
Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
5 tahun kemudian....
Reza menghirup udara segar. Hari ini adalah hari dimana dia dibebaskan dari jeruji besi. Tak terasa lima tahun berlalu, selama itu juga dia tinggal ditempat yang menjijikan namun memberinya banyak pelajaran.
Reza menatap gedung yang menjadi tempat tinggalnya selama lima tahun belakangan ini. Disana dia merasakan pahitnya hidup dalam sangkar yang mengurungnya untuk bisa pergi kemana-mana.
"Huffhhh, enggak terasa hari ini aku dibebaskan," gumamnya menghela nafas panjang.
Sejenak Reza terdiam. Semua rekaman kejadian lima tahun yang lalu seolah terekam jelas dikepalanya. Dirinya yang bodoh, dirinya yang dipenuhi dengan obsesi memiliki anak. Ehhh ngomong-ngomong bagaimana kabar putri semata wayangnya itu? Apakah putrinya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menggemaskan? Ahh rasanya Reza tak sabar untuk kembali ke rumah.
"Senja," lirih nya.
Ya Reza kembali mengingat mantan istrinya itu. Wanita baik-baik yang dia nikahi secara paksa demi jabatannya agar tetap bertahan di Tentara Angkatan Laut.
"Maafkan Mas, Senja," namun kata maaf itu seolah percuma karena wanita itu telah menjadi milik orang lain.
Reza masuk kedalam taksi yang dia pesan tadi. Lelaki mantan tentara itu tampak tak sabar untuk sampai rumah. Anehnya, selama lima tahun dipenjara tak ada satu keluarga pun yang menjengguk atau sekedar mengabari dirinya.
Sampai di kediaman kedua orangtuanya Reza turun dan tak lupa dia membayar ongkos taksi yang dia tumpangi.
Mata Reza berkaca-kaca menatap bangunan sederhana itu. Rumah ini begitu banyak memberinya kenangan. Kenangan yang takkan dia lupakan. Setelah menikah dengan Senja, Reza sempat mengajak istrinya itu tinggal beberapa bulan disini sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di asrama yang disediakan oleh batalyon.
Reza masuk kedalam pagar rumahnya. Rumah ini tak berubah sama sekali. Tatanan bunga-bunga dipekarangan juga masih sama seperti dulu serta cat yang sengaja ditempel sebagai pewarna agar minimalis rumah itu semakin menarik hanya saja sayang warna nya sudah memudar seiring berjalannya waktu. Entahlah, kenapa tidak ditempel lagi dengan cat yang baru agar keindahan nya tetap terlihat.
Reza masuk kedalam rumah. Namun rumah itu sepi. Tidak seperti dulu yang ramai. Dimana Ayah dan Ibu nya serta Santi dan putri kecilnya, Queen.
"Queen jangan lari-lari kamu ya," ucap seorang wanita sambil mengejar gadis kecil yang berlari kedalam rumah sambil bermain sendiri.
"Mas Reza," wanita itu langsung mematung ditempatnya.
"Queen," mata Reza berkaca-kaca saat melihat putri nya yang dulu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Mas,"
"Santi,"
Reza memeluk adiknya. Santi adalah adik satu-satunya Reza. Mereka hanya berdua dan Reza anak yang paling tua.
"Mas, kapan kamu keluar dari penjara kenapa enggak ngabarin Santi?" Wanita itu melepaskan pelukan sang Kakak.
__ADS_1
"Mana Ayah sama Ibu, Santi?" Reza sungguh merindukan kedua orangtuanya itu.
Santi menggeleng dia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada sang Kakak.
"Santi, kamu dengar kan pertanyaan Mas?" Reza mengusap bahu adiknya.
"Mas," lidah Santi terasa kelu.
"Mami, ayo kejar Queen,"
Perhatian Reza teralih pada putri kecilnya itu.
"Santi, apa dia Queen?" Tanya Reza. Dia meletakkan tas nya disofa.
"Iya Mas. Dia Queen putrinya Mas," jawab Santi tersenyum. Selama lima tahun banyak hal berubah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Queen, ini Papa Nak," Reza berjongkok sambil menatap putri kecilnya.
"Papa?" Kening gadis kecil itu berkerut heran. "Queen punya Papa?" Dia menatap Santi berharap Santi menjawab pertanyaan nya.
Queen dibesarkan tanpa kedua orangtuanya. Bahkan dia mengira Santi adalah Ibu nya sehingga dia memangil tante nya itu dengan panggilan Mami.
"Mami, benelan ini Papa nya Queen?" Tanya nya masih belum percaya.
Santi mengangguk. "Iya Sayang, ini Papa-nya Queen," senyum Santi.
Gadis kecil itu menatap Reza bingung. Sama sekali dia tidak merasa ada ikatan batin antara dirinya dan pria yang mengaku sebagai Papa-nya ini. Queen pikir dia sudah tak memiliki Ayah karena dia tidak pernah tahu siapa Ayah nya.
