Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kemenangan???


__ADS_3

Ketika melihat Rendra, Datiyah tersenyum, berharap Gama ada di belakangnya, tapi Gama tak ada di sana. Mata Datiyah berkaca-kaca.


" Gama, aku harap kita bisa bertemu disini dan aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Tapi, sepertinya. Rasa cintaku tak cukup membuatmu untuk tetap di sampingku. Karena kamu lebih memilih berada di samping Aira."Batin Datiyah.


Rendra yang baru melihat Datiyah terkejut.


"Nona, apa yang Nona lakukan di sini? "


"Apa kamu lupa, kalau aku juga salah satu pemilik saham. "


Rendra menggeleng, "bukan itu maksud saya,bukankah Tuan Anton tidak pernah mengizinkan anda untuk ikut? "


Tiba-tiba orang yang dikenal Rendra memasuki ruangan.


"Pak Fadil? " Rendra kaget melihatnya.


Datiyah tersenyum, berdiri dan langsung bersalaman dengan Fadil.


Begitu juga dengan yang lainnya, menyambut kedatangan Fadil.


Dari 30 eksekutif yang hadir, lebih dari setengah ruangan itu mendukung Fadil dan Datiyah.


Rendra langsung bisa membaca situasinya.


"Tapi, darimana dia mendapatkan saham yang sebesar itu? " bathin Rendra.


Tak lama berselang, Anton dan bawahannya memasuki ruangan. Membuat suasana menjadi tegang.


Dia menatap Datiyah dengan tatapan tajam seolah akan memusnahkan musuhnya.


"Wahh.. Wahhh.... Kalian benar-benar menusukku dari belakang." ucap Anton yang masih berdiri dan bertepuk tangan sendiri.


Sementara yang lain hanya terdiam.


"Aku akan duduk di sebelah putriku. " Anton menggeser kursinya dan duduk di sebelah Datiyah.


"Aku mengucapkan selamat untukmu lebih dulu. Tapi, apa kamu tau. Di saat kamu berhasil mendapatkan sesuatu, maka kamu harus rela kehilangan sesuatu." bisik Rendra pada Datiyah.


"Kali ini, kamu yang akan kehilangan. Kamu tidak ingat? Selama ini kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kali ini kamu yang akan kehilangan." ancam Datiyah.


Tapi Anton hanya tersenyum licik, tak menghiraukannya dan berbalik.


"Mulai saja rapatnya. " ucap Anton pada pembawa acara.


Setelah melalui voting yang berbelit, hasil akhirnya Datiyah berhasil dipilih menjadi Pimpinan dengan syarat 1 tahun percobaan. Apabila dia tidak layak. Maka akan ada pemilihan lain.


Anton sudah tidak bisa berkutik lagi di sini. Karena sudah tau dia akan kalah, akhirnya dia lebih dulu keluar dan langsung pulang ke rumahnya.


Semua orang dalam ruangan tersebut menyambut pimpinan baru mereka.

__ADS_1


Rendra kemudian mendekati Datiyah dan Fadil.


"Pak Fadil, bagaimana.? Maksud saya. Darimana anda.... "


"Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan untukku. Tapi aku fikir aku akan bertemu dengan Tuan Gama hari ini." Ucap Fadil memotong dan berusaha mengalihkan pembicaraan Rendra.


"Tuan Gama, sedang ada hal yang tidak bisa ditinggalkan."


"Lebih penting dari moment istrinya menjadi Pimpinan perusahaan?" Ucap Fadil menatap Datiyah.


Datiyah hanya membalasnya dengan senyuman getir.


"Maaf, saya lupa. Selamat Nona." ucap Rendra bersalaman dengan Datiyah.


Datiyah dan Hendrik memutuskan ikut ke rumah Fadil untuk merayakan kemenangan mereka.


Sementara itu, di rumah sakit.


Aira sedang terbaring lemah, akibat penganiayaan dari kedua pemiliknya. Karena Aira bersikeras ingin lepas dari mereka.


Meski salah satu dari mereka rela untuk membiarkan Aira pergi.


"Bagaimana bisa, mereka membuat seorang gadis menjadi seperti ini.?" Batin Gama, melihat Aira terkulai lemas.


