Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Keputusan Jihan


__ADS_3

Jihan tahu, semakin cepat dia menerima Anton. Maka semakin cepat pula putrinya bisa keluar dari ruangan itu.


Tapi, bagaimana bisa ia menerima Anton.


Jangankan menyentuhnya, begitu Anton menatapnya, hatinya terasa panas sangat membenci Anton.


Ia bahkan mencoba menghipnotis dirinya sendiri, bahwa ia mencintai Anton.


Tapi tidak ada yang berhasil.


Dia langsung membayangkan wajah Datiyah, gadis yang terluka dan terkulai lemas.


"Maafkan aku, Ayah, Mas Fuad. Aku hanya akan melindungi putriku sekarang. Aku akan melupakan kalian berdua." Ia sudah memutuskan. Meski harus berpura-pura seumur hidupnya.


Sementara itu. Di ruang hukuman.


Tiyah sudah kelaparan dan lemah.


Anton datang mengunjunginya.


"Tiyah, kamu pasti sangat lapar? Kalau mamamu memutuskan untuk makan bersama Ayah. Maka Tiyah pun akan bisa makan."


Gadis kecil itu menatap Anton. "Ayah nggak bohong kan?" Dia bertanya dengan suaranya yang lemah.


Di dalam kepala gadis ini, makanan adalah yang paling difikirkannya. Aroma makanan dari dapur sejak hari kemarin semakin menyiksanya.


Anton tersenyum dan ingin menyentuh kepala Tiyah. Tapi otomatis Tiyah menyilangkan tangannya ke depan wajahnya. Anton tersenyum melihat reaksi gadis kecil di depannya itu.


Entah apa yang lucu menurutnya.


Pagi tiba, Jihan memutuskan untuk ikut sarapan bersama Anton di meja makan.


Awalnya mereka hanya makan berdua. Jihan memakan makanan di hadapannya dengan pelan. Meski ingin berpura-pura, tapi mengingat putrinya yang tidak makan nafsunya sama sekali menghilang. Tapi ia memaksa beberapa suap masuk dalam mulutnya.


Tiyah yang tiba-tiba keluar bersama Jun, mendekat ke meja makan. Tiyah yang melihat ibunya ingin berlari memeluknya. Tapi, ia masih sangat ketakutan karena dia juga melihat Anton yang menatapnya.


"Duduklah, makan sarapanmu!" Ucap Anton.


Tenggorokan Jihan tercekat.


Ingin menangis melihat keadaan putrinya, dengan pakaian yang sudah sobek dan darah akibat cambukan, Dia menutup matanya menahan tangisnya. Dan berpura-pura tersenyum. Bukannya menghilang, air matanya malah penuhi kelopak matanya mengancam keluar.


Tiyah langsung duduk dengan cepat, menyantap makanannya dengan tangannya yang kotor. Jihan kaget.


"Tiyah, cuci tanganmu dulu!" Seperti orang yang kerasukan Tiyah tidak mendengar ucapan ibunya.


Tiyah terus menyuap nasinya dengan suapan besar dan terburu.


"Tiyah, makan pelan-pelan"


"Tiyah harus makan sekarang. Tiyah harus makan yang banyak. Tiyah harus kuat." gadis itu berucap pada dirinya pelan sambil terus menyuap makanannya dengan cepat. Seperti seseorang akan merebut makananya. Karena ia juga tak tahu, kapan Anton akan menghukumnya lagi.

__ADS_1


Entah kenapa air matanya mengalir, apakah bahagia karena dapat makan, atau sedih karena ia harus makan seperti ini.


"Tiyah, makan pelan-pelan!" Jihan mulai berteriak.


Tapi Tiyah tak menghiraukannya. Wajahnya dibenamkan dalam piringnya dan terus makan.


Jihan pun berjalan ke arah Tiyah. Memegang kedua lengan putrinya dan menarik tubuh Tiyah menghadapnya. "Tiyah, berhenti makan seperti orang kelaparan!" Teriaknya.


Begitu melihat putrinya, lemas kakinya.


Wajah putrinya yang kusam, kotor depenuhi remah, ingus dan air mata.


"Tiyah harus kuat, jadi Tiyah harus banyak makan" Ia membalik tubuhnya menghadap meja dan melanjutkan makannya sambil menangis.


Jihan sangat ingin memeluk Tiyah, tapi entah kenapa semua otot di tubuhnya menjadi lemas. Jihan sudah tak tahan, ia pun berlari menangis ke kamar mandi, memuntahkan makanan yang hanya sedikit masuk dalam perutnya. Sesak dadanya, Ia memukul dadanya berkali-kali. Menangis


Bagaimana bisa Anton membuat keadaan putrinya seperti itu?


