Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 65


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Aku memegang dadaku yang bergemuruh hebat mencoba menahan gelombang yang menghantam disana. Air mataku seolah tak berhenti menetes sesukanya. Dititik terapuh dalam hidupku, ini adalah titik paling rapuh yang pernah aku alami.


“Tolong mengertilah Bu, tinggalkan Senja sendirian. Senja mohon Bu,” pintaku dengan ucapan permohonan sambil memejamkan mataku dengan tangan yang terletak didada dan aku tak bisa menatap kedua orang yang masih menangis didepanku ini.


“Maafin Ayah Senja,” ucap Pak Jaka.


Saat ini aku tak ingin mendengarkan kata maaf dari siapapun. Aku hanya ingin sendirian. Mungkin lebih baik sendirian dari pada memiliki orang tua yang sama sekali tak peduli dengan keadaan ku dan membuangku seperti tak berharga.


Ibu dan Pak jaka menurut. Mereka keluar dari ruangan rawat inapku dan sesekali menoleh padaku yang enggan melihat mereka berdua.


Aku menangis sepuas didalam kamar inap yang sudah kutempati beberapa minggu belakangan ini. Bahkan sejak perceraianku dengan Mas Reza, aku sudah tinggal ditempat yang tak pernah terbayangkan dibenakku. Aku mengusap dadaku pelan, barangkali sesak ingin bisa kuusir dengan kelembutan dari usapan tangan ini. Aku lelah. Aku capek dengan hidupku.


Sejak usia belia aku hidup sendirian, sekolah tinggal bersama Mas Donny dan Mas Dicky, lalu menikah dengan suami yang ternyata juga menusuk ku dari belakang. Setelah aku lepas dari jeratan suamiku, aku digerogoti penyakit mematikan yang membuatku tak bisa memiliki keturunan selama ini. Dan sekarang, aku harus dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa aku adalah anak dari pria beristri yang berselingkuh dengan Ibu. Kenapa hidupku tak pernah baik-baik saja.


Sejak usia belia aku diajarkan untuk mandiri dan hidup sendiri tanpa Ayah dan Ibu. Bahkan Ibu seperti membuangku dengan alasan sibuk mengurus keluarga barunya dan aku ditelantarkan begitu saja. Sedangkan Ayah memang tak pernah kulihat sejak lahir dan sekarang dia malah datang meminta maaf setelah berhasil mematahkanku dengan kenyataan yang tak ingin aku terima.


“Senja,”


Mas Donny dan Mas Dicky masuk kedalam ruanganku wajah mereka berdua kompak dan terlihat panic.


“Mas,”


Mas Donny berhambur memelukku. Aku menangis didalam pelukkan Mas Donny, meluapkan segala amarah dan kecewa yang mengendap didalam sana. Aku tak mampu menahan lelehan bening ini. Aku adalah wanita lemah.


“Mas, hiks hiks hiks,” aku tak peduli terlihat lemah, bukankah titik terendah seorang manusia adalah ketika dia menangis karena keadaan namun memilih kuat dan bertahan agar menyambung kehidupan yang layak nantinya.


“Senja,” Mas Dicky juga ikutan memeluk kami berdua.


Kedua Kakak yang tak sedarah ini ikut menangis bersamaku. Sebenarnya kami sama, kedua orang tua Mas Donny dan Mas Dicky berpisah sejak mereka kecil, setelahnya Ayah mereka menikah dengan Ibuku dan mereka juga kehilangan kasih sayang itu sama sepertiku. Kami bertiga adalah korban keegoisan kedua orang tua kami, akibat kesenangan mereka sendiri, mereka lupa bahwa ada anak-anak yang harus jadi korban itu dari ketidakpedulian mereka.

__ADS_1


“Mas,” aku masih merenggek, “Senja pengen pulang Mas. Senja enggak mau disini lagi, ayo Mas bawa Senja pulang,” tangisku.


Mas Donny dan Mas Dicky melepaskan pelukkanku. Kedua Kakak ku ini juga menangis kecewa sama seperti yang aku rasakan. Mungkin setiap orang tua memilih berpisah demi mendamaikan hati mereka agar merasa tak sakit tapi mereka lupa bahwa anak-anak yang tak berdosa menjadi korban dari perpisahan itu.


