
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Langit POV
Aku panic saat tak menemukan Senja diruangan rawat nya. Untung Bintang belum pulang sekolah, kalau tidak dia pasti menangis histeris saat tak mendapati Senja didalam ruangan.
“Senja dimana?” Gumamku, aku panic sekali, bagaimana kalau dia kenapa-napa atau dia terluka?
“Senja,” aku mencari keseluruh ruangan kamar rawat inapnya
“Sayang, kamu dimana. Jangan bikin aku panic,” aku mulai gusar, Donny dan Dicky kemana bukankah mereka yang menjaga Senja tadi malam? Kenapa ditinggalkan sendirian.
Aku keluar dari ruangan Senja dan siapa tahu para suster atau dokter disini tahu dimana keberadaan kekasihku itu. Tak melihatnya ada saja membuatku merasa ada yang hilang.
“Sus, apa ada yang melihat Senja?” Tanyaku
“Ohh Ibu Senja, Dok. Tadi saya lihat sedang jalan-jalan dengan Dokter Fajar,” jawab Tika salah satu perawan yang bertugas dirumah sakit ini.
“Mas Fajar?” Gumamku, “Kemana Sus?” Tanyaku. Perasaanku tak enak, kenapa aku curiga jika Mas Fajar memiliki niat mengajak senja jalan-jalan. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang tidak baik pada Senja?
“Tadi saya lihat ditaman Dok,” jawab Tika.
Aku langung melangkah menuju taman. Papa sudah menegaskan padaku agar hati-hati pada Mas Fajar, sebab Mas Fajar adalah orang yang nekad dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan demi memenuhi kepuasaannya.
Aku melihat mereka berdua duduk ditaman. Mas Fajar duduk dibangku taman, sedangkan Senja duduk dikursi roda. Kepala plontosnya terlihat mengkilat dari jauh. Langkah kakiku terhenti karena aku penasaran apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu, kenapa mereka terliahat serius.
“Kamu cinta sama Langit?” Aku terkejut ketika mendengar pertanyaan Mas Fajar.
“Senja,” panggil Mas Fajar dia melihat kearah Senja yang terdiam
“Iya Mas?” Senaj menoleh padanya. Aku tidak tahu apakah Senja tersenyum atau tidak, karena aku hanya melihat punggung mereka berdua
“Kamu cinta sama Langit?” Dia mengulang pertanyaan yang sama. “Kenapa diam?” Sebenarnya apa maksud Mas Fajar menanyakan hal ini pada Senja, aku saja tak pernah menyanyakan hal seprivasi ini, aku ingin Senja mengakui sendiri perasaanya ketika dia sudah siap.
“Saya enggak tahu Mas, jika ditanya apakah saya mencintai Mas Langit? Saya enggak tahu jawabannnya Mas. Yang pasti saya merasa nyaman, saya merasa terlindungi, saya bahagia didekat Mas Langit dan Bintang. Saya merasa menjadi diri saya sendiri. Saya terlalu takut untuk membuka hati kembali, saya takut akan kecewa kedua kalinya. Saya pernah jatuh sejatuh-jatuhnya dan dijatuhkan oleh lelaki yang membuat saya jatuh hati. Dipatahkan dan dikecewakan saat saya merasa bahwa dia adalah pelabuhan terakhir saya tapi kenyataannya saya malah dihempaskan oleh perbuatannya yang membuat saya trauma pada hubungan asmara,” jawabku panjang lebar, hatiku sedikit senang ketika Senja mengatakan bahwa dia nyaman berada didekatku.
“Mas Langit baik sangat baik, dia terlalu baik untuk perempuan seperti saya. Tapi saya enggak bisa bohongin perasaan saya sendiri bahwa saya merasa nyaman dengan Mas Langit, tapi saya takut akan kehilangan untuk kedua kalinya. Saya hanya perempuan penyakitan. Diluar sana banyak wanita yang pantas menjadi pasangan Mas Langit dan mungkin itu bukan saya,” ucapnya lagi, “Bintang, dia segalanya buat saya. Saya sangat menyanyanginya seperti anak saya sendiri. Bintang membuat saya merasa menjadi seorang Ibu setelah sekian lama saya ingin mendapatkan gelar itu,” aku tahu dia begitu menyanyangi Bintang dan begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
“Senja,” Mas Fajar kembali menoleh padanya
“Iya Mas,” Senja menoleh, “Kenapa Mas?” Tanyanya
“Kamu mengingatkan saya pada seseorang,” ucap Mas Fajar menatap Senja lekat. Apa seseorang yang dimasa lalu Mas Fajar mirip Senja? Kenapa dia bisa berkata seperti itu?
“Seseorang?” Sena menatap Mas Fajar balik, “Siapa Mas?” Tanyanya penasaran
“Orang yang saya cintai,” jawab Mas Fajar lalu membuang muka kearah kedepan.
“Sabar ya Mas,” dia mengusap bahu Mas Fajar pelan menyalurkan kekuatan padanya. Hatiku langsung panas ingin rasanya kurebut Senja, tapi aku tak mau gegabah aku masih penasaran dengan kelanjutan ucapan Mas Fajar
“Wajah kamu, semua yang ada di kamu mengingatkan saya pada dia, Senja,” ucap Mas Fajar lagi, “Saya enggak tahu kenapa bisa kamu yang begitu mirip dan mengingatkan saya pada dia,” sambungnya kemudian.
