Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 61


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


“Makasih Sayang.” Senja mengecup kening Bintang lama, “Bunda sayang banget sama Bintang.” Air mata nya terjatuh dan menetes dipipi.


“Jangan nangis Bunda.” Tangan munggil itu mengusap pipi cantiknya.


“Bunda jelek ya karena enggak ada rambutnya?” Matanya berkaca-kaca


“Siapa bilang? Bunda tetap cantik kok. Bintang juga enggak ada lambutnya, jadi Bunda enggak sendilian, ada Bintang yang nemanin Bunda,” ucap Bintang lagi.


Aku tersenyum melihat kedua orang ini. Kondisi Senja setelah kemoterapi memang menurun akibat kemoterapi yang dia jalani. Tapi setidaknya ini bisa mencegah penyebaran kanker dalam tubuhnya.


“Sayang kamu makan dulu ya. Ini Mas udah masakkin bubur ayam kesukaan kamu,” ucapku sambil membuka rantang nasi yang kubawa dari rumah tadi pagi.


“Bial Bintang yang suapin Bunda, Ayah.” Pinta Bintang.


“Emang Bintang bisa?” Godaku terkekeh melihat wajah cemberutnya.


“Bisa dong, kan Bintang udah gede,” seru Bintang.


Aku dan Senja terkekeh. Kubiarkan Bintang menyuapi senja, mereka berdua memang beberapa hari ini tidak bertemu lantaran Senja yang masih lemah jadi aku tak mau Bintang menganggu istirahat Senja. Aku melarang Bintang untuk sementara bertemu Senja dan sekarang keduanya tengah melepas rindu yang menggembang dalam dada.


“Bunda buka mulutnya.”


Senja menurut dan makan sambil disuapi oleh Bintang. Kedua orang ini tampak manis sekali saling menyanyangi meski mereka tak memiliki ikatan darah sama sekali. Apalagi senyum Senja yang manis meski tak memiliki rambut lagi tapi menurutku dia tetap cantik dan menggemaskan.


“Lang.”


Mas Fajar masuk kedalam ruangan rawat inap Senja.


“Mas.” Aku menyambutnya dengan senyum.


Tatapan Mas Fajar tertuju pada Bintang yang menyuapi Senja dengan telaten.


“Makan yang banyak Bunda,” seru Bintang menyeka bubur yang blepotan dibibir Senja.


“Iya Sayang, bubur buatan Ayah enak banget. Bunda suka,” seru Senja melihat kearahku sambil tersenyum. Hal itu sukses membuatku salah tingkah sendiri.

__ADS_1


“Ehh ada Mas Fajar.” Sapanya pada Mas Fajar.


Mas Fajar membalas dengan anggukan tapi tatapannya melekat pada Senja. Jujur dari kemarin aku sedikit terganggu dengan tatapan Mas Fajar pada Senja, aku merasa ada sesuatu yang Mas Fajar tahu tentang Senja. Tapi apa? Mereka baru mengenal. Bahkan baru bertemu beberapa kali.


“Gimana keadaan kamu Senja?” Setelah lama diam akhirnya Mas Fajar mengeluarkan pertanyaan itu.


“Sudah lebih baik Mas.” Jawabnya sambil tersenyum.


Aku merenggut kesal kenapa Senja harus tersenyum pada Mas Fajar? Aku tidak rela senyum kekasihku ini dinikmati oleh banyak orang selain aku dan Bintang. Egois memang tapi aku tak ingin milikku dimiliki orang lain. Senja ini cantik dan baik hati, bagaimana kalau Mas Fajar juga menaruh hati padanya? Aku tak mau bermasalah hanya karena cinta. Tapi aku takkan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku pada orang lain.


“Lang, ada yang ingin Mas bicarain sama kamu.”


“Iya Mas.”


Mas Fajar melirik Senja sekilas yang masih makan dengan lahap disuapi oleh Bintang sebelum akhirnya dia keluar duluan dari ruangan Senja.


‘Kenapa Mas Fajar liatin Senja sampai segitunya. Kenapa perasaan aku jadi enggak enak?’ Batinku sambil mengusap tenggukku.


“Sayang, Mas keluar sebentar ya. Kamu makan yang kenyang.” Aku mengusap kepala plontosnya, “Bintang jagain Bunda ya Nak, Ayah keluar sebentar.” Pesanku pada Bintang.


“Siap Ayah.” Bintang meletakkan tangannya dipelipis dan memberi hormat seperti seorang prajurit yang siap melaksanakan perintah komandannya.