"Papa?" Ucapnya.
"Iya Sayang ini Papa," tak tahan Reza langsung memeluk putri kecilnya itu sambil menangis terisak.
Queen terheran-heran. Namun gadis kecil itu hanya membiarkan Reza memeluknya. Ini pertemuan pertama mereka setelah Queen berusia lima tahun.
Santi menyeka air matanya. Hukum karma itu memang berlaku. Setelsh Reza masuk kedalam penjara, sang Ayah malah tiba-tiba terkena serangan jantung hingga membuat pria paruh baya itu kehilangan nyawanya dan sekarang sang Ibu mengalami stroke akibat depresi memikirkan kematian suaminya.
"Apa kabar kamu Nak?" Reza melepaskan pelukan nya. Sekarang putri kecilnya sudah bisa berjalan dan bermain.
"Queen baik," jawabnya tersenyum sumringah. "Papa apa kabal juga? Kemana Papa selama ini? Kok Queen balu ketemu Papa?" Tanyanya polos.
Reza tak dapat menjawab pertanyaan putrinya. Anak sekecil ini tidak akan paham apa yang sudah dia lewati selama lima tahun ini.
__ADS_1
Reza menggendong anak nya itu. Menjadi seorang Ayah adalah impiannya. Bisa dibilang alasan dia menikah diam-diam karena anak atau memang selama menikah dia hanya pura-pura mencintai Senja?
"Santi, Ayah sama Ibu mana?" Reza celingak-celinguk mencari keberadaan kedua orangtuanya.
"Mas," Santi menghela nafas panjang.
"Ayo Mas duduk dulu. Santi buatin teh,"
Reza mengangguk. "Sayang kita duduk dulu yuk. Nanti main sama Papa," Reza mencium pipi putrinya dengan gemes.
"Ayo Pa," gadis kecil itu tampak senang. Impiannya memang ingin bermain kejar-kejaran dengan sang Papa.
Santi menuju dapur. Wanita itu menghela nafas panjang. Entah bagaimana cara dia menjelaskan kepada sang kakak? Ini lah alasan kenapa dia tidak pernah mengabari kakak nya selama lima tahun karena dia tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi.
"Aku harus jawab apa. Mas Reza pasti syok banget," ucap Santi sambil menuangkan air panas kedalam cangkir
Santi membawa nampan berisi satu cangkir teh hangat kesukaan kakaknya itu
"Mas minum dulu," Santi meletakkan cangkir itu.
"Makasih San," senyum Reza.
Santi duduk. Dia tersenyum melihat betapa bahagianya Queen bertemu dengan sang Papa. Gadis kecil itu tampak sumringah, mungkin pertemuan yang sudah lama dia nantikan.
"Santi dimana Ayah dan Ibu? Kok Mas enggak liat dari tadi dimana mereka?" Tanya Reza mengulang kembali pertanyaan nya.
Santi menghela nafas panjang. Lalu menatap sang kakak. Dia tidak bisa menyembunyikan semuanya dari Reza.
"Mas,"
Lalu Santi menceritakan apa yang terjadi lima tahun yang lalu. Santi bahkan tidak bisa menyelesaikan pendidikan nya dibangku kuliah karena kendala biaya, gaji pensiunan Ayah nya hanya cukup untuk mereka bertahan hidup serta merawat Ibu nya yang lumpuh. Santi juga harus menerima kenyataan bahwa dirinya hamil diluar nikah dan lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab karena perbedaan keyakinan. Santi melahirkan bayi prematur yang menyebabkan bayi munggil nya harus di rawat didalam kaca beberapa bulan namun sayang sang Pencipta takdir malah merenggut bayi tak berdosa itu.
Santi dengan susah payah membesarkan Queen dan sang Ibu. Bekerja keras sebagai wanita malam karena hanya itu yang menghasilkan banyak uang. Terlebih dia harus menyiapkan semua dana untuk perawatan Ibu nya yang lumpuh.
"Apa?"
Tubuh Reza langsung luruh, bahkan dia meletakkan putrinya duduk disofa. Aliran darah dalam tubuhnya berdesir hebat. Dan jantung nya seolah berhenti berdetak. Jiwanya serasa terbang melayang.
"Maafin Santi Mas," Santi menunduk malu namun tak ada pilihan lain. "Santi enggak ada pilihan lain, biaya perawatan Ibu mahal serta uang susu dan pempers Queen juga harus Santi yang siapkan. Sementara Mbak Siska sama sekali enggak peduli sama Queen. Sejak Mbak Siska cerai sama Mas, Mbak Siska enggak mau tahu apapun masalah Queen," jelas Santi sambil terisak.
Dada Reza serasa dihantam oleh ribuan batu hingga membuat hatinya remuk redam dan rata dengan tanah. Sehancur ini keluarga nya saat dia dipenjara.
__ADS_1