Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 25


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


"Kamu tenang aja Ja, ntar nanti Mas yang urus semuanya." Ucap Mas Zaenal.


"Iya Mas. Makasih." Aku tersenyum getir


"Tapi kamu yakin sama keputusan kamu Ja? Biarin aja si Reza di keluarkan dari kesatuan. Lagian dia udah nyakitin kamu." Ucap Mas Raswan yang tampak geram


Aku malah tersenyum "Aku gak mau egois Mas. Mas Reza punya anak. Kalau dia dipecat, anaknya mau makan apa? Gaji istri belum tentu cukup buat makan. Belum lagi tabungan masa depan sama tagihan." Jelasku "Gak apa-apa. Asal Mas Reza bisa bahagia, aku juga akan bahagia Mas." Ketahuilah aku tak sebaik itu. Tapi aku mencintai Mas Reza, sangat. Tapi aku sadar cintaku kini tak bisa lagi menjadi singgah dihatinya.


"Ja." Lena mengusap bahuku "Aku salut sama kamu udah disakiti aja masih ada rasa kasihannya. Kalau aku udah aku ulek-ulek muka si Mas Reza itu pake sambal. Apalagi si Siska sok kecakepan itu, udah rebut suami orang gak tahu diri lagi." Ucap Lena menggebu-gebu. Lena dan aku berbeda. Dia wanita bar-bar yang tidak suka berpura-pura kuat seperti aku. Aku ini wanita lemah terhadap perasaan.


"Sayang gak boleh ngomong gitu ah. Kamu ini." Tegur Mas Raswan.


"Aku kesal Sayang." Jawab Lena "Awas aja kalau kamu juga gitu, aku potong burungmu itu." Ancam Lena pada Mas Raswan.


Kami semua terkekeh melihat wajah Mas Raswan yang kikuk sambil menelan salivanya susah payah. Lena ini kalau bicara pasti selalu membuat suaminya bungkam


"Tapi Ja, nanti untuk sidang perceraian kamu, kamu butuh saksi. Kamu ada keluarga dekat?"


Aku terdiam sejenak. Siapa keluarga dekat yang bisa dijadikan saksi nanti.


"Ada Kakak ku Mas. Nanti aku akan temui mereka." Mas Dicky dan Mas Donny mungkin bisa membantuku.


"Iya. Nanti kamu siap-siap untuk nerima surat panggilan ya. Mas akan panggil Reza dulu." Ucap Mas Zaenal lagi "Sebenarnya dia gak bisa pertahankan jabatan nya tapi demi permintaan kamu Mas akan coba wujudin asal kamu bisa bebas dari suami kamu itu."


Aku tersenyum lega. Setidaknya masih ada orang yang benar-benar peduli padaku. Ada orang yang tidak mau aku menderita. Meski sejujurnya aku tak benar-benar siap berpisah dengan suamiku


"Iya Mas. Aku benar-benar minta tolong sama Mas, agar Mas Reza jangan sampai dikeluarin dari kesatuan." Ucap ku lagi. Tak peduli aku terlihat rendah, anggap saja ini pengabdian ku sebagai istri.


"Mas akan usahakan Ja, tapi Mas gak bisa janji. Ini urusannya cukup panjang. Bahkan Harusnya Reza dihukum pidana. Nanti Mas akan panggil dia dulu, agar dia menjelaskan bagaimana kronologi kejadian, kenapa dia bisa sampai menikah siri dengan Siska." Ujar Mas Zaenal.


Dikesatuan militer ini menikah saja susah payah karena banyak yang harus diurus, apalagi bercerai dan melanggar undang-undang yang berlaku pasti lebih ribet dari ini.


Mbak Lia mengenggam tanganku berusaha memberi kekuatan padaku lewat genggaman tangannya. Ketahuilah aku ingin menangis sambil dipeluk, aku benar-benar lelah.

__ADS_1


Apakah ini akhir dari cintaku? Cinta yang bersamaku kurang lebih delapan tahun! Cinta yang kuperjuangkan setengah mati. Cinta yang membuatku dulu percaya bahwa tidak ada kata pisah diantara kami. Namun ternyata takdir menghianati cinta yang sudah kubangun dengan susah payah.


.


.


.


.


