
Sementara itu, ketika Jihan sedang mengupas buah untuk Datiyah, ponselnya berdering.
"Ya, Halo? " jawab Jihan.
"Sayang? Kamu di mana? Apa kamu tidak membesuk ku? Aku sedang kesakitan sekarang." mendengar suara itu, tubuh Jihan terasa membeku.
Begitu juga Datiyah yang sedikit mendengar obrolan dari ponselnya.
Tapi, Jihan cepat menyadarkan dirinya.
"Mama terima telepon ini dulu yah. " lalu dia berlari keluar kamar.
"Sayang? " panggilan suara dari telpon Jihan.
"Iyaaa? " Jihan berusaha menjawabnya seramah mungkin.
Dia benar-benar tak ingin kembali lagi pada Anton, setelah dia sedang berusaha membangun kembali hubungannya dengan Datiyah.
"Bukankah, kamu seharusnya sudah disni? Membawa pengacara untukku? "
"Iya, maaf aku akan sedikit terlambat hari ini. Raka agak sedikit lebih rewel dari biasanya.
" Baiklah, aku menunggumu. I Love You. "
"Iya... " jawab Jihan singkat.
Jihan kembali masuk ke dalam kamar. Datiyah memalingkan wajahnya dari Jihan ketika melihatnya masuk.
"Tiyah, mama harus pergi sekarang."
Nafas Datiyah memburu ketika dia tahu ke mana mamanya akan pergi.
"Aku harusnya tau, kita memang tidak bisa memutar waktu. Mama Yang dulu memilih mati, daripada bersama Anton. Sekarang malah balik mencintainya lagi. " ucap Datiyah mulai menangis
"Aku harusnya tau, kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Mama Ingat, ketika mama nampar aku supaya aku berhenti? "
"Tiyah.,... " ucap Jihan pelan dengan penyesalan.
"Aku pikir aku akan berhenti, aku pikir hidupku sudah tak terlalu buruk dan aku masih bisa melaluinya. Disaat aku pikir lelaki yang mencintaiku akhirnya benar-benar menjadi milikku. Tapi kenyataannya tak seindah itu."
"Apa mama tahu, apa yang buat aku bertekad mengambil segalanya dari Anton, mendengar mama bilang cinta sama monster itu, buat aku muak dan jijik. Bagaimana bisa, mama mencintai laki-laki itu setelah apa yang dia lakukan padaku, papa dan juga kakek?."
"Tiyah,.. Maafin mama. Mama tau, harusnya mama tidak mencintainya. Tapi, dia ... "
"hentikaaaaan..... Lebih baik mama pergi bersama monster itu. Aku akan buat dia sampai menua tak berdaya dalam penjara. Sugesti sudah tak punya kekuatan lagi. Dan pada saat ini, semua asetnya akan menjadi milik orang-orang yang menderita karena dia."
"Mama sama sekali gak perduli dengan asetnya. Kali ini, mohon percaya sama mama. Biar mama yang akan mengakhiri semuanya untuk kamu."
Datiyah menggeleng, "Mama, lebih baik mama pergi. Gak usah kembali lagi ke sini. Aku tau apa yang udah mama lakuin buat aku tetap aman sampe sekarang. Tapi mencintai dia adalah hal yang lain. Di luar nalarku."
Jihan berdiri ingin mengelus kepala Datiyah, tapi tangan di tepis oleh Datiyah.
"Cinta, memang bukan sesuatu yang bisa kamu mengerti dengan nalar dan logika. Bukankah kamu harusnya tau itu? Kamu benar, lebih baik mama pergi. Maafin Mama, Tiyah."
Jihan pun lalu pergi dan tak menoleh ke belakang.
__ADS_1
Dia hanya bisa mendengar tangis isak Datiyah yang marah dan sedih.
Datiyah memeluk lututnya dan menangis sejadinya. Dia Berkata kasar, agar mamanya mau berhenti menemui Anton dan berhenti mencintainya.
