Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Berbagi Masalah


__ADS_3

"Nanti, kalau aku sudah siap. Aku belum siap membagi semuanya. Tapi, aku akan beritahu kamu satu hal. Aku ingin mengambil hakku dan harta keluarga kembali dari Sugesti. Apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil merebut apa yang keluargaku miliki. Aku akan mengambil semua milikku, termasuk mamaku." ucap Datiyah dengan tekad.


"Apa maksud kamu? bukannya kamu baik-baik saja dengan Om Anton? Mama kamu bukannya bahagia bersama om Anton? Aku sering melihat mereka di pesta dan mereka terlihat baik-baik saja." tanya Gama bingung.


Entah kenapa, tenggorokan Datiyah terasa tercekat, ketika Gama mengatakan bahwa Mamanya baik-baik saja terlihat bersama Anton.


"apa kamu beneran serius sekarang?" tanya Datiyah heran. Jika dia mempelajari tentang perusahaan, maka ia akan melihat sejarah kerja sama antar perusahaan.


"Apa kamu pernah baca tentang keluarga Sugesti? Semua orang tau, bagaimana keluarga Sugesti melakukan bisnisnya."


"iya, aku tau, tapi itu dulu. Tapi semenjak kamu dan mamamu masuk dalam keluarga Sugesti. Pamornya berubah. Kepemimpinan om Anton dan ayahnya sangat berbeda."


Datiyah semakin kesal, dia tidak menyangka bahwa Anton akan benar-benar menggunakannnya untuk memperbaiki nama busuk keluarganya dan dia terpaksa mengikuti perintahnya.


"Terus, apa kamu pernah dengar kalau keluarga Kencana bekerja sama dengan Sugesti?"


"iya, tentu saja aku tau. Tapi, semenjak memutuskan hubungan dengan Sugesti. Nama Sugesti dan segala bentuk kerja sama pada masa lalu dengan mereka sudah tidak bisa aku akses. Karena itu, ketika aku memutuskan untuk memberikan keuntungan pada Sugesti, Mama dan para eksekutif marah besar. Padahal itu hanya keuntungan pribadi milikku."


"Bagaimana dengan hubungan Gunawan dan Kencana? Apa kamu tau sejarah mereka? Sebelum memutuskan kerja sama dengan Sugesti, Kencana lebih dulu dan lebih lama bekerja sama dengan Gunawan. Sampai pada kasus korupsi yang menuduh Gunawan, dan Gunawan terbukti tidak bersalah." jelas Datiyah.


"Kamu gak berfikiran kalau Ayah aku terlibat kan?" Datiyah mengangkat bahunya.


"Jujur sama aku, apa yang kamu temukan? Aku sama sekali tidak dapat mengakses file dari sebelum aku mulai mengambil alih. Aku merasa ada kejanggalan." tanya Gama menatap Datiyah.


"Itu semua masa lalu. Kita tidak usah membicarakannya. Yang aku inginkan sekarang adalah membuat Ayah Anton kehilangan semuanya." Gama yang mendengar ucapan Datiyah kaget.


"Jadi, yang kamu lakukan selama ini, adalah berusaha merebut perusahaan dari Anton? Tunggu...Tunggu..." Gama menggeleng masih bingung tapi kemudian mengingat bagaimana sikap Datiyah saat pertama kali di rumah ini.


"Apa dia pernah melakukan sesuatu padamu? Apa dia pernah menyiksamu? Apa itu sebabnya kamu sering histeris dan...."


"Hentikan. Kita berhenti bicarakan masa lalu. Tidak perduli apa yang sudah terjadi padaku.


Sekarang, aku hanya ingin merebut semua milikku dari Ayah Anton." Mata Datiyah mulai berkaca-kaca.


Gama menatap mata Datiyah. Melihat wanita di depannya sepertinya sangat menderita. Meskipun ia belum tau apa yang sudah dilalui Datiyah, tapi ia merasakannya dari genggaman Datiyah di tangannya. Dilakukan Datiyah tanpa sadar.


"Dan aku, butuh bantuan kamu. Koneksi kamu.


Ayah Anton menutup semua akses ke petinggi-petinggi perusahaan."

__ADS_1


Datiyah duduk menghadap Gama, balik menggenggam tangan Gama dan menatap Gama dengan pandangan memohon.


Gama, belum bisa menjawab Datiyah. Karena dia sendiri belum tau ukuran pasti lawannya.


"Aku akan melihat apa yang bisa aku lakukan. Dan aku pasti membantu kamu." Jawab Gama yang menepuk tangan Datiyah menenangkannya.


"Suatu hari, aku akan ceritakan semuanya padamu. Tapi sekarang, aku hanya ingin fokus pada Ayah Anton, dan kamu juga harus fokus pada Kak Aira." Datiyah menarik tangannya.


"iya, kita punya fokus masing-masing. Kenapa kamu gak jujur dari awal tentang alasan kamu menikahiku?"