Aku membuka laptop ku dan duduk dicaffe ini. Meski pikiran ku kacau tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku yang tertunda.


"Mas." Tak bisa dipungkiri bahwa aku patah hati saat ini "Apakah ini akhir dari cerita kita Mas? Apakah aku harus melepaskan mu untuk kebahagiaan lainnya?"


Aku menekan tombol keyboard itu dengan lelehan air mata. Rasanya sakit. Jiwa ku terpental sangat jauh.


Aku menyeka air mataku sambil mengetik. Perpisahan tak kuinginkan ini akan tetap terjadi. Bagaimana pun aku menolak takdir dia takkan bisa membawaku kembali lagi. Mungkin suamiku memang bukan jodohku, nyatanya dia membiarkan benang kusut menghiasi rumah tangga kami hingga pernikahan suci yang sudah diucapkan dihadapan Allah harus berakhir dengan kata cerai.


"Senja."


"Ehhh Mas Chandra." Aku tersenyum pada lelaki yang akan bekerjasama untuk menerbitkan buku-buku ku itu.


"Kamu lagi nulis? Boleh gabung?"


"Ohh boleh Mas silahkan duduk." Senyumku mempersilahkan Mas Chandra untuk duduk


"Kamu sambil nulis?".


"Ohh iya Mas. Ini lagi revisi naskah yang bakal aku terbitkan ditempat Mas." Jawabku.


"Wahhh kren Ja. Jadi aku gak perlu repot-repot buat edit ulang." Dia terkekeh "Udah lama?"


"Masih baru Mas."


Sebenarnya ini pertama kali ku menulis dicaffe. Karena dirumah sedang tak ingin bertengkar dengan Mas Reza dan Mbak Siska aku memilih keluar dan mencari udara segar, seklian me-refresh pikiran ku yang sedang kacau saat ini. Kacau karena perceraian yang sebentar lagi akan mengubah statusku jadi janda.

__ADS_1


Aku berbincang-bincang dengan Mas Chandra masalah buku-buku yang sudah terbit di penerbit miliknya. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari penerbit ternama itu. Semoga ini jalan ku.


Tunggu! Setelah aku berpisah dengan Mas Reza, aku akan tinggal dimana? Aku tidak memiliki rumah. Tidak mungkin aku tinggal dirumah Lena. Meski dia sahabat ku tapi tetap saja ada batasan tersendirinya.


"Ja, kamu kenapa kok melamun?" Mas Chandra menepuk pundak ku.


"Ehh gak ap_."


"Bunda......."


Aku dan Mas Chandra serentak menoleh kearah suara yang memanggil Bunda.


"Bintang." Aku langsung tersenyum sumringah


Mas Langit dan Bintang berjalan kearah kami berdua. Tangan Bintang mengandeng tangan Mas Langit dan menggayunkannya sambil setengah berlari


"Son, pelan-pelan." Mas Langit geleng-geleng kepala.


"Bintang gak sabal ketemu Bunda Ayah."


Aku langsung berdiri menyambut pelukkan lelaki kecil yang kurindukan sejak kemarin.


"Bunda." Bintang berhambur memeluk mu.


"Sayang." Aku berjongkok menyambut pelukkan Bintang.


Tuhan seandainya aku di izinkan menjadi seorang Ibu sekali saja dalam hidupku, pasti aku akan sangat-sangat bahagia. Apalagi jika aku memiliki anak seperti Bintang. Selain tampan dia juga pintar dan baik hati. Meski usianya terbilang muda tapi dia pria kecil yang paham akan perasaan ku saat ini. Faktanya Bintang datang disaat aku sedang patah hati karena memikirkan perceraian ku.


"Bintang kangen Bunda." Pria kecil ini memelukku kian erat.


"Bunda juga kangen sama Bintang." Aku mengangkat tubuh kecil nya dan menggendong Bintang didalam gendonganku.


"Wahh anak Bunda baru pulang sekolah ya?" Celetukku


"Iya Bunda. Ayah ngajakin makan disini ehhh malah ketemu Bunda. Kenapa Bunda gak pulang-pulang kelumah, Bintang dan Ayah nungguin Bunda." Ucapnya sendu. Aku tersimpul sambil mengusap kepala Bintang.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2