“Mas,” aku tak ingin Senja menatap Mas Fajar terlalu lama, bagaimana kalau dia malah jatuh cinta pada Mas Fajar?
Mas Fajar memalingkan wajahnya kedepan. Dia seperti tahu satu hal tentang Senja , tapi apa? Sebelumnya Senja tak mengenal Mas Fajar. Kalau pun kenal, Senja pasti menceritakan hal itu padaku, karena dia selalu terbuka terhadap apapun yang menjanggal dihatinya.
“Senja,” Mas Fajar menatap Senja dalam.
“Saya enggak tahu harus bilang apa sama kamu, tapi setiap kali didekat kamu saya merasakan menjadi diri saya sendiri. Saya merasa kamu mampu membuat saya bangkit dari patah hati yang selama ini membuat saya enggak percaya pada kata cinta. Saya sayang sama kamu Senja,”
“Mas,”
“Saya tahu kamu enggak akan cinta sama saya Senja, tapi bisakah kamu buka sedikit hati kamu buat saya?” Mas Fajar menatap Senja dengan permohonan, “Cuma kamu yang bisa buat saya bangkit dari patah hati ini. Bantuin saya Senja, bantuin saya lepas dari masa lalu ini,” Mas Fajar mengenggam tangan Senja tatapanya seperti permintaan yang harus Senja kabulkan kabulkan.
Rahangku mengeras sangat kuat, tangangku saling mengepal hingga menimbulkan buku-buku tangan yang terlihat memutih. Aku maju hendak melabrak Mas Fajar, dia tahu aku begitu mencintai Senja tapi kenapa dia meminta sesuatu yang akan membuang hubungan aku dan Senja merenggang. Langkahku terhenti ketika mendengar ucapan Senja.
“Jangan gini Mas,” Senja melepaskan genggaman tangan Mas Fajar, “Maaf Mas, saya enggak bermaksud menolak permintaan Mas, tapi saya enggak memiliki perasaan apapun sama Mas, saya mencintai Mas Langit,” Jantungku berdebar kuat ketika mendengar pengakuan Senja, benarkah bahwa dia mencintaiku? Dia mencintaiku. Kenapa aku sebahagia ini? Sangat bahagia. Akhirnya wanita ini jatuh cinta padaku juga.
“Senja,” ada apa dengan Mas Fajar ini?
“Kenapa Mas?”
“Tinggalkan Langit dan menikahlah dengan saya, saya berjanji akan menjaga dan merawat kamu. Cinta itu bisa tumbuh seiring waktu berjalan, mungkin sekarang kamu belum mencintai saya tapi saya yakin jika kamu menikah dengan saya kamu cinat itu akan perlahan hadir dihati kamu,” ucap Mas Fajar lagi
Deg
__ADS_1
Kenapa Mas Fajar tega melakukan itu, memaksa Senja meninggalkanku agar menikah dengannya? Aku takkan membiarkan hal itu terjadi.
Senja menggeleng, “Maaf Mas saya enggak bisa. Saya enggak bisa Mas,” tolak Senja
“Senja,”
Senja dan Mas Fajar menoleh kearahku yang berjalan menghampiri mereka dengan wajah merah padam. Jika seandainya Senja tak mencintai aku tak berhak marah, tapi ini Senja sudah jatuh cinta padaku. Apa akan aku sia-siakan kesempatan untuk memilikinya?
“Mas Langit,” gumam Senja, aku bisa lihat dari gerak bibirnya.
“Maaf Mas, aku mau bawa Senja masuk,” ucapku dengan wajah datar dan juga dinginnya.
“Mas,”
Aku mengangkat Senja dari kursi roda lalu menggendongnya tanpa kursi roda itu. Aku tak mengucapkan apapun pada Mas Fajar. Aku menggendongnya dan membawanya menjauh dari Mas Fajar.
“Mas,” wajah ku tampak dingin mungkin dia tidak pernah melihat wajahku sedingin ini.
“Mas,” dia kembali memanggilku dan aku menggendongku masuk kedalam ruangan rawat inap
“Mas jangan salah paham, ini semua enggak seperti yang kamu lihat Mas,” ucapnya menatapku
Namun aku malah meletakkan dia diranjang tanpa mengucapkan kata apapun. Aku sedang ingin menetralkan emosiku. Aku tidak menjawab bukan berarti aku ingin mendinginkannya, aku tidak mau dia menjadi pelampiasan kemarahanku.
“Mas,” mata nya sudah berkaca-kaca
“Mas, jangan salah paham. Ini enggak seperti yang kamu lihat. Tadi Mas Fajar ngajak aku jalan-jalan keliling rumah sakit sambil duduk ditaman. Aku enggak bisa nolak Mas, tolong jangan salah paham,” ucapnya menjelaskan.
Aku menatap Senja. Aku senang memiliki wanita seperti ini, saat dia digoda oleh lelaki lain dia malah menegaskan bahwa ada pria yang dia cintai.
“Mas jangan diam aja. Jangan diemin aku Mas. Aku minta maaf,” dia memegang tanganku, rasanya aku ingin tertawa melihat wajahnya yang tampak takut. Sekarang aku tahu bahwa wanita ini sudah mencintaiku.
“Tadi aku_”
Aku menariknya dalam pelukanku. Sekarang aku tak perlu takut kalau Senja akan jatuh cinta pada pria lain, dia sudah mencintaiku dan jatuh cinta padaku.
“Kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu bilang kalau kamu cinta sama aku,” ucapku memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Bersambung..