
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
“Kamu kenapa Mas kok diam?” Tanya Senja yang melihatku melamun dari tadi.
“Enggak apa-apa kok Sayang. Hari ini kamu udah boleh pulang yaaa. Kamu rawat jalan aja dan Mas yang bakal rawat kamu,” ucapku.
Bukankah jauh lebih baik jika aku membawa Senja pulang saja dan merawatnya dirumah Donny. Aku takkan membiarkan Mas Fajar mendekati Senja lagi dengan alasan merawatnya.
“Iya Mas, aku juga enggak sabar pulang dari sini. Aku bosan Mas,” renggeknya manja.
“Iya Sayang, Mas tahu kalau kamu bosan disini,” aku tersenyum mengusap kepala plontosnya yang tak berambut itu.
“Bunda,” Bintang masuk bersama Donny dan Dicky
“Bintang,” dia menyambut Bintang dengan senyum
“Bintang kangen Bunda,” renggek Bintang berhambur memeluk Senja.
“Bunda juga kangen sama Bintang,”
Kedua orang ini berpelukkan saling melepaskan rindu karena memantg beberapaa hari ini mereka jarang bertemu lantaran Bintang yang sibuk dengan sekolahnya dan aku juga jarang membawa Bintang kerumah sakit karena suasana rumah sakit tidak cocok untuk anak sekecil dirinya.
“Bunda hari ini kita pulang ya, bial Bintang yang bawa tas nya Bunda,” seru Bintang semangat.
Aku tersenyum gemes melihat betapa bahagianya Bintang memiliki Senja. Bagaimana bisa aku melepaskan Senja begitu saja, sedangkan Bintang saja begitu lengket dengan wanita ini.
“Iya Sayang makasih yaaaa,” Senja mengecup kening Bintang dengan sayang.
“Udah siap semuanya Lang,” Donny mengangkat koper besar Senja.
“Udah Don,”
“Ya udah ayo,”
Aku mendorong kursi roda Senja. Kepulangan Senja pun tanpa sepengatuhan Mas Fajar. Bukan aku ingin egois, aku hanya ingin menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Setelah kondisi Senja pulih aku akan segera menikahinya dan membawanya tinggal bersama aku dan Bintang.
Aku sudah membeli rumah baru untuk tempat tinggal kami nanti, aku tahu ini terdengar terlalu cepat. Bagiku apapun yang bersangkutan dengan Senja aku selalu tak mau lengah. Apalagi aku sudah tahu jika ada yang berani dengan tegas mengatakan perasaannya pada Senja.
“Senja,”
Langkah kami semua terhenti ketika mendengar seseorang memanggil nama Senja. Kami menoleh pada sumber suara itu.
__ADS_1
“Mas Fajar,” gumamku. Ada apa Mas Fajar memanggil Senja?
Aku segera melindungi Senja. Aku takut Mas Fajar merebut dengan paksa wanita yang kucintai ini. Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan Senja didekat ku.
“Ada apa Mas?” Tanyaku berdiri didepan Senja.
Bukan hanya aku yang tak suka pada Mas Fajar tapi Bintang juga terlihat tak suka. Bahkan tatapan Bintang seolah siap menebus indra penglihatan Mas Fajar.
“Senja ini buat kamu. Jangan lupa diminum yaaaa. Ini vitamin supaya daya tahan tubuh kamu kuat. Saya udah tulisan aturan minumnya didalam,” Mas Fajar sedikit menggeser tubuhku agar bisa melihat Senja.
“Mas,” secepatnya Donny menahanku agar tidak langsung menghajar Mas Fajar
“Terima kasih Mas,” Senja mengambil kantong dari tangan Mas Fajar
“Semoga cepat sembuh yaaa. Kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan sama saya,” ucap Mas Fajar sambil tersenyum hangat.
“Iya Mas,” Senja membalas dengan anggukkan.
Sekilas Mas Fajar melihatku lalu melenggang pergi tanpa berpamitan. Dia seolah membuktikan ucapannya untuk bersaing sehat denganku. Ini bukan pertandingan yang harus bersaing, ini masalah hati dan hak diri. Senja bukan barang yang pantas dijadikan sebagai rebutan dan aku tak rela dengan perlakukan Mas Fajar ini.