"Kan, aku sudah bilang. Kamu juga sedang membantuku. Bagaimana bisa aku membagikan ceritaku, setelah lama kita tidak bertemu. Aku sibuk belajar dan belajar hanya demi bisa merebut semua milik keluargaku kembali." Datiyah berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Maaf, kamu harus pulang lebih awal dan mengganggu pekerjaanmu." ucap Datiyah yang kemudian masuk ke kamar mandi.


Datiyah bersandar di pintu dan memegang dadanya.


"Apa aku benar-benar menceritakannya pada Gama dan meminta bantuannya? Padahal aku sudah melarang kak hendrik berkali-kali. Tapi, aku benar-benar takut, semakin lama aku menemukan orang itu, semakin lama kita semua lepas dari Ayah Anton. Meski aku gak tau apakah orang ini akan berpihak padaku."


Sementara itu di sofa, Gama masih terkejut dengan apa yang diucapkan Datiyah.


"Apa yang sudah terjadi padamu?" gumam Gama.


Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dan menunjungi ruang kerja Mutia, karena ia masih melihat lampu ruang kerjanya masih menyala.


"Ada perlu apa Nona ke sini?" Tanya Monica yang membawa beberapa buah dan minuman untuk Mutia.


"Apa aku boleh bicara dengan Tante?"


"Akan saya tanyakan." Monica lalu masuk dan tak lama kemudian, keluar mempersilahkan Datiyah untuk masuk.


Setelah di dalam.


"Ada perlu apa, malam-malam begini mencariku?" Tanya Mutia yang langsung pindah duduk di sofa dan mempersilahkan Datiyah untuk duduk.


Datiyah mengatupkan kedua bibirnya. Ia tidak tau harus mulai bicara dari mana.


"Aku dulu masih ingat, waktu tante sama Mama bilnag kalau kalian sahabat baik dan tak terpisahkan."


Mutia meminum minuman yang dibawakan Monica tadi.

__ADS_1


"Iya, kenapa dengan itu?"


"kenapa, setelah papa meninggal dan mama menikah dengan ayah Anton, tante dan mama gak pernah bicara lagi?"


Mutia hanya diam tak menjawab. Mana mungkin dia mau menceritakan yang sebenarnya.


"Apa ada hubungannya dengan kerja sama antara Kencana dan Sugesti? Saat kerja sama itu terjalin, aku belum lahir. Tapi, aku masih ingat. Papa dan Mama masih sering bertemu dan bicara dengan Tante dan juga Om Harry."


"Sebenarnya apa yang ingin Tiyah omongin?"


"Aku tau apa yang dilakukan Om Harry ke papa dan juga kakek adalah masa lalu. Aku cuma pengen tanya tante. Sejauh mana aku bisa kasi tau Gama."


Mutia terkejut saat mendengar ucapan Datiyah.


"Bagian mana yang dia tahu? menjebak keluarga Gunawan? berkhianat? atau tidak membantu Jihan saat dia meminta bantuan? atau karena ikut andil dalam pembunuhan Fuad dan Tuan Gunawan?"


Seolah membaca fikiran mutia, Tiyah lalu menjawab.


"Aku tau semuanya. Tidak sulit menggabungkan semua peristiwa dari sejarah perusahaan, dan aku mendengar sendiri Ayah Anton mengatakan telah membunuh papa dan kakekku.


Tapi, yang selalu jadi fikiranku. Apa yang sahabat mereka lakukan? Aku ingat ketika mama mengajakku kesana kemari meminta bantuan. Tidak.. tidak ada seorang pun yang membantu kami.


Sampai aku dan mama terjebak dalam rumah Sugesti." ucap Datiyah meninggi dengan nafas yang menggebu.


Kegelisahan yang ia rasakan saat ini membuatnya berfikir, betapa banyak hal yang bisa berubah seandainya saat itu hanya satu orang yang membantu mamanya dan dirinya saat itu.


Dia dan Jihan tidak perlu terjebak dalam neraka yang diciptakan Anton untuk dirinya.


"Pengkhianatan, bukan sesuatu yang indah kan?" Deg, setelah mengatakan hal itu Datiyah langsung merasa bersalah, tapi dia hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Mata Mutia mulai berkaca-kaca.


"Kamu fikir aku tidak pernah memikirkannya? Kamu fikir aku senang waktu tau suamiku mengkhianati sahabat kami? kamu fikir hidupku lebih baik karena karena perbuatan Anton dan pengkhiatan suamiku?" Mutia berteriak, menangis dan berdiri menarik kerah baju Datiyah.


"Kenapa tiba-tiba kamu jadi seperti ini? Bukankah selama ini kamu sudah menahannya?" Kedua wanita itu menangis terisak.


"Aku.....aku..gelisah tante. Kak Hendrik belum kembali.


Aku sudah gak bicara sama mama sejak aku di rumah itu. Tante yang tau segalanya tentang mereka. Kenapa bisa hidupku seperti ini? Apa salahku?" Mutia kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju Datiyah dan Datiyah jatuh terduduk di sofa.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2