Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 41


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


Aku mengusap kepala Bintang yang masih setia membenamkan wajahnya didada bidangku.


Sedangkan Mas Langit terlihat bersalah. Sesekali dia melirik kearah putranya, wajahnya sendu dan lelah.


"Son." Tangannya terulur mengusap kepala anaknya.


"Enggak mau Ayah jahat." Dia masih merajuk seperti tadi sambil menggelengkan kepalanya dan enggan melihat kearah sang Ayah.


"Biarin Bintang tenangin diri dulu Mas. Namanya juga anak-anak perasaan nya sensitif."


Bintang ini berbeda, dia pendendam terlihat dari cara dia marah dan merajuk. Hatinya sensitif apalagi dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu tentu hatinya keras dan peka terhadap hal-hal yang bisa membuatnya terluka.


"Saya minta maaf." Ucap Mas Langit tulus, entah minta maaf padaku atau meminta maaf pada Bintang.


"Minta maaf sama Bintang aja Mas." Sahutku "Lagian Mas kenapa sih? Kok tiba-tiba marah? Mas ada masalah? Kalau ada masalah Mas bisa cerita sama aku. Tapi jangan bentak Bintang Mas, dia masih kecil. Perasaan nya gampang terluka." Ucapku sedikit menasihati.


Mas Langit yang kulihat tadi sangat jauh berbeda dengan Mas Langit yang ku kenal selama ini. Dia tampak marah, entah apa yang membuat nya marah padahal tadi dia baik-baik saja dan mengobrol seperti biasa bersama aku dan Mas Dicky.


"Enggak! Saya cuma lelah. Banyak kerjaan dirumah sakit." Jawabnya tanpa melihatku


Kenapa aku merasa kalau Mas Langit ini marah padaku? Tapi apa salah ku, aku tidak melakukan kesalahan apapun padanya?


"Mas yakin?" Tanya ku menatapnya penuh selidik. Kali saja dia mau bercerita padaku.


Dia mengangguk lalu kembali fokus menyetir. Sesekali dia memijit pelipisnya dan mengusap wajahnya. Dilihat dari wajahnya dia tampak seperti pria yang patah hati.


"Bintang." Aku mengangkat kepala Bintang.


"Iya Bunda." Bintang menatapku dengan pipi basahnya.


Anak ini benar-benar menggemaskan. Jangan kan marah atau membentak nya melihatnya sedih saja rasanya aku tidak sanggup. Wajah sepolos ini jika dibentak tentu akan langsung terluka apalagi anak-anak pikiran nya masih polos.


"Maafin Ayah ya Nak?" Bujukku. Kasihan juga melihat wajah frustasi Mas Langit.


"Enggak mau, Ayah jahat sama Bintang. Ayah enggak sayang Bintang. Ayah jahat, Bunda." Sahut Bintang cepat matanya berkaca-kaca. Aduh jangan sampai Bintang merajuk nya lama bisa-bisa aku tidak pulang nanti kalau dia tidak mau dibujuk begini.


"Son."

__ADS_1


Mata Mas Langit juga berkaca-kaca. Seperti nya ini pertama kalinya Mas Langit dan Bintang bertengkar. Bapak dan anak ini membuat kepala ku pusing saja.


Untung aku melihat motor Mas Dicky yang mengekor dari belakang. Jadi nanti setelah mengantar Bintang sampai rumah aku bisa segera pulang. Aku ingin menemui Kak Divta untuk menanyakan hal privasi apa yang ingin dia bicarakan padaku.


"Bintang sayang sama Bunda."


Dia mengangguk cepat "Bintang sayang sama Bunda. Sayang banget. Bintang enggak mau kehilangan Bunda lagi." Sahutnya sambil menyeka air matanya.


Untung besar badan anak usia lima tahun tidak lah terlalu besar kalau yang normal paling berat badannya 15-20 kg jadi kakiku tidak keram kalau memangku Bintang seperti ini.


"Bintang sayang sama Ayah?"


Lah kenapa ini anak malah diam? Aku melihat Mas Langit jadi tak enak hati. Aku menelan salivaku susah payah sambil menunggu jawaban Bintang.


Sementara Mas Langit wajahnya langsung berubah sedih, seperti nya dia juga sedang menunggu jawaban putranya. Aku hanya takut jawaban Bintang jauh dari harapan aku dan Mas Langit, bisa-bisa aku dituduh meracuni pikiran anaknya.


"Bintang sayang sama Ayah tapi Ayah enggak sayang sama Bintang." Jawabnya kemudian setelah kami lama menunggu.


"Son, Ayah sayang kok sama Bintang. Sayang banget. Bintang jantung hati Ayah." Sahut Mas Langit.


