Benang kusut di pernikahanku

Benang kusut di pernikahanku
Ekstra part 05


__ADS_3

Selamat Membaca 🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


"Kamu yakin mau nikahin anak saya?" Jemmy memincingkan matanya kearah Dicky.


"Saya yakin Om. Saya mencintai Hana," jawab Dicky tegas.


Hubungan Dicky dan Hana juga sudah sangat lama. Kedua nya telah menjalin hubungan selama delapan tahun. Meski diawal-awal hubungan kedua orangtua Hana tidak setuju, karena kala itu Dicky belum menjadi dosen dan masih seorang mahasiswa. Namun seiring waktu berjalan, Dicky dan Hana berhasil membuktikan kepada kedua orangtua nya bahwa hubungan keduanya tidak main-main.


"Hana, kamu gimana? Kamu siap nikah sama Dicky?" Jemmy menatap putri bungsunya itu.


"Hana siap Pi," jawab Hana tersenyum lebar.


Hana adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakak nya sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Orangtua Hana juga sudah berusia dan pensiun, Hana lah yang merawat kedua orangtuanya selama ini.


"Dicky, apa kamu siap ketika menikahi anak saya, kamu akan mengalah dan lepas dari kedua orangtua kamu?" Tanya Jemmy sekali lagi.


"Saya siap Om," jawaban Dicky masih sama.


Jemmy mengangguk dan setuju. Bukan dia terlalu selektif masalah pasangan hidup para putrinya karena ketiga anak Jemmy berjenis kelamin perempuan dan Hana adalah yang bungsu. Jemmy hanya ingin ketiga anaknya mendapatkan laki-laki yang baik. Yang bukan hanya menjadi suami tapi juga menjadi Ayah sekaligus seorang Abang yang mampu mengayomi adik-adik nya.


"Baiklah. Lamaran kamu saya terima dan persiapkan pernikahan kalian," senyum Jemmy menerima lamaran Dicky.


"Beneran Pi?" Tanya Hana sumringah dan kesenangan.


"Eitss ingat Hana kalau sudah jadi istri orang jaga sikap. Jangan manja kamu. Bangun jangan kesiangan. Siapin sarapan buat suami kerja," pesan Jemmy tegas. Putri nya itu memang manja, meski usia Hana sudah memasuki kepala tiga tapi tetap saja sikap manja nya tidak berubah sama sekali.


"Siap Pi, Hana akan jadi istri yang baik untuk Dicky Pi." Dia memeluk lengan kekasihnya itu dengan sayang.


"Ck, enggak boleh panggil nama. Panggil yang lebih sopan sama calon suami," tegur Jemmy pada putrinya itu.


"Heheh, Hana biasa panggil sayang Pi. Enggak biasa panggil yang lain," gadis itu cenggesan.


Sementara Dicky tersenyum senang. Akhirnya dia bisa mengakhiri masa lajang nya dan menikahi gadis yang dia cintai.

__ADS_1


"Ya sudah, persiapkan pernikahan kalian. Jangan repotkan orang lain. Yang mau nikah itu kalian," tandas Jemmy.


"Iya Pi,"


Dicky dan Hana sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan hari pernikahan mereka. Mulai dari sewa gedung, gaun pengantin, make up, ketring, dan survenir dan kartu undangan.


Tak lupa juga foto prewedding yang akan mereka abadikan dalam moment pernikahan nanti. Semuanya mereka persiapkan berdua tanpa merepotkan orang lain. Biaya pernikahan pun mereka berdua yang siapkan.


Jemmy bukan tidak mau bantu putrinya tapi dia ingin Hana mandiri. Apalagi Dicky dan Hana pacaran sudah lama tentu sudah memiliki persiapan yang matang, bukan?


Dicky pun tak mau merepotkan kedua orang tua Hana atau kedua orang tua nya. Sebagai laki-laki dia harus bertanggungjawab terhadap kehidupan rumah tangga nya sendiri. Apalagi sejak kecil Dicky memang sudah biasa mandiri setelah kehilangan Ibu nya dan sang Ayah menikah lagi.


"Sayang ini gimana?" Hana berlenggak-lenggok didepan Dicky sambil memarkan gaun yang dia pakai.


