
Gama yang keluar dari kamar kecil, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Apa maksud kamu di rumah sakit?"
"Iya, Mbak Aira pingsan karena kelelahan dan sekarang di rawat di UGD."
"Baiklah aku akan segera ke sana" Tanpa ragu-ragu, Gama langsung berlari ke arah mobilnya dan melaju dengan kencang. Samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggilnya.
Melihat ponsel Datiyah di atas mobil, dia pun segera menghubungi Rendra.
Tapi tak diangkat diapun memutuskan akan menghubunginya setelah tiba di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit dia langsung berlari ke IGD, dan mencari Aira. Tentu saja dibilik paling ramai.
Dia menelepon salah satu sahabatnya meminta agar Aira dipindahkan ke ruang VIP.
Dia menunggu di dalam ruangan. Aira langsung dimasukkan dalam ruangan VIP.
"Gama! aku pikir kamu gak datang." Aira langsung meneteskan air mata.
"Bagaimana mungkin, aku gak datang. Kamu dalam keada....." tiba-tiba ponselnya berdering.
"Tunggu sebentar, telpon dari Rendra." Ketika akan berjalan keluar ruangan untuk menerima panggilan. Aira menarik tangan Gama.
"Ngobrolnya di sini aja." Gama terpaksa berbicara dalam ruangan, jika dia menunda lebih lama. Maka Datiyah juga akan menunggu lebih lama.
"Tolong kamu jemput Tiyah di bioskop XX. Aku sekarang di rumah sakit. Aira pingsan dan di rawat." Dia langsung menutup telponnya.
"Kamu sedang di bioskop bareng Tiyah?" tanya Aira dengan nada kecewa.
"Emm?? Iya, aku cuma nemenin dia, karena katanya gak pernah ke bioskop." jawab Gama.
"Sial..sial. Kenapa aku malah bohong?" batin Gama.
"Yang penting kamu ada di sini." Aira menarik tangan Gama sehingga tubuh Gama ikut mendekat.
"Kamu bakalan nemanin aku di sini kan?" tanya Aira dan Gama mengangguk dengan senyuman.
Sementara itu, Datiyah yang menunggu Tidak mau berfikiran negatif, akhirnya ia kembali duduk. 2 jam berlalu.
"Gama pasti kembali. Dia gak mungkin kan lupain aku disini?" ucap Datiyah menghibur diri dengan mata yang berkaca dan mulai memakan popcornnya.
"Nona Tiyah." ucap Rendra yang sudah berdiri di hadapan Datiyah.
"Kak Rendra? Ayo pulang." Datiyah melangkah dan membawa popcorn dan minumannya.
Datiyah sama sekali tidak menanyakan kemana Gama. Di dalam mobil dia sibuk mengunyah popcorn yang sudah dingin dan minumannya yang sudah tawar karena semua esnya sudah mencair.
__ADS_1
Begitu tiba di rumah,
"Makasih kak, udah jemput aku." ucap Tiyah yang langsung masuk kamar dan berganti pakaian. Alih-alih tidur, Datiyah memutuskan pergi perpustakaan dan membaca buku.
Entah kenapa, Gama yang meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan membuat ia kecewa dan ada rasa sedih yang tidak bisa ia gambarkan.
Bosan di perpustakaan, dia pergi ke dapur mencari makanan. Karena dia belum sempat makan malam.
Setelah menemukan es krim dan beberapa kue. Dia memakannya di depan kulkas dengan pintu terbuka. Dia memakan kue dan es krim sendok demi sendok.
"Iya, aku tau ada hal yang lebih penting dari aku. Tapi harusnya dia bisa menjelaskannya 1 menit saja padaku. bahkan 1 detik pun cukup." dia memasukkan sesendok full es krim dalam mulutnya.
"Apa sulitnya mengajak aku juga. Lagian aku bisa nunggu di mobil. Gak perlu ninggalin aku di tempat yang sama sekali aku gak tau." Datiyah mengoceh dengan es krim dalam mulutnya.
"Awas aja. Seandainya aku tau bawa mobil. Aku bakalan ngajak dia ke hutan dan ninggalin dia di sana." Masih mengoceh dengan mulut yang penuh es krim.
"Tiyah? Kamu ngapain?" Mutia yang tiba-tiba berdiri di meja dapur dan melihat Datiyah duduk depan kulkas dengan pipi mengembung dan mulut berantakan penuh dengan es krim.
