
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
"Mas kenapa sih?" Dia melepaskan pelukannya ku "Mas nangis?" Dia tampak panik.
"Ayah." Kedua orang ini kompak menatap heran.
"Enggak apa-apa." Jika laki-laki menangis didepan seorang wanita, percayalah dia sedang terluka begitu parah dan mungkin aku sekarang sedang mengalami hal itu.
"Mas, kamu kalau ada apa-apa cerita sama aku jangan dipendam ya?" Melihat senyumnya yang seperti ini membuatku semakin terluka. Aku tidak mau senyum ini hilang dari hidupku.
"Saya enggak apa-apa kok. Kita makan siang ya?" Aku mengalihkan pembicaraan. Aku tak bisa menceritakan apa yang saat ini sedang aku rasakan.
"Bintang mau makan apa?"
"Bunda mau makan apa?" Bintang melihat Senja "Bintang ikut Bunda aja deh." Sambung nya.
"Sebenarnya aku pengen makan bubur buatan Mas. Tapi enggak mungkin siang-siang makan bubur. Aku mau pecel ayam aja Mas. Bintang mau apa?"
"Sama kayak Bunda. Bintang suka apa yang Bunda suka," ujar Bintang.
Senja terkekeh pelan sambil tersenyum gemes. Begitu juga aku. Senyuman kedua orang ini begitu berarti. Keduanya sama-sama berharga bagiku. Aku tak bisa memilih siapa yang lebih penting. Keduanya sama-sama penting dan tidak bisa disamakan.
"Tunggu bentar ya, ini Ayah udah pesan." Aku menunjukkan ponsel ku saat pesanan ku berhasil disebuah aplikasi dan hanya menunggu makanan itu tiba saja.
Senja tampak bergeser dan membuka selimut nya.
"Bunda mau kemana?" Tanya Bintang.
"Bunda mau ke toilet Sayang." Jawab nya.
"Bunda bisa jalan? Bial Bintang temani ya?"
"Biar Ayah aja." Aku langsung mengangkat tubuh wanita ini.
"Mas." Dia terkejut dan memeluk leherku
"Kamu belum bisa jalan. Pegangan yang kuat nanti kamu jatuh," ujarku.
"Mas, tapi aku_"
"Diam Senja. Kamu mau jatuh benaran?" Dia menggeleng dengan wajah menggemaskan. Membuatku tak bisa menahan senyum.
Aku meletakkan nya dengan pelan. Seandainya dia sudah menjadi istri ku pasti kutemani dia didalam toilet. Tapi ini tidak mungkin, bisa-bisa semakin rumit keadaanya.
"Kalau udah selesai bilang. Saya nunggu didepan." Dia hanya mengangguk patuh. Aku tersenyum gemes. Aku tahu dia salah tingkah. Bisa kurasakan jantung nya berdebar diatas dadaku.
Aku menghela nafas panjang. Pembicaraan ku dan Donny tentang penyakit Senja tadi masih terus terngiang-ngiang. Untuk memastikan hal itu benar aku akan melakukan test darah di laboratorium.
"Kenapa kamu keluar?" Tanyaku panik.
"Aku kira Mas enggak ada didepan." Dia tersenyum cenggesan.
__ADS_1
"Kamu enggak boleh jalan sendiri. Kalau jatuh gimana?" Omel ku sambil mengangkat tubuh mungil nya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri kok." Ucapnya
Aku tak peduli dengan ocehannya, aku takut dia kenapa-kenapa? Tenaganya belum pulih. Bagaimana bisa jalan sendiri?
"Mas." Dia masih merenggek "Kalau ada yang liat kita gimana Mas? Nanti bisa salah paham," ucapnya.
"Jangan dengarin kata orang." Aku meletakkan nya dengan pelan.
"Ayah makanan nya udah datang," ucap Bintang menunjukkan pintu masuk seorajg kurir makanan membawa pesanan ku.
"Iya Son." Aku segera mengambil makanan yang kupesan tadi.
"Ahhhhhhhh." Senja tiba-tiba memegang perutnya.
"Bunda."
"Senja kamu kenapa?" Aku meletakkan kantong ku
"Bunda." Bintang terlihat panik.
"Enggak apa-apa Mas." Dia memaksakan senyum dan wajahnya pucat sekali.
"Enggak apa-apa gimana kamu kesakitan Senja?"
Dia meringgis sambil memegang perutnya.
Aku berteriak memanggil para perawat dan sialnya alat-alat medis ku berada di ruangan kalau aku ambil memerlukan waktu.