Tak lama kemudian ada ketukan dari pintu.


"Jihan, kamu belum menghabiskan sarapanmu. Tiyah sendirian di meja makan."


"Apa? Apa yang kamu inginkan dariku? Kenapa kamu bisa setega itu menyiksa anakku dan aku seperti ini?" Jihan berteriak dalam hatinya.


Jihan membuka pintu kamar mandi dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa aku boleh kembali ke kamar?"


"Emm? kamu tidak ingin melihat Tiyah? Aku sudah mengajaknya makan bersama-sama."


Jihan menangis menyandarkan kepalanya di dada Anton dan meremas baju Anton. Seolah ingin meremas jantung Anton dan membuatnya kesakitan.


Mereka berduapun kembali duduk di meja makan. Jihan menutup pandangannya dari putrinya. Bergetar bibirnya menahan tangis.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Yang di sambut tatapan iba dari para pelayan.


Ia tak sanggup. Ia pun memaksa menyuap nasi, menahan nafasnya dan menahan air matanya. Ia tak perduli jika ia mati karena tersedak.


"Tiyah, kamu mau sekolah lagi?" tanya Anton tiba-tiba.


Tiyah anya menangguk dan fokus pada makanannya.


"Tiyah!!! Kalau Ayah bicara perhatikan Ayah." Anton berteriak sambil memukul meja, Jihan pun tersentak dan Tiyah juga langsung melepaskan tangannya dari piringnya.


"Sepertinya kita perlu mendidik kamu tata krama di meja makan. Apa kamu tak pernah mengajarkan putrimu?" Anton melihat ke arah Jihan.


"Kamu pikir siapa yang membuat ia seperti itu?" batin Jihan masih memakan makanannya.


Tiyah masih belum berani menyentuh piringnya.


"Kamu boleh lanjutkan makan. Lain kali saat aku bicara. Perhatikan aku dengan baik."

__ADS_1


"Baik , Ayah". Tiyah melanjutkan makannya sampai titik penghabisan.


Anton tidak menyentuh makanannya. Ia hanya menonton Jihan dan Tiyah. Entah apa yang membuatnya terhibur melihat Jihan begitu tersiksa.


"Bi Narti, bawa Tiyah ke kamarnya. Berikan dia pakaian yang layak sebagai putri seorang Sugesti. Karena mulai besok ia akan hidup sebagai putri dari Sugesti."


Anton bangun beranjak ke kamarnya.


Jihan yang bingung akhirnya mengikuti Anton ke kamarnya, sambil terus melihat putrinya yang dibawa Bi Narti yang juga menatapnya menahan tangis.


Setibanya di kamar. Anton naik ke atas kasur dan menyandarkan tubuhnya di kepala kasur. Sementara Jihan berdiri ingin mengatakan sesuatu.


"Katakanlah, apa yang kamu mau!"


"Apa aku boleh mengurus Tiyah?" Anton menyeringai.


"Aku sudah menyuruh Bi Narti,"


"Aku mohon, hanya untuk hari ini. Aku ingat kata-katamu tentang aku tak boleh lagi menyapanya. Tapi berikan aku kesempatan sekali lagi. Setelah itu...."


"Baiklah, pergilah. Kembali ke sini sebelum makan malam."


Jihan langsung keluar dari kamarnya dan berlari menuju kamar Tiyah.


Sementara itu.


"Non, ayo." Narti membujuk Tiyah untuk mandi.


"Perih Bi. Aku akan mandi setelah lukanya kering."


"Non, kita harus bersihkan dulu badan Non. Baru bisa mengurus lukanya."


"Tapi, perih." Ia sesegukan menahan tangis.


Ia sudah menanggalkan semua pakaiannya dan coba mandi. Tapi keluar lagi karena perih yang tak tertahankan.


"Kalau begitu, kita lap saja Non," rayu Narti pada Tiyah.


"Gak akan perih kan?"


"Paling sedikit saja."


Tiyah akhirnya menurut. Ketika dia ketakutan perih di tubuhnya tidak terlalu sakit. Tapi entah kenapa setelah fikirannya agak lega luka di tubuhnya mulai sakit di setiap titiknya.


Saat Narti akan mulai membersihkan tubuh Tiyah dan duduk di kursi kecil depan meja rias.



"Tiyaaaahhhhh!" Jihan yang berlari dari kamarnya ngos-ngosan tak sabar ingin memeluk putrinya.


Tiyah langsung berdiri dan berjalan ke arah mamanya. Menangis.

__ADS_1


"Mama!" langsung berlari nemeluk mamanya.


*bersambung......


__ADS_2