“Kalian baik jaga diri baik-baik ya.” Aku mengecup kening kedua orang itu secara bergantian.


“Hati-hati Ayah.” Bintang memberikan ciuman dipipiku.


“Bunda, enggak cium Ayah?” Aku mengedipkan mata jahil kearah Senja yang sudah memerah.


“Iya Bunda, ayo cium Ayah bial sama kayak Bintang,” seru Bintang.


“Mas.” Renggeknya


“Ayo Bunda cium pipi Ayah,” seruku menahan tawa sambil menunjuk pipi kananku.


Cuppppppppppp


Dia mencium pipiku secepat kilat. Sial, hanya karena sentuhan dipipiku saja sudah membuat sesuatu dibawah sana berdiri dan sesak minta dikeluarkan.

__ADS_1


“Terima kasih Bunda, cupppp.”


“Mas.” Pekiknya kesal


Aku berlari keluar sambil ngakak sebelum menjadi korban amukkan singa betina yang bisa menyerangku dengan ganas itu. Suka sekali menggoda senja yang selalu salah tingkah. Wajah memerahnya terlihat lucu dan juga menggemaskan.


Aku masuk kedalam ruangan Mas Fajar. Sebenarnya jabatan direktur sudah kuserahkan pada Mas Fajar, selain dia Kakak ku, dia juga memiliki banyak pengalaman untuk menjadi pemimpin rumah sakit. Tapi Mas Fajar menolak dan dia lebih menikmati menjadi dokter biasa tanpa terlibat mengurus rumah sakit.


“Mas mau bicara apa?” Aku duduk disoffa ruang Mas Fajar. Sedangkan dia tampak menikmati permandangan luar.


Mas Fajar ini memang dingin, mungkin karena dipatahkan sangatn hebat oleh cintanya dia menjadi pria yang dingin tak tersentuh. Namun sebenarnya Mas Fajar adalah pria yang hangat bila dengan keluarga dan bagi orang yang sudah lama mengenalnya. Dia tidak mudah akrab dengan orang yang baru dia temui.


“Kamu yakin sama Senja?” Tanyanya tapi masih menatap keluar jendela yang transparan hingga menampakkan betapa panas nya kota Pontianak disiang hari.


Keningku berkerut heran “Maksud Mas?” Aku tak mengerti dengan pertanyaannya.


“Jawab saja Lang,” ucapnya


“Iya aku yakin Mas karena aku mencintai Senja.” Jawabku tegas. Aku memang mencintai Senja, bahkan cintaku pada Senja melebihi cintaku pada Amara, almarhum istriku dulu.


“Seberapa yakin?” Tanyanya lagi.


“Tidak terhintung. Aku tidak bisa menghitung seberapa yakin aku mencintainya Mas, yang pasti aku mencintainya dan aku tak bisa hidup tanpanya.” Jawabku tegas.


Dia tampak terdiam untuk sejenak tak berbicara. Orang yang berbicara dengan Mas Fajar ini harus memiliki stok kesabaran yang banyak karena dia merespon ucapan lawan bicaranya sangat lama. Entah dia mendengar atau memang pura-pura tak mendengar, begitulah sifat Mas Fajar hingga tak heran hingga kini dia masih betah dengan kesendiriannya tanpa berpikir mencari teman hidup untuk sekedar menemani masa tuanya.


“Sebesar itu?


“Kenapa Mas menanyakan hal ini? Apa ada sesuatu yang Mas sembunyikan?” Tanyaku penuh selidik. Sebab sejak awal aku curiga dengan tatapan tak biasa Mas Fajar pada Senja.


Mas Fajar melihat kearahku yang duduk disoffa. Tatapannya sangat dingin dan menyeramkan, jika anak kecil yang melihatnya sudah pasti menangis ketakutan termasuk Bintang.


“Suatu saat kamu akan tahu Lang.” Jawabnya memaksakan senyum.


“Tahu? Maksud Mas?” Aku benar-benar tak mengerti.


“Pesan Mas, jaga Senja dengan baik. Sedikit saja kamu lengah kamu akan kehilangan dia. Dan kamu harus tahu Lang orang yang pertama mengambil Senja adalah Mas, jika kamu melepaskan dia.”

__ADS_1


Aku terkejut mendengar ucapan Mas Fajar. Apa maksudnya, apa Mas Fajar berniat merebut Senja dariku?


Bersambung.....


__ADS_2