Tiga orang suster dan satu dokter masuk kedalam ruangan. Aku benar-benar geram dengan kerja lambat mereka.
"Kalian kemana aja sih? Kenapa lama?" Omelku kesal.
"Hiks hiks hiks Bunda, kenapa Ayah? Kenapa Bunda."
"Bintang turun dulu ya Nak," ucapku mengangkat Bintang agar turun dari ranjang.
"Ayah, Bunda kenapa hiks hiks hiks?" Bintang lagi-lagi menangis.
"Tolong bawa Bintang keluar!" Tintah ku pada salah satu perawat
"Baik Dok."
Senja masih meringgis kesakitan. Wajahnya tampak pucat menahan sakit di area perutnya.
"Senja. Tahan ya."
Brakkkkkkkkkkkkkk
wanita itu terjatuh kedalam pelukanku. Wajahnya tampak pucat tanpa darah.
__ADS_1
"Persiapkan semuanya."
"Baik Dok."
.
.
.
.
.
Tanganku bergetar memegang kertas putih ditangan ku hasil pemeriksaan Senja.
"Gimana Lang?" Donny merebut kertas itu dari tanganku
Donny terduduk saat membaca isi dari kertas itu. Ekspresi nya sama denganku sama-sama syok dan seolah hilang kesadaran.
"Senja." Donny menunduk "Kamu enggak boleh pergi ninggalin Mas, Senja. Mas enggak akan bisa kehilangan kamu." Donny bahkan menangis didepan ku.
Sedangkan aku masih diam. Seluruh organ dalam tubuhku seolah berhenti berkerja. Darahku berdesir hebat. Rasa takut itu kembali bersemayam dihati ku. Kenapa ini harus terjadi pada Senja. Tidakkah cukup segala penderitaan yang dia alami selama ini? Kenapa penyakit yang tak seharusnya ada ini harus tinggal didalam tubuhnya.
"Senja." Donny menutup wajahnya dan menangis hebat.
Bayangkan Senja menderita penyakit ini sejak SMA, sangat lama. Dan selama itu mungkin dia menahan sakit tanpa mengatakan pada siapapun.
"Maafkan Mas, Senja. Karena kesibukan Mas. Mas sampai lupa sama kamu. Maafkan Mas, Senja," ucap Donny penuh penyesalan.
Sejujurnya aku sedikit kecewa pada Donny dan Dicky. Mereka sudah tahu sejak beberapa tahu silam jika Senja menderita penyakit ini, tapi mereka diam-diam saja dan tak bisa memaksa Senja untuk berobat.
Tapi kecewa pun percuma takkan bisa mengembalikan Senja seperti sediakala.
"Senja." Aku memejamkan mataku dan menangis dalam diam "Aku janji akan menyembuhkan kamu. Bertahanlah Senja. Kita akan bersama-sama selamnya." Gumamku.
Aku dan Donny masing-masing menangis dalam diam meluapkan sisi lemah kami sebagai seorang pria. Sekuat apapun pria dia takkan kuat ketika melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah dan tak berdaya.
Apa selama menikah dengan Reza, Senja tidak pernah cerita pada suaminya? Atau memang suaminya yang tidak mau tahu tentang kondisi istrinya sendiri?
"Senja." Lirihku.
"Lang." Donny menatapku "Aku mohon selamatkan Senja Lang. Aku akan bayar berapa pun yang kamu mau. Tapi aku mohon tolong Senja. Aku enggak bisa kehilangan dia." Donny sampai menangkup tangannya didada dan memohon padaku agar aku menyelamatkan Senja. Tanpa diminta pun aku akan membantunya dan menyembuhkan penyakitnya.
"Aku akan lakukan sebisa ku Don. Aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan Senja. Aku juga enggak mau kehilangan dia." Jawabku "Apa Ibu Senja benar-benar enggak bisa jengguk anaknya Don. Udah lama Senja sakit tapi enggak ada liat orangtuanya. Senja butuh dukungan dari orang-orang didekatnya?"
"Besok Dicky jemput Ibu dikampung." Jawab Donny.
Senja butuh dukungan dari orang-orang yang dia sayang. Dia butuh support dan dikuatkan oleh mereka. Termasuk aku dan Bintang. Aku akan mendukung segala jalan Ssnja. Tak hanya mendukung nya tapi aku juga akan menemani nya melewati ini dan menggenggam tangannya untuk berjalan disampingku.
Bersambung.....
__ADS_1