Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Chapter 32


__ADS_3

Selamat Membaca 💫💫💫💫💫💫💫💫💫


Aku masih menangis didalam pelukkan pria ini. Kenapa rasanya sangat nyaman? Nyaman sekali. Sudah lama tak ada yang memelukku seperti ini. Aku rindu, sangat rindu saat seseorang selalu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Saat seseorang bertanya, apa kamu baik?


"Hiks hiks hiks hiks."


Kurasakan usapan Mas Langit dikepalaku. Kepalaku yang hanya sampai dadanya. Aku menangis dengan tak peduli. Tak peduli jika baju nya basah karena air mata yang keluar sesuka nya ini.


Dadaku sampai sesak karena kebanyakan menangis. Aku sungguh mencintai Mas Reza. Sangat mencintai Mas Reza, suamiku itu. Tapi ternyata dia tidak pernah mencintaiku dan hanya demi jabatannya? Apa hubunganku dengan jabatan nya itu?


Mas Langit melepaskan pelukannya padaku. Tangannya terulur mengusap pipiku yang basah karena air mata. Entah kenapa saat tangan ini menyentuh kulitku rasanya sangat nyaman dan jantungku berdebar-debar.


"Udah baik?" Aku mengangguk "Ayo duduk." Dia memapahku duduk dibangku.


Sejenak kami berdua terdiam seperti sibuk dengan perasaan masing-masing. Seperti nya dia membiarkan aku menenangkan diri dulu sebelum berbicara. Saat ini aku tak ingin bicara pada siapapun. Mulutku bungkam. Aku malu, lelaki yang ku anggap adalah belahan jiwaku ternyata sama sekali tak mencintaiku sedikit pun.


"Udah lega?" Dia menatapku yang duduk disampingnya.


"Mas." Mataku kembali berkaca-kaca.


"Apa kamu mau ngomong sesuatu?" Dia tersenyum sambil mengusap kepala ku.


Lama aku menatap pria ini. Sentuhannya dikepalaku mampu membuat hati yang hampir mati ini bergetar hebat.


"Mas." Aku juga menatapnya "Aku mau cerai sama Mas Reza." Sambungku.


Dia tampak terkejut dan menurunkan tangannya yang berada diatas kepala ku.


"Emang itu jalan yang terbaik. Dari pada kamu nangis terus." Dia terkekeh "Usap air mata kamu." Dia masih menyedorkan sapu tangan tangan tadi belum sempat ku ambil dari tangannya.


"Makasih Mas." Aku mengusap pipiku dengan sapu tangannya.


"Level terbaik mencintai adalah melepas apa yang enggak seharusnya kita genggam." Dia tampak tersenyum menatap bintang dilangit "Kamu udah terlalu banyak terluka. Saat nya kamu lepas dari semua rasa sakit itu." Sambungnya.


Aku mengangguk setuju "Maaf ya Mas. Aku malu banget ketahuan nangis ditempat kayak gini." Aku menyembunyikan wajahku yang merah merona. Dan tadi kenapa aku sampai membalas pelukan nya.


Terdengar kekehan dari mulutnya. Pria ini jika tersenyum sangat tampan. Bahkan seribu kali lebih tampan dari biasanya.


"Jacket siapa?" Dia melirik jacket yang ku pakai.


Aku terkejut, kenapa dia ingin tahu jacket ini?

__ADS_1


"Ini punya Kak Divta Mas. Tadi aku lupa bawa jakcket." Sahutku mengeratkan jacket tebal itu ke tubuhku.


"Divta?" Keningnya berkerut "Siapa?" Seperti nya dia memang ingin tahu.


"Kapten baru Mas, yang gantiin Mas Zaenal." Jawabku.


Dia tampak terdiam sambil melihat kedepan. Suara air mancur yang keluar dari Bambu Runcing ini menemani obralan kami berdua malam ini. Meski sudah tengah malam, namun jalanan ini masih dilewati oleh beberapa orang. Apalagi malam Minggu, kata anak muda ini malam yang bagus untuk berkencan.


"Kok bisa dia kasih jacket nya sama kamu? Kamu kenal sama dia?" Kenapa nada pertanyaan pria ini seperti tidak suka?


"Tadi aku diantar sama Kak Divta, Mas." Jawabku jujur.


"Diantar?" Ulangnya.


Aku mengangguk "Kenapa Mas?" Aku menatapnya penuh selidik.


