Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kecewa


__ADS_3

Semakin besar harapan terhadap sesuatu, maka semakin besar rasa kecewa yang akan kamu dapatkan ketika di tolak.


Dan ketika harapan mu tak sesuai dengan kenyataan kamu akan kecewa.


Tapi tak apa kamu kecewa, kamu akan belajar bahwa memang kekecawaan adalah bagian dari kehidupan.


_____________________________


Setelah Gama berangkat, Tyah dan Hendrik melanjutkan rencana mereka.


"Menurutku Tuan Blake, akan lebih bisa kita ajak bicara. Mengingat apa yang kakek dan dia lalui."


"Menurut Nona, jika memang dia berfikir seperti itu, apa Nona akan berada di tempat ini?"


"Huffffttt, lantas siapa? jika kita menelepon mereka semuanya. Gak mungkin.


Aku akan mengundi kalau begitu.


Kata Papa, aku termasuk orang yang beruntung."


Hendrik tertawa kecil mendengar ucapan Tiyah.


"Apa?" Tiyah mengangkat alisnya melihat Hendrik.


"Nona selalu percaya ucapan orang lain dengan begitu mudah. Bahkan setelah semua ini. Nona masih percaya kalau Nona adalah gadis yang beruntung. Entah itu bodoh atau memang Nona terlalu baik."


"Heyy, aku percaya apa yang dikatakan Papa, semua ada waktunya. Selama kita berharap dan berjuang pasti akan baik-baik saja akhirnya. Yah, walaupun sekarang yang aku lakukan untuk balas dendam."


Tiyah lalu menggunakan ponsel Hendrik untuk menelepon 1 dari 3 orang yang dia harap akan membantunya.


Berkali-kali teleponnya berdering, tapi tidak di angkat.


"Kakak yakin sudah membuat janji?"


"Yakin Nona, saya bahkan merekam bahwa mereka bertiga akan menunggu telepon dari Nona."


Tangan Tiyah mulai gemetar. Sangat besar harapannya pada 3 orang yang dia yakini bisa membantunya. Dia tak sanggup lagi menunggu. 18 tahun, berada dalam pengawasan Anton, dia tak mau lagi membayangkannya.


Karena otomatis ketika hubungan Aira dan Gama berhasil, mau tidak mau ia harus melepaskan Gama, dan kembali ke rumah Sugesti.


Ia ingin dapat memeluk ibunya dengan bebas. Membantu Hendrik dan Ibunya dan semua orang yang merasa terkurung di rumah Sugesti.


Telepon seberang berdering berkali-kali tapi tidak ada yang mengangkat.


Dia memasukkan jari-jarinya ke selah rambutnya dan mulai menariknya.


"Nona!"


Tiyah, merasa pusing tiba-tiba. "Mereka tidak akan mengabaikanku, kan?" ucap Tiyah sedikit merengek.


Tak lama kemudian, ponsel Hendrik berdering. Tiyah langsung melihat peneleponnya.


Dia menghela nafas dan tersenyum lebar.


"Ya hallo." Tiyah terdengar seperti baru saja mendapatkan cahaya terang dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku akan menyambungkanmu dengan orang lainnya."


Telepon diganti ke mode video call.


Ternyata di layar terlihat 3 orang yang ia nantikan.


Entah kenapa Tiyah tidak merasa ini adalah kabar bahagia. Dia menutup matanya untuk membuat dirinya lega.


Tapi tidak, perasaannya justru semakin kacau.


Dia menarik nafas dalam-dalam, tapi dengan pura-pura tersenyum agar orang-orang di hadapannya tidak menyadari kegugupannya.


"Saya sudah menghubungi anda. Senang anda memanggil saya kembali." ucap Datiyah, masih berpura-pura tersenyum.


"Nona Datiyah! Kami sudah nemutuskan bahwa membantu anda, akan membawa masalah besar dalam perusahaan kami."


Tiba-tiba tenggorokan Tiyah seperti terkecat, harapannya, impiannya hancur sebelum dia melangkah. Dia menahan nafasnya, dan air matanya yang sudah ada dipelupuk matanya.


"Kami, masih tidak tahu kemampuan Nona seperti apa, kami ragu untuk menyerahkan kuasa kami pada Nona.


Nona hanya lulusan SMA biasa. Bagaimana bisa kita percaya. Selain itu, kami sama sekali tidak mengetahui sedikitpun kemampuan Nona." ucap salah satu orang di layar.


Tiyah tersenyum. "Karena itu saya katakan, berikan saya kesempatan untuk membuktikan kemampuan saya. Saya tidak akan mengecewakan anda semua.


Bagaimana saya membuktikannya ketika saya tidak bisa melangkah sekalipun?" jelas Tiyah.


"Tapi kita semua tahu, apa yang akan dilakukan Anton pada kami. Kami tidak bisa menjamin, bersedia menerima resiko itu demi nona muda."


Tiyah sudah mulai marah, setelah apa yang dia lakukan selama ini.


"Yah..yah, kalian semua memang lebih suka hidup nyaman.


Setelah kalian hidup dengan nayaman di bawah perlindungan kakek dan Ayahku. Bahkan sekarang aku meminta bantuan, sedikitpun kalian tak bergeming dan hanya memperdulikan kenyamanan kalian.


