
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Senja POV
“Makan dulu Ja.” Mbak Aisyah meletakkan nampan diatas mejaku “Serius amat lihat hp nya lagi chatinggan sama Mas Langit ya?” Godanya sambil mencolek daguku dengan manja.
“Tahu aja Mbak.” Aku terkekeh sambil meletakkan ponselku. “Mbak habis ini jalan-jalan yuk Senja bosan dirumah terus. Sekalian ajak Kak Hana, dia kan lagi free tugas.” Ajakku
“Iya, kamu makan dulu, setelah itu minum obat,” ucap Mbak Aisyah
“Makasih Mbak-ku yang paling cantik. Mbak enggak cuma cantik tapi juga baik hati.” Godaku mengedipkan mata jahil
“Kamu bisa aja.” Mbak Aisyah terkekeh dengan wajah merahnya.
Sebenarnya aku penasaran, apa yang membuat Mas Donny dan Mbak Aisyah sampai hari ini masih tahan dengan status pacaran mereka, apa karena beda keyakinan?
Mbak Aisyah menyuapiku dengan sesekali mengajakku mengobrol.
“Kamu udah pertimbangin lamaran Mas Langit?” Tanya Mbak Aisyah. Semalam Mas Langit datang dan memintaku langsung pada kedua Kakak ku. Aku belum jawab iya, tidak menolak tidak juga menerima. Aku takut mengecewakan Mas Langit.
“Belum Mbak.” Aku menghela nafas panjang.
“Kenapa Ja? Kamu ragu?” tebak Mbak Aisyah.
“Senja takut ngecewain Mas Langit, Mbak. Gimana kalau misalnya tiba-tiba Senja meninggal dan per_”
“Sttttttt.” Sergah Mbak Aisyah meletakkan jarinya dibibirku. “Jangang ngomong gitu. Mas Langit itu tulus sayang sama kamu. Jangan mikirin hal-hal yang bisa membuat kamu menyerah. Kamu justru harus semangat buat sembuh. Mbak yakin kebahagiaan itu akan menjadi milik kamu dan Mas Langit.” Mbak Aisyah menyatukan tanganku dan tangannya.
“Mas Langit itu laki-laki baik, dia pantas dapetin wanita baik-baik seperti kamu,” ucap Mbak Aisyah lagi.
“Tapi Senja takut sama Mas Fajar MBak.” Mataku berkaca-kaca. Aku ben ar-benar takut pada lelaki itu. Sebenarnya dia bukan cinta, itu hanya obsesi karena Senja mirip seseorang di masa lalu nya Mbak,” ucap ku.
Mbak Aisyah malah tersenyum sambil mengusap pipiku dengan lembut. Wanita berhijab ini memang memiliki hati keibuan. Betapa beruntungnya Mas Donny memiliki hati Mbak Aisyah, meski terlahir dari keluarga kaya tapi Mbak Aisyah tetap rendah hati dan suka berbagi dengan anak yatim.
“Senja enggak perlu takut. Selama Senja dan Mas Langit saling memperjuangkan, dan cinta kalian kuat maka Mas Fajar enggak bisa ganggu hubungan kalian.” Jelas Mbak Aisyah memberikan pelukkan hangat padaku.
“Makasih Mbak.”
Jujur dalam hatiku, aku memiliki ketakutan tersendiri. Bagaimana jika usiaku tak panjang? Bagaimana jika pada akhirnya aku pergi dan menghilang dari dunia ini. Aku tidak mau Bintang dan Mas Langit patah hati. Aku menyanyangi mereka berdua. Mereka adalah jantung hatiku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa memiliki rasa sayang sebesar ini pada Bintang dan Mas Langit, bagiku mereka berdua adalah sumber dari segala kebahagiaanku. Aku tidak mau kehilangan mereka.
__ADS_1
Mas Fajar, aku tidak bisa melarangnya untuk jatuh cinta padaku. Hanya aku tak ingin cintanya itu malah merusak kehidpanku dan Mas Langit. Jujur saja aku takut saat Mas Fajar sudah berlaku nekad, bahkan dia tak segan-segan menunjukkan perhatiannya didepan Mas Langit tanpa menjaga perasaan Mas Langit.
“Udah, jangan nangis lagi, ntar Bunda-nya Bintang jelek lho.” Mbak Aisyah terkekeh sambil mengelus pipiku “Minum obat yaaa?” Mbak Aisyah mengeluarkan beberapa bulir obat dari bungkusnya.