Mas Donny menyeka air mataku “Tapi Senja belum sembuh, gimana Senja bisa pulang. Langit pasti enggak akan izinin Senja pulang,” ucap Mas Donny lembut, “Tetap disini ya sampai kondisi kamu membaik?” Bujuknya


“Tapi Mas_”


“Benar kata Mas Donny Ja, tetap disini saja ya. Mas bakal jagain kamu. Jangan takut lagi,” Mas Dicky mengusap bahuku.


Aku mengangguk patuh, sejujurnya kondisi tubuhku memang belum benar-benar pulih. Aku pikir kemoterapi akan menyembuhkan ternyata tidak kemoterapi hanya memanjangkan usiaku sesaat. Sekarang minum obat bukan lagi untuk kesembuhan tapi bertahan hidup sementara sebelum akhirnya kematian membawaku pergi dari dunia yang penuh kepalsuan ini.


“Ya udah Senja, istirahat ya,” Mas Donny membaringkan tubuhku lalu menyelimutiku.


“Mas,” aku menatap kedua Kakakku dengan sendu.


“Iya Ja?” Kompak kedua Kakakku menoleh padaku


“Sttttttttt,” Mas Donny meletakkan jari telunjuknya dibibirku, “Jangan bicara begitu, Senja enggak akan pernah ninggalin Mas. Senja harus janji sama Mas, apapun yang terjadi Senja harus tetap ada buat Mas,” ucap Mas Donny dengan matanya yang berkaca-kaca.


Aku tak berjanji untuk tetap bertahan hidup. Jujur saja aku lelah dengan hidupku yang sekarang. Jika bukan karena Bintang yang membuatku mampu bertahan mungkin aku sudah memilih pergi dari hidup yang tak kuinginkan ini.


.


.


.


.


“Gimana keadaan kamu Senja?” Tanya Mas Fajar

__ADS_1


“Udah lebih baik Mas,” jawabku


“Kamu mau enggak saya ajak jalan-jalan keliling rumah sakit. Angin pagi seperti bagus untuk kesehatan,” tawar Mas Fajar.


Aku terdiam mendengar tawarannya, tapi aku takut salah paham. Nanti Mas Langit berpkir yang tidak-tidak padaku. Aku tak enak hati, apalagi dia mencintaiku meski aku belum membalas perasaannya bukan karena aku tak cinta aku hanya takut mencoba membuka hati untuknya. Aku takut tak bisa menepati janjiku untuk selalu bertahan.


“Boleh Mas,” jawabku.


Tak salahnya aku menerima tawaran Mas Fajar untuk berkeliling rumah sakit karena aku sendiri butuh udara segar. Kebetulan Mas Donny dan Mas Dicky sedang pulang berganti pakaian. Sedangkan Mas Langit biasanya datang siang sambil menjemput Bintang.


“Ayo,” ajaknya


Aku bangun pelan dan hendak turun dari ranjang.


“Biar saya bantu,” aku terkejut saat Mas Fajar mengangkat tubuhku.


“Mas,”


Dia meletakkan aku dengan pelan dikursi roda sambil tersenyum hangat padaku. Baru kali ini aku melihat Mas Fajar tersenyum, selama ini dia selalu menampilkan wajah datar dan dingin seperti tak tersentuh.


“Ayo,” dia mendorong kursi rodaku keluar dari ruangan.


“Kamu belum pernah kan jalan-jalan seperti ini?” Ucap Mas Fajar.


“Iya Mas belum pernah,” jawab ku tersenyum, “Udaranya segar yaaa Mas,” ucapku sambil tersenyum.


Sudah lama tak kuhirup udara segar seperti ini, sudah lama aku tinggal didalam kurungan rumah sakit yang membuatku merasa tinggal dijeruji besi, apalagi dengan jarum suntik yang menyiksa tubuhku tanpa pikir panjang.


“Kamu suka?” Mas Fajar membawaku ke taman rumah sakit.


“Suka banget Mas,” jawabku, “Aku udah lama banget enggak hirup udara sesegar ini,” aku memejamkan mataku menikmati udara pagi yang begitu nyaman di rumah sakit ini, meski sebentar lagi menjelang siang, tapi sepertinya walaupun siang hari disini tetap dingin dan sejuk .

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2