Gama berpapasan dengan Jihan di lobi.
"Tante mau ke mana? Ada apa? " Tanya Gama oada Jihan yang hendak pergi dan wajahnya penuh air mata.
"Maafin tante, Tolong jaga Tiyah. Tante tau, ini adalah permintaan yang tidak masuk akal, setelah kamu tau. Bagaimana bisa tante membiarkan Tiyah sampe seperti itu. Tante harus pergi." Jihan pun pergi tanpa berpaling.
"Kenapa semua orang menitipkan Tiyah padaku. Tanpa mereka titipkan aku akan menjaganya, karena dia istriku." Gama mengoceh dan membuka pintu kamar.
Melihat Datiyah menangis, Gama masuk dengan cepat lalu memeluk Datiyah.
"Tiyah... " Ucap Gama pelan.
Datiyah membalas pelukan Gama dan menangis di perut Gama yang berdiri di samping tempat tidur.
"Aku benci.... Aku benci kalian semua... " ucap Datiyah di selah tangisnya. Hatinya sangat terluka ketika Jihan lebih memilih pergi kepada Anton.
"Sssshhhh.... " Gama mengelus kepala Datiyah sambil memeluknya.
Sementara itu, Jihan menjenguk Anton bersama seorang pengacara.
Begitu Jihan tiba, Anton langsung memeluknya, sementara Jihan terkejut melihat wajah Anton yang babak belur.
"Wajahmu kenapa?" tanya Jihan penasaran.
"Ini, gara-gara menantumu. Kurang ajar. Lihat saja, begitu aku keluar dari sini. Aku akan membunuhnya." Mendengar ucapan Anton, bulu kuduk Jihan berdiri tak mau membayangkan hal buruk terjadi lagi.
"Apa kamu tidak merasa bersalah? Seseorang mati karenamu." tanya Jihan dengan sedih pada Anton.
Mungkin, dimata orang lain Anton memang benar-benar monster jahat. Tapi, baginya. Anton adalah laki-laki yang memperlakukannya seperti Ratu, karena itu, setelah bertahun-tahun dia bisa mencintai Anton kembali, mengingat perasaan saat pertama dia jatuh cinta pada Anton saat mereka masih remaja.
"Kenapa? Aku memang tak niat membunuhnya. Hanya untuk membuat Hendrik ketakutan. Tapi dia malah meninggal." ucapnya tanpa rasa bersalah.
Jihan merasa sangat sedih. Jihan menutup matanya, teringat ucapan Datiyah.
"Bagaimana bisa, mama mencintai laki-laki itu setelah apa yang dia lakukan padaku, papa dan juga kakek?"
"Sayang? " suara Anton membangunkannya dari lamunannya.
"Iya? "
"Kamu kenapa? Sakit? "
"Nggak kok, aku baik-baik aja." ucap Jihan tersenyum tipis.
"Kenapa kamu gak ngajak Raka ke sini? "
"Aku gak mungkin ngajak Raka ke tempat seperti ini?"
"Oh yah, kamu benar. "
"Bagaimana rencana kamu, supaya kamu bisa keluar?" tanya Jihan.
__ADS_1
Anton tersenyum mendengar ucapan Jihan, dia pikir Jihan akan membuat dia menunggu lebih lama. Ternyata dia salah, Jihan merindukannya. Setidaknya itu yang ada di pikiran Anton.
"ini yang anda minta." Pengacara memberikannya obat sembunyi-sembunyi.
"Apa itu?" Tanya Jihan.
"Ini akan membuatku keluar dari sini, dan kita akan segera bertemu. Tapi nanti kamu jangan terkejut, aku akan baik-baik saja setelah beberapa hari."
Jihan masih belum mengerti, apa yang sebenarnya ingin dilakukan Anton.
Tapi, setelah mereka pulang, pengacara menjelaskan semuanya kepada Jihan.