"Apa enggak ada yang lebih jelek dari itu Sayang?" Dicky mendengus kesal.


"Lah ini kan bagus Sayang. Mau yang gimana lagi sih?" Hana memutar bola matanya malas


"Enggak usah yang kebuka gitu. Lihat tuhh dadanya, kamu mau itu kamu diliat banyak orang?" Omel Dicky.


Hana tersenyum senang. Dicky memang posesif padanya. Wanita akan senang jika lelaki menjaga penampilan dirinya, selama masih dibatas wajar tapi jika diluar itu bisa mengundang emosi dan pertengkaran.


"Mas, susu sama pempers Queen udah habis," adu Santi.


"Lho kemarin kan Mas baru beli kok udah habis?" Ujar Reza.


"Iya Mas. Queen akhir-akhir ini kuat banget minum susu nya," Santi menghela nafas panjang.


Reza menghela nafas panjang. Dia sedang berkutat dengan berkas lamaran diatas meja. Dia sedang mencari pekerjaan untuk menyambung kehidupan keluarga nya. Apalagi sang Ibu yang sakit sangat membutuhkan biaya.


Reza mengambil dompetnya. Lelaki itu menghela nafas berat saat melihat isi dompetnya yang hanya tinggal beberapa puluh ribu untuk membeli susu pun mungkin tidak cukup, apalagi harga susu sangat mahal.


"Uang Mas belum cukup. Nanti sore aja beliin Queen susu. Untuk sementara dia enggak usah pakai pempers dulu sampai Mas dapat kerjaan," ucap Reza menatap adiknya.

__ADS_1


"Iya Mas," Santi menurut.


Sedangkan Reza menatap putrinya dengan kasihan. Dia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan fasilitas yang mewah untuk putri nya itu.


Reza sudah berusaha mencari pekerjaan. Namun hingga kini belum ada juga panggilan dari lamaran yang dia masukkan. Reza tak masalah bekerja sebagai apapun yang terpenting dia bisa mendapatkan uang dan memenuhi kehidupan keluarga nya.


Miris sekali kehadiran Reza. Dirinya yang dulu berhambur-hambur uang karena gajinya memang besar tapi sekarang harus menahan keinginan untuk membeli kebutuhan putrinya karena keadaan ekonomi yang semakin menurun.


"Mungkin ini adalah hukum karma karena dulu aku sering merendahkan Senja. Sekarang aku merasakan betapa sakitnya menjadi orang yang tak berguna," gumam Reza menyesal.


Reza memasukkan surat lamaran nya kedalam amplop berwarna coklat. Dia tak boleh menyerah. Dia harus bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya. Agar putri kecilnya bisa beli pempres dan susu.


"Santi, jagain Ibu sama Queen. Mas keluar sebentar," Reza mengecup kening anaknya yang tertidur disoffa sambil menghisap dot nya.


"Iya Mas,"


Hari ini Reza akan coba lagi mencari pekerjaan. Uang pensiunan sang Ayah tidak cukup untuk kebutuhan hidup mereka. Tapi setidaknya uang itu bisa menopang hidup selama Reza belum mendapatkan pekerjaan.


Reza memesan ojek online. Motor buntut pun dia tidak punya, sebab semua asset Ayah nya habis di sita oleh bank hanya rumah satu-satunya yang tertinggal.


Almarhum Ayah Reza memiliki banyak hutang di bank. Entah hutang apa yang pasti nilai uang yang dipinjam tidak sedikit, sehingga membuat apa yang mereka miliki disita bank sebagai.


"Jalan Bang,"


Reza menyeka keringat nya. Pancaran sinar matahari siang membakar kulit lelaki berwajah manis itu.


'Semoga kali ini aku dapat kerjaan,' batin Reza


"Mau kemana Mas?" Tanya tukang ojek padanya.


"Nyari kerjaan Bang." Dia menyeka keringat nya.


"Zaman sekarang cari kerjaan emang susah Mas. Adik saya aja yang udah sarjana sampai sekarang masih pengangguran. Makanya suka heran sama orang yang ngeluh kalau kerja, padahal diluar sana banyak orang yang enggak bisa kerja," jelas tukang ojek itu dengan suara setengah berteriak karena deru mesin motor terdengar lebih keras.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2