Terima kasih atas waktunya. Ahhh, dan jika aku berhasil. Akan kupastikan kalian akan hancur bersamaan dengan Sugesti." Dia mematikan ponselnya.


Dia tidak perduli lagi dengan pengecut-pengecut tua bangka itu. Awalnya mereka memberi harapan pada Tiyah, dan sekarang mereka menghancurkan semua harapannya.


Ponsel Hendrik berdering kembali.


Pemanggilnya adalah Anton.


"Selamat siang Tuan." jawab Hendrik dan megubah hpnya menjadi mode loudspeaker.


"Aku ingin berbicara dengan putri tercintaku." jawab Anton.


"putri tercinta gundulmu." batin Tiyah. Menerima ponsel dari tangan Hendrik.


"Ada apa ayah Anton?" ucap Tiyah mengubah suaranya jadi suara normal.


"Aku fikir kamu akan menangis saat ini dan merengek ampunan ku."


"Ayah Anton, aku tahu jalan singkat merebut mama dan semua hartaku dari genggaman ayah Anton. Sekarang aku sedang tidak ingin main-main."


"hahahahahahaha, jika kamu berniat melakukan hal itu. Kamu tidak akan repot-repot mencari 3 orang tua bangka itu. Dan juga menikahi Gama.

__ADS_1


Jika kamu berfikir dengan menikahi Gama, semua pergerakanmu akan lebih leluasa, jangan berharap. hahahahahaha." Anton menutup teleponnya.


Suara tawa Anton menggema di kuping Tiyah. Dia meremas ponsel di tangannya sampai telapak tangannya memutih. Matanya berkaca-kaca.


"Apa benar harapanku susah habis? Hahhaha..." Tiyah tertawa dan kemudian berdiri.


Dia tidak menyadari bahwa kakinya sudah tidak berenergi dan lemas.


"hahahahah, bahkan tubuhku sendiri menyerah padaku." akhirnya air matanya jatuh sambil ia tertawa.


Hendrik meminjamkan lengannya untuk di genggam Tiyah. Dia meraihnya, dan meremas lengan Hendrik. "Maafin Aku," ucap Tiyah lirih.


setelah diluar perpustakaan, dia melepaskan tangan Hendrik dan berjalan menyusuri tembok. Dia bersandar pada tembok untuk membantunya kembali ke kamar.


Begitu sampai di kamar, Tiyah langsung meringkuk dan memeluk liontinnya. Hendrik memasangkan selimut Tiyah. Ketika Hendrik akan berjalan keluar, Tiyah menarik ujung jas Hendrik.


"Jangan ninggalin Tiyah sendirian." ucap Tiyah dengan senyuman getir di wajahnya


Hendrik berdiri menemani Tiyah berjam-jam. Tiyah pun tak melepaskan tangannya dari jas Hendrik.


Bagi Tiyah, waktu sepertinya berhenti. Tiyah tidak tertidur, hanya bengong menatap kekosongan.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan Gama masuk.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Gama agak gusar melihat laki-laki lain dalam kamarnya.


Tiyah bangun dari tempat tidurnya, dan duduk membelakangi Gama. Hendrik melihat kemarahan di mata Gama.


"Kenapa kamu membawa asistenmu sampai ke dalam kamar?" nada Gama agak tinggi.


"maafin aku. Aku gak tau kalau kamu gak suka orang lain masuk ke dalam kamarmu. Aku akan ke kamar Kak Hendrik saja." Ucap Tiyah berusaha berdiri dan kemudian di bantu oleh Hendrik menawarkan lengannya.


Ucapan Tiyah terdengar seolah Gama mengusirnya. "Apa maksudmu? kamu diam di sjni. Aku hanya meminta asistenmu pergi."


Tiyah dan Hendrik berjalan hendak melewati Gama.


"Aku bilang, kamu boleh disini. Suruh asistenmu saja yang keluar."


"Gak bisa, aku sekarang sangat membutuhkan Kak Hendrik dan aku akan keluar bersamanya." ucap Tiyah dengan suara lemah.


Gama yang melihat adegan di depannya merasa gusar, tapi khawatir mendengar suara Tiyah.


Meskipun tidak mencintai Tiyah, tapi mereka berteman, jadi rasa khawatirmya adalah hal yang wajar menurutnya.


"Kamu gak apa-apa?" Gama memegang bahu Tiyah membuat Tiyah reflek menjauh."


"emm, aku akan baik-baik saja." Tiyah dan Hendrik berjalan melewati Gama.


"Apa benar kamu baik-baik aja?" ucap Gama menarik tangan Tiyah.


Tiyah menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menahan kesabaran. Tapi dia malah menghempaskan tangan Gama dari tangannya dan semakin marah.


"Iya, aku baik-baik saja. Dan Gak usah ikut campur!! Gak usah pura-pura perduli. Urus saja masalahmu sendiri. Bukannya itu alasan kita menikah. Hah?? Jadi jangan ikut campur." teriak Tiyah.


Gama hanya bisa kaget melihat Tiyah bersikap seperti itu.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2