Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Malam Pernikahan


__ADS_3

Pagi sekali, semua orang sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu.


Pernikahan yang akan digelar sekitar 4 jam lagi ini, membuat semua orang kalang kabut.


Pernikahan yang hanya dua hari lalu baru diputuskan. Tentu saja diputuskan oleh Anton sendiri.


Para pelayan sibuk memoles wajah Jihan agar tidak terlihat bengkak bekas menangis semalam.


Sementara di ruang hukuman, Tiyah yang sudah terbangun sedang duduk di atas tempat tidur. Ia hanya mendengar suara berisik dari luar.


Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Anton berdiri di depan pintu.


Entah kenapa Tiyah merasa takut, tapi ia tidak menggerakkan tubuhnya mundur atau berusaha kabur.


Ketika Anton mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Tiyah, secara reflek gadis kecil itu mengangkat tangannya melindungi wajahnya.


"Ayah gak akan mukulin Tiyah hari ini. Karena hari ini adalah hari bahagia untuk kita. Tiyah gak marah sama Mama tadi malam?"


"Ayah?" tanya Tiyah pelan. Menanyakan siapa ayah yang dimaksud.


"Iya, mulai hari ini Tiyah gak boleh lagi manggil Om Anton, tapi panggilnya Ayah Anton. Karena hari ini Ayah akan menikah dengan Mama Jihan." Anton berusaha bersikap lembut.


"Kalau begitu, Om An...bukan, maksud Tiyah, Ayah Anton bakalan jagain Mama kayak Papa jagain mama kan? Ayah Anton juga gak akan bikin mama nangis lagi kan?"


"Iya, selama Mama kamu nurutin Ayah Anton, semuanya akan baik-baik saja.


Tiyah boleh kembali ke kamar hari ini, tapi jangan keluar dari kamar sampai ada pelayan atau Ayah yang mengajak keluar. Paham kan?"


"Iya, Tiyah paham."


Anton memegang tangan Tiyah dan mengantarnya sampai kamarnya.


"Apa yang membuat anak ini tersenyum, apa dia sudah gila karena aku pukuli kemarin?" Anton hanya menggeleng tak percaya, setelah apa yang dilakukan padanya, anak kecil itu masih mempercayainya.


"Bagaiman perasaan Tiyah ke Mama yang sudah cekik Tiyah?" gadis itu dengan cepat menyentuh lehernya.


"Yang penting, Tiyah masih hidup. Mama mungkin gak sengaja. Mungkin mama lagi lupa," ucap gadis itu polos dan menegarkan diri.


Terbahak Anton dalam fikirannya. Menertawakan apa yang ada di fikiran gadis kecil ini.


Bahkan setelah Anton menyiksanya, Ibunya sendiri mencekik ingin membunuhnya. Dengan mudahnya ia percaya dan memaafkannya.


Jihan dan Fuad benar-benar sudah melahirkan dan membesarkan gadis yang bodoh.


"Ayah akan menyuruh seseorang mengantarkan makanan untuk Tiyah. Ahh, dan jangan beritahu siap-siapa tentang wajah Tiyah. Nanti Mama akan sedih. Ingat! Jangan keluar kamar!"


Gadis itu hanya mengangguk. Dan menggenggam liontinnya dengan erat.


Anton pun bersiap-siap untuk pernikahannya.


Setelah bersiap, ia pergi melihat Jihan.

__ADS_1


Jihan yang selalu tampil cantik di hadapannya itu, hari ini jauh lebih cantik dari apa yang dia bayangkan.


Dia melihat Jihan tersenyum lepas. Meski ia mengetahui ada rencana di balik senyuman Jihan, tapi ia memilih mengabaikannya untuk hari ini.


Acara pernikahan pun di gelar. Tamu-tamu undangan yang datang banyak yang mengucapkan selamat, bahkan banyak yang mengutuk, bukan hanya Anton, tapi juga mengutuk Jihan yang menikahi pembunuh Ayah dan suaminya.


"Tante Jihan, Tiyah mana?" tanya Gama yang menyentuh tangan Jihan.


"Eemmmm...?" tercekat tenggorokannya, air matanya mengancam untuk keluar.


"Ahh, mungkin dia sedang bermain sama anak-anak lainnya," ucap Anton yang tiba-tiba memeluk Jihan melingkarkan tangannya di pinggang Jihan.


Gama pun berjalan ke seluruh rumah, tapi tidak menemukan Tiyah.


Tiyah yang sejak pagi tadi, duduk di atas kasurnya. Tangan kirinya memeluk lutut di depan tubuhnya dan tangan kanannya menggenggam liontinnya. Ia pun tidur dalam posisi meringkuk memeluk lututnya.


Sampai sebuah ketukan pintu membangunkannya.


"Gama?" Tiyah kaget nelihat temannya di kamarnya.


"Kenapa kamu gak turun makan malam?"


"Apa maksud kamu makan malam?" Tiyah melihat keluar jendela, ternyata hari sudah gelap.


"Aa...aku lagi capek, ngantuk." Tiyah duduk di atas kasurnya.


