponsel ku berdering diatas nakas.
"Mas Chandra." Gumamku mengusap pipiku.
"Hallo Mas. Ada apa?"
"Kamu dimana Ja?"
"Aku ada dirumah Mas! Kenapa Mas?"
"Saya cuma ingin kasih tahu kamu kalau buku kamu dalam proses cetak. Rencana mau ketemu kamu, ada kontrak baru lagi sama beberapa toko buku. Mereka mau tarik buku-buku kamu biar dijual ke toko mereka saja." Jelas Mas Chandra diseberang sana.
"Hem, besok aja gimana Mas? Saya lagi banyak kerjaan soalnya," ucapku.
"Ohh boleh Ja. Besok ketemu dicaffe biasa ya," ujar Mas Chandra.
"Iya Mas."
Aku bernafas lega. Impian yang sudah lama aku nantikan kini telah terwujud, aku berharap ketika aku pergi nanti setidaknya ada jejak yang aku tinggalkan.
Sekarang aku tidak mau lagi menangisi keadaan ku, apalagi merenungi kepergian suamiku. Aku akan fokus menulis dan menghabiskan sisa hidupku untuk berkarya.
Bersambung.....
__ADS_1