Datiyah yang kaget, hanya bisa melototkan matanya. Belum dapat bicara dengan baik karena mulut yang penuh. Melihat Datiyah berusaha menelan makanannya dengan cepat Mutia mengelus punggung Datiyah.
"Makannya pelan-pelan."
Setelah menelan makanannya,
"Aku lapar, dan belum sempat makan malam."
"Memang, dia kemana? Kok bisa gak makan malam?"
"Mungkin dia sibuk. Hehehhehe." ucap Datiyah meletakkan es krim ke dalam kulkas kembali. Tapi dengan nada kecewa.
Mutia yang melihat ekspresi Datiyah mulai merasa khawatir lagi.
"Gama ngelakuin sesuatu yang bikin kamu kecewa?"
Datiyah menggeleng, kemudian tersenyum.
"Gak kok Tan. Ahhh, rasanya sudah kenyang. Aku balik ke kamar dulu yah?" ucap Datiyah yang berjalan melewati Mutia.
"Tiyah!?" panggil Mutia.
Datiyah berhenti dan berbalik melihat Mutia.
"Kamu ingat kan, kamu bisa bicara dengan tante?"
"Iya, bagaimana mana kalau besok kita bertiga. Aku, tante dan Gina jalan-jalan?"
"Emm, sepertinya bukan ide yang buruk. Gina juga lagi ngambek karena Rendra cuekin dia." Ucap Mutia berbisik, seolah takut Gina mendengarnya.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu, deal kita keluar bertiga besok. Aku ke kamar dulu yah." Meskipun kecewa dengan sikap Gama. Tapi, ia sudah kembali senang karena memiliki rencana yang lebih seru dan bisa menghabiskan waktu dengan Mutia dan Gina.
Datiyah pun kembali ke kamarnya.
Tapi sulit untuk tidur. Dia berharap Gama langsung memberikan berita padanya. Apa yang terjadi, kenapa dia tiba-tiba pergi sampai meninggalkannya di sana.
Lama duduk meringkuk menunggu Gama, ia pun tertidur.
Hingga pagi tiba, ketika bangun Datiyah tak melihat dan menemukan Gama di tempat tidur ataupun di kamarnya. Dia ingin menghubungi Gama, tapi ponselnya ada di dalam mobil Gama.
Dia pun memutuskan bersiap-siap untuk sarapan dan jalan-jalan bersama Mutia dan Gina.
Di meja makan, tidak satupun menanyakan Gama. Mutia faham tidak menanyakannnya karena tak ingin Datiyah kecewa.
Begitu juga Gina yang tak mau ikut campur, dan cukup tau dengan situasi.
"Jadi kita ke mana aja?" tanya Gina.
"Ke spa, setelah itu kita cari baju yang cantik dan seksi buat Datiyah. Langsung kita ke bioskop."
Datiyah mengernyitkan dahinya. "Baju seksi? spa? bioskop?"
Dia tidak bisa membuka pakaiannya di depan orang banyak.
"Emm, kalau di spa aku pass aja. Soalnya aku gak bisa di sentuh orang. Badan aku suka kegelian." ucap Datiyah memberi alasan.
"Nanti, kalau sering-sering pasti terbiasa." ucap Mutia mencoba menghasut Datiyah agar mau melakukan spa.
"hehehehhe.. tante. Pleaseee..!! Aku gak bisa. aku sudah pernah coba dan aku gak bisa." ucap Datiyah mulai gelisah.
Gina melihat gelagat Datiyah akhirnya membelanya. "Mah, aku juga kayaknya lagi gak mood buat ke spa deh. Bagaimana kalau ke galeri mama aja? Kak Tiyah kan menantu mama, Kak Tiyah perlu dong belajar soal galeri."
"Hemm, ya udah. Kita ke galeri aja.
Monica, tolong siapkan yah."
"Baik nyonya." jawab Monica dari ujung meja makan.
Tepat pukul 9, mereka ke galeri. Sebelum masuk mereka dihalangi oleh seorang wartawan.
"Nona Datiyah, apa anda tahu kalau suami anda bermalam bersama artis Aira?" sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Monica langsung mengamankan Datiyah, Mutia dan Gina ke dalam galeri.
"Apa maksudnya?" tanya Gina kaget dan membuka ponselnya dan mencari tentang Aira.
Dan benar saja. Berita tentang Gama yang bertemu dengan aira di rumah sakit sudah tersebar luas.
*bersambung......
__ADS_1