"Jadi kamu bakalan punya Ayah lagi. Kamu pasti senang. Dan bisa kembali ke sekolah lagi," Gama mendekati Tiyah yang duduk di kasurnya, tapi dia berhenti keltika melihat wajah Tiyah yang lebam dan biru.


"Aku...aku.. aku..gak apa-apa. Aku gak sengaja nabrak tembok, makanya aku malu keluar. Hehe."


"Hahahahha...Pake ini!" Gama memberikan Tiyah plaster obat yang biasa dia bawa ke mana-mana.


"iya makasih. Kamu gak ikut makan?"


"Gak, cuma aku aja anak kecil di sana. Tau begitu lebih baik aku di rumah sama Aira."


"Kak Aira, dia itu lebih tua dari kita. Kita harus sopan," ucap Tiyah memarahi Gama.


"Terserahlah." Gama langsung menuju pintu.


"Kamu mau pulang?" tanya Tiyah agak sedih.


"iya, kita ketemu di sekolah yah? da..da.."


Belum sempat Tiyah menjawab, Gama sudah keluar meninggalkan Tiyah di ruangan itu sendiri. Tiyah pun kembali tidur meringkuk. Karena mengingat hari ini ia tak akan dipukul atau dibuat kelaparan oleh Anton.


Sementara itu, makan malam yang hanya dihadiri oleh teman dekat ini. Terasa sangat tidak nyaman. Selain mereka tahu betul apa yang sebenarnya terjadi di sini.


Tapi, tidak ada yang berani angkat bicara atau membahasnya.


Di sisi lain, Jihan hanya tersenyum lepas, mengobrol dengan Mutia sahabatnya.

__ADS_1


"Muti, ayo kita pulang!" ucap Harry mengulurkan tangannya pada istrinya. Mutia menyambutnya. Jihan ikut berdiri dan mengabaikan Harry dan lanjut mengobrol dengan teman lainnya.


"Menurutmu, apa Jihan tahu rumor tentang Ayahnya dan Fuad?" tanya Jihan dan Harry menegang.


Mutia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan Anton dan Suaminya. Dia hanya tahu suaminya mulai bekerja sama sejak 8 tahun yang lalu.


"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Seandainya benar pun. Itu adalah keputusannya sendiri." Harry mengajak Mutia keluar dari rumah itu. Karena meskipun begitu ia masih merasa bersalah.


Setelah semua tamu pulang, Jihan dituntun menuju ke kamar Anton yang juga akan jadi kamarnya.


Ketika para pelayan itu hendak membantu Jihan melepaskan pakaian pestanya, Anton melarangnya.


"Kalian, keluarlah! Aku yang akan melakukannya." Para pelayan keluar dan Anton mendekat pada Jihan.


Ia memegang pundak Jihan secara tiba-tiba membuat Jihan tersentak.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan malam ini? Aku sangat penasaran." Ia mulia membuka resleting gaun Jihan.


"Apa maksudmu? Aku hanya akan melayani suamiku," ucap Jihan berbalik menghadap ke arah Anton.


"Aku hanya berharap kamu berhasil, karena jika tidak kamu tau sendiri apa akibatnya.


Membunuh orang, tidak semudah yang kamu bayangkan," bisik Anton pada Jihan, membuat kaki Jihan lemas.


Kekuatannya seperti tiba-tiba menghilang.


"Bagaimana? Bagaimana dia bisa tahu?"


"Pastikan aku langsung mati, Jika tidak, aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu.


Kamu bahkan tega mencekik putrimu sendiri. Tentu saja langkah berikutnya kamu akan melakukannya padaku." Dengan kakinya yang sudah lemas, dia pun memtuskan menusuk Anton dengan pisau yang dia dapatkan dari meja makan.


"Terlalu lambat, apa ini semua yang bisa kamu lakukan?" Anton berhasil memegang pisaunya.


Jihan mendorong pisau lebih keras ke arah perut Anton dan berhasil melukainya, tapi energi Anton tentu saja tidak sebanding dengannya. Anton mulia kehilangan kesabarannya.


"Juuuunnnn!" Anton berteriak, suaranya menggema ke seluruh rumah.


Jun pun masuk kamar, melihat perut dan tangan Anton dipenuhi darah. Meski tak terlalu dalam.


"Bawa anak wanita ini ke sini!"


Jihan langsung melepaskan pisaunya dan menjatuhkannya ke lantai.


"jangan, jangan Tiyah!" pinta Jihan.


"Kamu tahu, apa yang ayahku ajarkan padaku? Serang seseorang itu, di kelemahannya. Maka ia akan menderita 1000 kali lipat."


Jun masih belum bergerak. Melihat keadaan Anton apa yang akan dialami Tiyah bukanlah hal kecil.


"Kenapa kamu masih di sini? Tidak, aku saja yang pergi menemuinya," ucapnya pada Jun, Anton kemudian berjalan ke arah kamar Tiyah, Jihan mengikutinya dari belakang sambil menangis berusaha meraih tubuh Anton.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2