“Ayo,”
Aku kembali mendorong kursi roda Senja. Apakah Senja tahu bahwa aku benar-benar takut kehilangannya? Aku takut sekali. Sangat takut.
“Iya Ayah kenapa?” Bintang ikut menimpali
Kedua orang ini selalu bisa membaca raut wajahku yang sedang tak baik-baik saja. Mungkin kami bertiga sudah terhubung satu sama lain, sehingga bisa merasakan ada yang tidak beres jika salah satu diantara kami sedang mengalami fase terburu dalam suasana hati.
“Ayah enggak apa-apa kok,” senyumku, “Nanti kalau Bunda udah sembuh kita jalan-jalan ya,” seruku
‘Wahh boleh sekali Ayah, Bintang pengen banget jalan-jalan sama Ayah dan Bunda,” mata Bintang berbinat-binar saking bahagia dan senangnya saat aku mengajaknya liburan.
“Mau liburan kemana Nak?” Senja mengusap kepala Bintang
“Bintang pengen liburan ke pantai Bunda,” seru Bintang
Aku tersenyum mendengar percakapan kedua orang disampingku. Aku membawa mobil sendiri agar lebih banyak waktu bersama Senja dan Bintang. Sedangkan Donny dan Dicky menggunakan mobil mereka.
.
.
__ADS_1
.
.
“Gimana kerjaan kamu Jar?” Tanya Papa.
Kami sedang makan malam bersama. Hubunganku dan Mas Fajar merenggang sejak kejadian kemarin. Aku tak bisa merubah raut wajah dinginku ketika mengingat apa yang sudah Mas Fajar lakukan pada aku dan Senja
“Lancar Pa,” sahut Mas Fajar santai tanpa dosa setelah membuat aku kevcewa bukan main.
“Kamu Lang?” Papa ikut melihat kearahku.
“Seperti biasa Pa,” sahutku apa adanya.
“Hem, Mama lihat kalian berdua ini seperti sedang ada masalah? Apa kalian bertengkar?” Mama menatap aku dan Mas Fajar dengan menyelidik.
Tidak ada jawaban diantara kami berdua. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri begitu juga dengan Mas Fajar yang tampak menikmati makanan yang ada dipiringnya.
“Kalian baik-baik aja?” Kali ini Papa yang bertanya, “Baiklah, nanti kita bahas selesai makan. Lanjutkan makannya,” ucap Papa.
Aku makan dalam diam, sedangkan Bintang sudah makan tadi siang bersama Senja sehingga dia tidak nafsu lagi untuk makan dan sekarang dia sedang belajar bersama asissten rumah tangga yang memang bertugas merawat dan menemani Bintang.
Setelah makan Papa mengajak aku dan Mas Fajar untuk mendiskusikan masalah kami.
“Sekarang, silahkan kalian bicarakan masalah kalian! Papa yakin jika kalian sedang bertengkar,” Papa tampak melipat kedua tangannya didada.
“Fajar,” Papa menatap kearah Mas Fajar, “Kamu enggak mau ngomong?” sambung Papa
“Iya Pa, maaf,” Mas Fajar ini selalu tunduk pada Papa.
“Sekarang katakan ada apa?” suruh Papa
“Aku cinta sama Senja, Pa,” hatiku panas saat Mas Fajar mengatakan mencintai Senja.
“Apa maksudmu? Bukankah kamu tahu kalau Senja itu kekasih adikmu?” aku yakin Papa juga tak menyangka sama seperti aku
“Aku mencintai Senja, itu maksudku. Dia adalah wanita yang aku inginkan,” jelas Mas Fajar.
“Fajar kenapa kamu bisa jatuh cinta sama Senja? Dari awal kamu tahu kan kalau Senja dan Langit udah menjalin hubungan sebagai pasangan. Apa kamu enggak mikirin perasaan adik kamu sendiri. Didunia ini masih banyak wanita lain selain Senja, Fajar,” Mama ikut menimpali.
“Aku maunya Senja, itu aja,” Mas Fajar berdiri dari duduknya, “Udahkan bicaranya. Aku mau istirahat.” Mas Fajar langsung pergi meninggalkan kami tanpa menunggu jawaban Papa dan Mama.
__ADS_1
“Lang, kamu bisa jelaskan?”
Bersambung...