Rendra tiba dan mengetuk pintu kamar.


"Bagaimana hasilnya? Siapa yang menjadi pimpinan baru mereka?" tanya Gama.


"Nona Tiyah, adalah pemimpin baru mereka. "


Gama berdiri dan berbalik melihat Rendra dan kaget.


"Datiyah? Tiyah ku maksudmu?" Gama bingung.


"Memang awalnya perusahaan itu adalah milik Gunawan. Sahamnya sudah dibeli oleh Pak Fadil dan kemudian dikembalikan pada Nona Tiyah."


"Tunggu.. Tunggu... " ucap Gama semakin bingung mendengar nama Fadil muncul.


"Fadil, Om Fadil supir dan asisten papa?"


"Iya Tuan."


Gama lalu mengambil jaketnya dan hendak keluar, namun tiba-tiba Aira terbangun.


"hhhhhhmmmma.... " suara Aira serak parau dan pelan.


Gama kembali mendekati Aira."kamu sudah bangun? Panggilkan dokter.. "ucap Gama pada Rendra.


Rendra kemudian menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Setelah memeriksa keadaan Aira, dokter mengatakan bahwa lukanya terlalu parah dan akan membutuhkan beberapa waktu untuk Aira kembali sehat.


Gama merasa sedikit tenang, karena Aira sudah sadarkan diri.


Mala kemudian masuk. "Saya asisten kak Aira."


"Baiklah, kalau kamu sudah datang, kami akan pergi. " ucap Gama beranjak pergi, karena Aira sudah tertidur lagi akibat obat bius.


Mala mengantarkan Gama sampai ke depan kamar dan memberanikan dirinya bertanya pada Gama.


"Tuan Gama, apa yang akan anda lakukan selanjutnya. Tentang Kak Aira dan boss-boss nya? "


"Aku akan berusaha mengumpulkan semua bukti dan akan membuat mereka tidak bisa melukai Aira lagi. Aku tau, kamu sangat mengkhawatirkan Aira, dan dia beruntung ada kamu yang menemaninya saat ini." Jawab Gama.


"Saya tahu, ini bukan urusan saya. Tapi, apakah Tuan masih mencintai kak Aira.? "


"Aku sepertinya sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku, Aku akan kembali melihat keadaan Aira nanti." ucap Gama meninggalkan Mala tanpa jawaban.


Gama masih tidak percaya, dengan apa yang dilakukan Datiyah. Jadi sekarang dia tahu, apa yang dilakukan Datiyah dan Hendrik selama ini. Alasan kenapa Datiyah membaca buku dan semuanya.


Segalanya jadi masuk akal sekarang, kenapa dia membutuhkan waktu untuk menjauh dari Anton, tapi dia mempertanyakan peran Fadil dalam ini semua.


"Tuan, kita harus kembali ke perusahaan, karena ada banyak data yang harus di periksa dan anda tanda tangani."


Gama menghela nafas berat.


"Kalau saja aku hadir di sana. Aku pasti bisa tahu segalanya. Tapi, aku lega melihat Aira sudah tersadar."


Sementara itu, di rumah Fadil, mereka sedang mengadakan acara untuk menyelamati Datiyah. Tapi Entah kenapa Datiyah masih merasa ada yang tertinggal.


"Kenapa nona melamun? "tanya Hendrik yang tidak bisa melepaskan pandangan dari Nona mudanya.


" Nggak, hanya saja. Masih ada yang terlupa. aku seperti masih memiliki banyak hal yang belum aku selesaikan."


"Nona, kita bisa melakukannya perlahan. Datu persatu. "


Datiyah menggeleng...


"Entahlah... Sepertinya kita harus ke kediaman Sugesti."


"Bukankah, bahaya jika nona pergi sekarang? "


"Tidak, dia mengancam ku, dan hal itu membuat ku khawatir."


Tiba-tiba ponsel Hendrik berdering.


"Jangan biarkan Datiyah ke rumah ini, maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian dan orang-orang yang selama ini selalu menjagaku." panggilan terputus, tubuh Hendrik membeku....


Bersambung

__ADS_1


...****************...


__ADS_2