"Kamu kenal sama dia?" Tanya nya sekali lagi.


"Kenal Mas, dia Kakak kelas aku dulu Mas waktu SMA." Jawabku jujur.


Dia membuang muka kearah samping. Sebenarnya ada apa dengan pria ini? Dan kenapa dia bisa ada disini?


"Mas, kok bisa tiba-tiba ada disini Mas? Mas mau kemana tengah malam gini?" Cecarku.


Aku beroh-ria saja. Kembali kami berdua dan terdiam dengan perasaan masing-masing. Kembali lagi aku mengingat perkataan suami dan Ibu mertuaku tadi. Aku masih belum paham, kenapa Mas Reza menikahi ku hanya demi jabatannya saja?


"Kamu serius mau pisah sama Reza?" Tanyanya setelah kami hening lama.


Aku mengangguk "Iya Mas. Aku mau pisah sama Mas Reza." Aku tersenyum kecut sambil menatap lampu-lampu yang menerangi jalan "Aku enggak mau terus-terusan kayak gini. Aku lepasin Mas Reza dan membiarkan dia bahagia sama pilihannya." Jawabku.


Dia tak merespon apapun. Angin malam ini cukup mampu membuat bulu kuduk ku berdiri.


"Mau pulang?"


Aku terdiam. Rasanya aku tak ingin pulang ke rumah lagi. Besok aku mau menemui Mas Donny dan Mas Dicky membahas masalah perceraian ku dan Mas Reza. Hanya mereka keluarga dekat yang ku miliki. Ibu yang dikampung, sudah pasti dia takkan datang. Apalagi jarak kampung dan kota sangat jauh bisa memakan waktu sampai enam jam. Itu pun harus melewati jalanan terjal.


Tapi aku harus pulang kemana kalau tidak di asrama? Tidak mungkin aku tidur dijalanan malam ini.


"Kenapa?" Tanya nya yang melihat ku hanya diam saja.


"Iya Mas aku mau pulang."

__ADS_1


Padahal jujur saja aku tak ingin pulang. Aku tahu Mas Reza pasti sudah menunggu ku dirumah. Semoga Ibu sudah pulang.


"Ya udah ayo." Ajaknya.


Sejenak dia terdiam menatapku. Ada apa dengan pria ini, kenapa sifat nya aneh sekali malam ini?


"Kenapa Mas?" Keningku berkerut heran.


Aku terkejut ketika dia memperbaiki jacket Kak Divta yang membungkus tubuhku. Jujur saja aku gugup. Jangan sampai ada yang lihat, bisa salah paham nanti.


"Kamu kedinginan." Dia menjauhkan tangannya dari tubuhku.


"Makasih Mas." Aku memaksa kan senyum.


Kami masuk kedalam mobil. Dan ini kenapa aku jadi gugup? Tadi biasa saja.


"Gimana kabar Bintang Mas?" Aku memulai pembicaraan. Karena tiba-tiba kami berdua canggung satu sama lain.


"Ya seperti biasa. Nyariin kamu terus dia." Jawabnya sambil menyetir.


"Bintang kangen banget kayaknya sama Bunda nya Mas." Sahutku "Kasihan dia." Gumamku. Aku dan Bintang sama-sama kehilangan ketika kecil. Bahkan aku tak pernah melihat wajah Ayahku.


"Kamu butuh bantuan saya?" Tawarnya.


Aku tampak terdiam bingung "Bantuan apa Mas?" Tanyaku heran.


"Buat urus perceraian kamu sama Reza." Kenapa dia seperti tertarik dengan perceraian ini?


"Enggak usah Mas. Udah ada Mas Zaenal sama Mas Raswan yang urus."


Bukan apa, kalau sampai Mas Langit ikut ambil bagian dalam urusan ini. Nanti semakin salah paham dan urusannya bisa panjang. Aku tidak ingin membahas apapun saat ini.


"Ya udah kalau kamu butuh bantuan. Kamu jangan sungkan sama saya." Ucapnya tersenyum ramah padaku.


"Iya Mas. Makasih."


Sampai di asrama tempat aku tinggal, aku langsung turun dari mobil.


"Makasih Mas." Aku melambaikan tangan saat mobilnya menjauh dariku.


Aku masuk kedalam pagar rumah. Tampaknya sudah sepi. Semoga Mas Reza sudah tidur.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2