"Kalau Ayah sayang sama Bintang kenapa Ayah bentak Bintang tadi? Emang nya salah kalau Bintang pengen sama Bunda?" Bibir nya mengerecut sambil menahan lelehan bening dipipinya.


"Sayang." Tanganku kembali mengusap kepala Bintang "Ayah sayang kok sama Bintang. Sayang banget. Tadi itu Ayah lagi capek kan banyak kerjaan. Ayah kerja juga buat Bintang kan, biar Bintang bisa makan, bisa sekolah, bisa beli mainan. Kalau Ayah enggak kerja Bintang mau makan apa? Nanti Bintang enggak bisa beli mobil-mobilan kalau Ayah enggak kerja. Bintang mau?" Tuturku tak lupa bibirku yang mengerecut sambil menampilkan wajah merajuk


Bintang menggeleng dengan cepat "Enggak mau Bunda. Bintang kan pengen jadi pilot bial bisa bawa pesawat telbang." Seru nya.


"Nahhh kalau gitu maafin Ayah dong?" Rayu ku sekali lagi.


Dalam hati aku sudah berdoa semoga Bintang segera memaafkan Mas Langit, biar drama bujuk membujuk ini selesai dan aku bisa pulang.


"Tapi Bunda_."


"Kalau Bintang enggak mau maafin Ayah berarti Bintang enggak sayang sama Bunda dan Ayah dong? Kalau gitu Bunda enggak mau lagi temanan sama Bintang. Bunda temanan sama Betrand aja." Ancamku.


Ehh ngomong-ngomong bagaimana kabar Lena? Sudah beberapa hari tinggal dirumah Mas Donny aku seperti lost kontak dengan sahabat ku itu. Mungkin Lena sudah tahu masalah sidang perceraian ku dengan Mas Reza, sehingga dia tidak menghubungi ku.


"Bunda jangan." Ujarnya "Iya dehh Bintang maafin Ayah. Tapi demi Bunda."


Yess berhasil, syukurlah dia langsung mau memaafkan Ayahnya meski pun demi aku. Tapi setidaknya mereka berdua nanti tidak marahan lagi.

__ADS_1


"Bintang maafin Ayah." Ucapnya tapi masih enggan melihat Mas Langit.


"Makasih Son." Dia mengusap kepala putranya dengan Ayah "Maafin Ayah yaaa?" Sambungnya.


Bintang mengangguk tapi masih tidak mau melihat kearah Mas Langit.


Aku geleng-geleng kepala saja, Ayah dan anak ini seperti nya sifat nya tidak jauh beda. Entah bagaimana kalau Bintang dewasa nanti? Masih sekecil ini saja sifatnya sudah terlihat.


Chitttttttttttttttttttt


"Astaga."


Aku dan Bintang hampir saja terjungkal kedepan. Untung aku segera memeluk Binatang kalau tidak, dia bisa jatuh kebawah.


"Kalian enggak apa-apa?" Wajah Mas Langit tampak panik.


"Enggak apa-apa Mas." Aku serasa ingin jantungan "Kenapa sih Mas?" Tanyaku. Kulihat wajah Bintang pucat karena terkejut.


"Senja keluar kamu."


Aku dan Mas Langit melihat kedepan tampak Mas Reza turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kuat


"Senja keluar kamu." Teriaknya.


"Kalian tetap disini. Jangan kemana-mana ya?" Mas Langit mengusap kepala ku dan Bintang secara bergantian.


"Ayah." Bintang tampak ketakutan.


"Jangan takut ya Nak. Bunda disini." Aku memeluk Bintang erat.


Aku sangat takut. Entah kenapa bertemu Mas Reza aku menjadi ketakutan? Apalagi mengingat dia yang menamparku kemarin hingga sampai sekarang pipiku masih terasa perih. Kapan aku bisa lepas dari pria ini? Kapan? Kenapa dia tidak melepaskan aku saja?


Kulihat Mas Langit dan Mas Dicky tampak berdebat dengan Mas Reza. Entah apa yang mereka bicarakan, tampak Mas Reza marah-marah sambil menunjuk Mas Langit dan Mas Reza. Mas Reza kalau sudah marah memang menyeramkan. Dia seperti iblis yang seperti siap menerkam mangsanya.


"Mas kenapa kamu enggak lepasin aku? Padahal kamu sendiri yang khianatin aku Mas. Kenapa sekarang kamu seolah merasa aku penting?" Gumamku lelahan bening itu lolos lagi dipelupuk mataku. Kalau Mas Donny melihat aku menangis seperti ini dia bisa marah.


Aku penasaran apa yang mereka bicarakan. Tidak terdengar dari dalam mobil ini. Kenapa Mas Reza seperti menatap Mas Langit dengan kebencian?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2