Aku merasa memiliki seorang Ibu. Aku bersyukur Mbak Aisyah dan Kak Hana menerimaku sebagai adik ipar mereka tanpa membeda-bedakan ku dengan Mas Donny dan Mas Dicky.
“Pagi kesayangan Kakak.” Kak Hana masuk dengan menenteng beberapa kantong ditangannya
“Pagi Kak.” Balasku dengan senyum.
“Lihat nihh Kakak bawain apa buat Senja.” Dia mengeluarkan barang bawaannya.
“Wahhh fizza Kak.” Air liurku serasa mau menetes saat melihat Mbak Hana mengeluarkan fizza itu dari kotaknya.
“Eittsss makannya enggak boleh banyak, ini pesan dari Ayang Langit.” Seru Kak Hana menahanku
“Kakak.” Aku merenggek
“Biar Kakak yang suapin.” Dia mengambil sepotong fizza dari dalam kotak itu
“Kak, Senja bukan anak kecil lagi.” Tolakku. Mbak Aisyah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Aku mendengus kesal, aku diperlakukan seperti anak kecil oleh Mas Donny dan Mas Dicky serta Mbak Aisyah dan kak Hana. Katanya ini perintah Mas Langit.
.
.
.
.
“Mas kita mau kemana?” tanyaku penasaran.
“Kemana hayooooooo?” Goda Mas Langit sambil terkekeh
“Mas jangan buat aku penasaran dehhh.” Cemberutku. “Ini juga kenapa aku disuruh pakai gaun segala sih Mas?” Gerutuku
Mas Langit terkekeh sambil mencuri-curi kesempatan mencium pipiku. Untung BIntang tidak ikut bersama kami. Kalau ada Bintang bisa malu aku.
__ADS_1
“Mas.” Aku tersipu malu. Sudah lama tak disentuh laki-laki rasanya beda sekali saat Mas Langit mencium pipiku.
“Udah diam aja enggak usah cerewet. Nanti juga kamu tahu Mas mau bawa kemana.” Dia tersenyum menggodaku.
Tiba-tiba Mas Langit datang kerumah lalu memberikan gaun padaku dan memintaku memakai gaun itu. Alhasil Kak Hana yang jago make up itu seketika merubah wajahku. Dan kepalaku dipasang wig untuk menutupi kepala plontos ku. Aku yang tidak tahu mau dibawa kemana dan jawaban Mas Langit malah terus menggodaku.
Aku berharap kami seperti ini hingga menikah nanti dan aku berharap penyakit ini bersahabat, setidaknya tubuhku tidak drop disaat aku sedang bahagia seperti ini.
Mobil Mas Langit terparkir disebuah restaurant mewah. Restaurant bintang lima yang tentu hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang dari kalangan atas. Sebab jika orang tak memiliki uang seperti pasti butuh menabung lama untuk bisa makan disini.
"Mas tutup matanya ya?"
"Kok pakai acara tutup segala sih Mas. Emangnya Mas mau apa?" Gerutu ku
"Udah enggak usah banyak protes. Nurut aja Sayang." Dia gemes sendiri sambil geleng-geleng kepala.
Mas Langit menutup kedua mataku dengan kain yang sudah dia siapkan. Sebenarnya aku bingung lelaki ini ingin membawaku kemana?
"Ayo Sayang turun pelan-pelan." Mas Langit mengulurkan tangan nya agar aku menyambut nya.
Aku menyambut tangan itu dengan mata ditutup. Kalau aku tidak dituntun pasti menabrak sesuatu.
Mas Langit mengiring ku masuk kedalam. Kenapa suara restourant ini sepi.
"Siap." Aku mengangguk.
Mas Langit membuka tutup mataku. Aku menutup mulutku tak percaya.
"Mas."
"Kamu suka?"
Tampak sebuah meja dengan dua kursi dan ada lilin ditengahnya. Di lampu remang-remang ikut menghiasi dengan beberapa lilin yang sengaja dinyalakan.
"Senja Mentari, mau kah kamu menikah denganku?"
Dia berlutut sambil menyedorkan kotak beludru berwarna merah cantik.
Aku tak dapat berkata apa-apa selain mengangguk.
__ADS_1
Bersambung.....