
Hari ini, Jihan disibukkan dengan memilih gaun pengantin untuk pernikahannya besok.
Setelah tubuhnya di ukur, seorang desainer menanyakan tentang apa yang ingin dia gunakan.
"Nyonya, kalau melihat bentuk tubuh anda, gaun seperti akan sangat cocok untuk anda," desainer itu menunjukkan gambar di dalam katalog nya.
"Terserah, pilihkanlah yang menurutmu cocok untuk pernikahan yang terindah diseluruh jagat raya ini," ucap Jihan menyindir.
Desainer itu menangkap nada sarkas dari ucapan Jihan. Tapi ia tak mau ikut campur.
Karena siapa yang tidak kenal Anton, pengusaha yang sadis.
Bahkan kabar dia adalah pembunuh suami dan ayahnya Jihan sudah menjadi Rahasia Umum.
Rahasia yang sudah diketahui banyak orang, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
Pelayan yang menemaninya hanya saling memandang. Takut apabila Tuan Anton mendengar ucapan Jihan.
"Nyonya, saya mohon. Berpartisipasilah sedikit. Kalau tidak kami juga akan terkena efeknya," bisik seorang pelayan memberanikan diri memohon pada Jihan.
"Hah, untuk apa aku perduli dengan nasib kalian. Anakku sendiri saja tidak dapat aku tolong." Jihan berbisik tapi dapat didengar orang lain.
Para pelayan itu, tentu saja merasa bersalah. Tapi hidup mereka dan keluarganya juga sudah bukan milik mereka lagi.
"Apa kamu sudah memilih gaun yang kamu inginkan?" Tanya Anton yang tiba-tiba muncul.
Tersentak kaget, para pelayan langsung menutup mulut mereka, memasang wajah memelas pada Jihan.
"Aku menunggu kamu untuk memilihkannya untukku. Karena semuanya terlihat indah." Dengan nada menyindir.
Anton hanya tersenyum. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan."
Dan Anton pun memilihkan gaun yang indah untuk Jihan.
Terlalu indah untuk pernikahan yang tidak diinginkan Jihan.
Terlalu indah, untuk hidup Jihan yang berubah menjadi neraka.
Terlalu indah untuk Jihan yang cahaya hatinya sudah mulai meredup.
Jihan mendengar, bahwa putrinya sudah dipindahkan ke dalam kamar.
Ingin ia berlari melihat, memeriksa keadaan putrinya. Tapi ia masih disibukkan dengan persiapan pernikahan untuk besok.
Dia mendapatkan perawatan untuk seluruh tubuhnya. Lulur, pijat, perawatan rambut, dan kukunya.
Wanita akan merasa bahagia mendapatkan perwatan yang sedang dijalani Jihan saat ini. Tapi tidak. Dia bukan wanita lagi. Ia merasa seperti wanita yang tak berharga.
Setelah ayah dan suaminya dibunuh oleh laki-laki itu, bagaimana bisa ia menikahinya. Dan bahkan membiarkannya menyiksa putrinya.
Harapannya telah sirna. Ia tak dapat memikirkan apa-apa lagi.
Setelah hari yang "menyenangkan" menurut orang-orang, Jihan akhirnya kembali ke kamar Tiyah. Ia fikir jika ia melihat putrinya lagi, ia akan bisa bersemangat lagi.
Tapi, apa yang dilihatnya jauh dari bayangannya.
__ADS_1
Melihat putrinya meringkuk di atas kasur, memegang erat liontinnya.
Wajahnya dipenuhi lebam, biru dan merah dari wajah hingga lehernya. Ketika melihat putrinya mulai mengigau ketakutan. Ia menyentuh putrinya, bukan malah tenang, putrinya malah makin meringkukkan tubuhnya.
Memikirkan putrinya akan berada dalam neraka dunia ini.
Jihan menangis, air matanya tak tertahankan. Ia menahan suara tangisnya, nafasnya memburu.
Ia menutup matanya, mengambil nafas dalam-dalam.
"Sayang, setelah ini mama akan menyusulmu!"
Ia naik ke atas tempat ridur. Tiyah berada di bawahnya. Dengan cepat ia meletakkan kedua tangannya di leher Tiyah mencekiknya.
Dia mencekik Tiyah dengan kencang, tapi Tiyah yang tersadar meronta.
"Mah.........mmmmma.." Meronta memegang tangan Jihan.
"Jangan, jangan melawan, Sayang. Kita akan segera pergi dari sini!" bisiknya pada Tiyah.
Ia menutup mata dan kupingnya.Tak ingin mendengar dan melihat Tiyah.
Ia hanya harus segera mengahabisi Tiyah.
Tiyah terus meronta, hingga menjatuhkan gelas.
"Mama mohon, Tiyah. Jangan meronta. Biarkan mama melakukannya.
Mama tak apa masuk neraka. Asal kamu tidak perlu merasakan neraka ini," air matanya mengalir keluar padahal ia memeramkan matanya.
Tiyah sudah mulai lemas, tangannya yang menggenggam erat tangan mamanya mulai melonggar.
Beberapa pelayan lain, mulai masuk dan menarik Jihan.