Beberapa hari kemudian, terdengar berita bahwa Anton Sugesti dilarikan ke rumah sakit, karena gejala stroke dan jantung.
Anton pun, dilarikan ke rumah sakit dimana Datiyah di rawat. Karena Itu yang dia perintahkan pada pengacaranya. Membuat dia satu rumah sakit dengan Datiyah.
Obat itu, akan berefek beberapa hari pada Anton, sehingga sekarang dia masih dalam keadaan lemah.
Polisi yang berjaga di luar, hanya membolehkan keluarga untuk membesuknya.
Datiyah, tentu saja ingin mengambil kesempatan ini untuk melihat keadaan Anton. Dia Tak boleh dengan mudah keluar dari penjara dengan alasan sakit.
Begitu dia akan membuka pintu, dia melihat Jihan sedang mengelap wajah dan tangan Anton.
"Anton, kamu ingat ketika kita masih pacaran? " Jihan tersenyum. Anton masih lemah dan setengah sadar karena efek obat.
"Alasan aku menyukaimu, karena kamu perduli pada sahabatmu, meskipun kamu terlihat cuek."
"Bertahun-tahu kita bersama, kamu gak pernah maksa aku melakukan apa yang tak ku suka. Sampai Dimana pertama kali, kamu memukul anak itu, sampe mengalami luka serius. Aku pikir itu cuma emosi anak remaja"
Jihan lanjut membersihkan tangan Anton yang lainnya.
Datiyah bersandar di tembok dekat pintu. Dia ingin memahami mamanya, karena dia tahu cinta itu susah dimengerti. Cinta Itu berbeda di mata orang yang mengalaminya.
Di matanya, cintanya seperti belenggu tanpa akhir, Dia mencintai Gama, Gama juga mencintainya, tapi dia tak bisa lepas dari bayang-bayang Aira yang kembali pada Gama.
Bagi Jihan, cinta adalah kutukan. Cinta Anton padanya membuat dia kehilangan segalanya, namun di satu sisi, cinta itu hanya berfokus padanya.
"Cinta bisa membawamu, pada surga tertinggi, tapi bisa menjatuhkan mu dalam kegelapan neraka terdalam. "by anonim
" Tapi, semakin lama kelamaan aku baru menyadari, kalau kamu mulai berubah. Aku Masih berusaha bertahan, berharap bisa merubah mu. Sampai akhirnya, secara tak langsung, kamu sendiri yang mendorongku pergi pada Fuad, karena kamu selalu curiga sama aku dan dia." Jihan lalu duduk di samping tempat tidur Anton.
"Aku sudah bahagia, sampai kamu datang kembali. Merusak semua kebahagiaanku. Dengan Alasan masih mencintaiku."
"mungkin aku terlalu naif, bahkan setelah dihancurkan olehmu, aku masih bisa mencintaimu lagi, kamu perlakukan aku seperti ratu, seperti yang wanita lain impikan. Dan saat itu aku berpikir kalau kamu benar-benar berubah. Bahwa aku bisa merubah kamu tidak menjadi seperti ayahmu."
Datiyah yang berada di luar kamar, memutuskan untuk meninggalkan kamar itu.
Jihan menggenggam tangan Anton, " Tapi, aku tak pernah lebih salah dari ini. Kamu Membunuh seseorang tanpa rasa bersalah sedikitpun, Maaf Anton, Aku sudah lelah dan menyerah,"
Perlahan, Jihan mengeluarkan pistol dari tas kecil di tangannya.
Anton yang masih lemah dan setengah sadar berusaha meronta. Tapi dia masih dalam pengaruh obat.
"Aku rasa kamu harus pergi, maka aku akan merasa lega dan tak perlu merasa bersalah pada Datiyah. Hal yang harusnya sejak awal kulakukan setiap aku punya kesempatan."
__ADS_1
"Dddduuuuaaarrrr .. Duaarrrr... Duarrrrrr..... "
...****************...