"Aaaaaaaahhhhh...jangaaaaan, jangaaaan hentikan aku....!" tangannya sudah terlepas dari leher Tiyah.
Tiyah sudah terkulai lemas, dia masih susah bernafas.
"aaahhh..aaaahhh.... aku harus menyelesaikannya. Jika tidak semuanya sia-sia," dia berusaha bangun untuk melanjutkan perbuatannya membawa Tiyah pergi dari neraka ini.
Sementara itu, bi Narti sibuk memberikan nafas buatan untuk Tiyah.
"Jangaaaan!!!" teriak Jihan pada Narti dan dia masih berusaha mencekik Tiyah.
"Apa yang kamu lakukaaaan?" Anton berteriak dari depan pintu. Melihat kekacauan di depan pintu.
Bahkan teriakan Anton pun tak menghentikan Jihan. "Aku harus cepat!" itu lah satu-satunya hal yang ada di kepalanya.
Anton lalu mengangkat tubuh Tiyah. Jihan berhenti meronta dan matanya melebar melihat Tiyah di tangan Anton.
"Tuan! nafasnya baru saja kembali." ucap Bi Narti berusaha menarik Tiyah. Tapi Anton tidak menghiraukannya.
"Haruskah aku membantumu? membuat Tiyah merasakan ujung kematian?"
Jihan menggeleng cepat, "aaah..hhaaaa..aaaahhh...jangaaaannn!!" dia menangis sejadinya dan mendekati Anton yang tengah mengangkat tubuh Tiyah dengan memegang kerah bajunya.
__ADS_1
"Lantas kenapa kamu melakukannya?" Anton melepaskan tubuh Tiyah yang kemudian terjatuh lemas di lantai sebelum sempat di tangkap Bi Narti.
Dia melangkah mendekati Jihan dan duduk di depan Jihan agar wajah mereka setara.
Ia tersenyum jahat. "Apa begitu inginnya kamu lepas dariku? sampai tega membunuh anakmu sendiri?"
Jihan hanya menangis menahan nafasnya.
Air matanya mengalir, dia menangis kecil.
"Hentikan tangisanmu. Jangan sampai kau menghadiri pernikahanmu dengan wajah yang bengkak dan buruk rupa." Anton meletakkan tangan kanannya di pipi kiri Jihan.
"Kamu kadang, harus belajar menerima nasib.
Bawa Tiyah ke ruang hukuman." Ucap Anton berdiri.
"Jangaann.!!!maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi." pinta Jihan memeluk kaki Anton.
"Sudah berapa kali kamu minta maaf padaku hanya dalam dua hari? Aku sudah memberikan izin Tiyah dibawa kemari dan tidur di tempat tidur yang nyaman. Tapi kamu malah ingin membunuhnya."
Jihan hanya menangis menahan nafasnya. Sesak dadanya. Sudah sia-sia usahanya. Dan akhirnya hanya menyiksa Tiyah.
"Jangan biarkan Tiyah keluar sampai acara makan malam besok. Tetap berikan dia makan, karena besok adalah hari bahagiaku."
Anton keluar meninggalkan kamar.
Jun yang tadi hanya diam berdiri, mengangkat tubuh Tiyah yang lemah. Nafasnya sudah mulai normal, ia sudah sadar sejak tadi hanya masih lemah.
Jihan mendekati tubuh Tiyah. Ia ingin memeluk tubuh Tiyah sekali lagi.
Harusnya Ia memeluk tubuh anaknya, tapi ia malah mencekiknya.
Ragu ia ingin menyentuh putrinya.
Tiyah yang melihat ibunya, mendengar kata-kata ibunya ketika mencekiknya.
Lalu dia tersenyum pada ibunya mengucapkan, "Spero Spera."
Teringat Jihan akan kata itu. Tak tahan ia pun memeluk putrinya.
Jun hampir tidak mengizinkannya, tapi ia tahu bahwa ini sudah terlalu kejam buat mereka. Meski ia tahu Anton bisa melakukan hal yang lebih buruk.
Jihan memeluk putrinya menangis, semua orang yang ada di dalam ruangan itupun ikut sesegukan menahan tangis.
Jun pun terpaksa harus mengambi Tiyah dari pelukan Jihan, "maafkan saya nyonya."
"aahhh..Tiyaahh..maafin mama!!aaahhh.." dia menangis melepaskan tubuh putrinya.
Tiyah tersenyum pada mamanya, dengan mengucapkan kata yang sama, "spero spera," sepanjang perjalanannya ke ruang hukumannya.
Jun tidak habis fikir, apa yang membuat gadis kecil ini masih bisa tetap tersenyum dengan siksaan dan luka yang tengah dideritanya.
Semua orang pun pergi meninggalkan kamar, Jihan sendirian menangis memeluk lututnya.
"Pilihan terakhirku, adalah memusnahkan iblis itu dari dunia ini, aku dan putriku yang akan hidup." Jihan memantapkan hatinya. Ia berdiri, menghapus air matanya.
__ADS_1
"Iya, besok adalah hari yang indah Anton."
*bersambung......